Minum kuah bakso geys (lemonade)
seen from China
seen from China
seen from Malaysia

seen from Iraq
seen from China

seen from Italy

seen from United States

seen from Türkiye
seen from Yemen

seen from United Kingdom
seen from Italy
seen from Iraq

seen from T1

seen from Italy
seen from China
seen from Ireland

seen from T1

seen from T1

seen from Malaysia
seen from Italy
Minum kuah bakso geys (lemonade)
> “Katamu; kau menyesal menikah denganku.
Aku tak menjawab waktu itu… karena di dalam hati, aku juga menyesal —
bukan karena menikah denganmu,
tapi karena kehilangan diriku sendiri dalam proses mencintaimu.
Kini aku paham,
mencintai seseorang terlalu dalam
bisa membuat kita lupa pulang pada diri sendiri.
Dan mungkin…
penyesalan ini bukan tentang ‘kita’,
tapi tentang bagaimana aku membiarkan diriku hilang,
hanya demi memastikan kau tetap bertahan.”
Listrik, Baterai dan Bisnis Masa Depan
Disclaimer: ini cuma pemikiran ngawur yang terlintas di otak, gak usah diambil serius. Kalau gak mau rugi buang waktu, jangan dibaca. Iseng saja untuk meluangkan waktu.
Download this photo by Trac Vu on Unsplash
Beberapa waktu sempat bersliweran artikel dan juga postingan terkait keinginan Presiden Jokowi untuk memberi intensif bagi pemakai kendaraan (mobil) listrik. Tentu saja, yang namanya wacana dari Jokowi, selalu disambut dengan pro dan kontra. Haters selalu nyinyir, Lovers selalu hadir. Aku sih senang saja kalau bisa punya mobil listrik atau motor listrik, dan harganya terjangkau. Ada dua alasan: polusi udara dan polusi suara. Secara teori, kendaraan listrik menghasilkan gas yang lebih ramah lingkungan, suara juga senyap. Ya, soal suara ini paling utama bagiku, aku tidak suka dengan motor yang suaranya berisik. Tapi, kalau kendaraan tanpa suara juga dianggap berbahaya karena bisa membuat orang gak waspada. Ah, ini sih masalah orang biasa waspada atau gak, toh selama ini kecelakaan sering terjadi karena orang lebih banyak abai dengan keselamatan di jalan raya.
Tapii, ini tidak berarti aku langsung mau punya kendaraan listrik. Duitnya belum ada wkwkwkwkw. Bukan itu, tapi aku masih mikir soal sumber tenaganya, alias listrik. Lha wong sekarang saja pasokan listrik dari PLN masih suka padam. Terus ini kan pakai baterai, perlu waktu buat charging, juga setiap baterai pasti ada umurnya. Nah, harga bateri ini mahal, dan tarif listrik juga masih mahal. Oke lah, untuk tarif listrik, bisa itung-itungan dibanding dengan BBM. Tapi soal baterai, nah ini masih mikir-mikir.
Satu lagi yang jadi bahan pertimbangan, infrastruktur pendukung. Selama ini, jarang sekali (bahkan aku belum pernah lihat langsung) semacam stasiun pengisian daya untuk kendaraan listrik, ya semacam SPBU lah. Jadi kalau mau isi daya, ya mungkin di rumah masing-masing. Jadi sejauh ini, kalaupun punya kendaraan listrik, paling-paling dipakainya untuk yang jarak dekat saja. Terlalu riskan kalau jarak jauh. Kalau bensin bisa beli eceran, setelah isi langsung nyala. Kalau baterai, charging minimal satu jam, baru bisa jalan.
Kebijakan Pemerintah
Terkait rencana subsidi pembelian kendaraan listrik itu sendiri, menurutku BELUM TEPAT saat ini. Belum, bukan tidak. Ini soal prioritas. Ya itu tadi, infrastruktur belum siap. Lagipula, dengan subsidi ini, siapa yang untung? Produsen kendaraan listrik. Siapa produsen itu? Ya asing, aseng, osing dan kroni-kroninya. Ujung-ujungnya, ya kita bakal jadi pasar doang, konsumen yang mendatangkan keuntungan bagi negara lain (dan tentu saja sebagian kecil pejabat/pengusaha).
