Bianku kini memiliki seorang wanita yang lucu. Perawakannya kecil dan menggemaskan.
Hai manis... ku yakin ayahmu akan sangat menjagamu. Jadilah anak yang berbakti pada kedua orangtuamu. Jadilah seorang wanita yang bahagia ketika kamu beranjak dewasa...
Bian... dengan segala kesadaranku, dan berkali-kali ku katakan... Kini aku benar-benar pamit, dan tak akan membahasmu. Berikan kasih sayang sepenuhnya kepada 2 malaikatmu.
untuk siapa saja di luar sana yang mengetahui bahwa aku pernah dekat dengannya, tolong hapus segala bentuk foto/video/cerita yang pernah kalian dengar. hidupku dan hidupnya sudah berbeda. kami juga sudah lost contact! tolong hargai privacy kami.
Aku tidak tau kamu, tapi aku baru saja berjalan, mengitari toko buku. Baru beberapa langkah menuju rak kumpulan novel, bukumu terlihat, tapi aku kurang tertarik karena judulnya Merayakan Kehilangan, karena tahun kemarin hingga hari ini aku
tertulis:
masih kehilangan tanpa ingin dirayakan (tapi tenang hari ini kadarnya sudah mengurang) seperti biasa aku membuka beberapa lembar (yang sampul plastiknya sudah di buka) terbuka halaman 32
"Ada yang hari ini,..."
"Ada yang hari ini,..."
"Ada yang hari ini..."
gotcha!! Ada ceritaku (tanpa sengaja). Tanpa berfikir berulang kali aku ambil, aku ingin memiliki ini. Aku tidak tertarik dengan merayakan kehilangan. aku tertarik untuk menggalau, mengingat sembari belajar merelakan. Terima kasih siapapun kamu yang sedang ku chat lewat tumblr keduaku. Omong-omong aku tidak tertarik pada Merayakan Kehilangan, aku tertarik pada namamu. (_____) 5 huruf terakhir yang sama dari namanya. Semoga bukan kamu yang meninggalkan seseorang sepertiku. Aku akan mulai membaca Merayakan Kehilangan hari ini. 27-02-19 12:40 WIB.
Bianku, kini aku mengerti. Selama ini kamu pernah memberikanku kesempatan, hingga akhirnya kamu mengenalnya dan kesempatan itu tak pernah ku lihat lagi. Aku terlalu abstrak untukmu.
F : Ma, bulan depan aku pulang ya. Liburnya lumayan
M : Berapa hari memangnya?
F : 3 hari. Ya bisalah dua hari di rumah. Seharinya buat perjalanan pakai kereta
M : Lhoalah, cuman 3 hari toh, nggak usah pulang le. Nanti kamu kecapekan
Setiap kita mengabarkan kepulangan kita, tak jarang barangkali kita mendapat jawaban seperti di atas. Kepulangan yang sesungguhnya sudah pasti dinanti oleh kedua orang tua kita. Namun mereka telah cukup kuat membesarkan hati atas segala kondisi kita di rantau. Mereka telah cukup mengerti bahwa pekerjaan kita menuntut konsentrasi tinggi, emosi, juga harus sepenuh hati. Mereka bukan berpura-pura, tapi justru jauh lebih menyayangi kondisi fisikmu.
Tapi, pertemuan tetaplah mahal. Bagian yang tak bisa diganti dengan sebanyak apapun uang. Bagian yang tak bisa dirasakan walaupun setiap hari bertatap melalui video call. Maka karena itulah kuantitas waktu yang singkat seringkali melahirkan kualitas pertemuan yang tinggi.
Coba saja kamu pada akhirnya menuruti mereka untuk tak pulang. Mereka pun pasti tak masalah dan legawa. Tapi seandainya kamu memaksa untuk pulang, mereka pun tak menolak. Justru mereka akan menyambutmu dengan sebaik-baik sambutan. Membangkitkan kenangan masa kecilmu bersama mereka. Sekedar bertanya ingin dimasakkan apa, atau ingin makan di mana, atau ingin jalan-jalan ke mana. Ibumu akan bersemangat merapikan dan membersihkan kamarmu yang berdebu. Ayahmu bersemangat barangkali men-servis dan mencuci mobil untuk nanti dapat berjalan-jalan bersamamu.
