Namanya juga hidup, mutlaknya sih jalan ke depan. Nggak pernah ke belakang. Bahkan konon katanya, kalau ada mesin waktu, pasti mesin waktu itu bakal bisanya Cuma gerak ke masa depan, bukan masa lampau.
Beda lagi kalau lihat benda luar angkasa, seperti galaksi lain yang tampak mata. Galaksi itu jaraknya ratusan juta tahun cahaya. Kalau kelihatan sama mata kita, itu baru namanya kita kembali ke masa lampau, karena cahaya dari galaksi itu butuh waktu ratusan juta tahun cahaya buat sampai ke bumi. Jadi, cahaya yang tampak mata kita adalah cahaya yang udah dipancarkan oleh galaksi itu ratusan juta tahun yang lalu. Rumit, ya? Ribet? Memang, makanya gimana-gimana yang paling gampang adalah mengikuti arus hidup yang jalan ke depan.
Hal itu menandakan bahkan hal yang paling normal dalam kehidupan adalah terus maju ke depan. Moving forward. Gaulnya; move on. Berpindah (?)
Tapi nggak semua kejadian dalam hidup bisa dibiarkan moved on begitu saja. Semaju-majunya hidup, selalu adaa aja kejadian dimana bikin stuck in that moment.
Suatu siang, ketemu 2 orang teman yang baru mampir dari suatu pusat bahasa di kampus.
âTir, kamu dicari sama Pak Gaspar,â kata mereka.
Heran, dong. Padahal beberapa minggu yang lalu ketemu beliau dan aku mencoba menyapa tapi  beliau sama sekali nggak nengok ke aku, tuh. Nah, ini, kok tiba-tiba nyariin?
âNgapain?â
âSuruh ikut debat katanya. Sama Yoanes sama Albert.â
Jadi, Pak Gaspar ini adalah salah satu  dari 2 dosen mata kuliah Bahasa Inggris sewaktu semester 2 kemarin, dosen lainnya adalah Pak Xavier. Sebelum ambil matkul Bahasa Inggris ini udah pernah tau Pak Gaspar dari suatu acara yang aku liput buat Warta Ubaya, juga Pak Gaspar ini salah satu juri waktu aku ikut English Debate pas Maharu Cup. Selain Pak Gaspar, ada Pak Xavier dan Pak Ananta.
Karena aku dan tim-ku, Yoanes dan Andrianto, berhasil dapet juara 2 setelah melawan tim dari Hukum dan Farmasi, Pak Gaspar jadi lebih âtahuâ kami bertiga di kelas. Beliau juga sempet menyarankan aku (dan kami) buat ikut ke jenjang English Debate yang lebih tinggi, tingkat PIMUS, misalnya. Tapi aku tahu diri, deh. Buat di tingkat maharu aja aku udah super deg-degan, super nggak pede, super gagap-gagap pas ngomong. Jadi aku memutuskan buat hiatus dari dunia perdebatan. Semakin tua, lawannya semakin susah.
âTadi beliau sempet lupa namamu siapa, Tir. Jadi kami tadi sempet tebak-tebakan dikit,â kata salah satu teman ngelanjutin ceritanya tadi.
ââItu, temen kamu satunya yang dulu pernah ikut debat.â
âAndrianto, pak?â
âHmm, ya, itu juga bagus. Tapi yang saya maksud bukan itu. Cewek, kok, cewek.â
âGo Melisa?â
âBukan, bukan. Selain itu.â
âOoooh, Tiara, pak?â
âNah, iya, Tiara maksud saya. Saya tadi lupa namanya. Kalau anak yang kemarin menang lomba speech itu memang bagus sekali aksennya, tapi kurang kuat kalau kasih counter. Kalau Tiara, Yoanes, Albert ini cukup kuat kalau debatâ,â cerita dari kedua temen, saling melengkapi kalimat yang kurang. Padahal, aku sama sekali nggak kenal sama Albert....
Tiba-tiba info-info tadi bikin flashback waktu debate di Maharu Cup, ketika masih semangat jadi debater. Seumur aku ikut debate, pokoknya asal poin dan ngelawannya bisa tersampaikan ke tim lawan aja. Aku nggak pernah ngomong dengan grammar yang bagus dan lancar. Waktu 7 menit buat bicara, nggak pernah full aku pakai. POI (Point of Information, semacam interupsi dari lawan) nggak pernah nerima. Sungguh amatiran sekali....
Mengingat POI, waktu final debate maharu cup kemarin juga aku sempat âdibullyâ dengan POI dari lawan, mereka menggeradak POI, sengaja mungkin karena ngeliat aku bicara nggak lancar dan mereka pikir mereka bisa menggupuhkan aku dengan POI yang terus-terusan, padahal udah aku tolak berkali-kali.
