Bermalam di Changi Airport? Mengapa tidak?
Changi Airport memang sesuai kalau dijuluki bandara terbaik sedunia. Terutama sangat backpacker friendly. Sepertinya bandara ini amat sangat memanjakan orang-orang yang transit dan bermalam disini ya. Banyak sekali sofa-sofa empuk, bahkan kursi yang hampir menyerupai tempat tidur, juga ruang menonton yang ukuran sofanya amat sangat besar bisa diduduki dua bahkan tiga orang untuk ukuran badan saya. Papan informasi serta charger station dimana mana, dan pastinya unlimited free wifi. Kalau “terjebak” di bandara seperti ini lebih dari satu hari, ga masalah buat saya…
Jetstar yang saya tumpangi mendarat pukul 18.30 waktu Singapura yang lebih awal satu jam dari Ho Chi Minh City. Sayang sekali, bila kami mendarat setidaknya setengah jam sebelumnya, bisa datang ke informasi dan mendaftar free city tour untuk keliling kota Singapura. Fasilitas ini mereka berikan untuk penumpang yang transit lebih dari 5 jam di Singapura. Tentunya dengan menunjukkan tiket untuk penerbangan selanjutnya. Oke, mungkin belum rejekinya.
Namun, tujuan utama saya transit disini untuk bisa melihat Jewel Waterfall, Rain Vortex – air terjun indoor yang kabarnya terbesar di dunia. Untuk mencapai lokasi ini, kita harus keluar imigrasi terlebih dahulu. Letaknya di T1 (untungnya saya juga di T1). Jika pesawat kalian turun di T2-T4, bisa menyaksikan dari atas kereta yang menghubungkan antar terminal. Tapi kalau penasaran, turun langsung ke T1 menuju Jewel. Sesampainya disana, tepat saat pertunjukan laser dimulai. Alhamdulillah… beruntung sekali ya.. Kalau ada yang bilang untuk menonton ini bayar, jangan percaya. Karena bayar itu masuk ke dalam Canopy Park-nya, yang isinya memang amat sangat menarik untuk dilihat. Namun karena sudah malam, kami memutuskan untuk mencari makan malam saja. Di Changi, masakan halal juga sudah banyak. Killiney Kopitiam salah satunya. Berhubung kurs dolar Singapura sekarang amat kuat, maka rasanya harganya amat sangat mahal. Untung saya masih punya sisa SGD, jadi tidak perlu untuk menukarnya lagi.
Setelah perut kenyang, kewajiban menunaikan shalat selesai dikerjakan. Kami mulai berkeliling untuk mencari tempat tidur. Jika terlalu malam, kemungkinan tempat-tempat tersebut sudah dipenuhi orang. Untungnya, masih ada beberapa sofa lengkap dengan tempat chargernya kosong. Langsung saya menggelar pashmina sebagai selimut (karena bandara pada malam hari amat sangat dingin). Jangan lupa juga pakai pakaian yang cukup tebal lengkap dengan kaos kaki jika ingin bermalam disini.
Pukul 3 dini hari, saya dibangunkan oleh petugas piket keliling bandara yang mengecek tiket penerbangan. Hal ini mereka lakukan untuk menghindari adanya pengunjung yang tidak berkepentingan menginap di bandara. Seperti Viktor Navorski di film The Terminal kali ya… Karena dibangunin padahal lagi enak-enaknya tidur, saya terjaga cukup lama sampai bisa tidur kembali pukul 4 pagi. AC yang cukup dingin membuat saya ingin minum yang hangat. Karena lounge tempat saya tidur dekat dengan baby care, saya mengambil air panas di dispenser dalam ruang baby care. Setelah badan cukup hangat, tidur dilanjutkan kembali. Setengah 6 pagi, tidur saya terusik kembali dengan suara gerai toko yang mulai dibuka. Karena sudah masuk waktu subuh, kemudian beranjak ke musholla yang ternyata jamaahnya cukup banyak.
