Tangguh Tumbuh
Suatu hari aku melangkah menjauh dari rumah.
Memandang ke belakang lagi ku tak pernah.
Aku kira itu tangguh.
Aku kira itu tumbuh.
seen from Indonesia
seen from China

seen from Türkiye
seen from United Kingdom
seen from Australia
seen from China

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from United Kingdom
seen from Brazil
seen from China
seen from United States

seen from Türkiye
seen from South Korea
seen from Germany
seen from Germany
seen from United States
seen from United States

seen from China

seen from Malaysia
Tangguh Tumbuh
Suatu hari aku melangkah menjauh dari rumah.
Memandang ke belakang lagi ku tak pernah.
Aku kira itu tangguh.
Aku kira itu tumbuh.
Melambat
Binarnya redup, gaungnya dekat.
Wahai degup, ayolah melambat.
Kau Takut
Kau takut.
Pada malam yang mempermalukanmu.
Dan pagi yang menginjak-injakmu.
Semoga kau mampu mati sendiri di tanganmu.
Menghitam
Dalam riuh tepuk tangan ia tenggelam.
Sorak sorai sanjung dan puji.
Mata belalak hati menghitam.
Ulur jemari kini tak lagi.
Teringat
Melihat awan berarak perlahan dilatar biru bercampur limau.
Berjarak bunyikan derau.
Aku teringat kau.
Kembang Gula
Kembang gula mengapung.
Beriringan kulihat dari dalam palung.
Gelap hari-hari yang kuarung.
Kaulah kilau di penghujung.
Semoga
Semoga harimu ceria.
Semoga tidur malammu lelap tanpa jeda.
Semoga Sang Pencipta menghadiahimu langit biru.
Semoga ingatan laut biru menenangkanmu.
Semoga umurmu merekah berkah.
Dan menuju citamu kau melangkah.
Semoga dingin tak membuat hidungmu memuntir.
Dan panas tak mendidihkanmu ke titik nadir.
Semoga bidikanmu selalu tepat.
Semoga tenangmu berkuadrat berlipat-lipat.
Semoga lukamu mendidikmu.
Semoga kebahagiaan tak merubahmu.
Semoga kau selalu mengerti.
Semoga kau selalu dimengerti.
Semoga kau mampu mengatakan tidak.
Semoga kau tahu kapan harus berontak.
Semoga kau tidak pernah merengek.
Berdiri tegak walau didera dan diejek.
Semoga dengan cinta kau ditabur.
Semoga ia tak mengabur.
Semoga kau kuat saat berkabung.
Sekuat saat kau bertarung.
Semoga rindu ini selalu begini.
Sampai suatu saat tak lagi.
Semoga kelak lidahmu lupa namaku.
Tapi tidak ingatan tentangku.
Semoga nyalamu tak pernah mati.
Semoga nyalamu tak pernah mati.
Semoga nyalamu tak pernah mati.
Semoga nyalamu tak pernah mati.
Ingatlah Aku
Malam ini kayuhku berbuah lelah.
Padahal jalanan kering, tak basah.
Sedikit lagi rumah.
Kuurungkan, aku ingin muntah.
Sepertinya tadi aku menangis, entahlah.
Kurangkai semanggi ini dalam sepi saat kau pulang bagai senandung.
Sudah lama sekali, sukmaku melambung.
Semua ini agar nama dan lakuku kau renung.
Saat malam-malammu yang sepi dan satir.
Atau malam yang bosan tiada akhir.
Atau dingin hujan yang membuat hidungmu memuntir.
Ini mungkin akan jadi yang terakhir.
Jangan khawatir,
Ingatlah aku.
Pada lamunan di jeda pagi.
Sesaat semburat hangat sinar mentari.
Saat rel kereta berderak bergesek.
Serta rombongan orang-orang berakal pendek.
Ingatlah aku.
Dengan langit biru aku menghibur.
Dan arah bicaraku yang melantur.
Tatap mata yang tak bisa kuatur.
Habis waktuku menekur.
Sepertiku yang selalu rindu,
Ingatkah kau padaku?