aYudi espas, begitulah dia dipanggil, dia seorang pria yang disamakan dengan espas, perbedaan nya dengan espas boleh dibilang tipis, aga tebel ketika egonya mulai tinggi, dagunya diangkat, bola matanya tepat berada di garis bawah kelopak matanya, saat itu dia lebih mirip dengan kertas 1 rim.
espas menjalani hari dengan bahagia, dia tak risau memikirkan nasi apa yang dia makan hari itu, karena dia memang ga makan nasi, tapi dia makan sumber karbo yang lain yang mana kalau itu dia khawatirkan,itulah yang menjadi tujuan dia menjalani hari harinya, walau dia khawatir dia ternyata sanggup menemukan bahagianya, even tough batok motornya bergetar, dia tetap pada pendiriannya, maju tak gentar membela yang bayar.
saat ini dia bekerja sebagai pencari kerja, begitulah dia mendifinisakan pekerjaannya, dia bekerja dari pagi hingga sore untuk mencari pekerjaan, dewasa ini dunia kerja memang brutal, tentulah kawan kawan pembaca setia jua turut merasakan, betapa susahnya untuk masuk kedalam tanpa orang dalam, dan untuk tetap didalam tanpa orang dalam.
hari hari berganti, tanpa nasi dia sanggup berdiri, dan kalau pagi ada jua yang berdiri tapi bukan kaki (aaa), artinya dia masih normal sebagai lelaki (yup), sampailah pada suatu hari di bulan mei (drop the beat yo), dia berrtemu dengan seorang om om di pinggir jalan yang menawarkan pekerjaan
sebut saja dia Beni Pertamax, bukan karena dia yang pertama mengamankan slot komen Hot Thread di kaskus, atau dia bukan kaum kelas atas yang masih dapat membeli pertamax walau gap dengan pertalite semakin kentara, dia memberi code name pertamax karena saat dia bertemu baju dan celaannya berwarna biru, dan baju kemeja birunya basah dan bau bensin, âga tau pertama gua ketemu dia, dia bau bensin khususnya di punggungnyaâ begitulah espas bercerita, bermula dari aksi rebutan tempe mendoan yang sebatang kara dia warteg, pertamax membuka obrolan dengan menawarkan teh panas gratis miliknya, sebagai tanda permintaan maaf bahwa dia telah merebut tempe mendoan yang bisa saja menjadi milik espas.
ânih teh saya buat mas ajaâ kata pertamax, â ga usah pak saya juga punyaâ timpal yudi, â yoo gpp to mas, ini sebagai permintaan maaf aja, tolong diterima, saya tau mas pingin mendoan yang udah saya makan ini tadi kan?â mendengar itu espas merasa heran bagaimana dia tahu espas ingin mendoan juga, âbukan yang bapak udah makan yang saya mau, tapi yang masih utuh yang saya mauâ balay espas, â iya mas paham saya paham, ya udah gini aja mas mau kerjaan ga?âÂ
mendengar kata âkerjaanâ mata espas berbinar bak mentari pagi yang cerah, itulah kata kta yang dapat mentriger dopamine di sekujur tubuhnya, elektron dalam otaknya ligas, lincah bagai sogun ban sepeda, memnggil kembali semua perjuangan yang telah ia lewati
setelah ia menjawab âiya mauâ dibawalah espas ke kantor pertamax, di perjalanan dia sungguh senang, gas nya dibuka tutup bagai gangster di picky blinder, dia sungguh ga sabar untuk masang story â a day as a anu anu anuâ, membayangkan dia bisa punya temen kantor untuk digibahi dengan teman kantor yang lain, membayangkan gaji bulanan yang hanya bertahan 2 hari, membayangkan Gerd kambuh akibat deadline, wah pokonya hal hal indah yang dapat terjadi setelah ia bekerja.
sesampainya dikantor pertamax dia turun dan langsung dibawa keruangngannya, kantornya besar dan luas, lebih mirip gudang, suara deru mesin terdengar dari bangunan sebalah, dan aroma plastik terbakar yang cukup menyengat, dia berjalan cukup jauh untuk sampai kekursinya.
setelah dia duduk, pertamax lalu berkata â gimana mas perjalanan kesini? rame ga? kalau rame lanjut part 2âł
Bantul - tulung agung, diatas mobil suspensi udara, desjanri 2022