Titik temu
Banyak sekali kejadian yang aku alami dari 4 tahun belakangan ini dan tentunya semua itu secara signifikan merubah bagaimana cara pandang ku terhadap dunia. 22 tahun adalah perjalanan yang benar-benar baru, begitu banyak cara Tuhan melatih dan mengajariku tentang bagaimana cara untuk hidup menjadi individu yang harus selalu siap berjuang setelah kita terlepas dari perut ibu kita.
DEWASA.
Adalah sebuah fase dimana manusia harus siap untuk berdiri sendiri di atas dua kaki kokoh yang akan menopang segala beban kesedihan dan kesenangan. Di fase ini juga otak manusia akan benar-benar berfungsi, kita akan dengan bebas melukis seperti apa dunia yang ingin kita singgahi. Namun tidak semudah itu, karna pada kenyataannya stereotip, nilai dan norma dalam masyarakat justru lebih sering memegang kendali.
“udah mau 23 tahun, lu rencana nikah umur berapa?”
“gatau bro, diotak gue masih terlalu banyak puzzle. gue ga ngerti apakah gue bakalan nikah atau engga”
“gue juga sempet kepikiran untuk ga nikah tapi begitu gue cerita soal ini ke Jesi kata dia, ya janganlah itu kan menyempurnakan separuh agama”
“hahaha ya emang bener , cuman akhir-akhir ini gue mikir aja emangnya sebuah keharusan ya punya anak? Kenapa banyak orang yang udah nikah selama bertahun-tahun dan belum dapet momongan, sampe susah payah konsultasi ke dokter demi bisa hamil? Bahkan tetangga gue ada yang sampe depresi saking pgnnya punya anak”
“wah anjir, gue juga kepikiran itu si, pernah baca novel sarongge?
“ belum, kan kemaren gue udah antri ke elu. Eeh malah novelnya keburu lu kasi ke orang lain”
“haha sorry, next lah semoga elu bisa beli”
“anjir law”
“haha tau nggak, novel itu jadi salah satu buku yang ngerubah cara pandang gue tentang pernikahan. gue rasa pernikahan ga melulu soal ranjang, bahkan penulis novel itu memutuskan untuk mengadopsi anak dari pada harus meminta istrinya sendiri untuk hamil. Salut gue dengan orang-orang yang selalu bergerak dibidang sosial atas nama Tuhan dan kemanusiaan. Bukan demi jabatan dan sanjungan”
“exactly bro, kaya gitu yang selama ini gue pikirin. Dari dulu gue selalu punya keinginan untuk bisa mengabdi disalah satu panti, entah itu jadi tenaga relawannya atau sebagai donatur”
“yah mungkin sifat alami manusia juga kali ya, selalu pengen sesuatu yang baru tapi jarang orang mau memperbaiki yang sudah ada”














