YOU ARE THE REASON
Claire Keane

#extradirty
Cosmic Funnies

shark vs the universe
sheepfilms
RMH

titsay

Origami Around
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Cosimo Galluzzi
dirt enthusiast
will byers stan first human second
Jules of Nature
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
art blog(derogatory)
we're not kids anymore.

@theartofmadeline
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

blake kathryn
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from China

seen from United States
seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Germany
seen from United States
seen from Malaysia
seen from Türkiye
seen from United States

seen from Japan
seen from United States

seen from Türkiye
seen from Russia
seen from United Kingdom
@udinhf
Berkah yang Utama
Orang-orang bekerja. Tetapi tidak semua yang bekerja, mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan berlimpah, merasa hidupnya adalah anugerah, dan keluarganya diliputi berkah. Karena ada yang bekerja hanya untuk menjadi kaya dan mengejar harta dunia semata. Maka, tambahkan niat ibadah dan sifat keikhlasan dalam bekerja. Sehingga hidup menjadi cukup dan sejahtera, serta Allah SWT berkenan menghapus dosa-dosa kita.
“Barangsiapa yang di waktu sore merasa capek (lelah) lantaran pekerjaan kedua tangannya (mencari nafkah) maka di saat itu diampuni dosa baginya.” (HR. Thabrani)
Orang-orang belajar. Tetapi tidak semua yang belajar, mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan dimudahkan jalannya menuju surga. Karena ada yang belajar agar diakui pintar dan menggunakan ilmunya untuk berbuat yang tidak benar. Maka, tambahkan niat ibadah dan sifat ketawadhu'an dalam belajar. Sehingga Allah SWT turunkan segala kebaikan dan karunia kepada kita, serta ilmu yang kita pelajari menjadi amal jariyah hingga di akhirat nanti.
“Jika anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali 3 hal, yaitu shadaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, anak shaleh yang selalu mendoakan orang tuanya.” (HR. Muslim)
Orang-orang menikah. Tetapi tidak semua yang menikah, setiap perbuatan baiknya berpahala dan hidupnya semakin dekat ke surga. Karena ada yang menikah hanya untuk bahagia di dunia, menuruti hawa nafsu saja, dan karena ikut teman-temannya. Maka, tambahkan niat ibadah dan ketakwaan dalam menikah.
Sebab dengan niat ibadah, maka segala perbuatannya adalah untuk-Nya. Tiap usaha untuk memberi nafkah kepadanya, tiap usaha untuk membimbing keluarga, dan tiap usaha untuk saling membahagiakan pasangan adalah karena Allah SWT. Sehingga setiap hari, menit, hingga detiknya adalah berpahala. Sebab menikah adalah separuh agama, lalu bertakwalah kepada Allah pada separuh yang lainnya. Sehingga agama kita menjadi sempurna dan bersama pasangan semakin dekat ke surga-Nya.
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir).” (QS. Al-Hijr: 45)
Memang esensi dari setiap perbuatan termasuk menikah, seringkali dilupakan. Sehingga setiap yang menikah tidak selalu mendapat kebaikan-kebaikan. Maka dalam hal niat, sesama pasangan salinglah mengingatkan. Memang menikah adalah ibadah terlama, maka setiap saat salinglah meluruskan.
Karena berkah yang utama dalam hal menikah, maka ingatlah Allah dalam setiap langkah. Sehingga Allah turunkan pada keluarga berupa sakinah (ketenangan), mawaddah (cinta), dan rahmah (kasih sayang). Semoga setiap pernikahan kita, senantiasa berada di jalan-Nya dan berakhir pada surga-Nya.
Semoga Perhiasan itu Kamu
Adalah perhiasan yang membuat manusia itu menawan. Dan istri sholihah ialah sebaik-baik perhiasan. Karena pada istri yang sholihah, akan terlihat keindahan akibat ibadah dan amalan yang ia lakukan. Karena pada istri yang sholihah, akan tampak cahaya kebaikan akibat kebermanfaatan dia dengan lingkungan. Karena pada istri yang sholihah, akan tampak ketenangan akibat terjaganya perilaku dan rasa malu.
Inilah malu, salah satu perhiasan yang telah lama hilang. Rasanya sulit kita temukan di zaman seperti sekarang. Padahal rasa malu merupakan cabang dari keimanan. Rasa malu itu ciri wanita dalam Al-Qur'an. Rasa malu itu akan selalu mendatangkan kebaikan.
Dunia memang kebanyakan peduli dengan apa yang tampak pada mata. Membuat orang-orang tertarik kepadanya. Karena manusia suka akan perhatian. Demi ketenaran, manusia akan rela melakukan apa saja. Hingga hilanglah rasa malu, tanpa khawatir akan akibatnya. Hingga hal ini menjadi hal yang biasa.
Jika wanita hilang rasa malu, maka hilang pula batas untuk menjaga. Menjaga diri di tengah kehidupan yang serba terbuka. Kehidupan dimana semua orang bebas mengekspresikan apa saja. Dimana semua orang berlomba untuk menunjukkan siapa dirinya. Bersaing untuk mendapatkan perhatian sebanyak-banyaknya.
Jika wanita hilang rasa malu, maka hilang pula batas untuk menjaga. Menjaga diri dari pandangan laki-laki. Karena bagi para lelaki, mata adalah karunia tertinggi. Segala apa yang tampak mata bisa membuatnya terlena. Sedikit saja lengah, susah baginya untuk mengalah. Maka para wanita, bantulah para lelaki untuk menjaga pandangannya. Jadikanlah dirimu berharga.
Wanita sejati, sesungguhnya tak mencari perhatian. Yang diperlukan adalah kesabaran. Ibarat mutiara di tengah lautan. Di dalam cangkang dia berdiam. Wanita sejati, sesungguhnya memiliki kegigihan. Seperti berlian yang terbenam jauh di tanah bebatuan. Bertahan dalam proses yang penuh kesulitan. Wanita sejati, sesungguhnya memupuk rasa malu. Yang jarang dimiliki setiap individu. Bagai mahkota yang ada di atas kepala sang ratu.
Maka untuk setiap wanita, jadilah sebaik-baik perhiasan dunia. Yang demikian justru tak ternilai harganya. Sangat beruntung, bagi laki-laki yang mendapatkannya. Sungguh berharga, hanya orang-orang yang pantas yang berhak menerimanya. Karena yang berharga hanya untuk yang berharga pula.
Semoga untuk setiap wanita senantiasa diberi hidayah agar terus memperbaiki diri untuk menjadi sebaik-baik perhiasan dunia. Senantiasa dikukuhkan rasa malu pada akhlaknya. Semoga untuk setiap laki-laki mendapatkan sebaik-baik perhiasan yang ia buru, istri sholihah yang senantiasa menjaga rasa malu. Semoga bagi diriku perhiasan itu kamu.
Ketika dunia dimana semuanya serba terbuka, maka rasa malu pada dirimu adalah hal yang terindah.
🚧 *MEWASPADAI SEPULUH KEMUNGKARAN DALAM PERAYAAN TAHUN BARU* (1/2)
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
*1. Kerusakan aqidah, yaitu tidak adanya sikap berlepas diri dari orang-orang kafir dan kesesatan mereka*, seperti hari raya mereka dan ritual atau acara mereka.
Asy-Syaikh Al-'Allamah Ibnu Baz rahimahullah berkata,
قد دلت الأدلة الشرعية من الكتاب والسنة على وجوب البراءة من المشركين واعتقاد كفرهم متى علم المؤمن ذلك ، واتضح له كفرهم وضلالهم
"Sesungguhnya dalil-dalil syari'at yang berasal dari Al-Qur’an dan As-Sunnah telah menunjukkan wajibnya berlepas diri dari kaum musyrikin dan wajibnya meyakini bahwa mereka adalah orang-orang kafir, ketika seorang mukmin telah mengetahui dan menjadi jelas baginya kekafiran dan kesesatan mereka." [Al-Fatawa, 28/226]
*2. Dosa terbesar, yaitu syirik dan kekafiran*, apabila seseorang mengikuti atau menyetujui hari raya orang kafir disertai dengan keridhoaan atau persetujuan terhadap agama mereka, contohnya setuju dengan keyakinan bahwa Nabi Isa 'alaihissalam yang mereka sebut Yesus adalah anak Allah yang dilahirkan atau setuju dengan penyembahan mereka kepada beliau, maka siapa yang menyetujuinya dia kafir seperti mereka, berdasarkan kesepakatan ulama.
