Kata Dunia
"Jangan mencintaiku." Seketika aku terdiam sejenak. Aku menatapnya. "Kenapa? Bukankah kamu indah?" "Iya. Tidak." Aku mengerutkan keningku, menunggu penjelasannya lebih lanjut. "Iya, semua dari diriku indah. Tapi tidak, semuanya fana." Ia berhenti sejenak, sambil menatapku lekat. "Denganku, jika kau mau, kau bisa merasakan rasanya menjadi seorang yang bergelimang harta. Mudah untukmu belanja ini dan itu. Gampang bagimu pergi ke negara yang satu ke negara yang lain. Tak sukar dirimu kala memperindah rumah tempat tinggalmu. Karenanya, bagimu aku indah." "Denganku, jika kau mau, kau bisa merasakan rasanya menjadi seorang yang dipuja-puji. Seorang yang diagung-agungkan. Seorang yang namanya di sorak-sorakkan seantero negeri. Seorang yang wewenangnya luas sehingga orang-orang pun tunduk padamu. Karenanya, bagimu aku indah." "Denganku, jika kau mau, kau bisa merasakan rasanya dimabuk asmara. Hanya sosoknya yang ada di pelupuk mata. Senyumnya, gerak-geriknya, tingkah lakunya kau hafal mati. Bahkan saat kau tersakiti olehnya pun, Ia tetap terlihat bersinar di hadapanmu. Karenanya, bagimu aku indah." "Ah! Mustahil mengalami itu semua sekaligus!" Kekehku. "Haha, benar. Tapi, bukankah itu yang kau impi-impikan?" Aku terdiam. Ia tak salah. "Dan, kau bisa mencapainya jika kau mau berusaha mendapatkannya." Lanjutnya. "Dan, meskipun kau merasa itu mustahil, bukankah kau tetap memandangku... indah?" Aku tersenyum. Jackpot, pikirku. "Lantas? Memangnya kenapa kalau aku memandangmu sebagai suatu hal yang indah?" "Ya.. tak mengapa. Hanya, jangan mencintaiku. Karena, tak satu pun dari yang kusebutkan tadi, akan kau bawa mati. Sekali habis masa hidupmu, sekali itu pula lah habis keindahanku di matamu. Karena saat pandanganmu yang sesungguhnya tersingkap, di saat itu pula lah kau menyadari, betapa fananya keberadaanku." Ia, Dunia, menatapku lekat. Seolah ingin agar pesan-pesannya itu menembus hatiku yang entah ada dimana. Aku balas menatapnya dengan tatapan sendu, kemudian menangisi diri sendiri. Ah, lantas bagaimana? Aku sudah terlanjur cinta, batinku.











