Untitled
Cerita soal pondok, nggak lengkap rasanya jika nggak diselingi dengan kisah asmara.
Dari beberapa kisah asmara yang aku rasakan di pondok, Ada satu cerita yang sungguh menggelitik dan membuatku teringat sampai saat ini.
Pondokku dulu memberlakukan sistem kegiatan belajar mengajar dengan menggabungkan santri laki-laki dan perempuan dalam ruangan kelas. Guru yang mengajarpun bisa ustadz ataupun ustadzah yang berkompeten.
Singkat cerita, kala itu aku kelas 2 SMA.
Saat itu, ada seorang ustadz baru yang menggantikan guru yang sedang berhalangan mengajar. Sebut saja Ustadz A. Aku belum pernah lihat dia sebelumnya. Namun, dari caranya bertutur kata, berpendapat, caranya berpakaian, hingga gesturenya bisa dibilang cukup menawan. Akupun terbawa suasana ketika ia mengajar. Bisa dibilang, aku gampang terstimulasi dengan energi positif orang lain. Apalagi topik yang kala itu ia bicarakan merupakan topik yang asing namun menimbulkan rasa penasaran.
Orang pintar selalu memiliki daya tarik, bukan? I believe man with brain is attractive.
Dihari berikutnya, ada seorang ustadz sebut saja UStadz E. Beliau tiba-tiba menghampiriku dan berkata: "Trifani, ada salam tuh dari Ustadz A!"
Sontak saja, aku kaget. Aku kembali mengingat sosok ustadz tersebut. Bisa dibilang aku merasa senang karena aku mengagumi cara berpikirnya.
Hingga suatu momen, dia ternyata yang menjadi pembimbing karya tulisku. Kaget rasanya. Kok bisa dia? Namun aku berusaha mengambil sisi baiknya. Beliau merupakan orang yang sangat open minded, fleksibel, dan tidak menyusahkan. Cocok banget sama aku yang malas dan butuh insight untuk mengerjakan karya tulis.
Percaya atau tidak, Selama mengerjakan karya tulis, aku tidak pernah mencetak draft karya tulisku. Beliau meminta bertemu langsung dan membahasnya hanya dengan menunjukkan layar laptop. Aku juga bisa leluasa mengirim email untuk meminta beliau mengoreksinya.
Hampir setiap bimbingan dilaksanakan di saung asrama putri. Kebetulan anak bimbing beliau berjumlah 4 orang. Namun, karena sering keasikan membahas penelitian, teman-temanku yang lain seringkali pulang duluan. Menyisakan aku dan ustadz tersebut.
We talked a lot, we shared everything I was curious about. We talked about religion, conspiration, family, passion, and life - value. Beberapa kali obrolan kami hingga larut malam dan menunjukan pukul 23.30.
Pulang ke asrama rasanya senang sekali karena begitu dalam asyik dalam sebuah obrolan yang menarik. It felt like I was intlectually stimulated by him. Semakin lama rasa itu muncul. Aku mulai melakukan eye contact ketika berdiskusi dan aku merasa semakin nyaman.
Beliaupun cukup perhatian. Beberapa kali memberiku alat gambar, makanan, dan oleh-oleh ketika beliau berpergian.
Hingga suatu hari.. Beliau mengirimku email.
Surat cinta ternyata. Intinya, beliau menyatakan kalau ia memiliki rasa yang lebih dari rasa seperti seorang kakak yang mencintai adik. Beliau hanya ingin mengungkapkan itu karena rasanya cukup mengganjal.
Sontak, aku terkejut. Sisi lain aku mengetahui bahwa beliau sedang berencana menikah dengan seorang perempuan. Pelan-pelan aku mundur dan menjaga jarak.
Tentu rumit rasanya kalau aku terlibat di hal yang lebih jauh lagi. Akupun berusaha menempatkan diriku dengan calon tunangannya. Pasti sakit bila ada perempuan lain.
Pelajaran yang bisa aku ambil adalah: Mungkin isi kepala sungguh atraktif. Namun aku perlu mempertimbangkan segala sisi karena bisa saja jika kuteruskan, aku menghancurkan rencana pernikahannya.
Ohiya, ceritaku ini sama sekali tidak menurunkan rasa hormatku padanya. Bagaimanapun, beliau tetap ustadzku dan aku beruntung bisa mendapat banyak sekali ilmu pengetahuan darinya.
@henniarum @adhit21 @gugunm @sekotenggg @mathmythic
















