The Last Memorable Game
Milan, Italia.
4 Januari 1875, 23:00
Suhu udara di malam itu tidak mencapai 0 derajat celcius. Badai salju baru berakhir tadi pagi, di malam hari hanya menyisakan gerimis butiran putih yang berjatuhan bergantian secara perlahan. Jalanan terlihat lengang, bunyi gemerisik salju di atap rumah terdengar sedikit jelas. Di saat seperti itu, penduduk di pinggiran kota Milan mengurung diri dalam rumah, ditemani pemanas tradisional dari pembakaran kayu api di setiap sudut rumah mereka. Tapi tidak bagi ke enam anak muda ini. Cinre, Vino, Rizky, Dylan, Dyza, dan Bella.
Keenamnya terlihat keluar dari sebuah kedai kopi kecil di persimpangan jalan, mereka terlihat berjalan berpasangan, berjauhan, seperti tidak mengenal satu sama lainnya. Dengan sweater kulit tebal dan kaus tangan hitam mereka terlihat seperti gerombolan turis penikmat kota yang tersesat tanpa arah. Kenyataannya keenam orang ini mengemban tugas khusus dari pemerintahan pusat. Mereka adalah mata-mata intelegen khusus pemerintah yang bertugas untuk mencari informasi tentang kriminal-kriminal kelas berat yang membutuhkan campur tangan kepolisian federal untuk sekedar menjadi lawan yang sepadan bagi para penjahat-penjahat tersebut.
“Target tt..t. 300 meter di depan kita. Ppp… peersiapkan segala ses..suatu, jangan lengah mmm…. dan tttetap waspada.!!”
Suara perintah itu berasal dari seorang pria yang ditunjuk untuk memimpin ke enam orang ini. Cinre Lakanaodillaro nama lengkapnya. Dengan aksen kental Afrika barat yang sedikit terbata-bata dan sedikit pelan dia mengecek kesiapan ke lima temannya ini.
“Kau terlihat gugup Re, kau itu salah satu petugas terbaik dan ketua kami disini, kau seharusnya siap..!!” Suara berat Rizky mengagetkan Cinre yang sementara mengamati dengan teropong kecilnya.
“Apa maksudmu? Kau pikir aku tidak siap apa?” Cinre terlihat sedikit marah
“Rizky benar, Re. Keselamatan kami ada di tanganmu. Taktik dan strategi yang tepat dan jelas yang dihasilkan oleh pikiran jernihmu tentunya akan lebih mempermudah tugas ini. dan…., Re.. Pikiran yang jernih itu datang dari jiwa yang tenang. Kamu terlihat sedikit ketakutan Re, suaramu tadi…….”
“Suaraku kenapa? Aku tidak gugup, aku agak sedikit kedinginan..!!” Dyza mencoba menengahi, tapi Cinre memotong nasehat temannya ini sebelum dia mengakhiri perkataannya.
“Baiklah, maaf. Iya aku sedikit gugup. Tapi aku janji akan berusaha sebaik mungkin. Sekali lagi, Siapkan segala sesuatu..!! Dalam 15 menit, kita akan masuk ke gedung itu.”Cinre berjalan menyelinap memimpin ke lima temannya ini, pikirannya kacau. Dia tidak pernah mendapatkan tugas seberat ini, apalagi harus menanggung beban melindungi ke lima anggotanya tersebut.
Keenam pemuda ini terlihat menyelinap pelan dan hilang dibalik sebuah gang sempit yang begitu gelap. Disamping gang tersebut terdapat sebuah gedung sekolah yang tidak terpakai lagi. Sekolah itu sekarang menjadi markas besar kawanan mafia terkuat di Eropa. Mafia de Crudele Protettivo atau dalam bahasa Italy berarti Pelindung yang kejam. Gerombolan mafia itu dipimpin oleh seorang residivis dari Asia, Andiri Mogelona. Andiri terkenal sebagai penjahat jenius di kala itu, dia dikenal sebagai pencuri ulung khas permata dan batu mulia. Bank negara, museum dan Rumah pejabat kaya menjadi daftar tempat-tempat yang sudah di bobol olehnya. Polisi, Tentara, Para pemimpin Negara, dan bahkan hampir seluruh penjahat di kawasan Asia mengenalnya.
Meski terkenal dengan kejeniusannya, Andiri tetap berhasil ditangkap oleh kepolisian federal Asia dan dipenjara seumur hidup di Malaysia. Sayangnya, setelah 2 tahun menjalani masa tahanan, dia dibebaskan bersyarat. Pada saat itu terjadi perang saudara yang memicu kerusuhan dan peperangan sangat besar di Malaysia dan akhirnya menyebabkan terjadinya ketimpangan pemerintahan yang ujung-ujungnya berarah ke reformasi kekuasaan. Tidak ada yang tahu, Andiri merencanakan dan menjadi dalang dari terjadinya kerusuhan tersebut.
Setelah 1 tahun tidak diketahui keberadaannya, Kepolisian Federal Eropa atau EFPO (European Federal Police Organization) berhasil melacak posisi Andiri. Seperti yang ditakutkan oleh mereka, Andiri kali ini sudah menguasai kriminalitas Italia dan berencana untuk menjadikan Eropa sebagai Ladang penjarahannya. Sebelum hal yang lebih buruk terjadi, EFPO mengirim mata-mata terbaik mereka yang berjumlah enam orang untuk mengumpulkan Informasi sebanyak-banyaknya. Keenam orang ini diperintahkan untuk memasuki wilayah kekuasaan Mafia de Crudele Protettivo, menginterogasi setiap orang disana dan mencari tahu kelemahan Andiri.
Tapi, Ketua mereka, Cinre, memutuskan untuk langsung memasuki markas besar Mafia de Crudele Protettivo untuk memperah informasi langsung dari berkas-berkas yang berada di lemari brankas Mafia tersebut.
“Kau terlalu berani, apa maksudmu?” Vino mencoba mendahului langkah Cinre dan menahannya.
“MINGGIR VIN, kau menggangguku”
“Dia serius Re, Aku juga tidak mengerti apa keinginanmu. Kita diperintahkan untuk memperoleh Informasi dari penduduk di sekitar tempat kekuasaannya saja. Kenapa kau berani memasuki markas mereka? Mau mati ya?” Dylan menahan bahu Cinre yang hampir mendorong Vino di depannya.
“Yang mau Mati siapa? HAH..? tadi pagi, saat kalian tertidur lelap, aku menginterogasi seorang warga di depan kedai kopi tempat kita minum tadi. Sesuai informasi yang aku dapatkan darinya, Andiri dan seluruh kawanannya sedang mengarah ke Berlin. Diamond Sky Blue akan dipamerkan disana. Andiri sudah mengincar harta karun itu sejak lama, dia tidak ingin menyianyiakannya. Ini kesempatan kita untuk masuk. Percayalah…!!” Cinre lalu menyingkirkan tangan Dylan dari bahunya dan sedikit mendorong Vino yang menghalangi jalannya. Di depannya kini ada peluang untuk meruntuhkan hegemoni kejahatan terbesar di Eropa, bahkan dunia. Keinginannya untuk melakukan yang terbaik dalam pekerjaannya memotivasinya untuk mengambil kesempatan. Dia tau kesempatan emas ada di depan matanya.
Sayangnya, dia terlalu terburu-buru…!!
“Siapkan senter kalian, disini luar biasa gelap. Sinar bulanpun tertutup awan” Cinre mendongak ke atas atap. Bulu kuduknya mulai merinding, dia merasakan ada yang salah kali ini. tapi dia tetap memaksakan kehendaknya.
Keenamnya sekarang sudah berada di dalam markas besar Andiri. Mereka menyusuri lorong-demi lorong, kursi dan meja yang tak beraturan seakan baru mengalami fenomena poltergeist agak sedikit mengganggu pergerakan mereka. Bau menyengat dari bangkai-bangkai mayat mantan anggota mafia yang diketahui berkhianat menusuk hidung mereka.
“Bum Bum.” Suara dentuman yang berbeda terdengar dari bawah kaki Dylan. Keenamnya terhenti.
“Kurasa aku menemukannya Re.!!” Dylan langsung mencari gagang pintu kecil yang ada di bawah kakinya, bunyi tadi berasal dari ruang kosong yang ada di basement paling dasar sekolah itu. Ruang bawah tanah, tempat semua pekerjaan mafia dilaksanakan.