Bagiku, prioritas pemerintah seharusnya lebih ke 3 hal ini: transportasi publik (kalau bisa dengan listrik), industri pendukung transportasi listrik dan infrastruktur transportasi listrik. Barulah subsidi untuk yang bersifat konsumtif tadi.
Bayangkan kalau kita punya industri kendaraan listrik sendiri, juga industri baterai sendiri yang bisa menopang penggunaan kendaraan listrik ini, dan dimaksimalkan untuk transportasi publik. Misal, perbanyak KRL di kota-kota besar, termasuk di luar jawa. Pelan-pelan, minta agar angkot, bajaj, becak dan biskota beralih menggunakan listrik - lebih tepat kalau subsidi diberikan ke mereka dulu. Jadi yang didorong bukan agar orang beli kendaraan pribadi, tapi dorong agar orang nyaman pakai transportasi umum. Oh ya, soal transportasi publik ini, yang aku maksud bukan taksi online ataupun ojek online, tapi ya sudahlah, mereka juga bisa termasuk lah. Seingatku ada juga wacana pemerintah yang ingin memberi insentif ke perusahaan transportasi online itu - pro/kontra juga.
Angkot listrik misalnya, akan lebih terjangkau kalau mobil listriknya diproduksi dalam negeri, termasuk baterainya. Transportasi umum berbasis listrik juga akan makin nyaman saat infrastruktur pendukung sudah siap, jadi angkot, bajaj, ojek dan lainnya bisa ngecas baterai di mana-mana, gak harus di rumah. Ini juga membuat kita tidak harus tergantung pada import, bisa mandiri. Gak usah muluk-muluk bikin sekelas Tesla, cukup sekelas Wuling pun seharusnya sudah bagus.
Ya, berkali-kali ada kesan pemerintah mencoba merayu perusahaan kendaraan listrik seperti Tesla untuk membangun pabrik di Indonesia. Nah, harusnya jangan hanya fokus ke Tesla, tapi ke semuanya. Kalau bisa pemerintah juga harus tegas terkait alih teknologi, ya itu tadi, biar perlahan-lahan bisa mandiri juga. Aku yakin, SDM kita mampu untuk berkiprak dalam industri kendaraan listrik ini, jadi jangan cuma dimanfaatkan sebagai buruh dengan upah rendah.
Peluang Bisnis
Nah, wacana soal kendaraan listrik ini, menurutku membuka peluang bisnis yang potensial di masa depan. Bisnis ini terkait dengan dua hal dasar: baterai dan kendaraan listrik.
Industri (dan riset) untuk membuat baterai yang tahan lama, cepat dicas, punya daya yang besar tapi ringkas.
Industri (dan riset) untuk membuat kendaraan listrik yang hemat energi.
Industri (dan riset) untuk mencari alternatif pembangkit listrik yang cocok dengan kondisi Indonesia, agar tidak tergantung pada batu bara, gas dan BBM.
Industri (dan riset) untuk mengolah limbah baterai. Kita tahu, limbah baterai itu racun, makanya tidak disarankan untuk dibuang sembarangan. Selama ini orang terlalu fokus pada masalah plastik, tapi jarang yang membahas soal baterai ini. Kan bagus kalau misal limbahnya bisa dinetralkan dan bahkan di daur ulang.
Jasa charging kendaraan listrik, ya semacam SPBU.
Peluang-peluang industri dan jasa itu tentu juga perlu skill dan teknologi terkait, jadi instansi pendidikan dan juga kalangan pengembang teknologi bisa bersiap-siap untuk menyediakan layanan/jasa terkait. Misal kebutuhan teknisi kendaraan listrik, aplikasi untuk memantau kinerja baterai dan sebagainya.
Tidak hanya kendaraan, aku rasa hampir semua peralatan bakal mulai beralih ke listrik. Jadi kalau punya uang lebih, coba investasi ke perusahaan atau riset terkait baterai dan pembangkit listrik alternatif (soalnya kalau pembangkit listrik konvensional sudah dikuasai PLN). Kalau bingung milih bidang studi yang bakal banyak peluang kerjanya, ya cobalah yang terkait dengan teknologi dan listrik.
