Guru: Satu Sosok Mulia dalam Kehidupan
Ternyata hari ini Hari Guru, 25 November, saya pikir malah besok. Karena memang undangan untuk mengikuti upacara di Kantor Walikota baru besok, hari Senin.
‘Libur tetap libur, jangan diganggu gugat, waktu untuk keluarga,’ mungkin begitu alasannya. Hehehe
Jadi, Selamat Hari Guru untuk semua, baik guru-guru di sekolah formal - non formal maupun guru-guru di kehidupan, misalnya Pengamen, Tukang Sampah, Pedagang Asongan, Tukang Parkir, Pak Satpam, termasuk para murid, para anak didik. :”)
Semoga terwujud segala cita-cita untuk kehidupan yang lebih baik, bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, negara, dan dunia.
Dalam setiap jenjang pendidikan, saya selalu punya cerita menarik tentang sosok Guru yang tidak sekadar mengajarkan ilmu alat saja, tapi juga ilmu-ilmu kehidupan.
Zaman SD, saya ingat nasihat dari Guru Agama saya waktu itu, Pak Yakub namanya. Tentang pertanyaan beliau, “lepas ini, mau lanjut sekolah di mana?”
Waktu itu saya memang belum menentukan pilihan, “menurut Bapak SMP N 2 (Sekolah Unggulan jenjang Menengah Pertama di kota saya saat itu) atau Islamic Center (Pondok Unggulan pada masanya di Bangka)?” Tanya saya.
“Islamic Center aja,” begitu saran beliau mantap. “Disana kamu akan mendapatkan ilmu yang sama dengan siswa-siswi SMP N 2 dapatkan dan juga mendapatkan ilmu yang tidak siswa-siswi SMP N 2 dapatkan,” singkatnya begitu kata beliau.
Mendengar itu akhirnya saya membulatkan tekad, “Mak, Bah, nanti kalau lulus mau masuk Islamic Center.”
Kan kece sekali kalau saya bisa dapat ilmu lebih banyak dari anak-anak SMP N 2, pikir saya waktu itu. Walaupun dalam realitanya, sungguh pontang-panting belajarnya. Hehehe
Zaman mondok di Islamic Center, saya juga dapat nasihat yang selalu saya ingat sampai sekarang, dari Ustadz Ahmad Yani (Ustadz Aqidah Akhlak saya waktu itu), kata beliau kunci kemudahan dalam menghafal itu ada di mata, tidak cukup lisan yang mengulang-ngulang serta kombinasi hati dan otak saja. Kita butuh mata untuk melihat dengan saksama apa yang mau kita hafal.
“Ustadz sudah pernah jelaskan tentang ‘ilmul yaqin, ‘ainul yaqin, dan haqqul yaqin bukan?” tanya Ustadz waktu itu.
“Pernah Ustadz,” jawab kami serentak, walau belum paham ke mana hendak konsep kemudahan menghafal ini bermuara.
“Nah, konsepnya sebenarnya hampir sama dengan tingkat pemahaman ‘ilmul yaqin, ‘ainul yaqin, dan haqqul yaqin.” Tambah beliau yang tidak kunjung menambah kepemahaman kami waktu itu. Kami angguk-angguk saja. Hehehe
Insyaa Allah kelak kami akan mengerti, husnudzan kami.
Benar saja, ketika dipraktekkan menghafal menjadi lebih mudah. Dan itu yang saya praktekkan sampai saat ini kalau sedang menghafal. Ajib memang, lengket gitu hafalannya, walau muraja’ah memang harus tetap jalan sih, karena manusia itu ya selain tempatnya salah juga tempatnya lupa.
Lain lagi kalo sama Ustadz Sarmili (Ustadz Muthala’ah saya), waktu itu saya gagal dalam ujian praktik pelajaran Muthala’ah —adalah pelajaran tentang membaca dan mengkaji teks-teks bahasa arab yang dikemas dalam bentuk cerita dan kemudian kita cari hikmah dari cerita tersebut.
Jadi, waktu itu saya dikeluarkan dari ruang ujian dalam waktu yang tidak ideal untuk ujian praktik. Tidak sampai 15 menit, biasanya kisaran 30 menitan.
