_Tingkatan kedua_ dalam beriman kepada takdir setelah _tingkatan pertama_ *yang meyakini bahwa Allah Ta’ala telah mengetahui segala sesuatu yang akan dilakukan oleh seluruh makhluk dengan ilmu-Nya yang azali*, yaitu ilmu yang telah menjadi sifat-Nya sejak dahulu tanpa permulaan, adalah meyakini *bahwa Allah Ta’ala telah menuliskan takdir segala sesuatu hingga hari Kiamat.*
Ketika Allah menciptakan pena, Dia berfirman kepadanya, _“Tulislah.”_ Pena itu bertanya, _“Wahai Rabbku, apa yang harus aku tulis?”_ Allah berfirman, _“Tulislah segala sesuatu yang akan terjadi.”_ Maka pada saat itu juga, tertulislah seluruh peristiwa yang akan terjadi hingga Hari Kiamat, baik secara umum maupun secara rinci. Allah telah menetapkan seluruh takdir makhluk di Lauhul Mahfuz.
Tingkatan ini, bersama tingkatan sebelumnya, ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala,
﴿ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِنَّ ذَٰلِكَ فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ ﴾.
_“Tidakkah engkau mengetahui bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Sungguh, semua itu telah tertulis dalam sebuah Kitab. Sesungguhnya yang demikian itu sangat mudah bagi Allah.”_ (QS. Al-Hajj: 70)
Firman-Nya, _“Sesungguhnya semua itu telah tertulis dalam sebuah Kitab,”_ *menunjukkan bahwa segala sesuatu telah diketahui oleh Allah dan dicatat di dalam Lauhul Mahfuz.*
Namun, di samping pencatatan yang bersifat menyeluruh itu, terkadang ada pula penulisan yang lebih terperinci. Misalnya, ketika janin telah berada di dalam kandungan ibunya selama empat bulan, Allah mengutus seorang malaikat yang diperintahkan untuk menuliskan empat perkara; rezekinya, ajalnya, amalnya, serta apakah ia termasuk orang yang bahagia atau sengsara. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam _hadits sahih dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam._
> 📖 Fiqh al-’Ibadat karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin