Kosong Delapan Kosong Sembilan Delapan Sembilan Empat Kali
Sebuah cerita yang panjang seperti judulnya.
Tulisan ini awalnya saya publikasikan di sini.
Mari mulai dengan kembali ke 2004
Kalau seorang Edwinâââsekitar kelas 4 SD ditanya apa hal yang mengubah dunianya saat itu, jawabannya pasti âInternet!â
Tahun 2004 adalah masa di mana saya getol-getolnya baru mengenal internet. Setiap ada kesempatan sepulang sekolah atau akhir pekan, saya akan menyalakan komputer untuk melakukan hobi mewah ini. Berselancar dari satu situs ke situs lain sampai entah bisa berapa lama. Yang menghentikan saya hanya bila ada panggilan masuk ke nomor telepon rumah atau peringatan ayah soal tagihan telepon yang membengkak.
Saat itu tarif internet mahal sekali dan kecepatannya lambat luar biasa. Tapi saya seakan punya cukup banyak sabar untuk menunggu setiap halaman situs terbuka dan memukau saya melalui jendela Internet Explorer 6.
2005
Kekaguman ini membuat saya tertarik belajar bagaimana situs-situs ini bekerja. Di tahun 2005 saya mulai mempelajari pemrograman HTML dan CSS lewat panduan di majalah Komputer Aktif! dan beberapa buku yang dibeli dari Gramedia. Ngerti? Tentu nggak, hahaha. Selayaknya anak kelas 5 SD, saya benar-benar ngambang membaca semua bacaan itu.
Syukurnya, internet seperti siklus di mana kita bisa menemukan dan belajar dari apa yang sudah ada, kemudian membagikannya untuk ditemukan lagi oleh yang lain. Ini lebih dari cukup untuk membuat saya terus penasaran. Beberapa tahun kemudian, saya sudah dapat membuat template untuk blog saya sendiri dan punya profil Friendster paling keren di antara teman-teman.
2010
Saat mulai jenuh melulu gonta-ganti template blog, saya menemukan seorang bernama Visien Vinesa di situsnya vinesa.com. Dari profilnya, saya tahu orang yang 2 tahun lebih tua dari saya ini adalah seorang freelance web designer.
((Masih SMA))â((freelance))â((web))â((designer)). Wow.
Tidak butuh waktu lama sampai saya jadi sering chatting dengan Visien dan akhirnya âdiracuniâ untuk membeli domain pribadi dan nekat menawarkan jasa proyek lepas desain website di udnhz.com(v1).
Di tahun pertama SMA ini, saya mulai berpikir ke mana arah tujuan hidup saya dan pendidikan lanjut apa yang akan saya ambil. Karena berpikir sepele belum ada jurusan sespesifik âweb designâ, saya memiliki dua pilihan; kuliah desain grafis atau teknik komputer.
Sambil mencari tahu ini itu, saya menemukan website sebuah studio desain grafis di Jakarta yang menurut saya keren banget. Saya belum tahu apa-apa soal studio desain di Indonesia karena masih jarang saat itu, tapi melihat portfolio studio ini membuat saya percaya desain di Indonesia bisa sebagus ini. Website itu adalah thinkingroominc.com. Saya pun membuat to-do-list; kalau kuliah desain, saya harus serius dan saya harus bisa ngerasain bekerja di studio ini.
Di tahun 2010 juga mulai bermunculan startup-startup digital dalam negeri. Saya iseng bergabung di awal berdirinya komunitas #startuplokal dan berkesempatan kenal dengan banyak entrepreneur, developer, dan web/user interface designer yang beberapa di antaranya sekarang mulai dikenal masyarakat umum.
2011
Pada awal 2011, saya akhirnya mendapatkan proyek pertama dari seorang klien yang menemukan situs saya lewat Google. Beneran, berasa keren banget saat itu. Tren startup lokal juga semakin meningkat sehingga permintaan untuk web/user interface(UI) design saat itu mendadak tinggi padahal supply-nya sedikit. Hal ini membuat desainer startup lokal hanya itu-itu saja.
Salah satu yang terbaik adalah Richard Fang, desainer yang dikenal lewat desain aplikasi Tasterous dan tulisannya di Jurusgrafis. Melalui LinkedIn, saya kemudian tahu Richard ternyata memulai karirnya di Thinking*Room.
Beragam proyek lepas datang sampai-sampai saya mulai mendapatkannya dari lintas negara dan menerima pembayaran lewat Paypal. Melihat anaknya mulai bisa mengumpulkan receh lewat bidang desain, Ibu akhirnya memberikan lampu hijau bagi saya untuk kuliah desain grafis.
2012
Tahun 2012 jadi awal saya mengenal desain grafis lebih seriusâââdan mungkin jatuh cinta terlalu jauh. Mulai tahu sejarahnya, tokoh-tokoh hebat di bidang ini, gaya-gaya yang ditawarkan setiap zaman dan negara, mengunjungi berbagai pameran, mengikuti seminar, dan masih banyak hal-hal menyenangkan lainnya. Di tahun ini juga, saya akhirnya melihat langsung seminar dari creative director Thinking*Room, Eric Widjaja. Meskipun nggak sempet ngobrol langsung, kekaguman saya semakin menjadi setelah seminar ini.
âYa, nanti harus ngerasain masuk sini. Amin.â
Abis ikut seminar brandingnya @EricWidjaja di Ultigraph. Presentasinya dikemas sangat menarik.
