Aku ingin sedikit bercerita tentang sosok ayah di mataku. Kalau boleh jujur, ada banyak hal yang aku lupakan di masa kecil. Mayoritas kenangan masa kecilku berkaitan dengan ibu. Terkadang, aku butuh usaha keras untuk membangkitkan kenangan masa kecil saat bersama ayah. Tapi ada beberapa kenangan bersama ayah yang tidak akan pernah aku lupakan, misalnya:
1. Apabila hujan turun dan aku tidak membawa payung ke sekolah, ayah akan menjemputku dengan membawa payung. Kami pulang berjalan bersama di bawah guyuran hujan.
2. Ayah dulu adalah seorang kepala desa. Aku bangga sekali kalau melihat beliau berpidato dan memberikan sambutan di kegiatan-kegiatan desa.
3. Beberapa kali, ayah mengantar aku ke sekolah naik motor saat beliau kebetulan hendak ke kantor kecamatan yang bersebelahan dengan gedung sekolahku.
4. Ayah suka membelikan snack, chiki, dan permen di saat ibu selalu bawel melarang anak-anaknya terlalu sering mengonsumsi MSG.
5. Setiap aku sakit dan dibawa ke dokter, aku akan menangis karena disuntik. Ayah memeluk erat dan selalu bilang kalau sakitnya cuma seperti digigit semut. Pulangnya, aku bebas memilih snack apapun yang kumau.
6. Ayah gemar membelikan buah dan kue-kue tradisional di pasar, sehingga tiada hari tanpa makan enak saat masih kecil.
7. Pernah suatu ketika aku pergi ke Tuban berdua bersama ayah naik angkot. Saat di pasar, ada anak-anak mengemis sambil menarik baju ayah dan bilang “Pak… Pak..” aku masih ingat, lucu sekali aku langsung menggandeng tangan ayah karena merasa cemburu, takut anak itu mengaku-ngaku bahwa ayahku adalah bapaknya.
8. Pernah suatu kali aku naik di pundaknya saat beliau sedang tertidur. Kemudian ia bangun, memanggulku di pundaknya, lalu berdiri di atas meja agar aku takut ketinggian.
9. Ketika kelas 3 SD, aku sangat gemar menggambar sehingga semua buku pelajaranku penuh dengan gambar-gambar robot. Ibu jelas sangat marah karena aku bukannya mendengarkan pelajaran dan memanfaatkan buku itu untuk menulis tugas. Lucunya, ketika Ibu mengadu ke Ayah, beliau menjawab “Ya biarkan saja, namanya juga bakat”.
10. Ayah memperbolehkan kami mencoret-coret dinding kamar. Sehingga dinding penuh dengan gambar anime dan power rangers.
11. Aku pernah mengecewakan ayah karena hanya meraih ranking 2 di kelas.
12. Ayah marah sekali saat aku bolos sekolah dan mencuri uang celenganku sendiri untuk bermain play station.
13. Suatu ketika, kakak mendapat rangking 1 lalu Ayah membelikannya mobil remot control. Bodohnya saat itu aku merasa cemburu dan dipelakukan tidak adil. Padahal, memang kondisinya uang saat itu hanya cukup untuk membeli satu buah. Ayah bilang itu untuk kami gunakan bergantian.
14. Ketika aku mau bergabung ke klub sepak bola, ayah mengajak aku dan kakak ke Tuban untuk membeli sepatu bola. Senang sekali rasanya.
15. Kalau ayah sedang menawar di pasar, rasanya benar-benar menjengkelkan.
16. Suatu ketika aku dibelikan kacamata hitam dan jam tangan di Pasar Atom Tuban. Aku masih sangat ingat model dan bentuknya.
17. Aku kerap menggunakan mesin ketik Ayah untuk bermain.
18. Setiap malam takbiran, ayah menyediakan mikrofon dan sound agar aku dan kakak mengumandangkan takbir sekenanya.
19. Ayah pernah mengajakku dan kakak bertamasya ke Surabaya. Di sana aku menaiki motor otomatis. Ayah mengambil foto kami berdua saat berboncengan.
20. Setiap sore, ayah mengajak kami bersepeda ke desa sebelah, sambil menunjukkan sawah-sawah milik beliau dan kakek.
21. Jika ada hari libur, ayah akan mengantarkan kami untuk menginap di rumah bibi di Tuban dan Jombang.
22. Setiap upacara peringatan Hari Kemerdekaan, kami duduk di sebuah tenda khusus karena ayah adalah seorang Kepala Desa.
23. Pernah suatu pagi aku malas salat subuh. Aku memakai sarung lalu duduk di kamar cukup lama biar dikira sedang salat. Tak sengaja aku melihat mata ayah mengintip di sela-sela pintu, lalu aku pura-pura tak menyadari dan mendirikan salat agar tidak ketahuan berbohong.
24. Ketika membangun sarang walet di samping rumah, aku tak pernah berani menaiki tangga sendiri. Ayah selalu menggendongku dan membawaku ke lantai dua, tiga, dan empat dengan tangga itu.
25. Pernah aku diajaknya masuk ke sarang walet di samping rumah, lalu ia menunjukkan beberapa sarang yang ada di langit-langit.
26. Aku masih ingat kehangatan yang terasa setiap malam saat masih tidur sekasur dengan ayah dan ibu.
27. Suatu hari ada tetangga yang marah-marah merampok minta uang ke rumah. Orang itu memecah beling dan membuat ayah terluka dan darah berceceran dimana-mana. Ia memasukkan anak-anaknya ke kamar agar tak ikut terluka.
28. Ayah gemar membuatkan rujak untuk anak-anaknya. Rasa sambal petis buatannya tidak pernah berubah.
29. Saat masih kecil, aku akan sangat senang menunggu ayah pulang dari Balai Desa. Aku sampai melompat-lompat saking girangnya. Aku lupa sejak kapan kepulangannya itu menjadi sesuatu yang biasa dan lambat laun kuanggap tak penting.
30. Setiap kali aku tertidur di depan televisi, ayah menggendong dan memindahkan aku ke kasur.
31. Setiap hari Minggu pagi, ayah membangunkan aku dan kakak agar tidak terlewat acara kartun di televisi.
32. Dulu, ayah mewajibkan aku menghafal perkalian dan pembagian. Aku harus menyetor hafalan setiap hari.
33. Dulu ayah memiliki kamera. Setiap hari, dia mengambil fotoku bersama kakak.
34. Ayah beberapa kali mengajakku naik motor ke pabrik milik Pak Tomo di perbatasan desa.
35. Aku pernah menemani ayah membeli telur di Desa Gadon, tempatnya bau sekali. Lucu sekali saat aku menulis bagian ini, aku bisa membayangkan baunya seperti apa.
36. Ayah selalu mengajak kami menonton wayang kulit yang digelar setiap bulan Agustus di desaku.
37. Ayah suka membelikan kami Yakult, Sosis So Nice, Wafer Tango, Komo, Milton, Chiki, dan Jelly.
38. Aku pernah pergi berdua dengan ayah untuk membeli durian di Lasem.
39. Saat kelas 3 SD, aku izin tidak masuk sekolah karena menemani ayah pergi ke Madiun menghadiri acara pernikahan adik sepupu.
40. Aku mabuk saat pergi berdua ke Gresik bersama ayah untuk memesan kue khitananku
Mengingat ini semua membuat aku terheran-heran, bisa-bisanya ayah hanya tersimpan sebagai protagonist sampingan di kenangan masa kecilku.***