Teman-teman sekelompok ujian praktik saya waktu itu heran, antara ujian praktik saya sukses atau gagal.
“Masyaa Allah, luar biasa Tik, cepet banget,” begitu rata-rata komen teman-teman saya.
“Dikeluarin Ustadz,” balas saya seadanya. Sedih, hampir menangis.
Pasalnya, saya gagal beruntun menjawab pertanyaan Ustadz Sarmili waktu itu.
“Saya sengaja ndak membaca keseluruhan cerita tadz,” begitu alasan saya. Dan alasan saya tersebut langsung dihujani nasihat singkat.
Singkatnya adalah tentang memaksimalkan segala ikhtiar dalam proses belajar, termasuk membaca keseluruhan isi cerita, karena bisa jadi puncak kepemahaman tentang isi cerita ada pada kalimat-kalimat yang tidak kita baca, karena bisa jadi hikmah yang paripurna akan diperoleh dari paragraf-pargraf yang dilewatkan.
Mulai saat itu, metode membaca saya berubah total. Saya kalo baca buku mulai dari cover, halaman hak cipta, halaman kata pengantar, bahkan kalo sebelumnya ada halaman testimoni tentang isi buku juga saya sempatkan untuk baca, sampai akhir, biografi penulis. Sama halnya dengan buku pelajaran, bahkan kolom intisari per paragraf yang bentuknya kayak tabel itu pun saya baca. Hehehe Efek sampingnya adalah saya sulit sekali membaca dengan metode scanning dan skimming.
Nah, kalo di jenjang menengah atas. Satu yang saya ingat betul, konsep bersedekah dari guru agama saya, Pak Muslih, beliau mengibaratkan konsep sedekah dengan kue tart bentuk persegi panjang yang punya 4 titik sudut, semakin banyak potongan (acak) kue tart—konsep sedekah- yang kita kasih ke orang lain, maka semakin banyak titik sudut baru yang terbentuk. Semakin banyak kita memberi, maka semakin banyak pula yang akan kita terima. :”)
Jadi, sedekah itu jangan pas kita lagi longgar-longgar banget. Justru ketika keuangan lagi sempit sekali, perbanyaklah sedekah, Allah ganti dengan berlipat-lipat, dari arah yang tidak kita duga-duga. Yakin aja pokoknya. Matematika sedekahnya emang begitu soalnya, hehehe bukan matematika kita yang 2-1 pasti berkurang jadi 1.
Kalo di jenjang perkuliahan, jujur banyak sekali, walau penuh siratan sih. Gak eksplisit kayak pas zaman sekolah seragaman sebelumnya.
Jadi, kita kudu mikir dulu, kudu berkontemplasi dulu, sampai akhirnya “wuah, kece ternyata pesan terselubungnya,” terus terkagum-kagum tak hingga.
Misalnya, “wuah, bahaya ini, anda harus konsisten dong jawab pertanyaan saya, tadi jelasinnya A, sekarang B, yang bener yang mana nih?” Protes Dosen saya ketika saya emang lagi kebingungan dengan pertanyaan yang diputer-puter, nampak tak sama tapi ternyata serupa. Hahaha
“Belajar, memahami ilmu, mengaplikasikan ilmu, semuanya itu kuncinya di istiqomah, sama kayak hidup, harus istiqomah. Anda istiqomah ndak?” Tanya Dosen saya lagi.
“Heh Pak?” Saya malah kaget ditanya begitu, menohok.
Dan kemudian saya paham, bahwa ilmu itu derajat kepemahamannya dilihat dalam bentuk ujian. Dihantam sana, dihantam sini, santai aja jalaninnya, karena udah paham akan ke mana dan seperti apa. Mudeng ndak? Hehehe saya juga jadi bingung jelasinnya.
Intinya adalah ya istiqomahlah dalam seluruh aspek kehidupan yang kita jalani.
Begitulah para guru, kata-katanya selalu penuh nasehat kehidupan jika kamu mau sejenak saja berpikir jernih, mengais banyak hikmah.
Terimakasih untuk seluruh guru, semoga Allah berkahi segala kesabaranmu.
Dari kami para muridmu, semoga Allah aminkan do’amu untuk kami, menjadi insan yang penuh dengan kebermanfaatan.