Berapa lama sebenarnya waktu yang aku habiskan untuk mencintaimu? 8 tahun? 10 tahun? Atau mungkin 15 tahun, seperti yang orang-orang bilang? Aku tidak tau pasti.
Di satu waktu dulu, aku sudah yakin berhenti mencintaimu. Tidak perlu mengharapkan kamu lagi, tak perlu menempatkan kamu pada angan-angan akan masa depan. Namun nyatanya, setelah itu pun bayang-bayangmu masih jadi penyemangat aku menjalani hari. Skenario-skenario yang terbentuk di dalam kepala tentang aku dan kamu selalu menemani perjalanku yang sering kali sepi.
Lalu aku pun berhenti menulis tentang kamu. Aku mengabaikan segala percikan tentang kamu yang menyebabkan tak ada satu kata pun yang akhirnya tercipta tentang kamu. Entah itu sebuah kemajuan atau kerusakan dari dalam. Aku tak peduli. Paling tidak aku (tampak) tak mengharapkan kamu lagi.
Di waktu kemarin, saat memikirkan apa yang harus aku lakukan tentang masa depanku, aku kembali membayangkan kamu. Akan masa depan yang tak jelas arahnya ini, aku membayangkan dapat berdiri dengan bangga di sebelah kamu. Entah sebagai apa, aku hanya berharap aku tak tampak rendah di dekatmu. Bersamaan dengan pikiran ini, aku kembali mencari tau tentang kamu.
Apa yang kamu lakukan?
Apa yang kamu rasakan?
Apa kamu sudah punya kekasih?
Apa kamu sudah punya gambaran akan masa depanmu?
Aku terus mencari tau.
Dan di sinilah aku sekarang. Tiba-tiba merasa kecil, rendah diri, dan jadi tau diri.
"Ah...aku emang gak pantes dengan dia. Ada alasan hubungan kami tidak pernah bergerak selama ini. Aku yang terlalu memaksakan diri."
Entah ini jawaban yang baru diberikan Tuhan atau memang selama ini jawaban itu ada dan hanya aku saja yang keras kepala. Yang mana pun, aku tetap tak bisa menghilangkan rasa rendah diri ini sekarang.














