Kamu harusnya bersyukur dapat aku yang pemalas, kan aku jadi males cari yang lain. dapetin kamu aja susah, harus minta dukungan langit.
Hereuy Riwayat Anwar
tumblr dot com

oozey mess

Janaina Medeiros

@theartofmadeline
Sweet Seals For You, Always
No title available

pixel skylines
Jules of Nature
styofa doing anything
noise dept.
h
we're not kids anymore.

❣ Chile in a Photography ❣
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Cosimo Galluzzi
One Nice Bug Per Day
dirt enthusiast
Game of Thrones Daily

Origami Around

tannertan36

seen from United States

seen from United States

seen from Saudi Arabia
seen from France

seen from Germany

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Australia
seen from United States
seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States

seen from Belarus

seen from Germany

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States

seen from United States

seen from United States
@ummunurin
Kamu harusnya bersyukur dapat aku yang pemalas, kan aku jadi males cari yang lain. dapetin kamu aja susah, harus minta dukungan langit.
Hereuy Riwayat Anwar
Bahwa sesungguhnya yang ada dalam kendali kita adalah lisan kita sendiri, bukan perasaan orang lain. Karenanya, mengendalikan lisan lebih menentramkan ketimbang menghakimi isi hati orang lain
Hereuy Riwayat Anwar
Ya Allah, semoga pasanganku kelak adalah seorang yang pandai menjaga jarinya …
dari meng-like postingan sosial media lawan jenis, entah itu dari segi gambar atau captionnya.
seorang yang membatasi dirinya dengan lawan jenis, entah itu interaksinya atau hubungannya.
semoga,
iya karena aku pun amat sangat berusaha demikian ❤😊
Seperti kata ibnu Abbas saat ditanya, apa rahasia kecerdasannya?
“Lisaanu saail wa qalbun ‘aaqil, mulut yang banyak bertanya dan hatinya yang banyak berfikir”
Saat Mencoba Memantaskan Diri...
Dari sudut pandang seorang wanita yang sedang mampir ke Probolinggo untuk bertemu dengan sahabat lama.
Percayalah dengan janji Allah, jangan pernah berhenti memantaskan diri, ya…
Suatu hari, aku mendengar seorang sahabat wanitaku bercerita. Aku ingat, kala itu di Musim Panas, kami berdua duduk di bawah pohon rindang melindungi diri dari sinar matahari Kota Probolinggo—yang ntah kenapa bersinar terlalu terik dari seharusnya.
Ia berkata kepadaku bahwa ia sudah berusaha sekuat tenaga memantaskan diri. Belajar agama lebih dalam, menentukan visi pernikahan secara detail, terus belajar mengontrol emosi karena ia sadar bahwa selama ini ia adalah pribadi yang sangat emosional, berusaha belajar dari A sampai Z segala hal tentang persiapan akan kehidupan pernikahan, pokoknya apapun sudah ia lakukan untuk memantaskan diri. Ia menarik nafas panjang ketika bercerita pada bagian ini, “Mengapa, setiap pria yang datang tiba-tiba mundur perlahan dengan alasan bahwa aku terlalu tinggi ? Terlalu hampir sempurna, sampai mereka merasa tidak pantas menjadi pendamping hidupku ?” kedua matanya menerawang lalu melanjutkan, “bukankah aku sudah berusaha keras memantaskan diri ? Mengapa sebagian besar pria yang datang, memiliki alasan serupa ?”
Lalu aku menatapnya dan memberikan pertanyaan sederhana, “Apa yang sudah kamu lakukan, ketika menghadapi pria-pria yang datang itu ?”
