Taqabbalallahu Minna wa minkum taqabbal ya karim. Minal aidzin wal Faidzin.
Selamat hari idul Fitri saudaraku dan aku 🤍

No title available

ellievsbear

shark vs the universe

Game Changer & Make Some Noise

izzy's playlists!
Fai_Ryy
NASA

@theartofmadeline
Cookie Run:Kingdom Official!
No title available
No title available

No title available

❣ Chile in a Photography ❣

roma★

#extradirty
KIROKAZE
Noah Kahan

blake kathryn

if i look back, i am lost
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Portugal
seen from United States

seen from Australia
seen from Türkiye
seen from Bangladesh

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Nepal

seen from Dominican Republic
seen from United States
seen from Bangladesh
seen from Pakistan
seen from India

seen from United States
seen from United States
seen from Bangladesh
@tripwaw
Taqabbalallahu Minna wa minkum taqabbal ya karim. Minal aidzin wal Faidzin.
Selamat hari idul Fitri saudaraku dan aku 🤍
Refleksi Hari Ini
Ketika kamu ikhlas memberikan sesuatu hal kebaikan dengan niat karena Allah. Memang perlu waktu untuk ikhlas Lillah biidznillah dan fisabilillah. Seringkali kita masih melihat apa yang dulu kita punya yang kita kasih ke orang lain. Merasa bahwa itu masih barang kita. Gregetan kalau yang kita kasih ternyata ngga amanah. Serasa pengen ambil lagi hal yang sudah kita berikan. Niat yang sering kali pun masih tercampur adukkan dengan kepentingan manusia. Bahkan mengharapkan imbalan besar atas pengorbanan yang dilakukan. Memang diri terlalu fakir dan perhitungan pada amal kebaikan, padahal bukankah melakukannya merupakan sebuah kewajiban ini, sangat sangat memalukan.
Percay, Memang balasannya tidak dengan orang yang sama. Balasan yang diberikan pun tidak bisa sama atau dengan nominal uang sama. namun pasti ada dan percaya pasti akan ada balasan kebaikannya walaupun memang kita harus menunggu bersabar dan belajar ikhlas namun percaya pasti akan ada.
Note : kejadian saat aku memberikan tempat duduk di Prameks buat ibu ibu dan ternyata suaminya juga dikasi da anaknya dikasih namun Allah gantikan dengan tempat duduk lain yang ternyata masih kosong dan lebih nyaman (karena sudah berdiri 1 jam sebelumnya)
D17 Ramadhan : Urwah bin Zubair
Pagi itu, matahari memancarkan benang-benang cahaya keemasan di atas Baitul Haram, menyapa ramah pelatarannya yang suci. Di Baitullah, sekelompok sisa-sisa shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tokoh-tokoh tabi’in tengah mengharumkan suasana dengan lantunan tahlil dan takbir, menyejukkan sudut-sudutnya dengan doa-doa yang shalih. Mereka membentuk halaqah-halaqah, berkelompok-kelompok di sekeliling Ka’bah agung yang tegak berdiri di tengah Baitul Haram dengan kemegahan dan keagungannya. Mereka memanjakan pandangan matanya dengan keindahannya yang menakjubkan dan berbagi cerita di antara mereka, tanpa senda gurau yang mengandung dosa.
Di dekat rukun Yamani, duduklah empat remaja yang tampan rupawan, berasal dari keluarga yang mulia. Seakan-akan mereka adalah bagian dari perhiasan masjid, bersih pakaiannya dan menyatu hatinya. Di dekat rukun Yamani, duduknya empat remaja yang tampan rupawan, berasal dari keluarga yang mulia. Seakan-akan meraka adalah bagian dari perhiasan masjid, bersih pakaiannya dan menyatu hatinya. Keempat remaja itu adalah Abdullah bin Zubair dan saudaranya yang bernama Mush’ab bin Zubair, saudaranya lagi bernama Urwah bin Zubair dan satu lagi Abdul Malik bin Marwan. Pembiacaraan mereka semakin serius. Kemudian seorang di antara mereka mengusulkan agar masing-masing mengemukakan cita-cita yang didambakannya. Maka khayalan mereka melambung tinggi ke alam luas dan cita-cita mereka berputar mengitari taman hasrat mereka yang subur.
Mulailah Abdullah bin Zubair angkat bicara: “Cita-citaku adalah menguasai seluruh Hijaz dan menjadi khalifahnya.” Saudaranya, Mus’ab menyusulnya: “Keinginanku adalah dapat menguasai dua wilayah Irak dan tak ada yang merongrong kekuasaanku.”
Giliran Abdul Malik bin Marwan berkata, “Bila kalian berdua sudah merasa cukup dengan itu, maka aku tidak akan puas sebelum bisa menguasai seluruh dunia dan menjadi khalifah setelah Mu’awiyah bin Abi Sufyan.” Sementara itu Urwah diam seribu bahasa, tak berkata sepatah pun. Semua mendekati dan bertanya,
“Bagaimana denganmu, apa cita-citamu kelak wahai Urwah?” Beliau berkata, “Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberkahi semua cita-cita dari urusan dunia kalian, aku ingin menjadi alim [orang berilmu yang mau beramal], sehingga orang-orang akan belajar dan mengambil ilmu tentang kitab Rabb-nya, sunah Nabi-Nya dan hukum-hukum agamanya dariku, lalu aku berhasil di akhirat dan memasuki surga dengan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Hari-hari berganti serasa cepat. Kini Abdullah bin Zubair dibai’at menjadi khalifah menggantikan Yazid bin Mu’awiyah yang telah meninggal. Dia menjadi hakim atas Hijaz, Mesir, Yaman, Khurasan, dan Irak yang pada akhirnya terbunuh di Ka’bah, tak jauh dari tempatnya mengungkapkan cita-cita dahulu. *Cerita sebelumnya*
Sedangkan Mus’ab bin Zubair telah mengauasai Irak sepeninggal saudaranya Abdullah dan akhirnya juga terbunuh ketika mempertahankan wilayah kekuasaannya. Mushab berhasil menikahi dua wanita cantik Aisyah binti Abu Thalhah dan Suqaenah binti Husein bin Ali
Adapun Abdul Malik bin Marwan, kini menjadi khalifah setelah terbunuhnya Abdullah bin Zubair dan saudaranya Mus’ab, setelah keduanya gugur di tangan pasukannya. Akhirnya, dia berhasil menjadi raja dunia terbesar pada masanya. Bagaimana halnya dengan Urwah bin Zubair? Mari kita ikuti kisahnya dari awal.
