my sister graduation! (pics taken by me)
No title available
Alisa U Zemlji Chuda

#extradirty
No title available
Three Goblin Art
h
KIROKAZE
No title available
Mike Driver

★

pixel skylines
Lint Roller? I Barely Know Her

Origami Around
Stranger Things

titsay
Game of Thrones Daily

No title available

Discoholic 🪩
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
🪼
seen from United States
seen from United States

seen from Netherlands

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Netherlands

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Indonesia
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Malaysia
seen from United States
@talsmara
my sister graduation! (pics taken by me)
Lama banget ga jalan-jalan sama teman2 ini :’) Happy banget🖤
karena bingung mau ngapain wkwk tiba-tiba waktu itu rasanya pengen foto-foto sesuatu. akhirnya foto-in parfum ini ala2 foto produk bermodalkan alas pashmina, tembok putih dan bunga cosmos warna oranye yang metik sendiri hehe. difoto dengan kamera hp (tapi adjust brightness dulu supaya dapet latar putih yang ok dan tekstur temboknya agak samar).
Setelah jadi, di tambah hearts yang warna oranye & bunga patchouli ungu itu dari sticker picsart, pas banget dapet bunganya jadi mirip bunga asli, padahal itu ya ditempel aja. minusnya foto ini banyak, hehe salah satunya si tulisan brand-nya gak terbaca jelas karena lightingnya ga serius. mau gamau dua huruf awal brandnya samar karena kena cahaya langsung :")
tp it's okay haha cukup lucu jg hasilnya untuk foto iseng2 hehe.
ohya, parfum ini hadiah~
I remember,
under that sky, under that stars.
🐱 Studio Ghibli + Cats 🐈
Short Escape to Penang! (1)
Halo! Rasanya sudah cukup lama aku tidak update tumblrku hehe. Niat itu akhirnya bisa terealisasikan hari ini, karena sebelumnya sering banget udah niat untuk nulis, tapi ujung-ujungnya buka laptop aja rasanya mager betul. Kali ini aku mau cerita sedikit tentang pengalaman liburan singkatku pada bulan Desember kemarin, sekalian sharing sedikit tentang Penang, wisata-wisata, makanan, transportasi, biaya dan sebagainya. Liburan yang bisa dibilang gak dadakan tapi segala sesuatunya dipersiapkan cukup dadakan(?)
Berawal dari temanku Novita, yang mengajak untuk pergi liburan. Awal kami bukan berencana ke Penang, tapi ke Singapura. Ketika lihat harga tiket pesawatnya, rasanya terlalu mahal untuk budget yang kupunya saat itu hehe. Memang sempat Novita menyebut Penang, tapi ketika itu baru sekedar sebut saja. Setelah mencari informasi apa saja yang menarik disana, sepertinya boleh juga. Penang cukup terkenal dengan perpaduan budayanya dan kulinernya. Sepertinya menarik untuk sekalian hunting foto hehe. Tidak lama kemudian Novita secara kebetulan melihat harga tiket yang bisa dibilang cukup murah untuk penerbangan Internasional, bahkan jauh lebih murah dari biasanya. Saat itu jujur saja aku masih belum bisa memastikan karena pasporku sendiri habis masa berlakunya. Tiba-tiba Novita sudah beli tiket duluan :’) dan ketika aku cek harga tiket, penerbangan yang sama dengan Novita harganya naik lumayan jauh. Bedanya sekitar dua ratus ribu rupiah. Akhirnya selagi menunggu harga tiket berubah (sambil berdoa wkwk), aku memperpanjang pasporku. Setelah urusan paspor selesai, harga tiketnya kembali promo! Sayangnya ketika itu hanya tiket berangkat yang promo, pulangnya tidak. Akhirnya setelah mikir-mikir, aku beli tiket berangkat terlebih dahulu (one way). Yaudahlah ya urusan pulang liat nanti aja haha. Gak sampai 5 menit setelah book tiket berangkat, tiket pulangnya harga promo juga! Langsung lah akhirnya sekalian book tiket pulangnya (dengan penerbangan sama persis sama Novita). Untuk tiket pesawat, harga pulang dan pergi yaitu Rp660.000. Lumayan kan ya, bahkan lebih murah dari pada penerbangan domestik sekarang :’) Oh ya ini maskapainya yang logonya warna hijau. Adiknya maskapai logo biru (tau lah ya hehe).
Waktu itu tiketnya kami beli dua bulan sebelum keberangkatan, Novita beli seminggu lebih awal dariku. Untungnya pas banget kami benar-benar dapat penerbangan yang sama :’) dan cutiku juga pas 3 hari dan mau tidak mau habis di bulan Desember itu. Setelah beli tiket, aku dan Novita masing-masing masih bekerja, sebulan pertama juga kami belum membahas itinerary, penginapan dan lain-lainnya. Di akhir bulan November kalau tidak salah kami berdua mulai mencari destinasi wisata dan penginapan.