“crekk…….” Pintu ruang bawah tanah pun terbuka, keenamnya langsung turun kebawah melalui anak tangga yang tersedia tepat dibawah pintu tersebut. Ruangan bertambah gelap, Cinre semakin gugup tidak karuan, dia merasakan ada yang mengejarnya dari belakang.
“Main Hall.. Mafia de Crudele Protettivo, Iya, ini ruangan utamanya. Sedikit lagi kawan-kawan.” Cinre memandu ke lima temannya yang lain masuk ke dalam ruangan tersebut. Didalam mereka disambut oleh cahaya api pemanas ruangan yang memperlihatkan betapa luas ruangan bawah tanah itu. Di dinding main hall itu terdapat beberapa pintu masuk yang menuju ke ruangan lainnya.
“Kitchen….. mm…… Tools, lalu Rest room, toilet, chambers, Deadroom mmmm” Bella sibuk membaca satu persatu nama ruangan yang tidak begitu jelas itu… “Aku menemukannya… President Room, itu pasti ruangan Andiri”. Bella langsung menuju ke arah pintu kayu dengan hiasan ukiran-ukiran Jawa yang begitu teliti. Satu-satunya pintu yang berbeda dari yang lain, kelimanya mengikuti dibelakang. Cinre terlihat kegirangan dan mendahului Bella yang berada di depannya.
“Cklek…. Treeetttt” pintu itu sedikit berat tapi tidak terkunci. Cinre memasuki ruangan itu, sementara teman-temanya menjaga dari luar untuk bersiap-siap jika terdengar tanda-tanda orang masuk ke ruangan tempat mereka berada. Ruangan itu begitu gelap dan mencekam, berbeda dari ruangan yang mereka lewati sebelumnya, President room ini sangat bersih, harum apel menyebar dimana-mana, tidak pengap, dan hangat, meski diluar sana bersalju. Ruangan yang memang dikhususkan untuk ditempati oleh pemimpin. Cinre tidak bisa melihat apa-apa di dalamnya, tanganya merayap diantara dinding mencari saklar lampu. Sampai akhirnya dia menemukannya.
“Tek………….. Ckecek” Cinre menekan saklar lampu dan seketika ruangan tersebut terang benderang dengan lampu putih yang membinar di keseluruhannya. Mata Cinre tertutup secara refleks, Silau. Jantungnya tersentak kencang, ada sesuatu yang tidak ingin dia lihat ada didepannya. Sempat ingin mengkonfirmasi, tapi pupil matanya tak bisa menahan terangnya lampu. Tangannya gemetar tak menentu, Badannya mengigil, keringatnya bercucuran. Matanya tak ingin membuka. Dia masih tidak percaya dengan bayangan yang muncul di hadapannya tadi, tapi telinganya sudah menyadarkan sebelumnya.
Ya, Bunyi senjata yang dikokang terdengar tepat setelah bunyi saklar yang ditekan oleh Cinre.
“Semuaaa….. LARIII…… SEKARANG……..!!!!” Cinre berteriak sekerasnya. Berharap teman-temanya yang ada dibalik pintu dibelakangnya segera menyelamatkan diri. Dia menyadari jumlah bayangan di depannya. Cinre memutuskan mengambil resiko sebagai pemimpin dan mati demi kelima temannya. Tapi
“Hahahahaha, Bukalah matamu terlebih dahulu, tuan pemimpin..!! Mengapa begitu terburu-buru.. HAHAHA..” suara dan tawa berat terdengar dari hadapan Cinre, Logat jepang, Kansai dari osaka yang begitu jelas membuat bulu kuduk Cinre berdiri menjadi jadi. Badannya semakin menggigil tak karuan. Cinre tahu logat itu milik siapa. Logat dari Seseorang yang Masa kecilnya dihabiskan di Jepang, Mantan pemimpin sebuah organisasi Yakuza yang berpusat di Osaka. Mantan penjahat besar Asia, dan buronan seluruh dunia. Andiri Mogelona.
Cinre perlahan membuka matanya, pupilnya belum bisa beradaptasi sepenuhnya, tapi perlahan dia sudah bisa melihat komplotan penjahat di depannya.