Syaikhul Islam Muhammad At-Tamimi rahimahullah berkata,
من لم يكفر المشركين أو شك في كفرهم أو صحح مذهبهم : كفَرَ إجْماعاً
"Barangsiapa tidak mengkafirkan kaum musyrikin, atau ragu dengan kekafiran mereka, atau membenarkan pendapat (kufur) mereka, maka dia kafir berdasarkan ijma' (kesepakatan ulama)." [Nawaqidhul Islam: 3]
*3. Bid’ah, menambah perayaan hari besar selain Idul Fitri dan Idul Adha*, sama saja apakah merayakanya dengan hura-hura atau dengan dzikir, doa dan istighotsah yang dikhususkan pada hari tersebut, padahal tidak ada dalil yang mengkhususkannya, bahkan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah melarang semua perayaan hari besar selain Idul Fitri dan Idul Adha.
Sahabat yang Mulia Anas bin Malik radhiyallahu’anhu berkata,
قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ قَالُوا كُنَّا نَلْعَبُ فِيهِمَا فِى الْجَاهِلِيَّةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ
“Ketika Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam mendatangi kota Madinah, para sahabat memiliki dua hari raya yang padanya mereka bersenang-senang. Maka beliau bersabda: Dua hari apa ini? Mereka menjawab: Dua hari yang sudah biasa kami bersenang-senang padanya di masa Jahiliyah. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Allah telah mengganti kedua hari tersebut dengan dua hari yang lebih baik, yaitu idul adha dan idul fitri.” [HR. Abu Daud, Shahih Abi Daud: 1039]
*4. Tasyabbuh, menyerupai orang-orang kafir dalam merayakannya*, berpesta pora, berpakaian seperti mereka, meniup terompet, saling memberi hadiah, memberi diskon penjualan, ucapan selamat dan libur kerja karena momen Natal atau Tahun Baru dan lain-lain.
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia bagian dari mereka.” [HR. Ahmad dan Abu Daud dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma, Shahihul Jaami’: 6149]
➡ *Peringatan dari Himpunan Ulama Besar Ahlus Sunnah yang Tergabung dalam Komite Tetap untuk Pembahasan Ilmiah dan Fatwa:*
وإذا انضاف إلى العيد المخترع كونه من أعياد الكفار فهذا إثم إلى إثم ؛ لأن في ذلك تشبها بهم ونوع موالاة لهم ، وقد نهى الله سبحانه المؤمنين عن التشبه بهم وعن موالاتهم في كتابه العزيز
“Dan apabila tenyata hari perayaan yang diada-adakan tersebut asalnya dari orang-orang kafir maka bertambahlah dosanya, sebab dalam hal itu terdapat tasyabbuh (penyerupaan) dan merupakan satu bentuk loyal kepada orang-orang kafir. Dan sungguh Allah subhanahu wa ta’ala dalam kitab-Nya yang mulia telah melarang kaum mukminin untuk tasyabbuh dan loyal kepada orang-orang kafir.” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 2/263 no. 21203]
*5. Kerusakan akhlak, diantaranya membuka aurat, campur baur laki-laki dan wanita, pacaran hingga perzinahan, semakin marak di malam Tahun Baru*.
Allah 'azza wa jalla berfirman,
وَلا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلا
“Janganlah kalian mendekati zina, karena sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji dan seburuk-buruknya jalan.” [Al-Isra’: 32]
*6. Pemborosan dan penyia-nyiaan harta dengan berpesta pora, membeli petasan, rokok, khamar dan lain-lain.*
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ
“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan.” [Al-Isra: 26-27]
*7. Membahayakan diri dan mengganggu kenyamanan orang lain dengan menyalakan petasan, kembang api, suara gaduh nyanyian dan musik, memacetkan jalan dan lain-lain.*
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah mengingatkan bahaya kezaliman,
أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ
“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu? Sahabat menjawab: Orang yang bangkrut di tengah-tengah kami adalah orang yang tidak memiliki dinar dan harta. Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah seseorang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan sholat, puasa, zakat, namun dia pernah mencaci fulan, menuduh fulan, memakan harta fulan, menumpahkan darah fulan dan memukul fulan. Maka diambil kebaikan-kebaikan yang pernah dia lakukan untuk diberikan kepada orang-orang yang pernah ia zalimi. Hingga apabila kebaikan-kebaikannya habis sebelum terbalas kezalimannya, maka kesalahan orang-orang yang pernah ia zalimi tersebut ditimpakan kepadanya, kemudian ia dilempar ke neraka.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]
*8. Begadang malam menunggu momen pergantian tahun hingga terlambat bangun sholat Shubuh, bahkan tidak sholat sama sekali, padahal meninggalkan sholat termasuk kekafiran*.
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلاَةِ
“Sesungguhnya, batas antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan sholat.” [HR. Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma]
Dan sabda beliau shallallahu’alaihi wa sallam,
الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ
“Perjanjian antara kami dan mereka adalah sholat, barangsiapa meninggalkannya sungguh ia telah kafir.” [HR. At-Tirmidzi dari Buraidah bin Al-Hushaib radhiyallahu’anhu, Shahihut Targhib: 564]
Abdullah bin Syaqiq Al-‘Uqaili rahimahullah berkata,
كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم لاَ يَرَوْنَ شَيْئًا مِنَ الأَعْمَالِ تَرْكُهُ كُفْرٌ غَيْرَ الصَّلاَةِ
“Dahulu para sahabat Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam tidaklah menganggap ada satu amalan yang apabila ditinggalkan menyebabkan kekafiran, kecuali sholat.” [Riwayat At-Tirmidzi, Shahihut Targhib: 565]
*9. Lagu-lagu, nyanyian dan musik, padahal hukumnya haram.*
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِين
“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” [Luqman: 6]
Bersambung
◾ BERGEMBIRALAH SAAT TERTIMPA MUSIBAH ◾
Allah 'Azza wa Jalla berfirman :
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi ?" (QS. Al-Ankabut [29]: 2)
Maka bergembiralah bagi orang yang sakit atau tertimpa musibah, yaitu jika mereka menyikapinya dengan ikhlas, sabar, ridha dan tidak buruk sangka kepada Allah Ta'ala, bahwa mereka akan :
(1). DIAMPUNI DOSA-DOSANYA
"Senantiasa ujian ditimpakan kepada seorang mukmin dan mukminah baik itu pada dirinya, anaknya dan hartanya, sampai ia bertemu Allah tanpa mempunyai kesalahan" (HR. At-Tirmidzi, Ahmad dan al-Hakim, Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no. 3414)
"Tidaklah seorang muslim tertimpa rasa letih, penyakit, bingung, sedih, rasa sakit, duka cita, bahkan duri yang mengenai dirinya, melainkan dengan itu Allah gugurkan kesalahan-kesalahannya" (HR. Bukhari no. 5642 dan Muslim no. 2573)
(2). SEMAKIN DICINTAI ALLAH
"Sesungguhnya besarnya pahala sesuai dengan besarnya cobaan, dan sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan menguji mereka. Oleh karena itu, barangsiapa yang ridha (menerima cobaan itu) maka baginya keridhaan (Allah), dan barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan (Allah)" (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no. 3407)
(3). DITINGGIKAN DERAJAT
"Sesungguhnya seorang hamba jika telah ditetapkan oleh Allah suatu kedudukan baginya, lalu ia tidak dapat mencapai (kedudukan itu) dengan amal perbuatannya, maka Allah akan memberikannya ujian pada tubuh, harta atau anaknya, kemudian ia bersabar atas ujian tersebut, hingga Allah menyampaikannya pada kedudukan yang telah ditetapkan untuknya dari Allah 'Azza wa Jalla" (HR. Ahmad, Abu Dawud, ath-Thabrani dan Abu Ya'la, Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no. 3409)
(4). MENDAPATKAN SURGA
"Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman : "Wahai anak Adam, jika kamu bersabar dan ikhlas saat tertimpa musibah, maka Aku tidak akan meridhai bagimu sebuah pahala kecuali Surga" (HR. Ibnu Majah no. 1597, Takhrij Misykaatul Mashaabiih no. 1758)
(5). KESELAMATAN DARI API NERAKA
"Beritakanlah kabar gembira, sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman : "Penyakit itu adalah api-Ku yang Aku timpakan kepada hamba-Ku yang mukmin di dunia ini, agar ia dapat selamat dari api Neraka pada hari akhir nanti" (HR. Ahmad II/440, Ibnu Majah no. 3470 dan al-Hakim I/345, Ash-Shahiihah no. 557)
(6). MENDAPATKAN KEBAIKAN
"Barangsiapa dikehendaki oleh Allah mendapatkan kebaikan, maka akan ditimpakan musibah (ujian) kepadanya" (HR. Bukhari no. 5645)
"Jika Allah menghendaki kebaikan pada diri hamba-Nya, maka Dia akan menyegerakan untuknya ujian di dunia (sebagai pelebur dosa-dosanya). Dan jika Allah menghendaki keburukan pada diri hamba-Nya, Dia akan mengakhirkan ujian lantaran dosa-dosanya, hingga dia akan didatangkan dengan membawa dosa-dosa itu pada hari Kiamat" (HR. At-Tirmidzi no. 2396 dan Ibnu Majah no. 4031, Ash-Shahiihah no. 1220)
(7, 8, 9). MENDAPATKAN KEBERKAHAN, RAHMAT DAN PETUNJUK
"Mereka itulah (yaitu orang yang tertimpa sakit atau musibah) yang akan mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk" (QS. Al-Baqarah [2]: 157)
(10). MENDAPATKAN PAHALA TANPA BATAS
"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas" (QS. Az-Zumar [39]: 10)
"Manusia yang sehat nanti pada hari Kiamat sangat menginginkan kulitnya dipotong-potong dengan gunting ketika di dunia, karena mereka melihat betapa besarnya pahala orang-orang yang tertimpa ujian di dunia" (HR. At-Tirmidzi no. 2402, Ash-Shahihah no. 2206)
Wahai yang tertimpa sakit atau musibah, masihkah bersedih setelah membaca kabar gembira di atas ?
