aneh sekali Ramadhan tahun ini, tidak ada yang mengantar lontong dan sayur labu serta ayam pedas ke rumah kami. Biasanya, ayah mertua akan mengabarkan h-1 Lebaran untuk mengirim makanan ke rumah kami (Jakarta - Tangerang)
tapi tahun ini tidak ada kiriman lauk lagi. Kami yang menghampiri tempat ayah. Mama masak di depan mata kami, “rasanya aneh melihat mama masak” biasanya kami menunggu kiriman dari rumah agar besok sebelum Idul fitri kami santap.
1 minggu terakhir di bulan Ramadhan kami habiskan waktu di rumah mama dan ayah. Agar mama tak benar merasakan sepi. Tapi, naas. Kami ini bukan pemilik hati. Ada hari-hari saat mama merindukan ayah, dan selalu bercerita tentang perbedaan Ramadhan serta Idul fitri tahun ini. Kami mendengar dan menahan air mata dari kaca-kaca lemah ini. Kami menguatkan padahal hati ini belum sepenuhnya pulih dari kehilangan.
Ramadhan berlalu dengan cepat, penuh air mata setiap mengingat ayat tentang betapa rindunya orang-orang yang mendahului kami di dunia untuk melaksanakan ibadah di bulan Ramadhan. Aku berdoa agar tidak ada penyesalan pada ayah di akhirat nya yang baru. Aku sangat khawatir kalau ayah menangis di sana, memohon untuk kembali lagi di bulan Ramadhan. Semoga sampai doa kami, hingga tenang dan lapang di tempat yang baru.
Awal bulan nanti genap 100 hari ayah pergi, tapi dalam pandangan kami dunia masih berhenti.












