7.34 AM
“Teruntuk Sang Pemilik Rasa”
Apa kabar?
Aku masih ingat tempo hari kau berbisik, sedikit-sedikit berujar
Bahwa kepada diriku kau menanam rasa
Tempo hari kau, sedikit tersipu agaknya, mengatakan
Laut lepas bukan tanding atas seluruh rindu, segala rasa yang kau bina
Aku ingat, berkali-kali aku mengulum senyuman
Bertubi-tubi aku jatuh pada satu persatu kata, setiap kalimat yang lirih memanja telinga
Merdu seperti senandung angin yang menghempas lautan
Menenangkan, bagai kicau camar menyambut senja
Tempo hari itu berlalu cepat bagai kilatan cahaya matamu yang mempesona
Menyergap waktu, menjeda detak
Menghentikan kata-kata yang memang telah menahun kupenjarakan dengan sengaja
Aku seperti kau bawa berlayar mengambang ditengah hijau lautan
Meski kemudian kembali aku tersadar,
Tempo hari berlalu begitu cepat bersama kebahagiaan yang kita dekap
Di mana kau berada sekarang?
Jarak telah membawa kita pada titik yang kita pijak
Waktu tak dapat kita genggam selamanya
Dan kau, sulit untuk kulepas, maupun kudekap
Tempo hari, gadis kecil ini tak mampu melepas semua kata yang seharusnya kau tangkap
Si pemalu ini cuma sanggup melontarkan diam, pun sedikit-sedikit senyuman
Tak cukup untuk membuatmu paham
Kemudian ada waktu yang tak dapat menunggu, meski kuminta..
Kau, harus menghilang dari pandangan
Di mana kau berada sekarang, membawa seluruh rasa yang darimu sesungguhnya masih rapi kusimpan?
Tahukah kau, sementara aku di sini masih tak dapat memecah diam,
Tak mampu mengumpulkan keberanian mengejar setiap langkah yang kau pijak
Meski hatiku ada, di manapun kakimu melangkah
Lebih dari itu, tahukah kau di antara merdunya keheningan kita,
Sesungguhnya aku, masih menunggumu pulang..
-Yustiazari | Gili Ketapang, 11 November 2017