✍ Ustadz Najmi Umar Bakkar
📋 *JIKA NATAL TIBA, ADA PELUANG BESAR UNTUK MENDAKWAHI UMAT KRISTEN*
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
🚧 Di bulan Desember, seperti biasa ada hiruk pikuk umat Kristen merayakan natal, anehnya sebagian muslim pun ikut-ikutan 'heboh' dengan pernak-pernik natal dan mengucapkan Selamat natal.
Padahal di hari-hari inilah terdapat salah satu peluang dakwah yang sangat besar bagi umat Islam terhadap orang Kristen, yaitu dengan mengajak mereka memikirkan fakta-fakta berikut ini:
1. Di hati kecil umat Kristen meyakini bahwa Yesus itu adalah manusia dan bukan Tuhan yang patut disembah. Buktinya mereka meyakini beliau adalah seseorang yang dilahirkan, bahkan mereka merayakan hari kelahirannya.
Dan beliau sendiri telah menegaskan bahwa beliau adalah seorang yang dilahirkan, yang kelak akan mati dan dibangkitkan kembali di hari kiamat. Sebagaimana yang Allah sebutkan dalam firman-Nya,
وَالسَّلامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا
“Dan kesejahteraan dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, pada hari wafatku dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” [Maryam: 33]
2. Logikanya apabila Yesus dilahirkan maka beliau adalah manusia yang diciptakan dan bukan Pencipta. Sedang yang patut disembah hanyalah Sang Pencipta.
Dan apabila beliau dilahirkan maka beliau butuh terhadap Tuhan yang sebenarnya untuk menjadikannya lahir melalui rahim seorang ibu. Sebagaimana beliau juga butuh kepada-Nya untuk memberi beliau makan. Sama dengan manusia lainnya yang butuh makan.
Karena beliau adalah manusia dan bukan Tuhan, maka beliau pun tidak mampu menimpakan bahaya dan memberi manfaat. Renungkanlah dua ayat dalam surat Al-Maidah berikut ini:
مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ انْظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الْآَيَاتِ ثُمَّ انْظُرْ أَنَّى يُؤْفَكُونَ، قُلْ أَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا وَاللَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
"Al-Masih putra Maryam itu hanyalah seorang rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (Ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling.
Katakanlah: Mengapa kalian menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudarat kepada kalian dan tidak (pula) memberi manfaat? Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." [Al-Maidah: 75-76]
3. Fakta bahwa umat Kristen meyakini Yesus adalah seseorang yang dilahirkan, dan sebelum kelahirannya dunia telah ada, serta umat manusia telah hidup sekian lama, kalau begitu siapakah Tuhan yang menciptakan dunia dan isinya sebelum kelahiran Yesus? Siapakah Tuhan yang patut disembah manusia sebelum kelahiran Yesus?
Jawabannya tentu bukan Yesus, karena ketika itu beliau belum lahir dan belum dikenal. Maka tidak patut menyembah beliau. Yang patut disembah adalah Tuhan yang menciptakan beliau dan seluruh makhluk. Allah ta’ala berfirman,
وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلَا يَمْلِكُونَ لِأَنْفُسِهِمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا وَلَا يَمْلِكُونَ مَوْتًا وَلَا حَيَاةً وَلَا نُشُورًا
“Dan mereka menjadikan sesembahan-sesembahan selain daripada-Nya (untuk disembah), yang tidak mampu menciptakan apa pun, bahkan sesembahan-sesembahan itu sendiri adalah makhluk yang diciptakan, dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudaratan dari dirinya, dan tidak kuasa pula memberikan sesuatu kemanfaatan pun, dan (juga) tidak kuasa mematikan dan menghidupkan, dan tidak (pula) membangkitkan.” [Al-Furqon: 3]
4. Apabila mereka mengatakan bahwa Yesus patut disembah walau beliau manusia yang dilahirkan tapi beliau bukan manusia biasa, buktinya beliau lahir dari seorang perawan suci tanpa bapak dan tanpa ada seorang lelaki pun yang menggaulinya?
Jawabannya sederhana tapi dahsyat, yaitu: Kalau itu alasannya maka Nabi Adam 'alaihissalaam lebih patut untuk disembah, sebab beliau diciptakan ke dunia bukan saja tanpa bapak tetapi juga tanpa ibu. Allah ta'ala berfirman,
إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِندَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ ۖ خَلَقَهُ مِن تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُن فَيَكُونُ
"Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia." [Ali Imron: 59]
5. Katakan juga kepada mereka kapankah Yesus pernah mengatakan Aku-lah Tuhan Sang Pencipta yang patut disembah? Niscaya mereka tidak akan mendapatkan satu ayat atau sebuah bukti pun di dalam kitab mereka sendiri.
Dan inilah salah satu tanda kekuasaan Allah yang tersisa dalam kitab mereka, yaitu meski mereka telah menambah dan mengurangi kitab Injil yang Allah turunkan, tapi mereka tidak berhasil menambah satu atau setengah ayat pun yang tegas menyatakan bahwa Yesus mengaku sebagai Tuhan yang pantas disembah.
➡ *Lalu dari mana mereka mengadopsi keyakinan ini?*
Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata,
وَيُقَالُ الْمَلْكَانِيَّةُ يَقُولُونَ: عِيسَى هُوَ اللَّهُ، وَالْيَعْقُوبِيَّةُ يَقُولُونَ: ابْنُ اللَّهِ والنُّسْطُورِيَّةُ يَقُولُونَ: ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ عَلَّمَهُمْ رَجُلٌ مِنَ الْيَهُودِ يُقَالُ لَهُ بَوْلَسُ
"Dikatakan (bahwa sekte-sekte Kristen berbeda-beda pendapat):
• Malkaaniyyah berkata: Isa adalah Allah.
• Ya’qubiyyah berkata: Isa adalah anak Allah.
• Nusthuriyyah berkata: Isa adalah satu dari yang tiga (Trinitas).
Yang mengajari mereka adalah seorang Yahudi yang bernama Paulus." [Tafsir Ibnu Katsir, 1/724]
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
💻 Sumber:
https://web.facebook.com/sofyanruray.info/posts/912990912183725
http://sofyanruray.info/jika-natal-tiba-ada-peluang-besar-untuk-mendakwahi-umat-kristen/
════ ❁✿❁ ════
SALAFIYYIN TIDAK MENARUH PERHATIAN TERHADAP MASALAH PALESTINA
oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Mengenai syubhat ini maka Ahlus Sunnah Salafiyyin berpendapat bahwa kaum muslimin yang mampu menolong rakyat Palestina namun tidak mau menolongnya maka mereka semua berdosa.