Beliau lahir satu tahun sebelum berakhirnya masa khilafah al-Faruq Radhiyallahu ‘Anhu. Dalam sebuah rumah yang paling mulia di kalangan kaum muslimin dan paling luhur martabatnya.
Adapun ayahnya bernama Zubair bin Awwam, “al-Hawari” (pembela) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang pertama yang menghunus pedangnya dalam Islam serta termasuk salah satu di antara sepuluh orang yang dijamin masuk surga.
Sedangkan ibunya bernama Asma binti Abu Bakar ash-Shidiq yang dijuluki dzatun nithaqain [pemilik dua ikat pinggang].
Kakek beliau dari jalur ibu adalah Abu Bakar ash-Shidiq, khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menemani beliau di sebuah goa.
Sedangkan nenek dari jalur ayahnya adalah Shafiyah binti Abdul Muthalib yang juga bibi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Bibinya adalah Ummul Mukminin, bahkan dengan tangan Urwah bin Zubair sendirilah yang turun ke liang lahat untuk meletakkan jenazah ummul Mukminin.
Maka siapa lagi kiranya yang lebih unggul nasabnya dari beliau? Adakah kemuliaan di atasnya selain kemuliaan iman dan kewibawaan Islam?
Demi merealisasikan cita-cita yang didambakan dan harapan kepada Allah yang diutarakan di sisi Ka’bah yang agung tersebut, beliau amat gigih dalam usahanya mencari ilmu. Maka beliau mendatangi dan menimbanya dari sisa-sisa para shahabat Rasulullah yang masih hidup.
Beliau mendatangi rumah demi rumah mereka, shalat di belakang mereka, menghadiri majelis-majelis mereka. Beliau meriyawatkan hadis dari Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Zaid bin Tsabit, Abu Ayyub al-Anshari, Usamah bin Zaid, Sa’id bin Zaid, Abu Hurairah, Abdullah bin Abbas, Nu’man bin Basyir dan banyak pula mengambil dari bibinya, Aisyah Ummjul Mukminin. Pada gilirannya nanti, beliau berhasil menjadi satu di antara fuqaha sab’ah (tujuh ahli fikih) Madinah yang menjadi sandaran kaum muslimin dalam urusan agama.
Para pemimpin yang shalih banyak meminta pertimbangan kepada beliau baik tentang urusan ibadah maupun negara karena kelebihan yang Allah berikan kepada beliau. Sebagai contohnya adalah Umar bin Abdul Aziz. Ketika beliau diangkat sebagai gubernur di Madinah pada masa al-Walid bin Abdul Malik, orang-orang pun berdatangan untuk memberikan ucapan selamat kepada beliau.
Usai shalat zuhur, Umar bin Abdul Aziz memanggil sepuluh fuqaha Madinah yang dipimpin oleh Urwah bin Zubair. Ketika sepuluh ulama tersebut telah berada di sisinya, maka beliau melapangkan majlis bagi mereka serta memuliakannya. Setelah bertahmid kepada yang berhak dipuji beliau berkata, “Saya mengundang Anda semua untuk suatu amal yang banyak pahalanya, yang mana saya mengharapkan Anda semua agar sudi membantu dalam kebenaran, saya tidak ingin memutuskan suatu masalah kecuali setelah mendengarkan pendapat Anda semua atau seorang yang hadir di antara kalian. Bila kalian melihat seseorang mengganggu orang lain atau pejabat yang melakukan kezhaliman, maka saya mohon dengan tulus agar Anda sudi melaporkannya kepada saya.” Kemudian Urwah mendoakan baginya keberuntungan dan memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, senantiasa bersanding dengan Kitabullah dan tekun membacanya. Beliau mengkhatamkan seperempat Alquran setiap siang dengan membuka mushhaf, lalu shalat malam membaca ayat-ayat Alquran dengan hafalan. Tak pernah beliau meninggalkan hal itu sejak menginjak remaja hingga wafatnya melainkan sekali saja. Yakni ketika peristiwa mengharukan yang sebentar lagi akan kami beritakan kepada Anda.
Dengan menunaikan shalat, Urwah memperolah ketenangan jiwa, kesejukan pandangan dan surga di dunia. Beliau tunaikan sebagus mungkin, beliau tekuni rukun-rukunnya secara sempurna dan beliau panjangkan shalatnya sedapat mungkin.
Telah diriwayatkan bahwa beliau pernah melihat seseorang menunaikan shalat secepat kilat. Setelah selesai, dipanggilnya orang tersebut dan ditanya, “Wahai anak saudaraku, apakah engkau tidak memerlukan apa-apa dari Rabb-mu Yang Maha Suci? Demi Allah, aku memohon kepada Rabb-ku segala sesuatu sampai dalam urusan garam.”
Urwah bin Zubair radhiyallahu ‘anhu adalah seorang yang ringan tangan, longgar dan dermawan. Di antara bukti kedermawanannya itu adalah manakala beliau memiliki sebidang kebun yang luas di Madinah dengan air sumurnya yang tawar, pepohonan yang rindang serta buahnya yang lebat. Beliau pasang pagar yang mengelilinginya untuk menjaga kerusakannya dari binatang-binatang dan anak-anak yang usil. Hingga tatkala buah telah masak dan membangkitkan selera bagi yang memandangnya, dibukalah beberapa pintu sebagai jalan masuk bagi siapapun yang menghendakinya.
Begitulah, orang-orang keluar masuk kebun Urwah sambil merasakan lezatnya buah-buahan yang masak sepuas-puasnya dan membawa sesuai dengan keinginannya. Setiap memasuki kebun, beliau mengulang-ulang firman Allah:
وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاء اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
“Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “maasyaa allah, laa quwwata illaa billah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).” (QS. Al-Kahfi: 39)
Suatu masa di zaman khilafah al-Walid bin Abdul Malik, Allah berkehendak menguji Urwah dengan suatu cobaan yang tak seorang pun mampu bertahan dan tegar selain orang yang hatinya subur dengan keimanan dan penuh dengan keyakinan.
Tatkala amirul mukminin mengundang Urwah untuk berziarah ke Damaskus. Beliau mengabulkan undangan tersebut dan mengajak putra sulungnya. Amirul Mukminin menyambutnya dengan gembira, memperlakukannya dengan penuh hormat dan melayaninya dengan ramah.