“lima……. Oh tidak, lebih…… kurang lebih sepuluh, hufh.. semoga anak buahku berhasil lari.” Cinre bergumam dalam hati. Mulutnya tertutup rapat. Dia tidak bisa bicara sepatah katapun sekarang. Delapan orang eksekutor bersenjatakan AK47 berdiri dihadapannya. Sementara sesosok Pria pendek, kurus ada di belakang mereka. Wajahnya terlihat sangar, banyak bekas luka seakan menkoyak kulit wajah yang dulu rupawan itu. Perlahan Andiri berjalan mendekati Cinre. Gerak langkah lambat Andiri beradu dengan detak jantung Cinre yang semakin cepat. Air matanya sedikit menetes. Dia betul-betul merasa ketakutan.
“Kenapa menangis.. Tuan Pemimpin..? Takut dibunuh..? HAHAHAHAHA….” Cinre menundukkan kepalanya. Mulutnya komat kamit, berdoa, berharap yang terbaik untuk koleganya diluar.
“Semua manusia pasti kan mati…. Untuk apa takut…!! Iya sih, cepat atau lambat aku akan mengakhiri hidupmu juga.. Kau begitu berani masuk di kandang singa, Tuan pemimpin..!!!”
“Kupikir kau ada di Berlin.?” Cinre menyadari dia gagal kali ini. tapi pasti ada yang salah.
“HAHAHA.. Sky Blue Diamondo… Kau benar-benar tidak mengecek kebenaran berita itu bukan? Warga yang kau tanyakan kemarin itu, Anak buahku.!! Dan…”
“Tidak mungkin.. Tidak mungkin….!! Kamuflase kami sempurna. Tidak ada yang menyadari apa yang kami lakukan disini. Tidak mungkin kamu bisa menyadarinya kan? Sejak Kapan HAH.?” Cinre memotong pembicaraan Andiri.
“Tunggu dulu… Tunggu dulu.. Kau begitu terburu-buru, tidak cocok untuk jadi pemimpin.”
“crekkk…” pintu ruangan itu terbuka. Seorang Pria masuk ke dalam ruangan tersebut. Cinre berbalik,matanya tercengang. “KAAU……!!!” wajah Cinre merah padam. Di depannya berdiri sesosok pria yang di kenalnya. Pria satu timnya.
“Vinooo…. Bagus…. HAHAHA. Dia mata-mataku, dan dialah yang memberi tahu kami bahwa kau akan menginvestigasi kelompok kami. Segala skenario sudah dipersiapkan, untuk membawa kalian kesini. Aku ingin mencari tahu seluk beluk tentang EFPO demi kelancaran pergerakanku. DAN KALIAN……..” Andiri menarik napas dalam-dalam, “Adalah informan yang terbaik. HAHAHA. Bawa pria ini dan empat orang lainnya ke ruang eksekusi...”
“BUNUH KAMI SAJA SEKARANG… KAMI TAK AKAN MEMBERITAHU APAPUN..!!” Airmata Cinre bertambah deras
“HAHAHAHA, Aku ingin membuat segala sesuatu jadi lebih menarik… Tuan Pemimpin… HAHAHAHA”
Tawa Andiri menggelegar di seluruh Ruangan tersebut. Cinre terlihat sempoyongan. Badannya sangat panas. Jantungnya masih berdetak cepat. Kekecewaan terlihat dari raut mukanya. Tangannya diikat dan dibawa kesuatu tempat yang diberi nama ruang eksekusi. Di perjalanannya Cinre tak hentinya menyalahkan dirinya. Segalanya menjadi buruk. Karena keegoisannya dan kebodohannya, nyawanya dan teman-temannya berada di ujung tanduk. Dan diantara keempat temannya itu, salah satunya orang yang dikasihinya.
“Selamat datang Tuan Pemimpin, HAHAHA, aku akan memaksamu dan teman-temanmu untuk mengatakan informasi-informasi yang aku butuhkan. Kalian akan memainkan Game disini. Game Truth or Dare. Kalian pasti tau kan..? Tapi kali ini berbeda. Satan’s Truth or Dare.. Game yang menarik ini akan menentukan hidup kalian. HAHAHA.”
“GAME SAMPAH MACAM APA INI… apapun yang kamu lakukan, aku tak akan mengatakan apa-apa, bangsat..!! AKU Loyal pada organisasiku. Bunuh Aku sekarang… Aku menolak permainan ini” Dylan bangkit dan langsung menyerang Andiri, tapi sayangnya, lima bodyguard langsung menahannya tepat dihadapan Andiri yang langsung diludahi oleh Dylan.