Adapun tuduhan bahwa Salafiyyin tidak menaruh perhatian terhadap masalah Palestina maka ini adalah kedustaan berikut kami bawakan sikap Salafiyyin terkait dengan masalah Palestina. Diantaranya bahwa kebanyakan para Mujahidin yang dikenal mereka adalah salafiyun yang murni, mereka memiliki andil dan usaha yang patut disyukuri dalam menolong aqidah dan Manhaj, yang paling masyhur dari para Mujahidin itu adalah Syekh Muhammad Izzudin al-qassam rahimahullah yang dahulunya beliau adalah Da'i yang menyerukan dakwah Salafiyah di Palestina, sebelumnya di Suriah sebelum beliau mendaftarkan diri menjadi mujahidin di Palestina.
Yang perlu diperhatikan di sini ialah bahwa salafiyyin melihat perkara secara menyeluruh -dan masalah Palestina salah satunya- dengan kacamata syariat, mereka adalah orang-orang yang beriman dengan menggandengkan antara perbuatan dengan perkataannya. Kapan saja mereka dimudahkan oleh Allah ta'ala untuk berjihad, mereka akan pergi dan tidak akan tinggal diam.
Jihad menurut mereka memiliki asas-asas, kaidah-kaidah, dan ketentuan-ketentuan, dalam hal ini mereka berada di belakang bimbingan ulama Rabbani tidak berada di depan mereka; karena masalah ini berada di bawah ketentuan hukum-hukum syariat. Mereka meyakini dengan seyakin yakinnya berdasarkan nash-nash al-qur'an dan as-sunnah bahwa permusuhan kita dengan Yahudi adalah permusuhan dalam aqidah dan benar-benar ada, bukan permusuhan karena tanah air dan batas negara, ini adalah perkara yang telah ditetapkan syariat dalam masalah Palestina.
Allah ta'ala berfirman:
وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ...
Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu Muhammad sebelum engkau mengikuti agama mereka. [Surat Al-Baqarah 120]
Yang selayaknya harus diperhatikan dalam masalah ini bawa perasaan sedih, susah, sakit, lalu mengadakan protes, perlawanan dengan perkataan, cacian Makian, khutbah, atau ceramah yang berapi-api dengan mengumpulkan Masa tidak akan merubah kondisi Palestina. Kita ikut prihatin dan sedih dengan situasi dan kondisi Palestina. Tetapi semua harus dikembalikan kepada hukum hukum syar'i kepada akidah dan syariat bukan kepada emosi, semangat yang akan mengasuh masa kepada pengrusakan bahkan sampai penumpahan darah orang-orang yang tidak berdosa dengan provokasi dan demonstrasi. Semua ini harus dikembalikan kepada syariat Islam dan kepada hukum fiqih prioritas yang didasari dengan kaidah-kaidah agama dan tujuan syariat Islam.
Karena sekarang ini yang wajib bagi kita adalah menjelaskan dan mengajarkan Islam yang benar kepada umat Islam. sedang yang wajib dalam perkara Palestina adalah amal bukan sekedar omongan orasi atau ceramah berapi-api.
Sesungguhnya salafiyyin tidak pernah diam dan tidak akan diam untuk menjelaskan tujuan syariat Islam dan kaidah-kaidah nya bahwa: Yahudi dan Nasrani adalah musuh-musuh Muslimin ini merupakan aqidah yang kita tanamkan kepada kaum muslimin di semua sisi kehidupan.
Alhamdulillah bahwa Salafyyin memiliki peran dalam perkara Palestina sejak dikumandangkannya perang melawan Yahudi. Sejak tahun 1930-an Salafi memiliki peran di Palestina.
Di antara para ulama yang menaruh perhatian terhadap masalah Palestina ialah Syekh Muhammad Rasyid Ridho rahimahullah dalam majalah Al Manar yang berbicara tentang masalah Palestina dalam dua jilid atau lebih. Demikian pula Syekh muhibbuddin alkhatib assalafy dalam majalah Al-fath, mencurahkan usaha yang patut disyukuri dalam hal ini. Demikian pula Syekh Al-Allamah Al-Muhaddits as-Salafi Ahmad Syakir rahimahullah memiliki peran yang patut pula disyukuri.
Adapun di daerah Maghrib yang berperan masalah ini adalah Syekh Abdul Hamid Ibnu baadis rahimahullah wafat tahun 1359 Hijriyah dan Syekh Muhammad Basir Al ibrohimi keduanya pun memiliki usaha yang patut disyukuri.
Demikian pula Syekh Muhammad nashiruddin al-albani rahimahullah beliau adalah salah seorang ulama yang bergabung dengan para Mujahidin di Palestina pada tahun 1948 masehi beliau datang sendiri ke Palestina dengan membawa senjata dan bergabung dalam jihad fisabilillah.
Lantas apakah yang dilakukan oleh orang-orang yang telah membangkitkan kemarahan kaum muslimin?!
Apakah mereka mengajarkan agama dan ilmu kepada rakyat Palestina?!
Ataukah mereka telah mendidik rakyat Palestina di atas masalah-masalah yang kecil dan yang besar?!
Katakanlah demi Allah apa yang telah mereka lakukan?!
Sungguh kami akan mengatakan: pada hari dikumandangkan jihad kalian akan melihat siapakah diantara dua kelompok yang paling taat terhadap perintah Allah ta'ala, dan ketika itu manusia akan mengetahui Siapakah salafiyun itu dan akan mengetahui bahwa jiwa-jiwa mereka itu sangat murah di jalan Allah ta'ala.
Wahai saudaraku! Mengapa kita wajib menuntut ilmu? dan senantiasa menuntut ilmu??
Mengapa kita menyuruh untuk berpegang teguh dengan Alquran dan as-sunnah Dengan pemahaman Salaf??
Semua ini karena kita menginginkan surga, akan tetapi orang-orang yang diberikan Taufik adalah orang-orang yang mengetahui kewajiban waktu dan menyibukkan dirinya padanya dan menyibukkan umat dengan kejujuran, keikhlasan, dan amanah dengan kewajiban ini. Dan kewajiban waktu kita saat ini adalah menuntut ilmu, itulah yang lebih kami dahulukan.
Kita harus melihat kondisi kita sekarang ini kuat atau lemah?? kalau kita lemah maka kita harus bersabar dan berdoa untuk kita, keluarga, kaum muslimin yang tertindas khususnya untuk rakyat Palestina. Kita harus ingat kewajiban kita menuntut ilmu dan beramal saleh. Kita memohon kepada Allah ta'ala agar kita dapat melaksanakan salat di Masjidil Aqsa dan dianugerahi mati syahid Aamiin.
[Dinukil dari buku Mulia dengan Manhaj Salaf, Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas, hlm 484-487. Dan sudah diizinkan beliau untuk ditulis ulang dan disebar.]
DAKWAH SALAFIYYAH ADALAH DAKWAH AHLUS SUNNAH
Oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Dakwah salaf bukanlah dakwah yang baru. Tetapi ia adalah dakwah Ahlus Sunnah. Yaitu dakwah haq yang dilakukan para sahabat. Dakwah Salaf mengajak umat Islam berpegang teguh kepada Sunnah Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam, mengajak umat kepada Al-Qur'an dan as-Sunnah menurut pemahaman Salafush-Shalih.
•DEFINISI SALAF (السلف)
Menurut bahasa (etimologi), salaf ( اَلسَّلَفُ )
artinya, yang terdahulu, yang lebih tua dan lebih utama. Jadi Salaf artinya ialah para pendahululu. Jika dikatakan (سَلَفُ الرَّجُلِ) salaf seseorang, maksudnya kedua orangtua yang telah mendahuluinya.
(Lisanul 'Arab VI/331)
Adapun menurut istilah (terminologi),kata salaf berarti generasi pertama dan terbaik dari umat (Islam)ini. Mereka adalah para sahabat, tabi'in,tabi'ut tabi'in dan para Imam pembawa petunjuk pada tiga kurun (generasi) pertama yang dimuliakan oleh Allah Ta'ala, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam;
خير الناس قرني ثم الذين يلو نهم ثم الذين يلو نهم.