Ia menatapku lama, membiarkan khimar silver mudanya bergoyang-goyang tertiup angin panas yang sama sekali tampak tidak membantu menenangkan hatinya, sampai pada akhirnya ia menjawab, “Aku sudah menurunkan standarku. Kamu tahu, aku sudah menuliskan dengan detail karakter suami seperti apa yang aku inginkan, lalu aku bayangkan dan aku doakan setiap hari. Tetapi ketika pada akhirnya ada pria yang datang berkata serius ingin melamarku, ternyata tidak sesuai dengan apa yang aku doakan selama ini, maka aku turunkan standarku. Aku khawatir, aku meminta terlalu berlebihan kepada Allah. Itulah sebabnya aku berusaha menerimanya apa adanya,” sahabatku menatapku memastikan dengan kedua matanya bahwa aku mendengarkan.
Lalu ia melanjutkan, “tapi selalu begitu. Ayahku menolak lamarannya dan pria itupun berkata kepadaku bahwa karena aku terlalu tinggi, terlalu hampir sempurna, terlalu A,B,C,D, sehingga aku tidak sebanding dengannya yang masih di bawah. Salahkah aku terus menerus memperbaiki diri ? Berusaha terus naik tangga ke atas agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi ? Tetapi kenapa selalu tidak ada yang cocok ? Mengapa ayahku terus-terusan menolak lamaran pria yang datang ? Tidak adakah pria yang sesuai, yang pada akhirnya bisa diterima di keluargaku ? Dan mengapa pria-pria itu selalu begitu terus alasannya ? Haruskah aku berhenti memantaskan diri, supaya pada akhirnya ada pria yang bisa mengejarku ?” Ujarnya frustasi.
Aku menggeleng, lalu tersenyum, “Bukannya tidak ada yang cocok, hanya belum ketemu saja. Tidak, jangan pernah berhenti memantaskan diri. Aku pernah membaca sebuah kata-kata Bahasa Inggris yang aku lupa membacanya di mana, tapi sepertinya pas untuk menenangkan hatimu yang gundah sekarang. Mau dengar ?”
Sahabatku menganggukkan kepalanya dengan antusias, lalu kedua matanya berbinar penasaran. Ia cantik, sangat cantik. Kecantikannya mengundang banyak pria yang datang, kegigihannya terus memantaskan diri yang membuatnya naik jauh lebih tinggi diatas wanita lain seusianya, hal itu juga yang membuat pria yang tadinya sudah mencoba datang, mundur teratur karena merasa ia terlalu tinggi dan sulit untuk digapai.
Aku menggenggam kedua pundaknya dan berkata sambil menatap kedua matanya, “Dear Arianna, sometimes—you’ll just be too much woman. Too smart, too beautiful, too strong, too much of something. That makes a man feel like less of a man. Which will start making you feel like you have to be less of a woman.” Ujarku.
Ia mengangguk, tanda mengerti, “Lalu…lalu?” Ujarnya memaksaku untuk terus melanjutkan.
Aku tersenyum, lalu akhirnya melanjutkan, “The biggest mistake you can make is removing jewels from your crown to make it easier for a man to carry.”
Ia menutup mulutnya, karena terkejut, “Removing jewels from my crown…” ujarnya mengulang-ngulang, “sama seperti ketika aku menurunkan standarku akan pria begitu, ya ? Karena takut tidak ada yang menyukaiku karena mereka selalu bilang aku terlalu tinggi, maka aku…” ia tidak dapat melanjutkan. Kedua mata indahnya sibuk kembali menerawang, “ah…” Lalu ia menundukkan kepalanya.
Aku mengangguk, menggenggam kedua tangannya untuk menguatkannya, lalu kembali melanjutkan, “When this happens, I need you to understand, you do not need a smaller crown, Arianna—you just need a man with bigger hands.”