Kemudian datanglah ketetapan dan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala, laksana angin kencang yang tak dikehendaki penumpang perahu. Putra Urwah masuk ke kandang kuda untuk melihat kuda-kuda piaraan pilihan. Tiba-tiba saja seekor kuda menyepaknya dengan keras hingga menyebabkan kematiannya.
Belum lagi tangan seorang ayah ini bersih dari tanah penguburan putranya, salah satu telapak kakinya terluka. Betisnya tiba-tiba membengkak, penyakit semakin menjalar dengan cepatnya.
Kemudian bergegaslah Amirul Mukminin mendatangkan para tabib dari seluruh negeri untuk mengobati tamunya dan memerintahkan mereka untuk mengobati Urwah dengan cara apapun.
Namun para tabib itu sepakat untuk mengamputasi kaki Urwah sampai betis sebelum penyakit menjalar ke seluruh tubuh yang dapat merenggut nyawanya.
Jalan itu harus ditempuh. Tatkala ahli bedah telah datang dengan membawa pisau untuk menyayat daging dan gergaji untuk memotong tulangnya, tabib berkata kepada Urwah: “Sebaiknya kami memberikan minuman yang memabukkan agar Anda tidak merasakan sakitnya diamputasi.” Akan tetapi Urwah menolak, “Tidak perlu, aku tidak akan menggunakan yang haram demi mendapat afiat (kesehatan). Tabib berkata, “Kalau begitu kami akan membius Anda!” Beliau menjawab, “Aku tidak mau diambil sebagian dari tubuhku tanpa kurasakan sakitnya agar tidak hilang pahalanya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Ketika operasi hendak dimulai, beberapa orang mendekati Urwah, lalu beliau bertanya, “Apa yang hendak mereka lakukan?” Lalu dijawab, “Mereka akan memegangi Anda, sebab bisa jadi Anda nanti merasa kesakitan lalu menggerakan kaki dan itu bisa membahayakan Anda.” Beliau berkata, “Cegahlah mereka, aku tidak membutuhkannya. Akan kubekali diriku dengan dzikir dan tasbih.”
Mulailah tabib menyayat dagingnya dengan pisau dan tatkala mencapai tulang, diambillah gergaji untuk memotongnya. Sementara itu Urwah tak henti-hentinya mengucapkan, “Laa ilaaha Illallah Allahu Akbar,” sang tabib terus melakukan tugasnya dan Urwah juga terus bertakbir hingga selesai proses amputasi itu.
Setelah itu dituangkanlah minyak yang telah dipanaskan mendidih dan dioleskan di betis Urwah bin Zubair untuk menghentikan perdarahan dan menutup lukanya. Urwah pingsan untuk beberapa lama dant terhenti membaca ayat-ayat Alquran di hari itu. Inilah satu-satunya hari di mana beliau tidak bisa melakukan kebiasaan yang beliau jaga semenjak remajanya.
Ketika Urwah tersadar dari pingsannya, beliau meminta potongan kakinya. Dibolak-baliknya sambil berkata, “Dia (Allah) yang membimbing aku untuk membawamu di tengah malam ke masjid, Maha Mengetahui bahwa aku tak pernah menggunakannya untuk hal-hal yang haram.”
Kemudian dibacanya syair Ma’an bin Aus:
Tak pernah kuingin tanganku menyentuh yang meragukan Tidak juga kakiku membawaku kepada kejahatan Telinga dan pandangan mataku pun demikian Tidak pula menuntun ke arahnya pandangan dan pikiran Aku tahu, tiadalah aku ditimpa musibah dalam kehidupan Melainkan telah menimpa orang sebelumku
Kejadian tersebut membuat Amirul Mukminin, al-Walid bin Abdul Malik sangat terharu. Urwah telah kehilangan putranya, lalu sebelah kakinya. Maka dia berusaha menghibur dan menyabarkan hati tamunya atas musibah yang menimpanya tersebut.
Bersamaan dengan itu, di rumah khalifah datang satu rombongan Bani Abbas yang salah seorang di antaranya buta matanya. Kemudian al-Walid menanyakan sebab musabab kebutaannya. Dia menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, dulu tidak ada seorang pun di kalangan Bani Abbas yang lebih kaya dalam harta dan anak dibanding saya. Saya tinggal bersama keluarga di suatu lembah di tengah kaum saya. Mendadak muncullah air bah yang langsung menelan habis seluruh harta dan keluarga saya. Yang tersisa bagi saya hanyalah seekor onta yang lari dari saya. Maka saya taruh bayi yang saya bawa di atas tanah lalu saya kejar onta tadi. Belum seberapa juh, saya mendengar jerit tangis bayi itu. Saya menoleh dan ternyata kepalanya telah berada di mulut serigala, dia telah memangsanya. Saya kembali, tapi tak bisa berbuat apa-apa lagi karena bayi itu sudah habis dilalapnya. Lalu serigala tersebut lari dengan kencangnya. Akhirnya saya kembali mengejar onta liar tadi sampai dapat. Tapi begitu saya mendakat dia menyepak dengan keras hingga hancur wajah saya dan buta kedua mata saya. Demikianlah, saya dapati diri saya kehilangan semua harta dan keluarga dalam sehari semalam saja dan hidup tanpa memiliki penglihatan.
Kemudian al-Walid berkata kepada pengawalnya, “Ajaklah orang ini menemui tamu kita Urwah, lalu mintalah agar dia mengisahkan nasibnya agar beliau tahu bahwa ternyata masih ada orang yang ditimpa musibah lebih berat darinya.”
Tatkala beliau diantarkan pulang ke Madinah dan menjumpai keluarganya, Urwah berkata sebelum ditanya, “Janganlah kalian risaukan apa yang kalian lihat. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberiku empat orang anak dan Dia berkehendak mengambil satu. Maka masih tersisa tiga. Puji syukur bagi-Nya. Aku dikaruniai empat kekuatan lalu hanya diambil satu, maka masih tersisa tiga. Puji syukur bagi-Nya. Dia mengambil sedikit dariku dan masih banyak yang ditinggalkan-Nya untukku. Bila Dia menguji sekali, kesehatan yang Dia karuniakan masih lebih banyak dan lebih darinya.”
Demi melihat kedatangan dan keadaan imam dan gurunya, maka penduduk Madinah segera datang berbondong-bondong ke rumahnya untuk menghibur.
