"organisasi menyita waktu saya belajar."
"organisasi bisa menurunkan nilai saya !"
"ga ada hubungannya BEM, AMSA, SKI, UKKH, Himafar, TBM dan UKM Selam dengan akademik saya."
Sebelum membahas lebih lanjut, 3 kalimat itu yang menggambarkan seseorang yang kebanyakan, ketika dihidangkan sebuah link formulir untuk join dalam perubahan besar. Dan anehnya, mereka merasa bisa tanpa berorganisasi.
Memang, banyak kok yang bisa jadi S.Ked dan gelar "dr." tanpa ikut organisasi sebelumnya. Tapi berapa banyak yang nantinya menjadi sebuah motor perubahan kesehatan tanpa ikut organisasi?
"tapi saya ndamau jadi pemimpin, menkes atau presiden !"
Wah betul, tapi bukan kah kita ini diciptakan menjadi seorang pemimpin utamanya bagi diri kita ? Dan menjadi dokter berarti menjadi pemimpin dalam lingkungan sekitar.
Banyak dari kalangan kita ketika masuk di Fakultas Kedokteran, memiliki sebuah alasan "karena disuruh ortu kak." Betul ? Sebuah reasoning yang sometimes kita menjadikan itu sebagai sebuah alasan atas kemalasan diri kita.
Akhirnya beberapa jurnal muncul karena keresahan yang sama, ketika anak USA yang berusia 12 tahun ditanya perihal cita - cita, mereka mampu menjawab dengan lugas dan mengerti how to get it. Dan sebaliknya anak Indonesia, mayoritas masih belum mengerti ketika SMA, bahkan saat sudah masuk jurusan. Akhirnya muncul lah judul dari artikel ini, MAU JADI APA ? 🤔
Ajak lah diskusi kedua orang tuamu dan pikiranmu sendiri. Passion sebenernya untuk kamu itu apa ? Mau jadi dokter yang biasa aja atau dokter yang dapat membawa perubahan ? Saya sendiri ingin menjadi seorang dokter militer spesialis bedah ortho dengan jabatan terakhir Kepala Pusat Kesehatan Mabes TNI dengan pangkat terakhir Laksamana Muda TNI. Dan ingin nantinya menjadi Menteri Kesehatan ataupun Presiden RI dan memiliki beberapa klinik dan RS. So, saya harus punya master plan dari sekarang. Apa saja yang harus saya lalui, dan salah satunya adalah berorganisasi. Kenapa harus organisasi ?
Oke sudah masuk ranah manfaatnya yak, stay alert guys. Jadi kenapa di dalam master plan saya ada organisasi, satu, organisasi membawa sebuah sudut pandang prespektif saya dalam menyelesaikan sebuah permasalahan.
Namanya juga hidup, pasti ada masalah bukan ? Nah di organisasi ini kita dilatih menjadi problem solver, bukan menjadi orang yang menyerahkan nasibnya kepada orang lain. Saya ambil contoh, seorang kepala dinas kesehatan provinsi dengan dokter umum praktik. Ketika ada sebuah wabah, katakanlah gizi buruk di daerah kamu. Menjadi KLB, tentu kamu sekarang berpikir, yang mana yang bisa menentukan kebijakan secara luas untuk mencegah kejadian ini terjadi lagi di daerah kamu ? Dan disitu kita dituntut menyelesaikan sebuah permasalahan dengan meminimalisir kemungkinan terjadinya komplikasi dari sebuah penyelesaian tadi. Dibawah tekanan harus berkepala dingin, untuk memberikan sebuah solusi yang rasional, sehingga yang kedua kamu dapat menjadi seorang decision maker. Yang dilatih melalui berorganisasi, dengan kedudukan apapun. Decision maker hebat dapat memiliki visi dan misi hidup yang jelas. Menjadi orang yang visioner. Sehingga akan memikirkan matang2 pilihannya.
Ketiga, pengalaman. "Pelajaran paling berharga adalah pengalaman." Jangan pernah takut salah sehingga takut memulai. Pengalaman adalah harta berharga ketika di dunia kerja nanti. Kamu pernah mengamati ketika ada lowongan kerja pasti ada kualifikasi "pernah bekerja di posisi yang sama selama 2-3 tahun." bukan ? Berarti intinya pengalaman itu sangat penting. Sehingga ke depan ketika kamu membuat sesuatu, kamu tidak akan mengulangi kesalahan yang sama ke depannya.
Dan yang terakhir ini adalah jawaban dari pertanyaan di awal, organisasi dapat meningkatkan akademik. Kok bisa ????? Coba kamu lihat, dari organisasi bagian apa yang bisa meningkatkan akademikku ? Mau aplikasikan tramed, kamu bisa join dengan pengmas atau sosma serta TBM. Kamu bisa terjun ke masyarakat menerapkan langsung cara anamnesa yang baik. Pemeriksaan fisik, keluhan utama dan tambahan serta yang lainnya. Mau ilmu di kelas menancap, kamu bisa join dengan pendpro. Kamu buat proker semacam kakak asuh atau kelompok diskusi. Kelompok ilmiah. Yang mana bisa menjadi sarana ngajar mengajar, sehingga ketika kamu mengajar ilmu itu semakin berkah dan menancap. Ketika belajar kamu mendapat ilmu baru. Sudut pandang baru. Mau belajar kritis sehingga nanti bisa menghadirkan sebuah solusi untuk permasalahan bangsa, gabung aja kastrat. Semua bisa di aplikasikan melalui organisasi.
"Tapi kak, organisasi itu ribet, capek."
Ga ada hasil, yang tidak membutuhkan pengorbanan. Selamat berproses adik-adikku. Jangan pernah takut berorganisasi !
"kalau kamu takut untuk memulai sesuatu yang baru, lalu kapan lagi kamu akan belajar hal yang baru dan berkembang ?"
M. Rizky Ramadhani, S.Ked
Presiden BEM FK UHT 17/18 Kabinet Sinergis
VPI Assistant ISMKI 18/19
Majelis Pertimbangan Agung ISMKI 19/20