"Sebaik-baik manusia adalah pada generasiku ini (para sahabat Radhiyallahu 'anhum), kemudian yang sesudahnya(Tabi'in), kemudian yang sesudahnya(Tabi'ut tabi'in)."
HR. Muttafaqun 'alaih
Menurut al-Qalsyani ; "Salafush Shalih adalah generasi pertama dari umat ini, yang pemahaman ilmunya sangat dalam, yang mengikuti petunjuk Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam dan menjaga sunnahnya. Allah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya dan menegakkan agama-Nya."
Syaikh Mahmud Ahmad khafaji berkata; "Penetapan istilah Salaf tidak cukup hanya dibatasi dengan waktu saja, bahkan harus sesuai dengan Al-Qur'an dan as-Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih. Barangsiapa yang pendapatnya sesuai dengan Al-Qur'an dan as-Sunnah mengenai 'aqidah, hukum dan suluknya menurut pemahaman Salaf, maka dia disebut Salafi, meskipun tempatnya jauh dan berbeda masanya. Sebaliknya, barangsiapa pendapatnya menyalahi Al-Qur'an dan as-Sunnah,maka ia bukan seorang salafi meskipun ia hidup pada zaman sahabat, tabi'in dan tabi'ut tabi'in."
Penisbatan kepada Salaf atau as-Salafiyuun bukanlah termasuk perkara yang bid'ah. Akan tetapi, penisbatan ini adalah syar'i, karena menisbatkan diri kepada generasi pertama dari umat ini, yaitu para sahabat, tabi'in, dan tabi'ut tabi'in.
Ahlus Sunnah wal Jama'ah disebut juga as-Salafiyuun, karena mereka mengikuti manhaj Salafush-Shalih dari sahabat, tabi'in,'tabiut tabi'in. Kemudian setiap orang yang mengikuti jejak mereka, serta berjalan berdasarkan manhaj mereka disepanjang masa, maka mereka itu disebut Salafi, karena dinisbatkan kepada Salaf.
Jadi Salaf bukan kelompok atau golongan seperti yang dipahami oleh sebagian orang. Tetapi Salaf adalah manhaj. Yaitu sistem hidup dalam beraqidah, beribadah, berhukum, berakhlak dan yang lainnnya, yang wajib diikuti oleh setiap Muslim. Pengertian Salaf dinisbatkan kepada orang yang menjaga keselamatan 'aqidah dan manhaj menurut apa yang dilaksanakan Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam dan para sahabat Radhiyallahu 'anhum sebelum terjadinya perpecahan.
(Dinukil dari Mauqif Ahlis Sunnah wal Jama'ah min ahlil hawa' wal bida')
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah berkata; "Bukanlah merupakan aib bagi orang yang menampakkan manhaj Salaf dan menisbatkan dirinya kepada Salaf. Bahkan ia wajib menerima yang demikian itu, karena manhaj Salaf tidak lain kecuali kebenaran."
•DEFINISI AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH
Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah, mereka yang menempuh seperti apa yang pernah ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam dan para sahabatnya Radhiyallahu'anhum. Disebut Ahlus Sunnah karena kuatnya (mereka) berpegang dan berittiba'( mengikuti) Sunnah Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam dan para sahabatnya Radhiyallahu'anhum.
As-Sunnah menurut bahasa (etimologi) adalah, jalan atau cara, apakah jalan itu baik atau buruk.(Lisanul 'Arab VI/399)
Sedangkan menurut ulama 'aqidah (terminologi) as-Sunnah adalah petunjuk yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam dan para sahabatnya, baik tentang ilmu, i'tiqad(keyakinan), perkataan maupun perbuatan. Demikian inilah as-Sunnah yang wajib diikuti. Orang yang mengikutinya akan dipuji dan orang yang menyalahinya akan dicela.
(Buhuuts fii 'Aqidah ahlis Sunnah).
Pengertian as-Sunnah menurut Ibnu Rajab al-Hanbali Rahimahullah (wafat 795H); "As-Sunnah adalah jalan yang ditempuh , mencakup didalamnya berpegang teguh pada apa yang dilaksanakan Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam dan para khalifahnya yang terpimpin dan lurus, berupa i'tiqad (keyakinan), perkataan, dan perbuatan. Itulah as-Sunnah yang sempurna. Oleh karena itu, generasi salaf terdahulu tidak menamakan as-Sunnah, kecuali pada apa saja yang mencakup ketiga aspek tersebut. Hal ini diriwayatkan dari Imam Hasan al-Bashri, Imam al-Auza'i dan Imam Fudhail bin Iyadh.
Disebut al-Jama'ah karena mereka bersatu diatas kebenaran. Tidak mau berpecah belah dalam urusan agama, berkumpul dibawah kepemimpinan para Imam yang berpegang kepada al-haq (kebenaran), tidak mau keluar dari Jama'ah mereka dan mengikuti apa yang telah menjadi kesepakatan Salaful-Ummah.
(Mujmal Ushul Ahlis-Sunnah wal Jama'ah fii-'aqidah)
Sedangkan Jama'ah menurut ulama'aqidah(terminologi) adalah, generasi pertama dari ummat ini. Yaitu kalangan sahabat Radhiyallahu 'anhum, Tabi'in, Tabi'ut tabi'in, serta orang-orang yang mengikuti dalam kebaikan hingga hari kiamat, karena berkumpul diatas kebenaran.
(Syarhul-'aqidah al-Waasithiyyah)
Imam Abu Syammah asy-Syafi'i Rahimahullah berkata; "Perintah untuk berpegang teguh kepada jama'ah maksudnya adalah, berpegang kepada kebenaran dan mengikutinya; meskipun yang melaksanakan Sunnah itu sedikit dan yang menyelisihinya banyak. Karena kebenaran itu ialah apa yang dilaksanakan oleh Jama'ah yang pertama, yaitu yang diamalkan oleh Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam dan para sahabatnya, tanpa melihat kepada orang-orang yang menyimpang(melakukan kebhatilan) sesudah mereka". Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Mas'ud Radhiyallahu'anhu;
الجماعة ما وافق الحق وإن كنت وحدك.
Al-Jama'ah adalah yang mengikuti kebenaran, walaupun engkau sendirian.
Jadi Ahlus Sunnah wal-Jama'ah adalah, Orang yang mempunyai sifat dan karakter mengikuti sunnah Sunnah Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam, dan menjauhi perkara-perkara yang baru dan bid'ah dalam masalah agama.
Karena mereka, orang-orang yang ittiba' kepada Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam dan mengikuti atsar (jejak Salaful Ummah), maka mereka itu juga disebut dengan Ahlul-hadist, ahlus-Atsar dan Ahlul Ittiba'. Disamping itu, mereka juga disebut sebagai ath-Thaifatul-Manshuurah (golongan yang mendapatkan pertolongan Allah), al-Firqatun-Naajiyah(golongan yang selamat), Ghurabaa'(orang asing). Tentang Thaa-ifatul-Manshuurah, Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda;
لاتزال من أمتي أمة قا ئمة بأمر الله لا يصرهم من خذلهم ولا من خالفهم حتى يأتيهم أمر الله وهم على زلك.
Senantiasa ada segolongan dari ummatku yang selalu menegakkan perintah Allah, tidak akan mencelakai mereka, orang yang tidak menolong mereka dan orang yang menyelisihi mereka, sampai datang perintah Allah dan mereka tetap diatas yang demikian itu.
(HR.Bukhari Muslim)
Tentang al-Ghuraba, Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda;
بدأ الا سلام غريبا، وسيعود كما بدأ غريبا، فطوبى للغر باء.
Islam awalnya asing dan kelak akan kembali asing sebagaimana awalnya; maka beruntunglah bagi al-Ghurabaa' (orang-orang asing).
Ahlus Sunnah, ath-Tha-ifah al-Manshurah dan al-Firqatun -Najiyah semuanya disebut juga Ahlul hadist. Penyebutan ini sudah masyhur dikenal sejak generasi Salaf. Karena penyebutan itu merupakan tuntutan nash, dan sesuai dengan kondisi serta kenyataan yang ada. Hal ini diriwayatkan dengan sanad yang shahih dari para Imam, seperti Abdullah Ibnul Mubarak, Ali Ibnul Madini, Ahmad bin Hanbal, al-Bukhari, Ahmad bin Sinan dan yang lainnnya Rahimahullah.