Setidaknya dengan kepulanganmu kamu akan sadar ketika menatap lekat-lekat wajah mereka. Wajah ayah dan ibu yang membesarkanmu. Wajah itu terlihat makin mengeriput seiring bertambahnya waktu. Rambut mereka sudah mulai memutih seiring usia yang semakin lanjut. Langkah mereka kini tak selincah dahulu lagi saat masih bisa berlarian bersamamu kala kamu kecil.
Kepulanganmu juga akan senantiasa menyadarkanmu. Mungkin waktumu tak banyak lagi untuk membuat mereka tersenyum. Membuat mereka tertawa atas candaan-candaanmu. Atau terkadang serius manakala kau membicarakan masa depan dan calon pendamping hidupmu. Bahkan mungkin menangis ketika kau menceritakan perjuanganmu ditanah rantau.
Jadi, pulanglah walau mereka tak menyarankan. Selagi mereka masih ada di dunia. Rasa lelahmu dalam menempuh perjalanan pulang, tak sebanding dengan rasa lelah ibumu saat begadang di masa-masa bayimu. Tak sebanding dengan rasa lelah ayahmu yang mencari nafkah untuk menghidupimu.
Bian… jika tanpa kamu yang mengisi, dan jika tanpa kamu yang pergi, mungkin sekarang aku tak akan mengerti akhirnya akan seperti apa.
Aku pernah bertanya pada seseorang tentang ketakutan.
“Aku takut pada perasaanku, dan pada akhirnya aku kehilangan dia.”
Begitulah kira-kira pertanyaanku.
Lalu ia menjawab…
“Bersyukurlah. Biarkan 1 orang hilang bersama perasaanmu.”
Yak beberapa bulan yang lalu witch is (May 21, 2017) Mama ulang tahun. Gak perlu di sebutin umur berapa, yang pasti sudah punya cucu 1 (dari kakak sepupu gue). And this is hanya background awalan saja karena memang kejadiannya di tgl tersebut.
Sekitar jam 7 malam, iseng buka facebook karena bosen nonton youtube. Log in. And mommy nge-mention di status facebooknya. Gue klik DAAAANN isi update-annya gini.
Ikut kekinian ya....buat pengingat karena saya skrng juga sdh mulai pelupa😀😀😀
Tentang pengalaman melahirkan anak Pertama:
1. Anestesi Epidural atau bius lokal?
Kagak keduanya
2. Ayah sang bayi ada di kamar bersalin?
Kagaaaaak..... lagi kerja jarak 1,5 jam perjalanan. Pas dikabarin tenang2 malah nyuci baju dulu di rumah dines. Gegara pengalaman sering liat kelahiran orang lain yang jarak antara masuk RS dgn bayi nongol itu bisa seharian.
Pdhl aku cuma butuh kurleb 3 jam saja. Terhitung keluar rumah sampe bayinya nangis.
Hal ini bikin dendam. Pada kelahiran anak kedua berhasil ditemani dari mulai berangkat sampe ruang tindakan.
Pas bayi nongol...
Papahnya malah lagi keluar ruangan ngurus kain2 persiapan buat lahiran.
Jd msh gak kesampean. Hadeuuh
3. Diinduksi?
Sepertinya iya, karna ketuban sudah mulai retak. Air ketuban sudah merembes...