Sahabatku mengangat kepalanya, menatapku dengan pandangan berkaca-kaca dan tersenyum manis sekali, “Kamu benar…” Ujarnya lembut. “Berdoalah dengan keyakinan bahwa doamu akan dikabulkan oleh Allah, Arianna. Lalu mintalah kepada-Nya agar kamu dapat menerima segala keputusan yang Allah berikan kepadamu dengan lapang dada. Jadi, ketika banyak pria beralasan kamu terlalu tinggi atau apapun, biarkanlah mereka dengan pendapatnya. Jangan terlalu fokus kepada pria seperti itu, jangan pernah menurunkan standar doamu, yakinlah kepada Allah seratus persen, bahwa kamu pantas mendapatkan pria yang jauh berkali-kali lipat lebih baik dibandingkan pria yang hanya bisa mengeluh dan beralasan bahwa kamu terlalu tinggi—remember, you just need a man with bigger hands, Arianna. Suatu saat akan datang pria, yang datang dengan segala kegagahan luar biasa, yang mampu meyakinkan ayahmu, yang paling tampan rupa dan akhlaknya, yang paling luas rezeki juga ilmunya dan yang terpenting ia adalah seorang pria yang sanggup membawa mahkota dengan berlian indah yang sudah kamu buat ketika memantaskan diri, lalu menaruh mahkota itu perlahan ke atas kepalamu.”
Aku menatap sahabatku yang senyumannya sudah kembali menghiasi kedua bibir indahnya sekarang, lalu aku melanjutkan, “Ketika kamu bertemu pria seperti itu maka In Syaa Allah—he is a man with bigger hands that you are looking for, my dear.” Ujarku sambil berbisik dan kami berduapun tertawa bersama.
Kami terlarut dalam pembicaraan yang sangat seru, sampai kami berdua tidak menyadari kehadiran seseorang yang sedang duduk dibalik pohon tidak jauh dari kami duduk, mungkin saja ia mendengar semua percakapan kami, aku tidak tahu. Satu hal yang aku tidak tahu juga adalah ia menuliskan sesuatu di buku catatannya dengan tulisan yang rapi, “a man with bigger hands…” lalu tersenyum puas.
Hal terakhir yang aku ingat adalah ketika pria itu berdiri, berhasil membuat kami menyadari akan kehadirannya. Siapa yang tidak sadar jika ada sosok pria tinggi besar berdiri tiba-tiba ? Postur tubuhnya amat sangat mencolok apalagi wajahnya—lebih mencolok lagi.
Ia berdiri, mengalihkan pandangannya ke arah kami. Pria itu menatapku sekilas, lalu memandang sahabatku agak lama dengan sorot mata tak terbaca. Kemudian ia pergi, bergerak ke arah perpustakaan dan menghilang dari pandangan.
“Kamu kenal ?” Tanyaku kepada sahabatku yang tiba-tiba duduk diam termangu, keningnya berkerut seperti sedang memikirkan sesuatu.
Sahabatku menatapku lalu berkata ragu, “Tidak. Tapi tatapan matanya tidak asing.”
Mendengar jawabannya, saat itu juga ntah bagaimana feelingku mengatakan bahwa—keajaiban mungkin akan terjadi sebentar lagi. ---------------------
2 hari yang lalu saya naik kereta dari jakarta ke surabaya. Suka aja sih naik kereta meskipun makan waktu sekitar 17 jam, karena biasanya orang-orang yang ada dikereta itu ramah dan bersaudara, nggak jarang juga saya mendadak dapat kenalan baru plus pembelajaran hidup baru.
Kayak kemarin nih, saya berasa di tabok realita waktu segerbong sama mayoritas anak-anak SD di Jakarta yang lagi mau jambore nasional di coban rondo. Terharu banget lihat mereka yang tiap masuk jam sholat pada ke kamar mandi dan wudhu dulu sebelum kemudian sholat sambil duduk. Nggak ada perintah dari guru atau pembimbing loh, bener-bener kesadaran sendiri. Mana abis sholat bukan yang udah gitu aja, mereka ngangkat tangan, berdoa dengan khusu masing-masing.
Nggak cukup disitu, nggak lama ada satu anak ngeluarin quran dan ngaji dengan suara yang bagus, dan ngajinya lama. Karena kebetulan saya satu baris jadi bisa ngedenger (....dan terharu). Nggak begitu lama saya lihat ada beberapa lainnya juga ngebaca quran. Halo! anak SD loh, Di perjalanan masih nyempetin buat berkomunikasi sama Allah disaat kebanyakan orang dewasa asik ngedengerin musik lewat headset, tidur atau mungkin main games di handphone.