Imam Ibnu Hazm Rahimahullah menjelaskan mengenai Ahlus-Sunnah; Ahlus Sunnah adalah Ahlul Haq, sedangkan selain mereka adalah Ahlul bid'ah. Karena sesungguhnya Ahlus Sunnah itu adalah para sahabat Radhiyallahu 'anhum dan setiap orang yang mengikuti manhaj mereka dari para tabi'in yang terpilih, kemudian ash-haabul Hadist dan yang mengikuti mereka dari ahli fiqih dari setiap generasi sampai pada masa kita ini serta orang-orang awam yang mengikuti mereka baik ditimur maupun barat."
(Al-Fishal fil Milal wal Ahwaa' wan-Nihal).
Wallahu A'lam
Dinukil ⬇⬇
Sumber: https://almanhaj.or.id/3490-dakwah-salafiyyah-adalah-dakwah-ahlus-sunnah.html
__________________
KATA SIAPA ROKOK HARAM...!!!???
GURU : “Syeikh, menurut saya rokok itu tidak haram.”
Syeikh : “Kenapa?”
Guru : “Tak ada dalilnya. Saya ingin tahu, satu ayat saja yang menyebutkan ‘diharamkan atas kalian rokok’.”
Syeikh : “Apakah Anda makan jeruk, apel, maupun pisang?”
Guru : “Iya.”
Syeikh : Apakah” ada ayat yang menyebutkan bahwa jeruk, apel maupun pisang itu halal?”
Guru : “Tidak ada.”
Syeikh : “Bagaimana tidak ada, bagaimana Al Qur’an tidak menyebutkan mana yang halal dan mana yang haram, padahal Qur’an itu pedoman umat. Coba perhatikan firman Allah Ta’ala dalam surat al-A’raf : (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan MENGHALALKAN bagi mereka segala yang BAIK dan MENGHARAMKAN bagi mereka segala yang BURUK..(QS al A’raf 157).”
“Maka segala yang baik semisal daging (halal). jeruk, apel, susu dan lain-lain itu termasuk yang baik-baik sehingga termasuk yang dihalalkan. Adapun yang buruk- buruk, maka Allah mengharamkannya.”
Guru : “Menurut kami, rokok itu termasuk thayyibaat (yang baik-baik), meskipun menurut Anda tidak baik.”
Syeikh : “Anda punya istri?”
Guru : “Ya…”
Syeikh : “Anda punya anak?”
Guru : “Ya …”
Syeikh : “Jika kaulihat anakmu memakan pisang, apakah kamu ridha?”
Guru : “Ya, tidak masalah…”
Syeikh : “Kalau kaulihat anakmu sedang menghisap rokok, apakah kamu ridha?”
Guru : “Tidak…”
Syeikh : “Kenapa?”
Guru : “Karena itu tidak baik (yakni termasuk sesuatu yang buruk).”
Syeikh: “Jika itu sesuatu buruk, bukankah masuk yang haram? Bagaimana pula jika yang merokok itu istrimu?”
Tiba-tiba sang guru mengeluarkan bungkusan rokok dari sakunya, ia meremas dengan tangannya lalu menginjak dengan kakinya, lalu ia berkata, “Mulai sekarang wahai Syeikh, saya bertaubat kepada Allah dari rokok.”
Jika rokok haram siapa yang akan hidupi petani tembakau?
Jika ganja haram siapa yang akan hidupi petani ganja?
Jika mencuri haram siapa yang akan hidupi maling?
Jika korupsi haram siapa yang akan hidupi koruptor?
Jika narkoba haram siapa yang akan hidupi kartel narkoba?
*Kalau cuma alasan pembenaran seperti itu, siapapun juga punya.*
Mengapa ibu hamil tidak boleh merokok...?
karena ROKOK tidak baik untuk si hamil dan calon bayinya.
Mengapa para pelajar tidak boleh merokok...?
karena ROKOK bukan ajaran baik, dan pelajar tidak diajarkan yg tidak baik.
Mengapa di toko buku, perpustakaan, majalah dan Koran tidak ada tuntunan cara merokok...?
karena jelas, ROKOK sesuatu yang tidak baik,
buat apa capek" mikir dan nulis faedah rokok, Kan Kaga bakal nemu.
Allah Ta'ala Berfirman
ﻭَﻟَﺎ ﺗُﻠْﻘُﻮﺍ ﺑِﺄَﻳْﺪِﻳﻜُﻢْ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺘَّﻬْﻠُﻜَﺔِ ۛ.
"Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan." [ QS. Al Baqarah 195 ]
Sebarkanlah Ilmu ini.
Semoga Bermanfaat
Yang merokok jangan marah ya 😊
•════◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═════•
Di Posting oleh :
📮 Seindah Sunnah - Menebar Dakwah Sunnah
FATWA MENINGGALKAN AL-AQSA DAN PALESTINA
Apa benar syekh al-Albânî berfatwa agar kaum muslimin meninggalkan masjid Al-Aqsa dan mengosongkan palestina untuk Yahudi ????
Begitu banyaknya tulisan bersliweran akhir² ini, berasal dari orang² pandir dan para pendengki, yang mencela syekh Al-Albani lantaran salah faham dan berburuk sangka thd fatwa beliau ttg hijrah nya rakyat Palestina...
Duhai.. jika sekiranya kepandiran itu tidak dibarengi dengan kedengkian, maka kepandiran itu mungkin masih bisa tertutup.
Namun jika kepandiran dan rasa hasad telah bersatu...maka sungguh memalukan dan musibahnya lebih besar.
*Fakta tentang Fatwa syekh al-Albani seputar Palestina*
1⃣ Syaikh Al-Albânî tidak pernah berfatwa agar kaum muslimin meninggalkan masjid al-Aqsa.
Jika ada yang mengklaim maka
هاتوا برهانكم ان كنتم صادقين
Berikan bukti kalian jika kalian orang² yang benar ❗
Jika tidak bisa membawa bukti yang valid..maka ketahuilah dia adalah seorang pembohong yang bodoh lagi memalukan.
2⃣ Syaikh Al-Albânî tidak pernah berfatwa agar kaum muslimin *mengosongkan palestina untuk diserahkan ke Yahudi*...
Sungguh kedustaan yang nyata ❗
Yang ada adalah Al-Albânî ditanya bagaimana hukumnya orang yang berada di tepi barat (west bank/dhiffah ghorbiyah), yaitu sebuah wilayah di Palestina yang pada waktu itu menjadi objek kebrutalan Zionis, agar mereka berhijrah ke wilayah yang kedua, wilayah yang lain di dalam palestina....
Karena Palestina itu luas..ada tepi barat, ada Gaza dan ada tempat lainnya.
Perhatikanlah jawaban al-Albânî :
_"Hendaknya mereka keluar dari tempat yang mana mereka belum memungkinkan mengusir orang² kafir tersebut, ke sebuah tempat yang memungkinkan menegakkan syiar Islam di dalamnya"._
Jangan anda mengira fatwa ini datang dari hawa nafsu atau datang dari pesanan Yahudi, _ma'âdzallah_❗
Demi Allah, al-Albânî jauh dari itu... akan tetapi fatwa ini bersumber dari perintah Rabb semesta alam:
Bukankah Allah berfirman:
```Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan oleh malaikat dalam keadaan zhalim terhadap diri mereka sendiri. kepada mereka malaikat bertanya :’Dalam keadaan bagaimana kamu ini .? ‘Mereka menjawab : Kami adalah orang-orang yang tertindas di negeri Makkah. Para malaikat berkata : ‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah (kemana saja) di bumi ini ?``` (QS. An-nisa: 97)
(الشريط 730 من فتاوى الشيخ الألباني)
Adakah yang salah dengan fatwa ini??
Duhai..sekiranya para pencela itu malu menampakkan kebodohannya!!!
Namun sungguh rasa malu telah sirna...
إذا لم تستحي فاصنع ما شئت
Jika anda tdk punya malu lagi, silakan berbuat sesuka anda...
3⃣ Perhatikan pula, Syekh al-Albânî pernah ditanya tentang penduduk kota-kota yang dikuasai Yahudi tahun 1948, dimana warganya dipaksa untuk mengikuti hukum Yahudi secara total di tempat itu.