“Jadi kamu menolak. Baiklah. Selamat tinggal.” Andiri merogoh saku Jasnya dan.. “Ptsiuu…. Ptsiuu… Ptsiu…” Dylan terjatuh. Darah segar mengalir dari kepalanya. Tiga longsong peluru mendarat di otaknya. Cinre ternganga melihat kematian sahabatnya. Dihadapannya, Bella dan Dyza berpelukan menangis tak karuan. Rizky hanya bisa terdiam.
“Terlalu gampang. HAHAHA. Oke, jadi jika kalian tidak ingin bernasib sama dengan bangke satu ini, lakukan Gamenya. Peraturannya gampang. Saat giliran kalian terpilih, kalian harus memilih antara Truth atau Dare, Truth, katakan informasi tentang Organisasimu dan aku akan menjadikanmu anak buahku. Dare, berarti kalian tidak kooperatif dan siap mati. Aku tidak ingin mengotori tanganku lagi dengan dosa karena membunuh kalian, jadi ada tiga pilihan yang harus kalian terima dan lakukan. Yang pertama meminum racun, yang kedua dimasukkan ke kandang Singa kelaparan, atau, yang ketiga, disembelih dengan pisau karatan. Kalian harus memilih salah satunya. HAHAHAHAHA. Menarik bukan?.. Vino, bawa peralatan dari dalam ruanganku tadi ke sini, dan kau Udin, Jef, Rico, atur posisi duduk mereka, buat lingkaran, sementara kalian para eksekutor, tetap disitu, arahkan senjatamu ke arah kepala mereka, jangan sampai ada yang lari….!!” Perintah Andiri
Vino kembali membawa dus transparan berisi sebuah botol kosong, pisau berkarat, dan sebuah kaleng pestisida. Botol kosong tersebut langsung diletakannya di tengah ke empat orang mantan temannya tersebut. “Langsung aja diputar, Vin..” Andiri tak ingin berlama-lama lagi, dia ingin menikmati permainan menarik yang diubahnya menjadi sangat mencekam ini.
Botol berputar cukup kencang, selang berapa detik botol tersebut berhenti. Kepala botol tersebut mengarah ke arah Rizky. “The Man one…. Untung bukan kau, pemimpin. HAHAHA. Ayo, Apa yang kau pilih.” Andiri bertanya sinis.
Rizky terlihat kebingungan, Cinre terlihat penuh harap agar Rizky tetap menjaga rahasia milik mereka.
Sayangnya………………..
“TRUTH…!!! Aku punya kebenaran tentangmu, Andiri” Rizky memutuskan untuk berkhianat , Cinre terlihat tidak percaya, Bella dan Dyza masih tetap menangis tertunduk. Tak tahu harus berbuat apalagi. “Pilihan yang bagus. HAHAHA, Katakan apa yang kau tahu anak muda..?”…
Rizky mulai bercerita. “Andiri, Kau adalah buronan nomor satu sekarang ini, markasmu sudah diketahui oleh EFPO, Tidak lama lagi batalion besar akan menuju ketempatmu. Jadi larilah.!!” Andiri terlihat sedikit kebingungan. “Cuma itu.? Ada lagi.?”… “mm… tunggu, oh iya, serangan itu mungkin akan dilakukan sebulan lagi..”. Andiri menarik napas dalam-dalam. “Informasi yang bagus, Tapi………………
aku tidak membutuhkannya sama sekali..!! HAHAHAHA.. BUNUH DIA…!!”….
Rentetan bunyi peluru yang keluar dari AK47 menggema di dalam ruangan tersebut. Cinre terlihat semakin tidak karuan. Bella dan Dyza pingsan. Rizky terlihat bersimbah darah, sekarat. Peluru-peluru tersebut tidak menembus organ pentingnya, Dia terlihat meringis, airmatanya berwarna merah darah. Tak selang lama Dia akhirnya mati mengakhiri penderitaannya yang luar biasa setelah kehabisan darah.
“HAHAHAHA… Informasi sampah. Aku sudah tahu sejak lama. Vino, Putar Botolnya lagi..!!!”