Yang paling baik di antara ungkapan teman-teman Urwah adalah dari Ibrahim bin Muhammad bin Thalhah: “Bergembiralah wahai Abu Abdillah, sebagian dari tubuhmu dan putramu telah mendahuluimu ke surga. Insya Allah yang lain akan segera menyusul kemudian. Karena rahmat-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala meninggalkan engkau untuk kami, sebab kami ini fakir dan memerlukan ilmu fiqih dan pengetahuanmu. Semoga Allah memberikan manfaat bagimu dan juga kami. Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah wali bagi pahala untukmu dan Dia pula yang menjadim kebagusan hisab untukmu.”
Urwah bin Zubair menjadi menara hidayah bagi kaum muslimin. Menjadi penunjuk jalan kemenangan dan menjadi da’i selama hidupnya. Perhatian beliau yang paling besar adalah mendidik anak-anaknya secara khusus dan generasi Islam secara umum. Beliau tidak suka menyia-nyiakan waktu dan kesempatan untuk memberikan petunjuk dan selalu mencurahkan nasihat demi kebaikan mereka.
Tak bosan-bosannya beliau memberikan motivasi kepada para putranya untuk bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Beliau berakata, “Wahai putra-putriku, tuntutlah ilmu dan curahkan seluruh tenagamu untuknya. Karena, kalaupun hari ini kalian menjadi kaum yang kerdil, kelak dengan ilmu tersebut Allah menjadikan kalian sebagai pembesar kaum.” Lalu beliau melanjutkan: “Sungguh menyedihkan, adakah di dunia ini yang lebih buruk daripada seorang tua yang bodoh?”
Beliau anjurkan pula kepada mereka untuk memperbanyak sedekah, sedangkan sedekah adalah hadiah yang ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beliau berkata, “Wahai anak-anakku, janganlah kalian menghadiahkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan apa yang kalian merasa malu menghadiahkannya kepada para pemimpin kalian, sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mulia, Maha Pemurah dan lebih berhak didahulukan dan diutamakan.”
Beliau senantiasa mengajak orang-orang untuk memandang suatu masalah dari sisi hakikatnya. Beliau berkata, “Wahai putra-putriku, jika engkau melihat kebaikan pada seseorang maka akuilah itu baik, walaupun dalam pandangan banyak orang dia adalah orang jahat. Sebab setiap perbuatan baik itu pastilah ada kelanjutannya. Dan jika melihat pada seseorang perbuatan jahat, maka hati-hatilah dalam bersikap walaupun dalam pandangan orang-orang dia adalah orang yang baik. Sebab setiap perbuatan ada kesinambungannya. Jadi camkanlah, kebaikan akan melahirkan kebaikan setelahnya dan kejahatan menyebabkan timbulnya kejahatan berikutnya.”
Beliau juga mewasiatkan agar berlemah lembut, bertutur kata yang baik dan berwajah ramah. Beliau berkata, “Wahai putra-putriku, tertulis di dalam hikmah, “Jadikanlah tutur katamu indah dan wajahmu penuh senyum, sebab hal itu lebih disukai orang daripada suatu pemberian.”
Jika beliau melihat seseorang condong pada kemewahan dan mengutamakan kenikmatan, diingatkannya betapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu membiasakan diri untuk hidup sederhana.
Sebagai contoh adalah kisah yang diceritakan oleh Muhammad bin al-Munkadir, “Aku bertemu dengan Urwah bin Zubair. Dia menggandeng tanganku sambil berkata, “Wahai Abu Abdillah.” Aku jawab, “Labbaik.”
Urwah berkata, “Aku pernah menjumpai ibuku Aisyah, lalu beliau berkata, ‘Wahai anakku, demi Allah, ada kalanya selama 40 hari tak ada api menyala di rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk lampu ataupun memasak.” Maka aku bertanya, “Bagaimana Anda berdua hidup pada waktu itu?” Beliau menjawab, “Dengan korma dan air.”
Urwah hidup hingga usia 71 tahun. Hidupnya penuh dengan kebajikan, kebaktian, dan diliputi ketaqwaan. Ketika dirasa ajalnya sudah dekat dan dia dalam keadaan berpuasa, keluarganya mendesak agar beliau mau makan, tetapi beliau menolak keras karena ingin berbuka di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan minuman dari telaga al-Kautsar yang dituangkan dalam gelas-gelas perak oleh para bidadari cantik di surga.
link : https://kisahmuslim.com/2792-urwah-bin-zubair.html
D16 RAMADHAN : Anas bin Malik
Anas bin Malik atau juga dikenal sebagai Abu Hamzah merupakan sahabat nabi Muhammad SAW yang banyak meriwayatkan hadis. Jumlah hadis yang Anas riwayatkan adalah sebanyak 2.286. Ia mendengar riwayat tersebut baik secara langsung maupun dari sahabat senior Rasulullah lainnya.
Anas bin Malik berasal dari suku Bani Najjar yang tinggal di Madinah. Ia merupakan anak dari wanita kalangan Anshar bernama Ummu Sulaim. Ketika Nabi tiba di Madinah pada 622, ibu Anas membawa Anas bin Malik yang masih kecil berjalan di depan Rasulullah. Ummu Sulaim bermaksud menghadiahkan anak laki-lakinya sebagai pelayan untuk Nabi.
"Saat masih berusia 10 tahun, Ummu Sulaim membawa Anas kepada Rasulullah dan berkata, 'Wahai Rasulullah, ini adalah Anas, pembantumu yang akan melayanimu maka berdoalah kepada Allah untuknya'" tulis Khalid Muhammad Khalid dalam Biografi 60 Sahabat Rasulullah SAW tentang Al Barra bin Malik, Allah dan Surga.
Rasulullah pun senang dan menerima Anas. Kemudian ia mengusap kepala Anas bin Malik dengan tangannya dan memegang kuncirnya dengan jari-jarinya yang lembut dan membawa Anas ke keluarga Rasulullah dan mendoakannya:
"Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya. Berkahilah ia dan masukkanlah ke dalam surga. Masukkanlah ia ke dalam surga."
Keberkahan doa Rosulullah, kebun anas bebuah dua kali dalam setahun sedang yang lainnya setahun sekali. dalam riwayat Anas bin Malik berusia 99 tahun dengan memiliki 106 anak.