Maka al-Albânî menjawab:
_Apakah di palestina ada desa atau kota lain yang mereka bisa melaksanakan agamanya? Dan menjadikannya sebagai negeri untuk menangkis fitnah? Jika ada maka hendaknya mereka hijrah ke sana tanpa keluar dari palestina._
يقول الدكتور محمد شقرة: فلقد سُئل الشيخ – حفظه الله – عن بعض أهل المدن التي احتلها اليهود عام 1948م، وضربوا عليها صبغة الحكم اليهودي بالكلية، حتى صار أهلها فيها إلى حال من الغربة المرملة في دينهم، وأضحوا فيها عبدة أذلاء؟ فقال: هل في قرى فلسطين أو في مدنها قرية أو مدينة يستطيع هؤلاء أن يجدوا فيها دينهم، ويتخذوها داراً يدرءون فيها الفتنة عنهم؟ فإن كان؛ فعليهم أن يهاجروا إليها، ولا يخرجوا من أرض فلسطين، إذ إن هجرتهم من داخلها إلى داخلها أمر مقدور عليه، ومحقق الغاية من الهـجرة
http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=60147
4⃣ Al-Albânî berfatwa bukan utk memerintahkan agar mereka lari seperti larinya para pengecut yang kabur dari peperangan, akan tetapi utk berhijrah dan *i'dad*, yaitu bertujuan untuk menyusun kekuatan memerangi musuh.
ويضع الشيخ قيدين لهذه الهجرة وهما ان تكون الهجرة بنية التأهب لقتال العدو وان يتحقق المهاجرون من ان البلد المضيف لهم سيسمح لهم بالاستعداد لقتال الاعداء
(الشريط 730 من فتاوى الشيخ الألباني)
6. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sudah pernah berfatwa seperti ini sebelumnya.
Beliau pernah ditanya tentang penduduk Mardin (ماردين) sebuah negeri di wilayah Syam yang dicaplok dan dikuasai kafir musuh Islam.. apakah mereka wajib hijrah???
Maka syaikhul islam menjawab:
: “والمقيم بها إن كان عاجزاً عن إقامة دينه وجبت الهجرة عليه، "
_Orang yang mukim di tempat itu jika tak mampu menegakkan agamanya maka wajib dia hijrah._(al-Fatawa al-Kubro, Ibnu Taimiyah (Dar al-Kutub al'ilmiyyah: 1408 H). Vol. 3 hal. 532.
Semoga Allah merahmati syekh al-Albânî rahimahullah rahmatan wasi'atan
Disarikan dari:
http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=60147
Akhukum fillah
📝 Fadlan Fahamsyah.
Editor bahasa dan tambahan abinyasalma
#fb Raehanul Bahrain
*Kau Sangat Mengingkari Orang yang Zhalim Terhadap Mahluk Namun Tidak Mengingkari Orang yang Zhalim Terhadap Sang Khaliq*
March 15, 2017
*“Khatamkan Kitab Tauhid, kalau sudah khatam, ulangi lagi dan ulangi lagi, jangan bosan membaca dan mengkhatamkan Kitab Tauhid”*
– Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas حفظه الله تعالى
*Terus Mengulang Pelajaran Tauhid*
Dahulu Syaikh Muhammad –rahimahullah–menulis Kitab At Tauhid. Beliau mensyarahnya untuk murid-muridnya dan mengulang-ulang pembahasan-pembahasannya kepada mereka. para muridnya kemudian berkata kepadanya, *“Wahai Syaikh, kami ingin engkau merubah pelajaran ini dengan pelajaran yang lain, seperti kisah, sirah dan sejarah.”*
Syaikh berkata, “Kita akan pertimbangan hal itu insya Allah.”
Esok harinya Syaikh menemui mereka dengan raut wajah yang sedih dan seperti sedang berfikir. Para muridnya pun bertanya kepadanya sebab kesedihannya.
“Aku mendengar di desa tetangga seorang laki-laki menempati rumah baru. Namun ia khawatir diganggu oleh jin, dan ia pun *menyembelih seekor ayam jago untuk jin* tersebut di depan pintu rumahnya, *dalam rangka taqarrub kepada jin.* Aku telah mengutus seseorang untuk mengecek tentang perkara ini”, Syaikh menjelaskan.
Ternyata, para muridnya *tidak begitu terpengaruh* dengan berita tersebut. Mereka *hanya mendoakan* laki-laki itu dengan hidayah dan mereka pun diam.
Esok harinya lagi, syaikh bertemu kembali dengan mereka dan berkata,
“Kita telah mengecek tentang kabar kemarin. Ternyata perkaranya tidak seperti yang sampai kepadaku. Laki-laki itu ternyata *tidak menyembelih* seekor ayam jantan untuk *taqarrub kepada jin*, akan tetapi *ia telah berzina dengan ibunya*.”
Spontan para muridnya menjadi *sangat emosi.* Mereka *mencela dan terus mencela*. Mereka berkata, orang itu harus dingkari, harus dinasehati, harus dihukum.. mereka sangat gaduh dan ramai.
Syaikh kemudian berkata, *“Sungguh aneh* urusan kalian itu, demikian kalian mengingkari orang yang terjatuh kepada *dosa besar,* padahal *ia tidak sampai keluar dari agama Islam* (murtad –pent) karenanya, namun kalian *tidak mengingkari orang yang terjatuh kepada perbuatan syirik, menyembelih untuk selain Allah dan beribadah kepada selain-Nya”.*
Para murid pun terdiam. Lalu Syaikh memerintahkan salah satu dari mereka, *“Ambillah kitab tauhid, kita akan menjelaskannya kembali..”*
[Dinukil dari kitab “Irkab Ma’anaa” Syaikh Dr. Muhammad Al Arify]
—
Penyusun: Ustadz Abu Khaleed Resa Gunarsa, Lc
Artikel Muslim.Or.Id
(Dari http://gigitsunnah.com/kau-sangat-mengingkari-orang-yang-zhalim-terhadap-mahluk-namun-tidak-mengingkari-orang-yang-zhalim-terhadap-sang-khaliq/
┏🍃🌺━━━━━💡
*Perbanyak Ibadah, Namun Enggan Belajar Agama*
✍ _* Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafidzohulloh*_
*Sebagian orang yang dikenal giat ibadah hanya ingin terus memperbanyak ibadah tanpa mau mengenal bagaimanakah ilmunya.* Padahal ibadah dituntut harus dengan ilmu. Tidak boleh kita beribadah asal-asalan. *Orang yang beribadah tanpa ilmu ibarat orang yang telah salah jalan.*
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
*العَامِلُ بِلاَ عِلْمٍ كَالسَّائِرِ بِلاَ دَلِيْلٍ وَمَعْلُوْمٌ أنَّ عَطَبَ مِثْلِ هَذَا أَقْرَبُ مِنْ سَلاَمَتِهِ وَإِنْ قُدِّرَ سَلاَمَتُهُ اِتِّفَاقًا نَادِرًا فَهُوَ غَيْرُ مَحْمُوْدٍ بَلْ مَذْمُوْمٌ عِنْدَ العُقَلاَءِ*
*“Orang yang beramal tanpa ilmu bagai orang yang berjalan tanpa ada penuntun. Sudah dimaklumi bahwa orang yang berjalan tanpa penuntun akan mendapatkan kesulitan dan sulit untuk selamat*. Taruhlah ia bisa selamat, namun itu jarang. Menurut orang yang berakal, ia tetap saja tidak dipuji bahkan dapat celaan.”