Baterai adalah kebutuhan masa depan. Begitu juga dengan charger alias pengisi daya.
Jadi kepikiran, bisa gak bikin charger yang bisa terima input dari berbagai sumber daya: dari listrik PLN, dari tenaga surya atau dari tenaga mekanik (angin, ombak, dan sebagainya) atau dari apapun (termasuk atom?).
Jadi berandai-andai, kalau punya uang banyak seperti Elon Musk atau Jeff Bezos atau pemerintah China, aku pengen jor-joran untuk riset dan mengembangkan industri terkait baterai dan pembangkit listrik. Mungkinkah pemerintah bisa memberi insentif untuk industri terkait ini, dan juga mencari investor yang tertarik untuk mengembangkannya di Indonesia? Biar kita jangan hanya jadi konsumen kendaraan pribadi, tapi bisa jadi produsen sekaligus pemilik jaringan transportasi umum yang berkualitas.
Surat untuk Tuhan
Emosi
Suhu tubuh meningkat amarah pun memuncak
Saat diri tak mampu lagi mengntrol emosi
lagi-lagi kata kotor yang keluar menghiasi bibir ini
Kadang tak ada sebab tiba-tiba hati berubah menjadi gelap
Semua terkena sasaran amarah tanpa sebab
Hadirnya tak beralasan
Pergi juga tak berpamitan
Sungguh se-sulit inikah hati harus mencoba untuk mengerti keadaan sendiri
Harus mengetahui bagaimana kondisi raga yang kesana-sini
Harus mencoba memaklumi walau tak mengerti
Muram tanpa sebab adalah kondisi paling merugikan yang pernah hadir
Semua orang jadi sasaran, bahkan diri secara tidak sadar merasa terbeban
Tak tahu, dan tanpa sebab muram tiba-tiba muncul mengacaukan segalanya
Semua di maki, barang yang terdekat di lempar tanpa segan
Tanpa memikir resiko setelahnya, atau bahkan memang untuk melepas penatnya rasa
Diri jadi tak fokus, mood terganggu dan berimbas pada kerja yang tidak maksimal
Muram tanpa sebab bukanlah harap yang diangankan, tapi adalah sebuah nyata yang dibenci
benar, memang lepasnya kontrol diri adalah hal yang paling di benci
Karena semua jadi serba salah, semuanya juga hilang arah
Menjadi Pujangga ulung syaratnya cuma dua: harus jelek dan sering patah hati.
Ngambek
Situasi dilema antara menyerah dan bertahan
Tak sesederhana itu
Meski beberapa bilang hal itu merugikan
Tapi ngambek adalah cara untuk bertahan
Menghargai diri sendri, membela diri sendri
Orang yang sering ngambek sering kali dibilang baper
Sesekali memang merugi, tertinggal karena menarik diri
Tapi, yang g pernah ngambek itu rawan.
Iya, rawan diremehkan.
Tak apa, dia biasa begitu
Tak apa, nanti juga dateng sendiri
Tak apa melukai karena ia baik hati.
Ku rasa itu naluri, naluri yang seharusnya tak mati.
Tolong bedakan antara berlebihan dan kebutuhan
Mau 'positif' atau 'negatif' berlebihan sudah beda urusan.
Mediasi Warga Sukomanunggal dan PT Sinar Suri, Warga: Tangkap Aja Dia, Kelamaan, Ngawur
Carina Payue Mediasi Warga Sukomanunggal dan PT Sinar Suri, Warga: Tangkap Aja Dia, Kelamaan, Ngawur Artikel Baru Nih Artikel Tentang Mediasi Warga Sukomanunggal dan PT Sinar Suri, Warga: Tangkap Aja Dia, Kelamaan, Ngawur Pencarian Artikel Tentang Berita Mediasi Warga Sukomanunggal dan PT Sinar Suri, Warga: Tangkap Aja Dia, Kelamaan, Ngawur Silahkan Cari Dalam Database Kami, Pada Kolom Pencarian Tersedia. Jika Tidak Menemukan Apa Yang Anda Cari, Kemungkinan Artikel Sudah Tidak Dalam Database Kami. Judul Informasi Artikel : Mediasi Warga Sukomanunggal dan PT Sinar Suri, Warga: Tangkap Aja Dia, Kelamaan, Ngawur Mediasi tersebut dilakukan akibat dari ambruknya tanggul lumpur di Sukomanunggal dan mengakibatkan satu orang meninggal terpendam lumpur http://www.unikbaca.com
#Ngawur ... sampahin lagi aja haha