Sejak kecil Anas telah menjadi khadim yang melayani berbagai keperluan Rasulullah. Anas hidup di dalam pendidikan dan penjagaan Rasulullah sampai beliau meninggal. Masa-masa bersama Rasulullah berlangsung tepat selama sepuluh tahun. Itulah yang membuatnya mampu menghafal banyak hadis. Meski demikian, Anas termasuk orang yang sangat hati-hati dalam meriwayatkan hadis yang bersumber dari Rasulullah. Ia selalu menyatakan di akhir riwayatnya dengan perkataan, "atau sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW."
Jiwanya pun penuh dengan hidayah, hatinya penuh dengan hadis-hadis Nabi Muhammad SAW sehingga ia menjadi orang yang lebih tahu tentang keadaan Rasulullah, rahasia, sifat-sifat Rasulullah yang tidak diketahui orang lain kecuali dirinya.
Semasa hidupnya, Anas bin Malik selalu menggerakkan bibirnya untuk menyebut Rasulullah. Hari yang sangat menggembirakannya adalah hari pertemuannya dengan Rasulullah dan hari yang menyedihkan baginya adalah hari perpisahannya dengan Rasulullah. Setelah kepergian Rasulullah pada tahun 632 Masehi, Anas berpartisipasi dalam perang penaklukan di bawah kekhalifahan Rasyidin.
Anas bin Malik juga merupakan sahabat Nabi Muhammad SAW yang terakhir meninggal di Basra. Ia disebut hidup sampai usia 99 tahun dan dikaruniai banyak anak dan cucu, sebagaimana Allah memberinya rezeki berupa kebun yang luas dan subur.
Dari Anas, ia berkata mengenai putera dari Abu Tholhah dari istrinya Ummu Sulaim. Ummu Sulaim berkata pada keluarganya, “Jangan beritahu Abu Tholhah tentang anaknya sampai aku yang memberitahukan padanya.” Diceritakan bahwa ketika Abu Tholhah pulang, istrinya Ummu Sulaim kemudian menawarkan padanya makan malam. Suaminya pun menyantap dan meminumnya. Kemudian Ummu Sulaim berdandan cantik yang belum pernah ia berdandan secantik itu. Suaminya pun menyetubuhi Ummu Sulaim. Ketika Ummu Sulaim melihat suaminya telah puas dan telah menyetubuhi dirinya, ia pun berkata, “Bagaimana pendapatmu jika ada suatu kaum meminjamkan sesuatu kepada salah satu keluarga, lalu mereka meminta pinjaman mereka lagi, apakah tidak dibolehkan untuk diambil?” Abu Tholhah menjawab, “Tidak.” Ummu Sulaim, “Bersabarlah dan berusaha raih pahala karena kematian puteramu.” Abu Tholhah lalu marah kemudian berkata, “Engkau biarkan aku tidak mengetahui hal itu hinggga aku berlumuran janabah, lalu engkau kabari tentang kematian anakku?” Abu Tholhah pun bergegas ke tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan apa yang terjadi pada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mendo’akan, “Semoga Allah memberkahi kalian berdua dalam malam kalian itu.” Akhirnya, Ummu Sulaim pun hamil lagi. (HR. Muslim no. 2144).
Dari hubungan mereka tersebut lahirlah seorang anak laki-laki. Anas berkata bahwa Abu Tholhah berkata padanya, “Jagalah dia sampai engkau mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengannya.” Anas pun membawa anak tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ummu Sulaim juga menitipkan membawa beberapa butir kurma bersama bayi tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengambil anak tersebut lantas berkata, “Apakah ada sesuatu yang dibawa dengan bayi ini?” Mereka berkata, “Iya, ada beberapa butir kurma.” Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambilnya dan mengunyahnya. Kemudian beliau ambil hasil kunyahan tersebut dari mulutnya, lalu meletakkannya di mulut bayi tersebut. Beliau melakukan tahnik dengan meletakkan kunyahan itu di langit-langit mulut bayi. Beliau pun menamakan anak tersebut dengan ‘Abdullah. (HR. Bukhari no. 5470 dan Muslim no. 2144).
D15 Ramadhan : Muadz Bin Jabbal dan kemasyhurannya.
Rosulullah mengatakan diantara sahabatku yang paling mengerti mengenai halal dan haram adalah Muadz bin Jabal. Muadz adalah orang yang berhati-hati an memahami hukum-hukum. Seorang sahabat mulia yang menjadi pempimpin dikalangan orang anshar. Muadz adalah makmumnya nabi dan imam di kampungnya. Sholat wajib bersama dengan Rosulullah lalu pulang mengimami masyarakat di kampungnya. Masyarakat pun komplain karena merasa terlalu panjang sholat nya. dan muadz mengtakan sholatku sama dengan sholat rosul, surat yang dibaca sama, kenapa kamu tidak mau mengikuti nya. dasar munafik kalian. orang-orangnya lalu lapor ke rosulullah, lalu rosulullah pun mendatangi muadz. dan menyampaikan komplain yang sama disampaikan oleh masyarakat. akhirnya rosulullah mengatakan makmum mu dan makmum ku berbeda, maka sesuaikan dengan kondisi makmumnya.
Muadz bin Jabal ditugaskan ke Yaman untuk berdakwah. berdakwahlah kepada mereka mengenai tauhid, lalu mengenai sholat, lalu selanjutnya terangkan kepada mereka mengenai zakat, lalu mengenai puasa. Jadi berdakwah itu dilakukan berderajat tidak langsung sesekali. dimulai dari yang pokok sampai ke hal yang paling kompleks.
Rosulullah epernah berpesan kepada Muadz bin Jabal "Wahai muadz bertaqwalah kepada Allah dimana pun kamu berada. kalau kamu terlanjur melakukan keburukan segera susuli dengan kebaikan supaya bisa menebusnya dan berakhlaq kepada semua manusia dengan akhlaq yang mulia"
"Ada salah seorang sahabat yang tengah bersama Rasulullah SAW lalu salah seseorang berjalan di hadapan beliau. Lalu orang itu pun berkata: "Wahai Rasulullah, sungguh aku benar-benar mencintai orang ini". Kemudian seraya Rasulullah SAW bertanya terhadapnya : "Apakah kamu sudah mengabarkan tentang perasaan terhadapnya?" dan kemudian orang tersebut pun menjawab: "Belum". Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata : "Kalau demikian, pergilah kemudian beritahukan hal ini kepadanya". Lantas Kemudian sahabat tersebut langsung bergegas pergi untuk menemui Muadz dan kemudian ia mengucapkan "Ana uhibbuka fillah". Kemudian Muadz menjawabnya dengan mengucapkan sebuah kalimat: "Ahabbakalladzi ahbabtani lahu (atau "fih")". semoga Allah mencintaimu, Dzat yang telah menjadikanmu mencintai aku karena-Nya.