Botol kosong itu kembali berputar, botol tersebut memercikkan darah Rizky yang cukup banyak menempel disana. Selang beberapa lama, botol tersebut belum menandakkan tanda berhenti, Bella dan Dyza yang tersadar dari pingsannya kembali berpelukan. Keringat mereka mengalir deras, keduanya sudah pasrah akan apa yang akan dihadapi.
Botol tersebut akhirnya berhenti mengarah ke arah Bella. Cinre terlihat menarik napas panjang. Bella tersentak dan terdiam. Didepan matanya terbayang wajah Rizky yang ditembak tadi.
“Aku pilih TRUTH….!!”
Cinre kembali tersentak terkejut. Dalam hatinya dia masih tidak percaya akan banyaknya orang yang memilih berkhianat ke organisasinya. Apa yang sebenarnya terjadi.
“Pilihan yang bagus adik cantik. Kau pacarnya Vino bukan.?”.. Andiri bangkit mendekati gadis cantik itu. Bella memandangi Vino yang tersenyum sinis di depannya, “Iya tuan Andiri, Dan aku memilih truth karena aku ingin bersama-sama lagi hidup dengannya.” Bella terlihat sumringah. Andiri tersenyum. “Baiklah, kebenaran apa yang ingin kau katakan”
“Aku punya login dan password untuk menembus base keamanan tingkat 2 organisasi kami, EFPO. Meski itu satu tingkat dibawah keamanan tertinggi, aku jamin banyak yang kau inginkan disana.” Bella tertunduk pasrah. Rasa cintanya pada Vino lebih besar daripada organisasinya.
“Kauu… BELLA….. Apa Maksudmu…… HAHH…” Cinre geram. Dia mencoba berdiri tapi tertahan oleh AK-47 yg di sandarkan ke bahunya.
“Diam Re…!! semua ini salahmu, kau bahkan tidak mau bertanggung jawab atas semua ini. Aku tidak punya pilihan lain. Aku bisa saja mati, tapi aku masih punya cinta untuk Vino, dan maaf aku memilih untuk bersamanya.” Bella terbata-bata, air matanya mulai menetes.
“HAHAHA, Rico, bawa Bella ke ruanganku, Gunakan laptop disana untuk menembus server keamanan EFPO tingkat 2 dengan password yang di berikan oleh Bella, aku masih punya urusan disin. Permainan ini mulai menarik. HAHAHA” Rico mengangguk dan menarik Bella ke ruangan Andiri.
Botol diputar kembali oleh Vino, dua kandidat truth or dare yang tersisa terlihat terdiam membisu. Sejak awal pandangan Cinre tidak beralih dari Dyza. Berharap kelak Detik-detik terakhir kehidupannya menjadi kenangan terindah yang akan dibawanya ke alam sana. Kenangan tentang orang yang sangat dicintainya.
“GILIRANMUUUU TUAN PEMIMPIN..!!!” Suara Andiri mengagetkan lamunan Cinre. Cinre tersenyum simpul. Dia berbisik memanggil nama Dyza. “Dyza… giliranku”. Dyza mengangkat kepala dan melihat mata Cinre dalam-dalam.
“Aku memilih Dare…!!” Cinre menghela napasnya panjang, Dyza tertegun, kagum akan keteguhan hati Cinre. Tapi dia sedikit heran, kenapa bisa orang egois dan terburu-buru seperti Cinre lebih memilih menunggu hingga akhir, dia seharusnya berlaku sama layaknya Dylan. sifatnya tidak mencerminkan kelakuannya.
“APA.? Kukira kau sengaja berlama-lama disini, berpikir untuk memberikanku sesuatu. Kau menghabiskan waktuku Tuan Pemimpin.!! Jika kau memang ingin Mati, kenapa berlama-lama HAH.?” Andiri merebut senjata dari prajurit di sampingnya dan mengarahkannya ke kepala Cinre.
“Tunggu, Andiri..!!” Cinre memandang Dyza dalam-dalam. Andiri tersentak dan tidak jadi menarik pelatuk senjatanya. “KATA-KATA TERAKHIR..? HAH..?”
“Kau tak begitu konsisten Andiri? Peraturannya tidak begini kan?” Cinre masih terlihat tenang, matanya beralih ke Dyza yang masih kebingungan, dalam, dan penuh cinta.
