Tulisan bisa mengubah perasaan ya? Mood? Apalagi. Awalnya semangat kemudian berakhir sedih, juga banyak. Begitu pula, pasti tidak sedikit dari tulisan saya yang mempengaruhi moodmu, perasaanmu, sudut pandangmu. Sudut pandangmu kepada dunia, sudut pandangmu kepadaku. Akui saja.
“Eh, kok mas juna gitu sih?”
“Wah, siapa nih yang dimaksud?”
“Hmm.. benar juga ya.
“Iya banget.”
“Can relate.”
Teman-teman pasti setuju tulisan nggak akan lepas dari apa yang dinamakan dengan subjektivitas. Hanya saja yang membedakan tulisan satu dengan yang lain tergantung intensitasnya.
Pesan pribadi ini saya tuliskan untuk teman-teman yang perasaan, pola pikir, mood, vibes, dan sudut pandangnya pernah terpengaruh karena tulisan-tulisan saya. Mohon maaf teman-teman, semua pesan yang saya tulis semata-mata hanyalah untuk membakar kesadaran. Membangunkan dari mimpi yang kadang indah tiba-tiba menjadi buruk dan sebaliknya. Saya tidak mengajak teman-teman untuk menyerah dengan keadaan yang beberapa kali (mungkin) sempat saya paparkan, yang kemudian kalian sambut dengan "can relate".
Bahwa ada keadaan yang harus diganti, meskipun kita harus berjalan di atas rel yang kalian juga telah menyepakati pembangunannya. Tulisan yang saya sampaikan tidak berarti menggambarkan kekesalan yang membuat saya putus asa dengannya, justru itu kode rahasia supaya kita bangkit bersama. Memang saat ini sering dikenal sambat, sering dikenal julid, ngomel-omel. Tapi kalau kalian kemudian terpengaruh dan memilih jalan untuk menyerah, kalian bangsat. Bangsat karena memilih menyerah, bangsat karena menganggap semua tulisan omel-omel, tulisan julid, dan tulisan sambat adalah bentuk kekecewaan yang berakhir sama.
Saya ingin menyampaikan kepada kalian melalui pesan pribadi ini. Bahwa saya juga tetap mengambil kebaikan dari orang yang saya tidak suka. Aneh, ya? Orang-orang bilang "jangan benci orangnya". Kalau saya, jujur, untuk tidak benci dengan orang karena apa yang telah orang itu lakukan kepada saya selama berulang-ulang itu sulit, teman-teman. Tapi, Alhamdulillah saya tetap bisa menahan itu semua dan mengambil kebaikan dari orang tersebut. Nah, saya harap teman-teman saya juga selalu bisa mengambil sisi baik dari setiap yang terjadi.
Jadi, saya mohon kepada teman-teman tolong jangan menganggap sambatan, julidan, omelan saya itu untuk mengajak "quit" atau menyudahi perjuangan ini. Tapi, supaya kita semua sadar bahwa ini adalah bagian yang harus kita benahi.
Meski langit sekalipun, harus kita guncang!
With love,
Orang yang saat ini mengaku sadar