Aku punya cerita lucu. Cerita ini lucu sekali.
Cerita yang lucu sekali ini menceritakan tentang aku. Ya, aku yang punya cerita ini!
Mari kita mulai cerita lucu (menurutku)
Alkisah, pada suatu malam aku bercerita kepada Tuhan bahwa aku ingin lekas dipertemukan dengan seorang manusia berkelamin laki-laki dan kriteria lain yang aku rahasiakan dengan Tuhan malam itu.
Beberapa hari kemudian, seseorang berkelamin laki-laki datang, laki-laki dengan kriteria yang hanya aku dan Tuhan yang menentukan.
Kedatangannya bukan sesuatu hal yang baru, kami sudah saling mengenal. Ku sebutkan datang karena dia muncul tidak lama setelah aku bercerita dengan Tuhan perihal keinginanku. Ku simpulkan dia datang karena dia entah sambil bercanda atau coba-coba, sadar, sengaja atau tidak, menawarkan, mengajukan dan mengajak untuk menempati keinginan yang aku ceritakan kepada Tuhan.
Jangan-jangan kamu jodohku!
Boleh aku menanggapinya dengan berperan seolah senda gurau ini biasa kami lakukan? Boleh aku marah agar dia tahu aku sedang waspada? Bagaimana jika aku, dengan keluguan dan kepolosanku, atau dengan pikiranku yang positif serta optimis, sama-sama mengira hal serupa dan percaya?
Menurutku, kalo kamu serius kamu baiknya datang untuk membuktikan dengan ungkapan serta tindakan! Lalu aku bisa yakin.
Tetapi, katanya, dia masih perlu meyakinkan diri karena sendirinya pun khawatir hanya delusi. Lalu sepakatlah kami menentukan batas akhir, dan 15 hari pun tercatat.
15 hari yang disepakati telah dimulai. Aku tidak menganggap semua ini sandiwara. Bukankah memang kita sering merasa tidak percaya atas keinginan yang Tuhan kabulkan? Aku melibatkan perasaan tersebut, maka aku bersungguh-sugguh.
Ku sampaikan kepada Tuhan, jika dia yang ‘datang’ ini adalah dia ku yang ku minta, semoga kami sama-sama diyakinkan. Tetapi jika sebaliknya, aku memohon semoga aku pun dia sama-sama dikuatkan untuk terus bersabar. Sebab dia yang bagai jarum dalam jerami belum ditemukan.
Saat genap 3 hari tiba, dia melaporkan bahwa dia telah menemukan jawaban.
Aku menerima sanggahan jika banyak orang tidak setuju dengan judul cerita ini sebagai cerita yang lucu. Menurutku, alasan cerita ini lucu adalah cerita ini harus diselesaikan dulu agar tahu alasannya.
Deg-degan menunggu laporannya, betulan terjadi. Untuk menenangkan hati, ku sampaikan ulang apa yang pernah ku sampaikan kepada Tuhan perihal keberserahanku: jika iya maka semoga yakin, jika tidak maka semoga kuat.
Ya, aku siap menerima apapun yang terjadi.
Aku sibuk bertanya pada selainku, hingga lupa pada diriku sendiri perihal kesiapan diri untuk urusan ini.
Aku sudah berjanji akan berserah apapun yang terjadi. Dan kenyataan bahwa aku harus kuat, ku terima dengan masih sedikit bertanya, Apakah kesiapan itu terkait aku atau dianya sendiri? Lagi-lagi, kadang kita masih tidak percaya akan apa yang diberikan Tuhan kepada kita. Apakah aku telah sungguhan berserah?
Jika sampai disini bagian cerita lucunya tidak ditemukan, barangkali aku sengaja tidak menyampaikannya.
Jika sampai di titik ini kamu belum tertawa, aku ingin menyampaikan suatu hal tanpa maksud memberitai
: bagian lucu itu kadang tidak menggelitik sama sekali, pun tidak imut.