*Guru dari Ibnul Qayyim yaitu Ibnu Taimiyah rahimahullah juga berkata,*
*مَنْ فَارَقَ الدَّلِيْلَ ضَلَّ السَّبِيْل وَلاَ دَلِيْلَ إِلاَّ بِمَا جَاءَ بِهِ الرَّسُوْلُ*
*“Siapa yang terpisah dari penuntun jalannya, maka tentu ia akan tersesat. Tidak ada penuntun yang terbaik bagi kita selain dengan mengikuti ajaran Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.”*
Al Hasan Al Bashri rahimahullah berkata,
*العَامِلُ عَلَى غَيْرِ عِلْمٍ كَالسَّالِكِ عَلَى غَيْرِ طَرِيْقٍ وَالعَامِلُ عَلَى غَيْرِ عِلْمٍ مَا يُفْسِدُ اَكْثَرُ مِمَّا يُصْلِحُ فَاطْلُبُوْا العِلْمَ طَلَبًا لاَ تَضُرُّوْا بِالعِبَادَةِ وَاطْلُبُوْا العِبَادَةَ طَلَبًا لاَ تَضُرُّوْا بِالعِلْمِ فَإِنَّ قَومًا طَلَبُوْا العِبَادَةَ وَتَرَكُوْا العِلْمَ*
*“Orang yang beramal tanpa ilmu seperti orang yang berjalan bukan pada jalan yang sebenarnya. Orang yang beramal tanpa ilmu hanya membuat banyak kerusakan dibanding mendatangkan kebaikan. Tuntutlah ilmu dengan sungguh-sungguh, namun jangan sampai meninggalkan ibadah. Gemarlah pula beribadah, namun jangan sampai meninggalkan ilmu. Karena ada segolongan orang yang rajin ibadah, namun meninggalkan belajar.” (Lihat Miftah Daris Sa’adah karya Ibnul Qayyim, 1: 299-300).*
Apa yang dikatakan oleh Al Hasan Al Bashri menunjukkan bahwa sebagian orang karena sibuknya dengan ibadah tidak mau memperhatikan ilmu. Sehingga ibadahnya pun hanya bermodalkan semangat tanpa didasari dengan landasan dalil sama sekali.
‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz juga pernah berkata,
*مَنْ عَبَدَ اللَّهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ*
*“Siapa yang beribadah kepada Allah tanpa didasari ilmu, maka kerusakan yang ia perbuat lebih banyak daripada maslahat yang diperoleh.” (Majmu’ Al Fatawa karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 2: 282)*
Ingatlah bahwa amalan yang bisa diterima di sisi Allah hanyalah dari orang yang bertakwa. Sifat takwa hanya bisa diraih dengan belajar agama. *Allah Ta’ala berfirman,*
*إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ*
*“Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Maidah: 27).*
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, *“Tafsiranyang paling bagus mengenai ayat ini bahwasanya amalan yang diterima hanyalah dari orang yang bertakwa. Yang disebut bertakwa adalah bila beramal karena mengharap wajah Allah dan sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tentu saja ini hanya didasari dengan ilmu.” (Miftah Daris Sa’adah, 1: 299)*
*Semoga Allah ta'aala mampukan kita menjemput ilmunya disisa usia.. Aamiin*
*Hanya Allah yang memberi taufik dalam ilmu dan amal.*
*🚪10 PINTU SETAN*⁉
Pintu pertama:
Ini adalah pintu terbesar yang akan dimasuki setan yaitu hasad (dengki) dan tamak. Jika seseorang begitu tamak pada sesuatu, ketamakan tersebut akan membutakan, membuat tuli dan menggelapkan cahaya kebenaran, sehingga orang seperti ini tidak lagi mengenal jalan masuknya setan. Begitu pula jika seseorang memiliki sifat hasad, setan akan menghias-hiasi sesuatu seolah-olah menjadi baik sehingga disukai oleh syahwat padahal hal tersebut adalah sesuatu yang mungkar.
Pintu kedua:
Ini juga adalah pintu terbesar yaitu marah. Ketahuilah, marah dapat merusak akal. Jika akal lemah, pada saat ini tentara setan akan melakukan serangan dan mereka akan menertawakan manusia. Jika kondisi kita seperti ini, minta perlindunganlah pada Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إذا غضب الرجل فقال : أعوذ بالله سكن غضبه
“Jika seseorang marah, lalu dia mengatakan: a’udzu billah (aku berlindung pada Allah), maka akan redamlah marahnya.” (As Silsilah Ash Shohihah no. 1376. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih)
Pintu ketiga:
Yaitu sangat suka menghias-hiasi tempat tinggal, pakaian dan segala perabot yang ada. Orang seperti ini sungguh akan sangat merugi karena umurnya hanya dihabiskan untuk tujuan ini.
Pintu keempat:
Yaitu kenyang karena telah menyantap banyak makanan. Keadaan seperti ini akan menguatkan syahwat dan melemahkan untuk melakukan ketaatan pada Allah. Kerugian lainnya akan dia dapatkan di akhirat sebagaimana dalam hadits:
فَإِنَّ أَكْثَرَهُمْ شِبَعًا فِى الدُّنْيَا أَطْوَلُهُمْ جُوعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Sesungguhnya orang yang lebih sering kenyang di dunia, dialah yang akan sering lapar di hari kiamat nanti.” (HR. Tirmidzi. Dalam As Silsilah Ash Shohihah, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih)
Pintu kelima:
Yaitu tamak pada orang lain. Jika seseorang memiliki sifat seperti ini, maka dia akan berlebih-lebihan memuji orang tersebut padahal orang itu tidak memiliki sifat seperti yang ada pada pujiannya. Akhirnya, dia akan mencari muka di hadapannya, tidak mau memerintahkan orang yang disanjung tadi pada kebajikan dan tidak mau melarangnya dari kemungkaran.
Pinta keenam:
Yaitu sifat selalu tergesa-gesa dan tidak mau bersabar untuk perlahan-lahan. Padahal terdapat sebuah hadits dari Anas, di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
التَّأَنيِّ مِنَ اللهِ وَ العُجْلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ
“Sifat perlahan-lahan (sabar) berasal dari Allah. Sedangkan sifat ingin tergesa-gesa itu berasal dari setan.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam musnadnya dan Baihaqi dalam Sunanul Qubro. Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shoghir mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Pintu ketujuh:
Yaitu cinta harta. Sifat seperti ini akan membuat berusaha mencari harta bagaimana pun caranya. Sifat ini akan membuat seseorang menjadi bakhil (kikir), takut miskin dan tidak mau melakukan kewajiban yang berkaitan dengan harta.
Pintu kedelapan:
Yaitu mengajak orang awam supaya ta’ashub (fanatik) pada madzhab atau golongan tertentu, tidak mau beramal selain dari yang diajarkan dalam madzhab atau golongannya.
Pintu kesembilan:
Yaitu mengajak orang awam untuk memikirkan hakekat (kaifiyah) dzat dan sifat Allah yang sulit digapai oleh akal mereka sehingga membuat mereka menjadi ragu dalam masalah paling urgen dalam agama ini yaitu masalah aqidah.
Pintu kesepuluh:
Yaitu selalu berburuk sangka terhadap muslim lainnya. Jika seseorang selalu berburuk sangka (bersu’uzhon) pada muslim lainnya, pasti dia akan selalu merendahkannya dan selalu merasa lebih baik darinya. Seharusnya seorang mukmin selalu mencari udzur dari saudaranya. Berbeda dengan orang munafik yang selalu mencari-cari ‘aib orang lain.
Semoga kita dapat mengetahui pintu-pintu ini dan semoga kita diberi taufik oleh Allah untuk menjauhinya.
Rujukan: Mukhtashor Minhajul Qoshidin, Ibnu Qudamah Al Maqdisiy
***
Pangukan, Sleman, 18 Muharram 1430 H
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Sumber : https://rumaysho.com/153-10-pintu-setan-dalam-menyesatkan-manusia.html
"Sesungguhnya Musa berkata: 'Ya Rabb, mengapa hamba-Mu yang beriman hidup di dunia dalam keadaan miskin? '" beliau bersabda: "Lalu pintu surga dibukakan untuk Musa hingga ia dapat melihat ke dalamnya, kemudian Allah berfirman: 'Wahai Musa, inilah yang telah Aku persiapkan untuknya! ' maka Musa pun berkata; 'Wahai Rabb, demi kemuliaan dan keagungan-Mu, kalaupun sekiranya kedua tangan dan kakinya terpotong dan dia berjalan dengan mukanya semenjak Engkau menciptakannya hingga hari kiamat nanti, jika tempat kembalinya adalah sepeti ini maka dia tidak akan rugi sedikitpun." Beliau bersabda: "Kemudian Musa berkata: 'Mengapa hamba-Mu yang kafir Engkau lapangkan kehidupannya di dunia? ' beliau bersabda: "Lalu pintu neraka dibukakan untuk Musa kemudian dikatakan kepadanya: 'Wahai Musa, inilah yang telah Aku persiapkan untuknya.' Maka Musa pun berkata; 'Wahai Rabb, demi kemuliaan dan keagungan-Mu, sekiranya ia telah memiliki dunia semenjak Engkau ciptakan, jika tempat kembalinya adalah seperti ini maka tidak ada kebaikan sedikitpun baginya." (HR. Ahmad: 11342) - http://hadits.in/ahmad/11342