2014
Saya malah lebih dulu berkesempatan ngobrol langsung dengan Richard Fang pada sebuah seminar kecil yang diadakan inkubator bisnis kampus. Selepas acara, saya kemudian mengantri untuk mendapat kesempatan ngobrol langsung. Setelah banyak orang bergantian mendapat giliran, Richard tiba-tiba menyapa saya.
âU-de-ha-en-zet, kan?â
âU-de-en-ha-zet, sih, harusnya. Hahahâ
Kami nggak ngobrol banyak saat itu karena waktu sudah cukup malam, tapi salah satu obrolannya adalah tentang agensi produk digital yang baru didirikan bersama teman-temannya, Weekend Inc. Weekend membantu berbagai kliennya membangun web-web startup dengan pengalaman para founder-nya di Tiket.com, Printerous, dan masih banyak lagi.
2015
Mengadakan Ultigraph: Karsa Kelana bersama teman-teman saya mungkin jadi momen paling menyenangkan selama kuliah. Kami sepakat untuk mengangkat standar acara ini lebih tinggi, salah satunya dengan memperluas jangkauan audiens sekaligus pembicara dan merangkul asosiasi/industri untuk Ultigraph Award.
Salah satu jurinya saat itu adalah Eric Widjaja. Kesempatan ini harus dijadikan momentum untuk nunjukin keberadaan saya, apalagi di akhir tahun ini akan ada masa magang. Sembari sibuk mengundang banyak pembicara(salah satunya Richard Fang), saya menyiapkan portfolio terbaik saya saat kuliah dan mengikutinya ke berbagai kategori Ultigraph Award.
Harapannya cuma sepele. Nggak menang nggak apa, yang penting Eric Widjaja notice kerjaan saya.
âjawabannya adalah jawaban karakter The Joker dari film The Dark Knight, âItâs all part of the plan..â â
â Ryan Adriandhy, Di Mana Ryan?
Ultigraph berlalu dan tiba waktunya mencari tempat magang. Karena insecure nggak ada yang mau terima, saya menyebarkan portfolio melalui email dan juga datang ke banyak tempat. Beberapa di antaranya adalah pembicara-pembicara yang saya undang di Ultigraph. Responnya ternyata baik, cukup banyak studio membalas surel saya. Namun tidak ada balasan dari Thinking*Room(T*R) yang waktu itu saya datangi langsung sambil membawa portfolio.
Sebulan kemudian saat saya sudah magang di studio desain lain, sebuah surel mendarat di inbox saya.
from: Eric Widjaja <eric @thinkingroominc[dot]com>
Hi Edwin, How are you? Have you got any place for internship program? If not, please let us know. We need the intern position around September.
Saya reflek teriak âANJRIT!â Dreams come trueShit just goT*Real.
Saya langsung menghitung apakah waktu saya cukup untuk magang 2 kali. Saat itu bulan Juli, saya langsung membalas email untuk interview di bulan Agustus dan untungnya diterima untuk memulai magang di bulan September.
Bisa ngerasain magang di T*R dan mengenal pribadi-pribadi di dalamnya sangat menyenangkan. Saya magang untuk total 5 bulan sampai harus berhenti di Februari untuk persiapan Tugas Akhir.
Kemudian 2016, tahun terakhir perkuliahan saya. Ini adalah masa-masa yang berat. Saya harus memutuskan ke mana langkah saya selanjutnya. Apakah sekarang ke desain grafis? Desain grafis adalah hal baru di hidup saya yang nggak kalah menyenangkan. Lagipula, 4 tahun berkuliah, saya hampir nggak pernah menyentuh desain web/user interface lagi.
Saat berpikir akan meneruskan ke mana, saya jadi mengingat kembali apa yang jadi alasan saya sampai di titik ini sekarang. Dan setelah dipikir alasannya sederhana, saya sampai di sini karena kekaguman saya pada internet. Saya inginâââmungkin terdengar mulukâbisa mengubah dunia anak kelas 4 SD dan mungkin banyak orang lainnya untuk bisa merasakan seperti bagaimana dulu internet mampu memukau saya saat kecil.
A post shared by Kathrinna Rakhmavika (@gambarnana) on Jan 21, 2018 at 12:26am PST
Tujuan ini akan terus saya ingat dan saya akhirnya memutuskan langkah awalnya adalah menekuni dunia web dan user interface lagi dengan bergabung di Weekend Inc.
Saya mengirim lamaran kerja lewat email ke HRD dan mendapat panggilan interview. Di hari yang ditentukan, saya datang dan diwawancara langsung oleh Richard Fang. Akhirnya kami punya waktu untuk ngobrol panjang hahahah. Untungnya lamaran kerja saya diterima and the rest is history.
Untuk akhirnya bisa bekerja dengan orang-orang yang saya idolakan sejak lama sejujurnya terasa cukup lucu juga.
â I believe in luck as a form of engineered momentum. You have to make up your own.â
â Pangeran Siahaan, a tweet
Banyak orang yang mengenal saya kuliah di desain grafis mempertanyakan kenapa saya beralih ke desain web dan user interface. Nggak semuanya sempet saya jawab, tapi yang membaca tulisan panjang ini mungkin jadi paham apa alasannya.
Proses panjang ini nggak gampang. Untuk bisa konsisten seringkali banyak hal-hal nggak nyaman yang harus dilawan. Tapi bukankah hidup seharusnya jadi seri melawan berbagai ketidaknyamanan untuk jadi lebih hidup?
Sebuah tulisan yang rencananya ditulis tahun lalu.
Edwin
Setahun empat bulan jadi karyawan Weekend Inc. đ€
Jakarta, Januari 2018