Rasanya kayak dikasih suguhan buat introspeksi diri, malu karena lebih besar dari segi usia tapi semangatnya masih kalah sama anak SD. Kebanyakan orang dewasa suka ngaku nggak sempet, kebanyakaan kerjaan, ntaran aja, masih sumpek deadline. Berasa lupa kalo Al-quran itu menyejukkan, yang bikin kita tenang, jawaban dari semua keresahan. Semoga nantinya diberi keturunan seperti adek itu, yang menjaga istiqomahnya dimanapun.
nb: gambarnya burem soalnya gelap, tapi gapapa biar tiap lihat ini saya sadar lagi, inget kalo anak SD aja begini masa yang gede kalah sih.
Tidak perlu takut dengan bayang-bayang dan buramnya rencanamu tentang masa depan. Adanya ia adalah untuk dijalani dan diyakini bahwa pertolongan Allah akan ada pada setiap duri perjalananmu nanti.
Setiap darimu akan selalu datang bayang-bayang dari ketakutan dan kekhawatiran, tentang nanti akan tinggal dimana, pasangan dengan siapa, akan menjadi apa, bagaimana dengan rezeki nanti, mengajar atau membuka usaha, dan rentetan kekhawatiran lainnya. Ia wajar, karena datangnya ia adalah untuk menggerus iman dan semua optimismu tentang masa depan.
Rancanglah dari sekarang apa yang bisa kamu lakukan untuk masa depan, sembari menyiapkan amunisi dan bekal, masalah hasil nanti untuk masa depan serahkan saja semuanya pada Allah, karena sudah ada jatah masing-masing dan takdir masing-masing dari kita. Yakini bahwa masa depanmu akan baik-baik saja, dengan ada atau tidak adanya dia yang kini bersamamu, semua akan baik-baik saja.
Yang menjadikanmu istimewa adalah bagaimana kamu mengubah ketakutan dan kekhawatiranmu itu menjadi pemicu karya-karya baru, lagi pula dunia dan isinya ini hanya pinjaman dan titipan, semua akan diambil lagi, lalu kamu akan mulai ditanya tentang barang yang dititipkan padamu.
Tidak perlu ragu dan takut lagi, mulailah perlahan untuk merancangnya, mengusahakannya, mendoakannya, dan meyakininya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Untukku dan untukmu, selamat berjuang melawan ketakutan dan kekhawatiran yang datang dari pikiran sendiri, ia hanya akan membuat pusing dan suntuk yang berkepanjangan. Ingatlah, adanya masa depan adalah untuk dijalani dan diyakini, bukan dipendam dalam pikiran.
Mari melantunkan doa-doa terbaik, sampai bertemu dipersimpangan jalan masa depan. Aku dan kamu.
@jndmmsyhd
Saya bahagia ketika berbincang perihal karakter (rasanya sungguh menenangkan diri sendiri). Saya sering bilang sama diri sendiri kalau lagi ngerasa lelah banget “gpp sayang, kamu gpp, semua baik baik aja, meskipun kamu terlihat aneh dan atau sulit di mengerti”.
Saya yang kalau udah lelah banget akan memilih mundur, memilih pergi, memilih menutup diri :’) bisa bisanya saya mengambil keputusan yang aneh ini. Saya ngga suka dicari, ngga suka dikenal :’) tapi saya suka ketika saya bisa berbincang dari hati ke hati, salah satunya dengan menulis. Tapi lagi lagi saya ngga suka di kenal! ini sering bikin lelah.
Saya ngga suka perihal penerimaan! ini juga melelahkan sekali. Membuat saya seringkali merasa tidak pantas, minder dan mau bersembunyi aja rasanya :’) hehe.. saya yang sulit hidup dengan banyak orang, tidak tertarik mengetahui banyak hal bila itu hanya akan menyakiti, dan saya yang sulit sekali memberikan kepercayaan. Maka, bila saya mengijinkan engkau tau banyak tentangku! percayalah, engkau istimewa untukku. Dan Menulis adalah salah satu caraku bertahan. Disaat berulang kali aku hampir kalah dan menyerah. Menulis begitu melapangkan hatiku. Bersembunyi disana tanpa takut aku akan dihakimi karena tulisanku. Bersembunyi disana tanpa khawatir orang akan mengetahui bahwa itu tulisanku.
