Sepulang dari tempat kerja, entah mengapa hari ini aku tak bersemangat untuk kembali langsung ke rumah. Bukan. Bukan karena ada masalah di rumah. Hanya saja ingin ke tempat lain sebelum kembali ke peraduan.
Malam ini mendung. Tetesan gerimis satu persatu terasa di kening. Semakin deras, dan akupun yang sedang mengendarai sepeda motor ke arah yang berlawanan dari arah rumah tak mau kehujanan, akupun berteduh. Aku berteduh di sebuah tempat yang banyak tidak disukai orang: rumah sakit. Aku masuk dan duduk di ruang pendaftaran pasien. Sepi. Bahkan orang-orang yang berteduhpun tidak ada yang masuk ruangan ini.
Kemudian tiba-tiba datang seorang wanita setengah baya masuk ke ruangan tersebut dan berdialog dengan salah satu perawat. "Nyonya, seperti kata dokter, Anda harus segera mencari orang yang mau mendonorkan ginjalnya", kata perawat itu. "Tapi saya hidup sebatang kara, saya tidak bisa menemukan orang yang peduli, Sus", kata wanita setengah baya dengan nada bingung. Seketika itu aku berfikir untuk mendonorkan ginjalku saat itu juga. Entah, aku berfikir mungkin inilah maksud Tuhan senakdirkanku berada di tempat ini. Biasanya di waktu yang sama, aku sudah berada di atas kasur untuk bersiap tidur. Tapi kali ini aku berada di rumah sakit ini, bertemu dengan wanita setengah baya ini.
"Sus, saya mau donorkan ginjal saya untuk ibu ini", kataku dengan yakin. "Anda serius?", tanya perawat itu degan nada keheranan. Terlihat sekali bahwa perawat itu belum pernah mendapatkan tawaran donor ginjal secepat itu dari orang asing walaupun berada di rumah sakit. "Apa?", tanya wanita setengah baya. Wanita itu bertanya lebih buruk lagi. Cukup lama jeda antara tawaranku dengan pertanyaannya. Sepertinya beliau betul-betul tidak percaya.
"Ya, saya mau donorkan ginjal saya sekarang juga", aku meyakinkan kembali.
"Aku sangat bersyukur. Tapi aku masih belum percaya. Mengapa kamu mau dengan cepat mendonorkan ginjalmu seperti itu? Kamu yakin?", wanita setengah baya itu mendekatiku, diikuti oleh perawat yang juga berwajah penasaran.
"Aku tidak tahu. Aku tiba-tiba saja tidak ingin langsung pulang setelah bekerja. Aku tiba-tiba saja melewati jalan depan rumah sakit ini. Hujan tiba-tiba saja turun. Dan aku tiba-tiba saja mendengar percakapan ibu yang membutuhkan ginjal sekarang juga. Aku rasa Tuhan yang merencanakan ini", aku tidak tahu apa yang harus aku katakan agar lebih bisa meyakinkan mereka berdua. Tapi aku yakin berkata jujur seperti itu akan mudah dipahami hati mereka.
Tatapan kebingungan wanita setengah baya dan perawat itu pecah seketika seorang dokter datang mendekati kami. Dokter itu segera menyalami wanita setengah baya dan berkata, "Bu, kami sudah mendapatkan donoran ginjal. Silakan ibu menuju ruangan tunggu untuk segera dijadwalkan operasi secepatnya".
"Apa?" kataku dalam hati. Tuhan sepertinya sedang mengujiku. Tapi baru kali ini aku menawarkan bagian tubuhku dengan mudahnya ke orang asing tanpa kupikir lama. Biasanya aku harus menghabiskan berjam-jam waktuku hanya untuk memutuskan suatu perkara kecil saja, seperti :hari ini mau makan apa, besok mau baca buku apa, nanti mau pulang lewat mana. Aneh.
Wanita setengah baya itu berdialog dengan dokter untuk mengungkapkan rasa syukurnya dan berterimakasih atas usaha dokter mencarikan ginjal. Setelah itu beliau menghampiriku lagi. Tanpa mengucapkan kata pembuka apapun, beliau memelukku. Tangisnya menetes di bahuku. "Terimakasih, nak. Sepertinya Tuhan sudah menaikkan levelmu. Aku tidak akan melupakanmu". Aku balas dengan senyuman. Kemudian dokter, perawat, dan wanita setengah baya itu pergi ke ruang tunggu operasi.
Hujan telah reda. Tapi entah mengapa aku masih ingin berdiam di ruangan ini sampai pagi datang. "Hey! Pulanglah kau! Mau menunggu orang yang butuh ginjal lagi? Kau sudah kebanyakan ginjal rupanya, hah?", seseorang dalam pikiranku mulai protes. Kemudian akupun pergi dari ruangan itu. Mengikuti suara dari dalam pikiranku. Entah itu suara dari malikat atau iblis, aku tak tahu.