Rosulullah engajarkan kepada muadz doa di akhir sholat. Wahai Muadz, jangan lupa di akhir setiap shalat, ucapkan: 'Allaahumma a'inni 'ala dhikrika wa shukrika wa husni' ibaaditika. ' (Ya Allah, tolong aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu dan menyembah-Mu dengan cara yang terbaik).” (HR. Ahmad, Abu Dawud).
Muadz merupakan saudara hijrah kepada Umar bin Khattab. dan mereka sama sama giat dalam hadir majelis ilmu rosulullah. Jadi saat Umar bekerja, Muadz akan meminjamkan catatannya, begitu pula sebaiknya saat Muadz bekerja umar akan meminjamkan catatannya.
Sahabat menanykan aoa yang kamu inginkan? salah satu menjawab "aku ingin syahid lalu hidup lalu syahid lagi " ada yang menjawan " aku ingin punya harta sekian dirham lalu aku infaqkan lalu harta lagi lalu diinfaq kan lagi. Saking cintanya dulu umar kepada Muadz saat ditanya sahabat bertanya apa yang ingin kau lakukan wahai umar. Umar menjawab "angan-anganku adalah memiliki sahabat Muadz bin Jabbal, Abu Ubaidah bin Jarrah, dan Salim Maula Abu Hudaifah lalu kami beramal bersama di jalan Allah"
Umar saat diujung hidupnya ditanya, siapa yang pantas menggantikannya. Umar maenjawab seandainya Abu Ubaidah bin Jarrah masih hidup aku akan menunujukkknya karena dia orang kepercayaan umat. Seandainya Muadz bin Jabbal masih hidup aku akan menunjukknya karena orang yang sangat amanah mengemban tugas dakwah. Seandainya Salim Maula Abu Hudaifah masih hidup aku akan menunjuknya karena dia orang yang sangat utama dalam mengajar dan mengamalkan AL-Qur'an.
D14 Ramadhan : Sang Pemberani Abdullah bin Zubair
Dari garis ibu merupakan cucu dari Abu Bakar ash Shidiq, Putra dari Asma binti Abu Bakar. Dari garis Ayah merupakan putra dari Zubair bin Al-Awwam. Zubair merupakan putra dari bibi Rosulullah, Shafiyah binti Abdul Mutholib. Shafiyah putra ibu yang sama dengan Hamzah. Zubair Al awwam sendiri digelari sebagai hawari Rosulullah, orang paling setia kepada Rosulullah. Sementara Asma, terkenal dengan kepahlawanannya. Saat Rosulullah dan Abu Bakar Ash Shiddiq berada gua Tsur pada saat mereka hijrah. Asma lah yang mengirimkan rantang makan untuk keduanya. Asma digelari sebagai si pembelah sabuk. Pagi petang selama 3 hari dalam kondisi hamil besar. Maka setelah Abu bakar dan Rosullah tiba di madinah, Asma dan Zubair segera menyusul ke Madinah. Dulu yahudi menyebarkanbsrkan bahwa semua orang yang hijarah semua yang hamil pasti keguguran, yang suami istri pasti tidak punya anak. Lahirnya Abdullah bin Zubair dengan selamat maka batallah sihir dari kaum yahudi tersebut. Abdullah begitu lahir yang dia ucapkan adalah saif.. saiff.. saif (pedang) bukan oek ek menangis.
Pada saat kecil termasuk anak yang diakrabi oleh Rosulullah. Rosulullah suka bermain dengan anak kecil seperti Abdullah bin Zubair, Usamah bin Zaid, Abdullan bin Abbas, Hasan Husein, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Ja'far. Sering bermain kejar-kejaran dengan Rosulullah. Dulu anak-anak kecil apabila ketemu dengan Umar bin khattab pasti lari ketakutan, memeluk ibunya. Namun Abdullah bin Zubair tidak, tetap diam sambil memandangi. Umar bertanya "Kenapa engkau tidak lari?" Abdullah menjawab "Kalau aku tidak salah, kenapa aku harus lari?". MasyaAlllah begitu pemberani
Dia selalu mengikuti peperangan bersama Ayah dan Rosulullah. Di masa berikutnya dia seorang pemberani dan luar biasa pengabdiannya pada Islam. Abdullah bin Zubair bersama sahabat juniior menjaga rumah Utsman bin Affan pada saat terjadi fitnah pada akhir masa kekhalifahan Utsman. Pada waktu itu datang dari wilayah daerah mesir, kufrah, basrah, syam datang ke madinah untuk protes. Abdullah bin Zubair, Abdullan bin Abbas, Hasan Husein, berkumpul dikomando oleh Abdullah bin Zubair. Sayyidina Ali lah yang menyuruh mereka untuk menjaga rumah Ustman bin Affan. Namun Ustman berkata bahwa mereka tidak perlu menjaga dirinya, InsyaAllah dirinya aman bersama dengan keluarganya di rumah (Saat itu Ustman bermimpi bahwa dia bertemu dengan Rosulullah, Abu Bakar dan Umar, saat itu kondisinya Ustman sedang berpuasa dan Rosul mengatakan wahai ustman nanti sore berbukalah puasa disini bersama kami"). Mereka pun pulang dan sampai di rumah, hasan dan husein dimarahi oleh Sayyidina Ali karena tidak menjaga rumah ustman bin Affan. Bahkan Ali diriwayatkan sampai menampar mereka. Maka hari itu Ustman bin Affan meninggal dunia karena pasukan pengepung masuk dan membunuh Ustman bin Affan dalam kondisi Ustman sedang berpuasa dan membaca Al-Quran. Waktu itu sedang masa-masa sulit, terjadi banyak finah maka Abdullah bin zUbair mengusulkan untuk menjaga kelurga nabi dengan mengawal Sayyidina Aisyah dan para istri nabi untuk hijrah ke basrah.