Nah, untuk penginapan, kami sengaja mencari penginapan yang review lokasinya strategis. Setelah menemukan beberapa pilihan dengan harga terjangkau, akhirnya kami memutuskan untuk memilih penginapan di Rabbit X Holdup di daerah Georgetown, yang mana tempat tersebut juga merupakan kafe dan bar (bisa cek disini: https://tinyurl.com/AirBnbRabbitXHoldup).
Untuk rate hotel-hotel disini banyak juga yang lebih murah, biasanya model hostel/hotel kapsul untuk backpacker dan yang lebih mahal seperti apartemen/hotel besar. Tergantung lokasi dan fasilitasnya juga. Saranku, ada baiknya booking AirBnb yang udah diincar paling lambat 2 minggu sebelum. Saat itu aku booking di akhir Oktober (H-sebulan) karena emang takut aja nanti keburu full booked :") tapi tenang aja karena disana banyak banget penginapan bagus-bagus dengan harga terjangkau.
Di penginapan yang kami pilih, biaya untuk 4 hari 3 malam, totalnya sekitar 1,1 juta-an berdua. Fasilitasnya ya nggak begitu banyak sih, tapi itu private room, ada water heater juga, ber-AC, bersih dan cukup nyaman. Kebetulan kami dapat kamar yang paling dekat sama pintu depan, jadi suara berisik-berisik dari bar di belakang gak terlalu mengganggu. Menurutku ini cukup sesuai lah harganya dengan fasilitas dan kenyamanannya. Yang agak kurang mungkin kalo awal masuk kamar agak sumpek aja karena emang gak ada jendela yang langsung bisa bertukar udara sama udara luar, cuma ada jendela kecil dan emang jam malam dari jam 10-2 pagi ya ada suara-suara berisik dari bar, tapi ga begitu mengganggu (ini juga udah diperingatkan di website AirBnbnya). Pokoknya persis banget sama yang ada di web AirBnb kondisi kamarnya, kebetulan gak foto kamar keseluruhan kayanya waktu sampe sana hehe. Plusnya, sumpah ini tempatnya benar-benar strategis. Jalan kaki sebentar, udah sampai ke terminal bus KOMTAR, pusat perbelanjaan dan wisata heritage. Gak cuma itu, sepanjang jalan dekat penginapan juga banyak street food yang udah cukup terkenal disana. Sayangnya karena kami agak takut itu gak halal, kami gak banyak jajan street food yang ada di sepanjang jalan itu (mostly chinese food soalnya).
Penang Day 1!
Lanjut ke sesampainya kami di Penang hari Kamis, 11 Desember 2019. Super excited! Cuaca Penang cerah saat itu. Kami sampai di Penang International Airport sekitar jam 1 siang. Baru sampai disana, baca tulisan petunjuk bahasa Malaysia yang cukup asing(?) sambil nebak-nebak itu artinya apa ya.... Tapi sampai imigrasipun lancar, cuma ditanya “mau berlibur?” “tinggal dimana?” “sama siapa pergi?” dan ternyata agak susah untuk mengerti dia ngomong apa hahaha. Aksen dan cara bicaranya yang agak cepat bikin kita “Hah?” gitu. Ternyata gak semudah itu haha.
Setelah keluar imigrasi dan ambil bagasi, kami langsung tuker simcard perbekalan dari Jakarta. Ternyata simcardnya udah expired hahaha. Entah kenapa aku malah rada panik karena bingung ini ngomongnya gimana ya. Di dekat pintu keluar ini ada counter simcard (kalo gak salah ada 3 pilihan provider), kebetulan aku langsung pilih yang sama dengan yang kubawa dari Jakarta aja, namanya TuneTalk. Akhirnya setelah tanya-tanya dan lihat paketnya, kami pilih yang masa berlaku 7 hari, 15 GB seharga 25 RM. Untuk rupiah-nya kaliin aja sekitar 3500 ya. Untungnya, mba-mbanya jelas bicaranya, jadi gak bingung disini. Langsung deh aktif. Ohiya di bandara ini ada kok wifi gratis, walaupun sinyalnya gak begitu kuat. Karena pusing sama simcard, sampe lupa sih foto kondisi bandaranya gimana haha.