4. Normal?
Yesssss
5. Hari perkiraan lahir (HPL)?
Pertengahan Agustus 1996
6. Tanggal lahir?
16 Agustus 1996
Mau ditahan sampe tgl 17 kagak bisa... 😃😄
7. Morning sickness?
Setiap hari... Sepanjang hari.... bahkan ketika sudah melahirkan pun. Ternyata gak tahan sama vit B12
8. Ngidam?
Baso kojek SD Kebonbaru. Yang jual emak2. Tapi gak kesampean. Udh gak jualan. 😥
9. Pertambahan berat badan?
Dari 47 ke 52
Sekaraaang? 71 padahal kagak hamil. Ampun daaah...
10. Jenis kelamin bayi?
Perempuan
11. Lokasi melahirkan?
Cirebon
12. Jumlah jam di dalam kamar bersalin?
Masuk pintu RS jam sekitar 10.30 bayi keluar setelah azan Jumatan
13. Berat bayi?
2.75 kg panjang 47
14. Nama bayi?
Qutik
Eh... Rafina Aulia Renjana
15. Umurnya si bayi sekarang?
21 th
16. Hal yg paling diingat sepanjang masa kehamilan pertama?
Keluar masuk RS karna muntah mulu susah makan bahkan sampe bulan ke sembilan.
17. Siapa nama dokter Obgyn-nya?
H.Lukman spOg
Yuk mommies?
Apa cerita versimu?
Silakan Copy & paste di status masing2 ;)
Rubah jawabanku menjadi jawabanmu.
So yaa.. mungkin ini adalah salah satu lahiran termudah yaa hihihi barakallah mamah. Terima kasih telah mempertaruhkan nyawa untuk anakmu yang masih harus di bimbing. Badan anak SMP. Kelakuan BATITA. Sifat BALITA. Sikap anak SMA. Cita-cita NIKAH sama PENGUSAHA. Pikiran INSTAN. Dan masih belum mengerti bagaimana kerasnya dunia. Pemahaman agama masih kalah sama anak SD. Duh kacaunya aku.
Jadi… pernah ada kenangan yang tak akan terlupakan bersama pria itu. Sang wanita bodoh ini dengan hati yang selalu di bolak-balikan, akhirnya tak tahan lagi dengan sikapnya. Wanita itu, sebut saja Natta ia kembali jatuh untuk yang kesekian kalinya pada orang yang sama. Ia kembali jatuh cinta dengan Abian.
Saat itu Ansyah, Roy, dan Gugum mengajak Natta dan Sunny pergi ke rumah Bian untuk mengerjakan tugas. Namun ternyata malam semakin larut, dan Roy yang saat itu menyetir tidak sanggup untuk mengantarkan kami lagi. Dengan terpaksa kami semua menginap. Untuk laki-laki di lantai 1 dan perempuan di lantai 2 kamar Bian.
Jam sudah menunjukan pukul 2 pagi. Yang lain sudah terlelap rupanya mengingat kegiatan siang ini sangat padat. Hanya aku mungkin yang terjaga. Artinya sudah 1 setengah jam yang lalu mereka tertidur. Dan diiringi detak jam tangan, debar jantung yang terdengar dan aku pun gelisah dan mencari posisi nyaman. Namun terdengar suara gemericik air. Seperti ada yang memakai kamar man……. Oh tidak… seseorang membuka pintu kamar. Mataku terpejam ketakutan, seseorang itu mendekat dan memperhatikanku. Namun sesaat ia kembali lagi dengan urusannya. Aku masih takut untuk membuka mataku. Terdengar “Allahu Akbar…”. Shalat? Siapa yang shalat? Setelah beberapa menit, kuperkirakan ia telah selesai dan sepertinya duduk di sampingku. Memperhatikanku lagi… “…” ia bergumam. “Natta…” dan aku masih pura-pura terlelap dengan sedikit peluh di dahi dan rambut yang tak beraturan ia mengusap dahiku. “Natta… kamu sakit yaa?” ia masih berusaha berkomunikasi denganku. Lalu tangannya turun jahil menyentuhku sangat lembut di pipi. “Aku masih menyukaimu. Sampai kapanpun” Aku terkejut. Abian bilang begitu? “Natta… teruslah bersamaku. Meski kita jauh.”