Huh, mampus tuh, kapan lagi ente ditolak berkali-kali, sama cewek yang sama pula.
Tapi, karena itu juga, tim lawan jadi dimarahin sama juri-jurinya. HAHAHAHA!
âKamu kalau mau interupsi, jangan kayak gitu caranya. Itu sangat mengganggu, padahal kan kalian sudah berkali-kali ditolak interupsinya. Sampai saya lihat tadi Tiara merasa terganggu,â kata Pak Xavier pake Bahasa Inggris kala itu.
One does not simply adalah salah seorang anggota tim lawan dari salah satu fakultas adalah temenku yang cukup baik, kami kenal dari jaman ospek. Rasanya awkward, karena sebelumnya aku pernah debat sama sesama temen Cuma buat latihan dan sparring aja.
âLho, kamu ikut debate?â
âIya, Tir. Kamu juga?â
âHehe... iya. Wah, kita jadi lawan, dong. Hehe...â
Jadi awkward gitu pas ngobrol di ruang isolasi. Padahal kalau biasanya ada temen bertanding kan bilang, âSemangat, ya! Good luck!â masa kali ini mau bilang, âYang lemes, ya! Bad luck! Semoga kalah!â
Di akhir pertandingan, tim temenku dapet juara 1 dan tim yang ngebully aku dapet juara 3.
Lompat ke masa lalu sedikit, awal aku kenal dunia debate adalah ketika SMA aku ikut The English Club. Disana bener-bener digembleng belajar speech dan debate oleh berbagai ahli yang didatangkan. Jangan heran, orang kayak aku gini pernah ikut speech competition, lho. Tapi, yah, bisa ditebak hasilnya; kalah total.
Akhirnya aku memutuskan kalau aku memang nggak cocok di bidang speech. Akhirnya aku coba debate competition bareng 2 orang temen kala itu, Mayda dan Tata. Debate competition perdana kami waktu itu di English Student Competition yang diadain sama Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya, Malang.
Waktu itu akhir tahun 2012, aku udah kelas 12. Setelah letih berjuang di babak penyisihan selama seharian harus eyel-eyelan pendapat pake bahasa inggris, kami memenangkan 3 dari 4 debat hari itu dan lolos jadi oktofinalis alias masuk 8 besar, dari total 40 tim.
Lalu, udah, pertama tanding di 8 besar kami kalah dan nggak bisa lanjut lagi.
Dari situ, kami jadi ketagihan ikut debate. Sayangnya, ketagihan nggak berbanding lurus sama usia karena kala itu udah sibuk-sibuknya ngurusin kelulusan.
Brian, Litan, aku, Tata, Mayda, dan si guru, Mr. Rif. 3 years ago.
Tapi, semakin tua, semakin luas jangkauan, debate semakin jadi hal yang sulit.
Karena pada dasarnya, semakin tua, hidup pun juga semakin sulit.
Semakin tua, semakin kita melihat masa muda di belakang, seolah makin banyak hal indah yang udah kita tinggalkan.
Seperti juga setelah kemarin ketika penutupan ospek ada malam apresiasi seni. Siangnya, aku udah pulang dan nunggu bis di halte kampus. Dari panggung udah kedengeran band dari salah satu fakultas tampil. Sampai akhirnya bis datang dan aku memindahkan pantatku dari kursi halte ke kursi bis.
Di dalam bis, lagu yang diputar adalah lagu bergenre blues-rock, cukup cocok dengan telingaku. Aku yang duduk di pinggir jendela langsung berlagak kayak di video clip, melihat ke luar jendela dan menerawang masa-masa malam apresiasi seni jamanku dulu. Dimana Maharu Cup diadakan begitu telat, dimana aku harus selalu pulang malam selama 2 minggu, dimana setiap hari selama 2 minggu kami seangkatan cukup sakit tenggorokan karena terus-terusan yel-yel, dimana kami harus berjuang cukup keras karena jumlah kami yang sedikit harus ikut cabang lomba yang banyak.
Tapi itu semua terbayar dengan 3 piala di malam apresiasi seni. Jumlah yang cukup sedikit bagi fakultas lain, tapi jumlah yang cukup fantastis bagi kami. Hari itu jadi hari paling malam aku pulang setelah 2 kali naik panggung buat nerima piala dari 2 cabang lomba yang aku ikuti.
A photo posted by Tiara Anindita Nugroho (@tirronugroz) on Mar 14, 2014 at 9:25am PDT
It was a year ago, sekarang Cuma bisa diflashback aja momennya.
Itu tadi yang aku bilang, nggak semua kejadian bisa begitu aja ditinggalkan move on. Selalu ada aja hal yang bikin stuck in the moment, hal indah yang selalu ada di setiap kita lihat ke belakang. Seolah dari suatu kenangan selalu bercabang ke kenangan lainnya.
So, which one is better; live in the time or the moment?