Untuk ke penginapan sendiri, kami berencana naik bus Rapid Penang karena tarifnya cukup murah. Kalau gak salah paling mahal 3 RM/orang tergantung jaraknya. Bus ini juga masih manual, jadi kita harus ngomong sama pak supirnya kita mau turun dimana. Nanti pak supirnya yang langsung kasih tau harganya berapa dan kalau bisa uang pas. Siapin receh yang banyak kalau mau naik bus kemana-mana, karena dia gak akan menyediakan kembalian. Untuk ke Georgetown tempat kami menginap, bisa naik bus nomor 102 atau 401. Awalnya kami kira cuma bisa naik 102, padahal sebelumnya ada 2 kali bus 401 lewat. Ternyata pas ada bus 102, berangkatnya setengah jam lagi. Iseng-iseng coba grab, ternyata harganya 24RM. Seketika batal deh naik bus, akhirnya nyerah nunggu dan pilih yang cepet aja hehe. Perlu diingat, di grab kita gak diperbolehkan untuk makan apapun walaupun cuma cemilan, makanan ringan. Kalau permen, kurang tau ya. Disini juga cuma ada Grab car sama Grab food, gak ada Grab bike :’) Tapi harganya terjangkau kok, sama aja kaya di Jakarta. Lokasi untuk naik bus ini setelah keluar pintu bandara, nyebrang dan jalan ke sebelah kiri, nanti akan terlihat haltenya. Pesan Grab juga diperbolehkan di jemput di halte ini. Perjalanan ke Georgetown sekitar 30 menit. Kebetulan gak ada macet juga. Perjalanan lancar dan langsung sampai persis di depan penginapan
Setelah dapat kunci, langsung taruh barang. Karena waktu udah sore, kami memutuskan di hari pertama ini jalan-jalan di sekitar Georgetown sambil cari-cari street art yang jadi salah satu daya tarik Penang. Saat itu sekitar jam 5 sore. Kami jalan kaki, bermodalkan google maps dan browsing-browsing google dimana lokasi-lokasi street artnya. Di depan penginapan pun juga ada street artnya!
Di Georgetown ini, banyak banget spot-spot foto aesthetic! Bangunan-bangunannya terlihat cukup tua dan sepenglihatanku lebih banyak toko-toko dengan tulisan China. Selain street art, disini banyak kafe-kafe kekinian yang letaknya agak ngumpet. Untuk street artnya sendiri, sebenarnya kayanya cukup banyak, tapi beberapa tempatnya juga agak terpencil tempatnya. Tapi Alhamdulillah aku sama Novita berhasil nemu hampir semua street art yang cukup terkenal disini (yang paling terkenal yang anak-anak main sepeda dan main ayunan, tapi yang main ayunan letaknya lebih dekat ke daerah Jetty). Setelah jalan dan terus berjalan agak bingung, kok sepi banget ya? Kaya gaada kehidupan haha. Toko-tokopun banyak sekali yang tutup. Entah sudah terlalu sore atau karena ini weekdays. Tapi kami tetap lanjut berjalan menyusuri Georgetown untuk mencari street art.
-Suasana di kota Georgetown di sore hari
Di perjalanan, kami menemukan tempat ibadah yang cukup besar di tengah-tengah pemukiman. Sepertinya tempat ini adalah tempat ibadah yang dibangun dan diperuntukkan untuk keluarga besar. Sayangnya aku lupa ini di jalan apa, tapi ini tidak terlalu jauh dari penginapan kami.
Kami juga nemu kaca bekas dipinggir jalan. Ternyata lucu juga buat mirror selfie! Our first foto berdua di Penang :’) Tanpa disengaja, outfit kita se-tone~
Setelah foto-foto di sekitar sini, kami berjalan menuju Armenian Street/Lebuh Armenian. Di sini ;letak salah satu street art yang cukup terkenal, yaitu anak-anak naik sepeda. Ketika sampai, ternyata tidak begitu ramai (mungkin karena ini weekday) jadi tidak perlu antri panjang untuk foto. Di sini kami dibantu foto oleh turis asing yang nampaknya solo traveler. Setelah itu dia juga minta tolong untuk difotokan, beda banget sama kami, dia langsung dengan pedenya berpose macam-macam :”) Disebrang street art ini juga ada street art lainnya yang dibuat dengan semacam besi/kawat yang dibentuk menjadi gambar. Armenian Street dan sekitarnya merupakan lokasi yang cukup banyak kafe lucu dan terkenal. Ada toko gelato persis di samping street art ini, juga China House yang sangat recommended yang akan kubahas nanti~
Ada kafe yang bagus juga disebelah kanannya. Sayangnya kita ga sempet cobain kesitu sampai hari terakhir :’) Giliran nyoba kesana di hari kedua, ternyata udah tutup :’) Cuma sempet foto dari luar aja dan cuma dibagian lucunya haha. Kalo gasalah itu kafe dan bakery gitu. Lupa juga namanya apa, pokoknya ada roti-rotinya namanya, tapi lupa bahasa apa.
Setelah dari sini, kami memutuskan untuk mencari makan malam. Ohiya, disini jam 7 malampun masih terang! Setelah jalan dan terus berjalan kami sampai ke kawasan Little India dan menemukan restoran Kapitan di Macalister Street yang menjual makanan India.