Aku semakin tak tahan. Semakin lama ia menyentuhku semakin ku ingin memeluknya. Hingga akhirnya sentuhannya semakin terasa berat… ku putuskan untuk terbangun. “Bian?” Aku melihatnya masih memakai sarung.
“Aku ga bisa tidur. Gimana keadaanmu?” tangannya menyentuh dahiku lagi namun tangan yang lain menyentuh pipiku. “Sudah enakkan, gak mual lagi? Tapi sekarang demam.” aku gemetar. “Maaf yaa kamu jadi kebangun. Kamu terlihat kurang nyaman. Mau minum obat? Aku ada ini (memberiku minyak kayu putih)” Dan ia memberiku gelas.
“Thanks bi…”
Perlahan tapi pasti ia mendekat dan berbisik padaku “ra i still love you”
Sunny terbangun dan melihat itu semua. Namun ia hanya bertanya “Kalian sedang apa?”
Aku tau. Apa saatnya aku menyudahi semua ini? Tak terlalu terobsesi. Tak terlalu memikirkan yang seharusnya tak ku pikirkan. Bandung malam ini hangat. Ah rupanya dingin. Hangat? Karena selimut ini. Tapi hatiku yang sedang kacau. Ah sudahlah. Sudah jelas yang di sampingku. Dia memandangku. Ia mengarahkan pandangannya hanya padaku. Mungkin... Sedang apa aku beberapa tahun yang lalu? Mereka yang disampingku selalu memandangku. Menomor satukan aku. Lalu aku sia-siakan. ○○○○○ Aku... Aku mencintaimu... Tapi mungkin kamu? Hanya kamu yang tau jawabannya. Seandainya kamu baca, atau entahlah. Pastikan, bahwa aku sampai nanti, masih memiliki harapan besar untukmu. Ketika... Puan. Dimanapun ia.. Akan setia. Akan selalu menentukan pilihannya. Dan semoga itu... adalah...
Aku sedang mencari sebuah foto yang kujatuhkan tepat di bawah meja kerjaku. Tetapi seseorang mengambilnya dan memberikan foto itu padaku. "Terima kasih." balasku. Namun tersadar bahwa di kantorku hanyalah ada aku dan beberapa berkas-berkas kasus. Ku beranikan diri menatap seseorang baik hati itu, aku tersadar, bahwa dia adalah mayat yang sedang ku pelajari kasusnya.
Sedikit selingan ya... Baru saja streaming video nessiejudge yg creepy pasta iseng nyoba buat. Dengan bermodalkan kesukaan tentang detektif, forensik, dokter dan lain sebagainya... Akhirnyaa jadilah cerita sekali lewat ini. Dan pada saat pengerjaan merinding sendiri dan kaget-kaget sendiri karena Adikku bersin 2x.
Aku. Itu aku. Hati, pikiran dan wajah tak pernah sama.
Jadi pagi ini terpecah keheningan bahwa kenyataannya hari ini adalah hari kemenangan. Dengan penuh ketenangan kuucap syukur masih merasakan kehidupan.
Bergegas dengan segenap hati. Setelahnya bersilaturahmi.
-
Dalam hati selalu bertanya
“apa kabar ia? bagaimana kesakitannya? sudah sembuhkah? ah kurasa ia akan baik saja.”
bismillah. Aku bertemu dengan mereka. Tertawa. Saling berbagi. Beberapa kesedihan muncul disana. Karena suatu hal. Tapi aku sangat tau. Itu bukan urusanku. Karena hatiku pun kembali bersedih. Dan mengingat sosok itu lagi.
“Wahai pemilik hati. Pemilik kalbu ini. Berikan aku kebahagiaan oh...”
Aku kembali lagi menjadi aku yang lepas. Lepas karena kalut oleh perasaan. Oh... Apa istimewanya dia? Pakai susuk apa? Apa aku di pelet?
Ah... Pikiranku selalu ada kamu. Kamu. Kamu. Kamu.