Pada saat itu kondisi sangat kacau setelah kematian sayyidina Ustman bin Affan. Sahabat senior memaksa Ali untuk menjadi khalifah selanjutnya. Ummahatul muslimin dan sahabat nabi yang hijrh jke basrah merasa apakah tidak tergesa-gesa memilih Ali sebagai khalifah selanjutnya. Kaum Kuffah (dengan memberi dukungan Ali ) dan kaum basrah (dengan memberi dukungan kepada thalhah dan Zubair). Provokasi antara keduanya pun semakin panas. Ali mengirim surat kepada ummahatul muslimin dan sahabat nabi di madinah yang menyampaikan bahwa saat ini Ali merupakan khalifah, dan sudah menjadi kewajiban untuk taat kepadaku. mereka menjawan "kami tidak akan mematuhi siapapun sebelum pembunuh ustman di qishas". Yang melalukan qishas adalah dalam baris pendukung Ali. Ali berpikir rasional "taatlah padaku dulu baru setelah itu kita lakukan qishas, karena yang berhak melakukan qishas adalah khalifah. Karena situasi semakin panas, Akhirnya tercetuslah perang wa'atul jamal (perang unta). Thalhah, Zubair, Aisyah di satu pihak dan Ali di pihak lain. Ali mengirimkan pesan kepada Zubair "Apakah engkau ingat saat kita bersama Rosulullah. Dan rosulullah bertanya, apakah engau menyayangi Ali? Zubair menjawab bagaimana mungkin saya tidak menyayangi Ali, Putra Rosulullah. Kalau begitu jangan perangi Ali, wahai Zubair." Dan akhirnya itu terjawab pada saat hari ini. Zubair dulu sangat mendukung Ali. waktu pemilihan khalifah pasca umar wafat, Zubair memilih Ali, Thalhah memilih ustman, Saad bin Abi Waqash memilih Adurrahman bin auf. Abdurrahman bin AUf menanggalkan hak untuk dipilih pada dirinya. sehingga tinggal Thalhah dengan ustman dan Zubair dengan Ali, Dan saat itu Thalhah, Abdurrahman , dan saad memilih ustman. Maka khalifah selanjutnya adalah Ustman.
Begitu membaca surat iru, Zubair pun menangis bagaiaman mungkin dia bisa melupakan nasehat nabi. Thalhah pun dikirim surat yang sama. Sehingga kemudia Thalhah dan Zubair ingin mengajak bertemu dan berdamai. Setelah mereka bertemu, pasukan Thalhah dan Zubair pulangnya dibunuh dan Ali memakamkan keduanya dalam satu liang Karena mereka merupakan dua sahabat nabi yang saling menyayangi karena Allah. Sejak saat itu Abdullah bin Zubair bergabung dengan pasukan Ali.
Abdullah bin Zubair mati karena dibunuh oleh Al Hajaj bin yusuf di bawah multazam. Sebelum meninggal dia bertemu berbicara dengn ibunya. Ibunya mengatakan "tidak apa-apa jangan takut kepada kematian wahai anakku karena bagi seorang muslim, kematian adalah perpindahan kehidupan menuju yang lebih baik lagi. Sekarang kamu sakit-sakitan, tubuhmu sudah tua, kulitu sudah keriput. Namun saat engkau mati tubuhnya akan kembali sehat, tubuhmu akan kuat lagi dan engkau akan bertemu dengan Rosulullah dan para sahabat". Ibunya menyuruh Abdullah bin Zubair menanggalkan pakaian besinya agar semakin mudah syahid baginya. Maka benar, Abdullah bi Zubair menjemput syahidnya dengan meninggal dibawah multazam saat mempertahankan kota mekkah dari serangan Al Hajaj.
D13 Ramdahan : Abdullah bin Abbas
Salah satu sepupunya Rosulullah, anak dari Abbas putra dari Abdul Mutholib (satu kakek dengan Rosulullah). ikut hijrah ke madinah bersama dengan ibunya, Ummu Fadl walaupun posisinya Abbas masih ada di Mekkah. Sewaktu kecil seringkali pergi main ke rumah rosulullah dan ikut beliau untuk sholat malam.
Abdullah bin Abbas dalam riwayat pernah didoakan oleh rosulullah
"Ya Allah faqihkan dia dalam agama dan ajarkanlah kepadanya tentang ilmu tafsir Al-Qur'an dan mengajarkannya kepada umat.
Allahumma faqqihhu fiddin wa a’llimhuttakwil. (Doa yang biasanya dibacakan ke Anak). Minta didoakan saat anak sholeh adalah sebuah keutamaan nabi. Seperti Abdullah bin Abbas yang dulu pernah didoakan oleh Rosulullah saat kecil.
Abdullah bin Abbas dijuluki sebagai turjumanul Qur'an(penerjrmah Quran), rujukan para sahabat untuk mengerti, memahami bagian yang sahabat tidak tahu, bagaimana asbabun nuzulnya, dll.
Umar pernah membawa Abbas dalam forum syuro'. Lalu Umar pun menguji mereka semua. "Apa pendapat kalian mengenai firman Allah idza ja’a nashrullahi wal fath dalam surat An Nasr?" "Allah memerintahkan kita untuk bertahmid dan beristighfar kepada-Nya jika Dia menolong dan memberi kemenangan," jawab salah seorang dari mereka. Yang lain diam, tidak ada jawaban berbeda. "Apakah demikian pendapatmu wahai Ibnu Abbas?"
"Tidak wahai Amirul Mukminin. Idza ja’a nashrullahi wal fath merupakan isyarat kewafatan Rasulullah SAW yang Allah beritahukan kepada beliau. Datangnya kemenangan dan fathu Makkah merupakan tanda ajal beliau." Abdullah bin Abbas menjelaskan bahwa itu adalah isyarat bahwa kematian Rosulullah semakin dekat. Maka datanglah kemenangan bagi Rosulullah dan beristigfarlah untuk para umat rosulullah. "Aku tidak mengetahui tafsir Surat An Nasr ini melainkan apa yang kamu katakan," pungkas Umar.
D12 Ramadhan : Abdullah bin Umar
Putra dari khalifah Umar bin Khattab. Sahabat Nabi yang memiliki sifat zuhud luar biasa bahkan sapai dikatakan sebagai manusia fotokopi dari Rosulullah. Meniru semua perbuatan Rosulullah SAW. Rute Rosulullah umroh madinah-mekkah, dimana Rosul berhenti, dimana Rosul untuk sholat, dimana rosul untuk berwudhu. Rosulullah sering puasa Senin-Kamis, dan Abdullah ibn Umar sangat semangat sekali untuk mengamalkannya.
Sahabat yang paling banyak meriwatkan hadist setelah Abu Hurairah dan Aisyah.
Dulu Abdullah meminta izin untuk ikut perang badar dan uhud namun tidak diizinkan karena usianya yang masih kecil. Pada saat perang khandaq, ada anak sahabat namanya jabir (pandai memanah) boleh ikut. Dan menanyakan kepda Rosulullah kenapa dia tak boleh ikut. Akhirnya dia berduel dengan Jabir dan menang maka Rosulullah mengizinkan dia untuk ikut.
Patnernya adalah Usamah bin Zaid. selisih usia mereka hanya 1.5 tahun. Tidak ada satupun perang yang Usamah bin Zaid yang Abdullah bin Zaid tidak ikut. Usamah sangat disayangi oleh Rosulullah karena anak dari Sahabat nabi Zaid bin Hartsah dan ibunya adalah ummu Aiman yang dulu mengasuh Rosululah waktu kecil. Makanya usamah sangat dekat dengan Rosulullah.