Kalau gak salah restoran ini juga cukup terkenal dan selalu ramai pengunjung. Akhirnya kami memutuskan untuk makan disana. Harganya juga tidak mahal, antara 3-5 RM untuk makanan roti (canai/naan), sedangkan untuk nasi biryani dan sejenisnya sepertinya diatas 5 RM tapi tetap tidak terlalu mahal dengan porsinya yang cukup besar. Karena Roti Canai adalah menu sarapan yang tersedia pagi sampai dengan jam 11, kami memesan roti Naan, yang dilengkapi dengan kuah kari dan teh tarik. Ohya untuk teh disini juga ada teh O, teh kosong yang sampai sekarangpun aku bingung apa bedanya haha saat kami tanya ke pegawainya, dijelaskan dan belum ngerti juga, dia tertawa. Si mas-nya ini mirip banget sama ADAM LEVINE. Semirip itu :’) Tapi kalo diliatnya lama-lama ya ga mirip-mirip amat. Pengen foto tapi sayangnya gak berani haha. Setelah dicoba, rasanya enak! Aku pesan cheese naan, terus kuah karinya juga berasa banget rempahnya. Teh tariknya juga enak banget :’) bentukannya sih emang gak menarik, tapi rasanya enak. Makan disini berdua kalau gak salah totalnya sekitar 20 RM (ini emang penyajiannya begitu ya, piring kuah karinya ditaro diatas rotinya). Aku suka banget kari!
Setelah makan dan sudah waktunya shalat Magrib, kebetulan ada masjid yang cukup besar yang tidak terlalu jauh. Akhirnya kami mampir untuk shalat di Masjid Kapitan Keling di Buckingham Street. Sempat bingung sedikit masuknya dari mana, ternyata tempat wudhu perempuan memang agak jauh ke belakang. Mukena juga banyak tersedia, jadi tidak perlu khawatir kalau tidak bawa mukena.
Ohya kami masih jalan kaki terus dihari ini haha belum naik kendaraan umum apapun. Setelah shalat kami sempat jajan di sevel. Sebelum ke penginapan kami juga sempat mampir ke Prangin Mall/Komtar Mall ke Watson untuk lihat-lihat skincare yang jarang ada di toko di Indonesia hehe. Setelah itu jalan kaki lagi sampai ke AirBnb di Kuala Kangsar Street.
Bersambung ya untuk hari selanjutnya!
Maybe all of this means nothing to you, but it means so much to me.
Manis-Pahit di Gang Delima
Ditulis untuk mengenang manis-pahit kehidupanku dengan mereka, teman-teman hidupku selama empat bulan lamanya.
Minggu, 8 Juli 2018. Pukul 03.10 dinihari Waktu Indonesia Bagian Tengah.
Aku, Guntur dan Dhea tiba di depan sebuah gang kecil. Karena seorang temanku yang kurang enak badan, kami menunggu, duduk terlebih dahulu di sebuah warung kecil yang tutup. Tidak ada penerangan. Tidak ada lampu jalan. Ah, sepertinya bukan ini tujuan kami. Di maps, gang yang kami tuju memang letaknya sudah tak jauh lagi. Sepertinya gangnya tidak terlihat karena tidak adanya penerangan sama sekali. Segera aku menghubungi koorlap kami, memberitahu bahwa kami sudah sampai. Tak lama kemudian aku melihat ada lampu flash yang berasal dari ponsel dan seseorang memanggil namaku. Ya, itu koorlap kami, mas Hanif namanya, menjemput dan langsung mengantarkan kami ke tempat yang akan menjadi rumah tinggal kami selama 4 bulan lamanya.
Gang Delima namanya.
Disitulah aku tinggal. Disebuah rumah tak ber-nomer, milik penduduk asli Bali di Gang Delima, gang yang kami cari malam itu. Sedangkan kami malah turun di gang sebelumnya, kalau tidak salah namanya gang Salak. Terletak di Banjar Anyar, Kabupaten Tabanan, Bali. Gang yang tidak begitu sempit, masih bisa dilalui kendaraan roda empat-ditambah satu kendaraan roda dua juga masih memungkinkan. Jalannya seingatku berupa konblok, abu-abu muda dan warna merah disisi kanan dan kirinya. Di depan gang, sebelah kanan ada warung tipat dan rujak. Kalau berjalan masuk sedikit, ada tanah kosong di sebelah kanan. Di tanah kosong itu ada sebuah mobil tua yang sepertinya tidak layak pakai dan jadi media tumbuh tanaman liar. Ada pohon ceri yang berbuah banyak. Kadang aku juga melihat beberapa ekor sapi disana, makan rumput.
