'Merdeka' dari diri sendiri
Tulisan ini ku tulis atas dasar perasaanku yang membuncah tiba-tiba karena telah terpendam lama tanpa ekspresi dan kemudian terinspirasi dari sepucuk kisah novel yg menyentuh hatiku.
Sejak semester tiga, dia sudah tampak menyukaiku, dia menganggap ku perempuan yang sempurna dan bisa melengkapi hidupnya. Namun kehidupan kampus yang sangat sibuk dan hatiku telah berpihak ke orang lain membuatku abai beberapa tahun walaupun dia tidak menyerah sekejap pun. Anggap saja namanya Meteor.
Singkat cerita, pandemi dan berbagai macam permasalahan kompleks didalamnya datang menghadang. Aku menjadi orang yang sangat impulsif, emosional, dan menyebalkan demi beradaptasi dengan kehidupan sunyi yang tidak cocok dengan jiwa extrovert sepertiku dan ditambah dengan shock yang menghampiriku melihat bagaimana wajah sebenarnya dari keluarga inti ku. Aku bingung, kacau, dan tidak terarah. Lebih buruknya aku melampiaskannya pada orang-orang terdekatku. Termasuk orang yg dulu berada di dalam hatiku. Aku sangat impulsif memutuskannya saat itu juga. Namun aku tidak akan menyesalinya walaupun aku bisa, karena itu bagus untuknya tidak akan berurusan lagi denganku yang sangat buruk.
Di saat yang menyedihkan dan lengang itu, Meteor tetap persisten melakukan "misi" nya kepadaku. Di mataku dia terlihat lebih nyata tak seperti biasanya, seolah-olah dia mengetahui apapun isi pikiranku. Membuatku sedikit bertanya-tanya dan banyak memikirkan sesuatu yang tak pernah terlintas di pikiran 2 tahun sebelumnya, "Bisakah aku memberinya kesempatan?". Hari-hari berganti, dia sangat konsisten tak pernah menyerah, walaupun tau bagaimana kondisiku. Pada saat itulah, entah aku masih impulsif atau tidak, aku merasakan bagaimana hatiku terpesona, aku memberinya kesempatan. Saat itu aku mempercayai bahwa mungkin cinta akan tumbuh jika terbiasa.
Satu bulan, dua bulan, tiga bulan. Aku masih mempercayai apa yg ku percayai saat itu. Bahkan aku merasakan itu menyenangkan. Dengan baiknya kepribadiannya, dan apapun itu dia sebenarnya orang yang sangat baik hanya beberapa kekurangan yang sepele, bukan yang berat ku terima.
Namun minggu-minggu dan bulan-bulan setelahnya aku menyadari sesuatu kesalahan besar yang telah kulakukan. Aku seperti mati rasa, hampa, tidak ada rasa berbunga-bunga, antusias, fluttered heart menunggu sesuatu, atau banyak hal lain yang biasa kita rasakan saat jatuh cinta. Aku tidak pernah merasakan rindu walaupun berhari-hari tidak berkomunikasi, atau merasa senang diperlakukan spesial, hanya satu yg kurasakan apapun yg dia lakukan : biasa saja. Walaupun aku sudah menyampaikannya ke Meteor, dia hanya bilang "Nggakpapa, semua kan butuh proses" Dia santai sekali menanggapi hal yang menurutku adalah red flag. Tapi setelah itu, kucoba kembali mungkin hanya bagian dari proses.
Setelahnya, bukan malah lebih baik, muncullah red flag yang lebih menakutkan bagiku. Setiap hari aku diliputi rasa ragu dan ingin mengakhiri. Ditambah lagi dengan orangtuaku yang tidak terlalu srek dengannya. Anyway dia pernah datang ke rumah, dan tentu saja umi abi ku memiliki penilaian tersendiri. Entah dia terlalu baik untukku economically or kepintarannya sehingga merasa tidak sekufu, atau menganggap bahwa dia orang kota dan moderen tidak cocok denganku yang hanya serpihan rempeyek. Tidak sreknya justru karena hal-hal yang lebih, bukan hal-hal yang kurang. Apapun itu, itu sangat menggangguku beberapa bulan ini. Aku ingin sekali membicarakannya, tapi aku saja hanya chattingan selama ini itupun sering ku sembunyikan dan tidak kubalas. Aku selalu beralasan menunggu momen yang tepat, namun tidak pernah membangun momen yang sehat juga. Aku hanya diam ditempat, tapi stres dan kepikiran.
Dari novel yang baru ku baca, aku mendapatkan tamparan keras betapa aku akan sangat menyakiti Meteor apabila semakin lama aku hanya diam seperti ini, tidak memutuskan atau menegaskan sesuatu. Mulai sekarang aku akan membulatkan tekadku menuju suatu hari aku akan memberikan dia penjelasan terbaik dan keputusan terbaik yaitu mundur. Ini semua yang terbaik. Ini akan menjadi resolusiku tahun ini, merdeka dari diri sendiri dari apapun yang kurasakan, bisa memutuskan semuanya dengan independen tanpa beban. Semoga aku dimudahkan jika ini merupakan skenario terbaik dari Allah aamiin.