Pernah bermimipi ditunjukkan pintu neraka oleh malaikat. sejak saat itu Abdullah tidak meninggalkan sholat malam di musim dingin sekalipun, dan meninggalkan puasa di musim panas sekalian. Pernah diusulkan menjadi khalifah namun umar tidak mengizinkan untuk menjadikan abdullah menjadi khalifah. Umar memiliki banyak anak, namun tidak ada yang mirip dengan umar selain Abdullah bin Umar. Abdullah bin umar menikah dengan salah satu tawanan putri dari kerjaan kisra. Tidak ada putra abdullah bin umar yang paling mirip dengannya kecuali salim bin abdullah bin umar.
D11 RAMADHAN : Said bin Zaid
Said bin Zaid merupakan sosok sahabat Rosulullah yang sangat low profil. tidak babnyak cerita atau kisah mengenai
Said bin Zaid memiliki keutamaan yang tidak banyak dimiliki oleh sahabat lain, yakni seumur hidupnya dia tidak pernah menyembah berhala, tidak pernah makan makanan yang dipersembahkan untuk berhala, tidak pernah beragama dengan agama berhalala.
Ayahnya bernama Zaid bin Amr bin Nufail, pamannya Umar bin Khattab. Zaid bin Amr bin Nufail bersama dengan Waraqah bin Nufal, Ubaidillah bin Jahs merupakan orang orang yang berpetualangan untuk mencari tau agama nabi ibrahim yang lurus. Berpetualang sampai ke negeri Syam. Sampai di negeri Syam mereka bertemu dengan rahib yang menanyakan "apa yang kamu cari". Mereka menjawab "kami mencari agama nabi Ibrahim yang lurus". Rahib itu menjawab "Kamu mencari agama yang tidak aada pengikutnya, kecuali yang menyimpang. Tapi kamu beruntung, sudah dekat masanya di tengah kaum mu, dari kalangan mu sendiri yangakan muncul seorang nabi yang akan membawa risalah Al-Quran. yang agamanya sama dengan agama nabi Ibrahim yang lurus. Pulanglah ke negrimu, tunggulah kedatangannya." Mereka pun pulang ke Mekkah. Sampai ke mekkah, Zaid bin Amr terkena fitnah yang menyebabkan ia terbunih, dan sebelum meninggal dia berdoa " ya Allah, apabila aku tidak mendapatkan kemuliaan untuk bertemu dengan nabi itu dan beriman kepadanya. Maka jangan halangi keutamaan itu dari anak-anak ku". Maka benar, begitu Rosulullah memulai untuk berdakwah, Said bin Zaid (Putranya) masuk islam dan mengajak istrinya untuk masuk islam juga. Istrinya Said bin Zaid adalah Fatimah binti Khattab (adik dari Umar bin Khattab).
Umar melihat bahwa kota Mekkah menjadi kacau balau setelah ada nya Nabi Muhammad. Kenapa? banyak suami dan istri bercerai karena yang satu masuk islam yang satu enggak. Banyak orang tua berkelahi dengan anak, banyak sudara yang bermusuhan karena hal tersebut. menurut Umar bin Khattab, hal ini menimbulkan ketidak-stabilan kota mekkah dan merusak persatuan kota Mekkah. Ini bedanya abu jahal dan Umar bin Khattab. Abu Jahal merasa iri karena rosul datang bukan dari bani Makhzum. Umar akhirnya ingin membunuh muhammad, karena umar berpikiran kalau membunuh rosulullah maka stabilitas kota Mekkah akan kembali baik lagi.
Di tengah perjalanan menuju rumah Rosulullah, dia bertemu seseorang yang menanyakan ada apa gerangan umar membawa pedang 'untuk membunuh muhammad'. akhirnya orang tersebut mengatakan bahwa ternyata anggota keluagamu sebenarnya juga asudah ada yang masuk agama nabi muhammad. akhirnya diapun menuju kerumah fatimah dan said. Pada saat umar mendatangi rumah said, sedang ada murobbi mereka yang bernama khabbab ibnul arat sedang mengajari mereka mengenai al-Qur'an.
"Apa yang kamu baca tadi, KELUARKAN" umar maju dan menampar Fatimah. Said maju untuk melindungi fatimah, ditonjok dan ditampar namun langsung pingsan. Namun begitu umar melihat bibir pecah dan darah yang mengalir dari bekas tamparannya. Umar langsung menyesal akan hal tersebut.
"Benar, kami sudah mengikuti agama Muhammad, memangnya kenapa wahai Umar?. Kalau kamu mau bunuh kami, bunuh saja kami"
"Coba bacakan ayat yang kau pegang Fatimah" Fatimah menjawab "Tidak, kau seorang kafir yang (najis?). Kalau kau mamu mendengar ayat suci ini, mandilah dulu" Singkat cerita umar bin Khattab akhirnya masuk islam
Kisah saat Said bin Zaid yang dituduh menggeser patok tanah oleh seorang wanita Urwa' binti Uwais. Namun Said kemudian berdoa untuk ditunjukkan kebenaran, dan akhirnya Allah tampakkan kebeneran tersebut.
D10 RAMADHAN
D9 RAMADHAN : Ja'far bin Abi Thalib
Diasuh oleh Abbas saat kecil dan kemudian menikah dengasn Asma binti Umayyah
Ja'far dan keluarganya ikut hijrah ke Habasyah (sejak 6-7 Masa kenabian
Menikah dengan Asma' binti Umais
Jafar ditunjuk sebagai ketua/jubir dari kaum yang hijrah ke habassyah. orang orang yang pindah ke habasyah merupakan kaum bangsawan arab yang mulia seperti Ja'far, Utsman, Abu salamah, Zubair, dll. Jadi tujuan utamanya bukan untuk melindungi diri dari kaum kafir (tidak seperti bilal, sumayyah, dll) Tujuan utamanya adalah menggunjang tata politik kota Mekkah dan memperluan ajaran Islam. Karena mereka kaum bangsawan maka dipertanyakan alasan mereka hijrah dan menjadi aib bagi kota Mekkah itu sendiri.
Akhirnya Amru bin Al-Ash dan Abdullah bin Rabiah diutus untuk menjadi jubir untuk membawa Ja'far dkk pulang ke Mekkah.
Kenapa ke Habaysah? Karena disana terdapat raja (Najasi) yang tidak akan mendzolimi seseorang pun disisinya. Saat didatangi oleh Amr bin Al-ash Raja Najasi melindungi mereka.
Membaca surat Maryam saat ditanya oleh Najasi " Apa pendapatmu mengenai Isa Al-masih"
Ja'far gugur di perang Mu'tah bersama denngan Zaid bin haritsah dan Abdullah bin Rawahah.
Ja'far gugur dengan memegang panji (dengan kondisi lengan kiri-kanan terputus) dan Allah gantikan untuknya sayap untuk Ja'far (sebutannya Attoyar)
Diriwayatkan bahwa ranjang syurga diturunkan untuk menjemput ruh Zaid bin haritsah, Ja'Far bin Abi Thalib dan Abdullah bin Rawahah.
D8 Ramadhan Kareem : Mushab bin Umair
D7 Ramadhan Kareem : Saad bin Abi Waqqash
D6 Ramadhan Kareem
D5 Ramadhan Kareem
D4 Ramadhan Kareem
D3 Ramadhan Kareem