Yang baru aku ketahui di bulan ke-empat, kalau jalan terus sampai keujung gang, ada sebuah rumah dengan jasa laundry yang bisa dilewati sebagai jalan pintas untuk sampai ke jalan raya. Gerbangnya nyaris selalu terbuka. Kupikir lucu juga, berarti penghuninya terbiasa melihat orang lalu lalang untuk sekedar potong jalan, dong? Baik sekali yang punya rumah. Cuma, yang membuat aku ragu untuk lewat sana adalah keberadaan anjing kecil disana yang kelewat lincah. Mengejar sembari menggonggongi kami yang hanya sekedar numpang lewat. Selucu apapun anjing itu, kalau sudah menggonggong, rasanya matilah aku. Kemudian disusul dengan teriakan-teriakan panik, minta tolong atau hanya bisa berdiam diri ditempat, setengah ketakutan-setengah tertawa, sampai penghuni rumah keluar membantu kami terbebas dari anjing miliknya. Biasanya mereka akan bilang, "Gapapa, Mbak. Gak gigit kok," sambil sedikit tertawa dan memanggil nama anjing mereka.
Welcome to 'sisi lain' Bali. Seakan-akan gonggongan anjing-anjing itu adalah sambutan selamat datang. Kalau biasanya orang-orang mengenal dan akan mengenang Bali karena pantainya yang indah, bule dengan bikini-nya, summer vibes, gelato enak dimana-mana, cafe/bar instagrammable di Seminyak atau Canggu, lain dengan diriku pribadi yang akan mengenang Bali tentunya dengan hal-hal diatas juga, tapi ditambah dengan kehidupan Tabanan-ku serta suara gonggongan hampir setiap anjing yang kutemui dimanapun ketika bekerja (khususnya anjing rumahan). Di sebelah kiri gang Delima dari jalan masuk, tepat sebelum rumah tinggalku ada rumah yang juga memelihara anjing. Anjingnya tak pernah keluar rumah/dilepas, mungkin karena anjingnya terlalu galak. Hari pertamaku ketika menginjakkan kaki di Gang Delima, menggeret koper sekitar pukul tiga pagi bersama kedua temanku dan mas Hanif menuju rumah tinggal, kami digonggongi. Kaget yang pasti. Mungkin bau kami asing, baru untuknya, sehingga wajar saja. Tapi pada kenyataannya, sampai hari terakhir di Bali, aku masih digonggongnya :') walaupun semakin lama jadi terbiasa. Sesekali aku mengintip lewat lubang pagarnya, ingin tahu anjing jenis apa. Yang kutahu warnanya coklat (atau hitam ya? aku juga sepertinya sudah lupa) dan ada di dalam kandangnya. Sekian dulu cerita soal anjing.
Rumah Ibu Lilik dan 'Akuarium'.
Sekarang cerita soal tempat tinggalku. Waktu pertama kali sampai dinihari itu, dipikiranku Alhamdulillah tempat tinggalnya nyaman. Rumah tinggal biasa, dengan 3 kamar tidur ditambah fasilitas yang sangat cukup. Bersih. Rumah yang bentuknya masih sama dengan rumah-rumah di Jawa, bukan rumah Bali pada umumnya. Awalnya ditinggali oleh delapan orang, yang pada beberapa bulan terakhir sisa kami yang perempuan, enam orang, aku, Dhea, Novita, mba Tantri, kak Tari dan kak Naomi. Sebagian lagi yang laki-laki pindah ke sebelah, ke kos-kosan yang kemudian lebih sering kami sebut dengan 'akuarium'. Rumah tinggal ini milik penduduk asli bernama Ibu Lilik, yang dikontrakkan selama kami tinggal disini. Oh iya, bagi siapapun yang selama ini bertanya-tanya 'ngapain sih di Bali', 'kok lama banget di Bali', 'kok jalan-jalan terus', 'enak banget di Bali terus', jawabannya aku kerja :") Bukan cuma jalan-jalan, mungkin kebetulan yang terlihat di sosial media yang bagian jalan-jalannya saja (jadi semacam klarifikasi ya hehe). Habis ada yang sampai berpikiran kalau aku pindah tinggal di Bali. Jawabannya, aku kerja, yang Alhamdulillah bisa sekalian jalan-jalan, mengeksplor Bali lebih jauh. Empat bulanku disana harus dimanfaatkan sebaik mungkin.
Ini Bali lho, Bali. Harus happy.
Balik lagi ke rumah tinggalku. Kebetulan sejak awal hingga hari terakhir, aku menempati kamar utama. Awal datang aku tidur berempat, dengan Dhea, kak Naomi dan mba Tantri. Sedangkan sekitar 2 bulan terakhir tinggal bertiga, dengan Dhea dan Novita. Bisa dibilang kamar yang cukup nyaman, ada televisi dan AC. Terkadang ketika udara sedang panas-panasnya, kami nyalakan AC-nya. Pernah sekali kami pura-pura tidur ketika pasang AC, listriknya turun (ini salah satu bentuk pengakuan dosa hehe). Karena TV hanya ada di kamar ini, biasanya Mas Yoga, Kak Rey suka pakai untuk nonton MotoGP atau nonton bola. Pernah juga sama-sama kami nonton pembukaan Asian Games. Tapi aku sudah pernah tidur disemua kamar rumah Bu Lilik. Aku pernah mengungsi ke kamar lain dan pernah ketiduran di kamar lainnya lagi yang biasa kami sebut kamar wardrobe, sampai pagi, sendirian. Oh iya di awal-awal kedatangan aku juga sering tidur-tiduran di tengah setelah kerja, alias tidur di lantai (diluar kamar). Walaupun pakai matras, tetap saja pasti diingatkan untuk jangan tidur di lantai.