Waktu menunjukkan pukul setengah 7 pagi, yang artinya 2 jam sebelum boarding. Selesai shalat dan cuci muka-sikat gigi, kalau melewati duty free kosmetik, jangan sungkan untuk mengambil free tester nya. Bukan sebotolnya, tapi menyemprotkan sedikit parfum dan mencoba moisturizernya, saya siap untuk terbang kembali. Hehe.. Satu hal lagi, pastikan untuk mengecek kembali gate pesawat. Scan boarding tiket di tempat yang disediakan, karena kemungkinan gate pesawat akan dipindahkan.
Setengah jam sebelum boarding time, dengan perasaan yang tidak enak karena layar tidak menunjukkan tanda-tanda pesawat yang akan saya naiki, saya mengecek kembali tiket di scanning ticket information. Ternyata, dari gate C-18 dipindahkan ke D-47. WHAT! Dari C ke D memakan waktu kurang lebih 15 menit berjalan kaki. Kami langsung berjalan cepat menuju gate yang sudah di update. Saya sempat mampir di 7-Eleven untuk membeli sarapan onigiri dan banana milk untuk sarapan. Huft! Nyaris saja salah gate dan tertinggal pesawat. Kalau ketinggalan kan jadi pengen extend *eh.
Dengan jarak tempuh selama 2 jam yang rasanya hanya setengah jam karena lanjut tertidur di dalam pesawat, sampailah kami di Bandara Int’l Soekarno-Hatta Jakarta. Tidak hanya sampai disana, saya harus melanjutkan perjalanan menuju kota Jogja dengan Citilink yang penerbangannya pukul 12.45 WIB. Maka berpisahlah saya dan teman seperjalanan saya disini. Hari sabtu, bandara amat sangat padat. Dengan terminal yang sama (Terminal 2), saya tidak perlu pindah terminal. Setelah check-in dan memanfaatkan bagasi, saya tidak perlu menggeret-geret koper 9,2 kilogram saya. Cukup satu tas ransel saja..
Gate dipindah? Tentu saja… namun tidak sejauh bandara Changi, dan tidak ada bagasi di tangan. Maka pindah gate tidak masalah..
Total 10 hari perjalanan Indochina saya. Alhamdulillah lancar selama perjalanan. Kembali ke kantor, rasanya amat sangat berat. Apa saya beralih profesi untuk bikin open trip aja ya? Kalau pada penasaran berapa total biaya yang saya keluarkan dari keluar rumah sampai pulang ke rumah lagi? Total kurang lebih 5,2 juta rupiah saya keluarkan. Iya, sudah termasuk tiket kereta Lempuyangan – Ps. Senen, pesawat CGK – DMK, tiket bus antar kota dan antar Negara, tiket pesawat SGN – SIN – CGK, dan terakhir CGK – JOG. Bukan hanya tiket, tapi juga jajan kopi, beli minuman dingin, hotel/ hostel, sampai ojek online baik mobil/ motor. Ya terbantu dengan menginap 3 malam di apartemen saudara sih. Tapi kalau menginapnya ramean, kemungkinan bisa menghemat biaya lagi. Apalagi sharing tuktuk atau taksi, bisa jauh lebih murah.
Untuk perjalanan ini, saya tidak memesan modem wifi, karena selain mahal hanya dipakai dua orang saja, saya pikir menikmati perjalanan dan fokus melihat pemandangan kemudian latepost sesampainya di hotel, tidak menjadi masalah. Kalau online terus, bisa-bisa whatsapp orang kantor yang nanyain kerjaan bisa merusak cuti kita. Perbanyaklah membaca referensi orang-orang dan cek google maps untuk menuju satu tempat ke tempat lain. Niscaya perjalananmu akan jauh lebih mudah dan murah.
Sampai jumpa di cerita perjalanan berikutnya. Teruslah bermimpi, kelak mimpimu akan menjadi kenyataan. Assalamuálaikum…