Dilema Pustakawan Sekolah #1
Part 1, semoga. Karena sepertinya akan meluap terlalu banyak. hehe..
Hari ini, 20 Januari 2021. Ada rasa kecewa tersebab tak dianggap. Padahal berkali-kali mengingat untuk tak banyak berharap, terlebih pada manusia. Ya, hanya itu kalimat ampuh yang harus selalu menjadi pegangan.
Setelah tahun lalu sempat kesal tersebab akreditasi, kini tersengal lagi karena korporasi. Wah... Bapak benar-benar hebat.
“Pustakawan itu profesional, tunjukkan kompetensi anda”
Lantang sekali beliau mengucapkan. Dan lantang sekali jari ini menuliskan kekecewaan. Barangkali tersebab kurangnya kompetensi dalam diri ? Mungkin. Atau karena tak ada apresiasi ? Ya, bisa jadi.
“Kita lihat dulu ya, apakah perpustakaan sekolah itu harus dipegang oleh lulusan pepustakaan ? Saya kira tidak ya, semua jurusan bisa mengelolanya. Asal mereka memiliki kompetensi.”
Oh, rupanya seperti itu anggapan Bapak yang Terhormat.
Pak, masih dalam forum yang bertema “SDM Unggul, Indonesia Maju” loh.
Pak, perpustakaan sekolah itu jadi basic belajar anak loh.
Pak, perpustakaan sekolah itu ada di jenjang Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas/Kejuruan loh.
Pak, bukankah SDM unggul itu diarahkan sejak dini ?
Pak, bukankah mereka yang masih dalam jenjang Siswa itu sangat butuh diarahkan ?
Lalu bapak dengan lantang mengatakan demikian ?
Wah, kalau begitu hapus saja pak itu Jurusan Ilmu Perpustakaan di Perguruan Tinggi. Buat saja LSM, Lembaga Pelatihan yang bisa mengelola perpustakaan. Saya kira bapak paham betul apa tugas dan fungsi seorang Pustakawan. Wah terlebih dari pemaparan bapak sebelumnya.
Saat ini, lulusan Ilmu Perpustakaan sudah banyak betul Pak. Cukup untuk ditempatkan di seluruh Perpustakaan Sekolah saya kira. Hanya saja Pak, kami memilih putar haluan tersebab hal remeh menurut Bapak. Bukan kami tidak berkompeten Pak, tapi karena kami tahu: tidak ada ruang untuk kami mewujudkannya.
Setidaknya Pak, berikan yang terbaik untuk mereka yang memilih bertahan untuk menghidupkan Perpustakaan Sekolah.