Tidak ada ruang tamu terpisah. Setelah pintu masuk di sisi sebelah kiri ada dua kamar tidur, di sisi kanan ada satu kamar tidur dan satu kamar mandi, juga ada dapur kecil. Di sebrang pintu masuk ada meja makan dengan empat kursi, yang salah satu sisinya menempel dengan tembok, juga kulkas biru disebelahnya. Didepan ada teras, dengan lampu gantung di langit-langitnya. Disitulah beberapa temanku merokok sambil minum kopi dan mengobrol, main UNO, main poker, atau main werewolf hingga larut malam. Kadang-kadang juga ditempati beberapa temanku yang sedang videocall dengan kerabatnya. Kalau langit malam sedang cerah, dari teras juga bisa menikmati bintang-bintang bertaburan di langit Tabanan. Di depan teras juga ada sedikit tanah rumput yang biasanya kami pakai untuk tempat kami menjemur pakaian supaya bisa terkena panas matahari. Di sudut depan rumah ada tempat ibadah masyarakat Hindu (yang kami kenal dengan sebutan sanggah), yang seharusnya ditemukan disetiap rumah masyarakat asli Bali. Di samping rumah ada lorong sempit tempat mesin cuci yang bisa kami gunakan. Di atas pagar tembok berjajar pot-pot bunga. Kemudian ada garasi yang cukup untuk menampung mobil terios hitam dan juga menampung sandal-sepatu kami semua yang tinggal disana. Berjajar, disandarkan ke tembok.
Nah, 'akuarium' sendiri ada persis sebelah rumah Bu Lilik. Ada beberapa kamar dengan pintu warna coklat. Tidak ada fasilitas apapun di dalamnya, yang kemudian diisi dengan kasur dan ditempati oleh semua rekan kerjaku yang laki-laki. Aku lupa siapa penggagas kata 'akuarium' untuk kos-kosan ini, kalau tidak salah ketika hujan airnya bocor hingga menggenang di kamar paling kiri. Kalau tadinya sempat tinggal dirumah pertama, kemudian pindah ke kos-kosan ini dibilang turun kasta. Ada dua kamar mandi yang terletak diluar kamar. Disana juga kami sering ngobrol-ngobrol, diskusi atau rapat kecil di terasnya. Pernah juga kami makan-makan, bakar-bakar ikan dan seafood disana ketika masih ada tim drone. Di kos-kosan itulah juga kami menaruh semua motor sewaan. Mungkin deskripsi diatas bisa cukup menggambarkan secara garis besar rumah tinggal kami selama empat bulan disana.
Banyak kegiatan yang kami lakukan di kedua tempat tersebut. Khususnya di rumah Ibu Lilik. Setiap pagi, kami mengantri mandi, mulai sekitar jam 5 atau 6 pagi. Biasanya aku terbangun karena alarm Dhea, kemudian langsung mandi pertama. Jam 8 kami semua sudah siap berangkat untuk bekerja: survey ataupun berangkat ke kantor Desa/Perbekel. Kurang lebih satu bulan pertama, sebelum berangkat biasanya kami sarapan terlebih dahulu di rumah. Sarapan yang bisa dibilang cukup monoton tapi bersahabat untuk kantong, telur balado yang dipotong untuk berdua, ayam suwir, mie goreng dan tempe orek. Kadang nasi putih, kadang nasi kuning. Lama-lama kebiasaan itu berubah, dimana akhirnya sebelum pergi kerja kami menyempatkan diri untuk makan di warung muslim/warung Jawa dekat masjid. Sepulang kerja, biasanya semua berkumpul di rumah Ibu Lilik dan mengerjakan pekerjaan yang bisa dilakukan dirumah. Melakukan rekap data, follow up, merapihkan dokumen dan sebagainya. Ditemani oleh lagu dari spotify atau youtube, yang biasanya dihubungkan ke mini-speaker punya kak Rey. Biasanya kami mulai mengerjakan pekerjaan tersebut setelah makan malam hingga larut malam.
