Wahai suamiku.. Mungkin aku tidak baik dalam bertutur kata, tapi bukan berarti aku tidak sopan kepadamu atau tidak hormat kepadamu. Hanya saja aku benar benar tidak tau bagaimana mengungkapkannya. Aku sudah mencoba, tapi rasanya diam adalah pilihan terbaik daripada ucapanku menyakiti. Sungguh aku tidak mau salah bicara, aku ingin menjadi istri yang bisa bertutur kata halus. Hanya saja ekspektasiku terlalu tinggi, kemudian menyakiti diriku sendiri.
Wahai suamiku, terima kasih atas pengertianmu. Hanya saja aku berharap kau mampu selalu memahamiku, dan aku banyak mau karena memang hanya padamu aku bisa meminta.
Ungkapan sayang, sentuhan lembut, kejutan kecil, sesedeehana seorang anak yang menginginkannya tanpa perlu ada alasan.
Wahai suamiku, maaf aku masih sering larut dengan masa laluku. Aku masih terus memeluk diriku kala itu. Aku mengingat dan mengenangnya, ikut bersedih bersamanya karna waktu aku sendiri.
Wahai suamiku, jadilah teman untukku di kala itu. Bisakah kau menerimaku yang masih berpikir sesederhana seperti masa itu?