“Za…. Aku tau… Sejak kita ditangkap, dan dipaksa untuk memainkan permainan ini, kita semua akan mati. Meski ada beberapa hal diluar nalarku terjadi, Pengkhianatan Rizky, Vino dan Bella, tapi hatiku kukuh tidak akan mengatakan apapun tentang organisasi meskipun dipaksa. Mungkin dirimu bertanya-tanya, orang tak sabaran sepertiku seharusnya bertindak seperti layaknya Dylan. Haha. Hampir…” Andiri terlihat kaku dan membiarkan sang pemimpin ini terus berbicara. “Tapi aku masih ingin menunggu dan berlama-lama disini, setidaknya sejak ditangkap, satu-satunya yang membuatku sedikit bahagia adalah karena bisa tau bahwa saat ini adalah akhir hidupku. Aku bahagia karena bisa memilih harus mengakhirinya seperti apa, dan syukurlah TUHAN masih membantuku memujudkan pilihan terindah itu…..” Dyza terlihat tak berkedip, matanya mulai mengeluarkan air mata.
“Dyza… Aku memilih untuk menunggu, berlama-lama dan memanfaatkan waktu-waktuku yang tersisa, untuk melihat, memandangi, merasakan, dan berada di depan orang yang ku sayangi selama ini. Di depanmu…. Dyza. Satu-satunya “Truth” yang bisa aku katakan disini, hanyalah... Kebenaran tentang perasaan di dalam hatiku ini. Kenyataan bahwa, Aku Mencintaimu. dan Dyza, sampai jumpa di Alam sana..”..
“TERERETTT…!!!” rentetan peluru AK-47 menembus kepala sang pemimpin itu. Dia jatuh bersimbah darah, mulutnya terkatup dalam senyum. Gambaran senyum dan mata merah Dyza yang dibanjiri air mata menjadi kenyataan terakhir yang dilihat oleh Cinre.. Dia tak menyadari. Dyza melompat dan memeluknya………………… Juga untuk yang terakhir kali, tiga longsong peluru menembus jantungnya. Keduanya tewas mengenaskan di depan para hadirin yang berada di dalam ruangan itu, menyaksikan mereka bersimbah darah. Tapi, dalam senyum terakhir yang penuh Cinta.
Tak berapa lama, sebatalyon tentara federal dan tank mengepung tempat tersebut. Bella, tanpa sepengetahuan Rico mengirimkan pesan tersembunyi kepada markas besar melalui laptop milik Andiri. Semuanya ditangkap. Bella menjadi satu-satunya agen yang tersisa. Wanita muda cantik itu mengetahui bahwa dirinya terlambat menyelamatkan dua temannya yang tersisa. Dia tertunduk dalam tangis melihat kedua mayat berpelukan bersimbah darah di depannya. Sahabat terbaiknya, Dyza, dan juga Pemuda yang diam-diam dikagumi dan dicintainya, Cinre.
“Kawan-kawan, aku minta maaf. Mungkin ini satu-satunya yang bisa aku lakukan untuk membayar pengorbanan kalian. Dyza, kenangan kita berdua akan selalu tersimpan selamanya di benakku. Cerita keberanianmu dan keteguhan hatimu akan kubawa kepada dunia. Kepahlawananmu akan menjadi pembelajaran orang-orang diluar sana, terima kasih telah menjadi teman baikku………………
dan Cinre, aku kecewa karena tidak sempat memberitahu tentang perasaanku, kepadamu. Akan tetapi, kau telah memiliki orang yang benar-benar menyayangimu. Dia, yang terus menerus memuji dan menceritakan keberanianmu. Dia yang begitu sangat ingin melindungimu, meski dia hanyalah gadis muda biasa. Tapi percayalah, kekuatan cintanya sangat besar dan kan selalu melindungimu. Cinre, jagalah Dyza di alam sana. Jagalah sahabat terbaikku, wahai pemuda pilihanku. Terima kasih.” Bella menangis memegang kedua tangan mayat dari kawannya ini. Kenangan-kenangan terus terbayang di benaknya. Sejak awal mereka bertemu, hingga di akhir oleh permainan Truth or Dare milik Andiri. Permainan terakhir yang selalu kan terkenang. The Last Memorable Game.