Apabila ada waktu kosong di hari biasa, kami masak bersama-sama untuk makan, walaupun masak lebih sering dilakukan dihari Sabtu dan Minggu. Biasanya akan terdengar 'masak yuk nanti sore!' atau 'guys tolong belikan bahan sambal'. Kami bergantian dapat tugas untuk beli bahan masak. Belinya tidak jauh dari rumah, bisa jalan kaki, tapi lebih sering naik motor. Kalau masak-memasak, kak Tari yang paling sering menentukan menu (karena kak Tari juga yang jago masak). Menu wajib setiap masak di rumah adalah tahu atau tempe pakai bumbu racikan mba Tantri dan yang pasti sambal. Aku yang jarang berani makan sambalpun jadi suka ikutan makan pakai sambal.
Empat bulan lamanya, banyak sekali hal-hal yang bisa dibilang tidak begitu penting namun sepertinya akan tersimpan di ingatanku. Tiada hari tanpa tawa di rumah bu Lilik. Hal-hal sederhana sekalipun bisa menjadi bahan tertawaan kami, bahkan masalah pekerjaan juga bisa saja menghibur kami. Ini adalah kali pertamaku jauh dari rumah dalam waktu yang lama untuk bekerja. Empat bulan lamanya tinggal bersama teman-teman baru, yang tentunya memiliki karakter yang berbeda-beda. Ada Dhea, teman seangkatanku. Di kampus kami memang tidak begitu dekat, mulai dekat ketika sama-sama terlambat menyelesaikan tugas akhir. Tidak terlalu banyak bicara, sangat senang nonton korea. Dimana-mana yang dicari pasti toilet :") Sama-sama dapet tugas untuk ngerekap semua data & follow up yang masuk. Ada Novita, adik tingkat di kampus. Selama ini tidak pernah kenal dekat, mengobrol di kampus juga tidak pernah. Di Bali, jadi teman sekamar hampir tiga bulan lamanya. Senang nonton film dari laptop di kamar pakai headset, punya selera musik yang cukup berbeda. Teman selfie dengan aplikasi SNOW, khususnya kalau lagi di kantor perbekel (suka ke toilet bareng juga cuma buat cari kaca) dan tentunya teman curhat juga :") Pokoknya Novita selalu siap sedia mendengar cerita-ceritaku sebelum tidur. Ada Kak Naomi, kakak tingkat di kampus. Hampir sama dengan Novita, suka nonton film pakai headset. Kalau jalan-jalan ke mall, pasti mampir ke drugstore/booth kosmetik buat liat-liat lipstik. Akhirnya kak Naomi jadi salah satu referensiku buat cari-cari lipstik bagus. Salah seorang yang juga selalu sedia mendengar ceritaku, yang kalau mau pergi main mungkin bisa berkali-kali ganti baju :"D
Ada mba Tantri, mba yang banyak fans-nya, yang benar-benar baru kukenal di Bali. Hampir setiap pagi pada bulan pertama, siap-siap kerja ditemani lagu New Light-nya John Mayer. Pokoknya setiap lagu yang mba Tantri suka, akan dipasang berulang kali sampai semua orang hafal. Yang selalu teringat adalah kebiasaan mba Tantri suka minuman dingin, habis buat minuman pasti disimpan di kulkas dulu. Ada mba Tari, yang baru kukenal beberapa hari menjelang keberangkatanku ke Bali. Senang menyanyi, kalau pergi naik mobil "putar lagu tal." Yang akan kuingat dengan kata 'selera', selera bakso. Pintar masak, perhatian sama kami-kami semua. Paling jago negosiasi sama bapak-bapak kaling. Pernah buat aku nangis kejer di malam ulang tahunku :")
Lalu ada kak Rey, kakak tingkatku yang satu angkatan dengan kak Naomi. 'Our idol' katanya. Disebut-sebut mirip ayahnya Sal, Rio Dewanto. Bajunya banyak. Kadang-kadang suka kesandung barang-barang dirumah :") Yang hampir selalu mengantar kita kemana-mana naik mobil, sabar menghadapi kami para perempuan yang tentunya berisik, walaupun suka menghilang tiba-tiba pergi jalan-jalan nonton film sendiri. Penikmat kopi. Ada Guntur, teman seangkatanku juga yang bisa menjadikan segala hal dan setiap sudut Bali jadi aesthetic. Dia juga yang mengajarkan untuk memburu foto instagrammable di berbagai tempat saat hari-hari libur :'D Hobi banget makan soto solo di jalan raya belakang rumah tinggal. Paling sering juga bantu antar kalau aku sedang perlu beli makan, ke ATM atau ke minimarket. Lalu ada Upin-Ipin alias Sansan-Tio. Sepaket. Sansan 'Baker Photography'. Suka fotografi dan paling sering buat video. Punya rambut yang unik. Kalau Tio, sering jadi objek foto dan video yang dibuat oleh sansan. Yang kuingat sering sekali ditengah bekerja laptopnya mati total karena kabel charger-nya yang secara tidak sengaja sering kesenggol orang lewat :") padahal belum di save. Tio ini juga yang sering bawa mobil, bergantian sama kak Rey. Oh iya, mereka semua adalah orang-orang yang bertahan hingga akhir, walaupun Sansan dan Tio merupakan anggota paling baru di tim kami. Ada mas Yoga, yang suka menobatkan kami semua dengan peringkat rekan kerja terbaik ke-sekian. Takut dengan anjing, katanya sih, "Anjing yang kutakuti cuma 3. Warna putih, hitam dan coklat." Selalu nonton motoGP. Memasuki bulan keempat ternyata Mas Yoga berkhianat duluan meninggalkan kami.
Sesungguhnya masih ada hal-hal lain yang terjadi di rumah Bu Lilik dan sangat membekas diingatanku, seperti pertengkaran-pertengkaran rumah tangga (disebutnya begini) antara kak ***** dan kak *** yang selalu kudengarkan sambil tertawa. Hampir setiap hari kami mendengar perseteruan seru yang kadang hanya membahas hal-hal kecil. Saling 'nge-gas' (hayo coba siapa bisa tebak?). Lalu sangat update berita alias gosip tentang seorang perempuan yang sebenarnya tidak perempuan(?) Ketika itu ia mengeluarkan lagu baru yang terus terngiang di kepala disertai gerakan-gerakan yang-um.. tidak biasa? Bagaimana tidak, hampir setiap posting-an baru di instagramnya kami tonton bersama-sama di meja makan bu Lilik :") juga berita tentang seorang laki-laki yang diduga melakukan plastic surgery tapi rasa-rasanya sedikit gagal(?) Hujatan demi hujatan netizen menjadi bahan tertawaan kami :") *yang hasilnya malah menyerupai beauty blender*. Kemudian tragedi kerusakan beberapa perabot rumah seperti gayung yang berkali-kali pecah, kursi patah dan tutup freezer patah. Hal-hal tersebut juga seringkali memicu drama-drama seru :")
Gempa!
Pada bulan-bulan awal kami semua juga sempat panik ketika gempa mengguncang Nusa Tenggara dan terasa hingga Bali. Beberapa kali gempa begitu terasa, hingga membuat lampu gantung dan pagar rumah tinggalku bergoyang-goyang. Dalam sehari juga bisa terasa lebih dari satu kali gempa. Ketika gempa paling kuat terjadi, kebetulan saya sedang dalam perjalanan pulang setelah melakukan sosialisasi di Desa, sehingga tidak terasa. Sedangkan orang-orang dirumah cukup panik, dimana saat itu juga daerah Denpasar terkena dampak berupa kerusakan pada beberapa bangunan. Gempa-gempa susulan yang terus terjadi juga seringkali membuat kami berlarian keluar rumah. Setelah merasakan beberapa kali guncangan gempa, sering terlontar 'Gempa gak sih?', 'eh gempa ya', 'eh goyang' dan sebagainya yang kadang hanya perasaan saja :")
Terlalu banyak rasanya cerita yang tertulis disana dan tidak bisa kutulis disini semuanya. Empat bulan yang memberikan banyak pengalaman dan pembelajaran untukku (kalau kata seorang temanku manis-pahit kehidupan). Aku belajar banyak hal, terutama pentingnya menghargai orang lain. Pentingnya menahan ego. Memang terkadang perbedaan pendapat dan pertengkaran tidak bisa dihindari, tapi aku bersyukur bisa mendapat rekan kerja yang begitu baik dengan cara dan karakter mereka masing-masing pada pengalaman kerja pertamaku :") Terima kasih banyak, Rakyat Tabananku. Aku sayang kalian!
Tak lupa kusampaikan terima kasih kepada kak Amri, mas Hanif, teman-teman tim drone, Hadi yang menjadi partner surveyku, Andari, Affan, Edgar, Hilman dan Mase yang turut meramaikan kehidupan Tabananku walau tidak sampai akhir hehe.
Sekian cerita manis-pahitku dan mereka semua di Gang Delima. Selamat tahun baru! Semoga tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya. Semoga harimu menyenangkan🖤
at Fatahillah Museum, Jakarta
Sebagian teman terbaik selama di kampus, yang selalu jadi partner bermusik dihari kamis dan sabtu: Pasukan Tacet/Pejuang Ritme OSUI🥁 Semoga tetep suka ngumpul walaupun nanti udah pada mencar kemana mana yaa🖤
Love is… by Puuung
If you save, like or reblog, please.
cat asking for a pet
Finally!🎓
"Hanya tersisa kerinduan bersama kehampaan, Berjalan dengan kerinduan, Tertunduk pilu, Menanti dalam kerinduan, Terbungkus oleh kehampaan, Menyerap pada kerinduan."
Kerinduan, Payung Teduh
Cats, flowers and butterfly. (edisi rumah dan sekitarnya)
Pembuka tahun 2018🌹