Si Introvert yang sangat menghargai sebuah ketulusan, sangat sangat menghargai. Bahkan disaat ketulusan itu sendiri mulai memudar, aku ingin selalu mengupayakannya. Aku akan memilih menepi, menghilang dan tidak ingin dicari sampai aku membaik. Sampai aku mengerti aku harus bagaimana. Aku bahagia bisa berjalan sendirian, menikmati langit sore, menyapa mentari yang mulai meredup. Ada bahagiaku disana, pada rasa sepi meski aku berada di antara keramaian. Aku mendapat banyak energi kala aku bisa berdialog dengan diriku sendiri. Berdamai dengan rasa syukur, dengan menerima atas bagaimana manis pahitnya hidupku. Ada bahagia pada sepi yang begitu menenangkan hati.
Mungkin yang sudah mengikuti Menyapa Mentari semenjak 3 atau 4 tahun yang lalu sedikit paham ya. Bila tiba2 akun sosial media Menyapa Mentari hilang. Bila tiba2 nomor whatsapp tidak lagi bisa dihubungi :’) ini bukan keanehan. tapi memang demikianlah. Ada waktu dimana hanya ingin menepi untuk kembali menguatkan diri sendiri. Dan akhir2 ini keputusan yang saya ambil adalah meninggalkan following saya, Sedih dan berat pada awalnya. Tapi nyatanya lambat laun justru aku merasa begitu tenang. Khawatir itu berkurang. Dan lagi lagi, aku mengerti bahwa tidak tahu banyak hal adalah salah satu ketenangan hati. nyatanya ini adalah cara melindungi diri sendiri dan menjaga hati :’)
Si Introvert yang benar2 menghargai keberadaan seseorang yang di anggapnya berharga. Yang akan sangat2menjaga. Si introvert yang tidak butuh lingkaran yang luas. Melainkan lingkaran kecil namun tidak pernah pergi, namun hadir dengan ketulusan seutuhnya. Maka membiarkan diri untuk tetap bersembunyi adalah ketenangan. Biarlah setiap karya kita tetap menyapa, tapi tidak hidup kita. Biarlah mereka menyapa nama kita, tapi tidak hidup kita. Biarlah aku tetap bersembunyi namun engkau tetap merasakan kehadiranku melalui tulisanku. Tanpa perlu tahu aku seperti apa, rumahku dimana, bekerja apa, dan bagaimana hidupku lainnya. Terimakasih untuk tidak menghakimi keputusanku kali ini, Tetaplah bersinar. 🌻
Untukmu, yang pernah menawarkan masa depan.
Pagi ini langit begitu cerah, terasa semilir angin yang menyejukkan hati. Kurentangkan kedua tangan sambil merasakan betapa indahnya pagi ini dan kurasakan tanpamu, aku baik-baik saja.
Setelah beberapa tahun bersama dan dengan segalaplaning yang hampir sempurna, kau tiba-tiba pergi begitu saja. Kau tinggalkan kenangan kita, kau lupakan perjuangan kita dan kau hanya menitipkan luka dengan kata "maaf". Di situ aku hanya bisa diam, mencoba berpikir ulang, mencoba sabar dan mencoba meyakini, Tuhan punya rencana yang lebih indah dari semua ini.
Banyak orang bilang bertahan untuk tidak mengungkapkan dan bertahan untuk tidak memiliki itu rasanya lebih buruk dari patah hati. Tapi aku berusaha itu tidak berlaku buatku, karena dari situ aku bisa mengambil banyak pelajaran berharga yang membuatku menjadi lebih tangguh dari biasanya.
Tidak butuh waktu lama untuk mengikhlaskanmu,. Cukup singkat mungkin, hanya beberapa bulan saja karena aku punya Tuhan yang selalu memelukku dan selalu membuatku nyaman saat aku mendekatkan diri pada-Nya. Dan itu adalah rasa yang jauh lebih indah dari rasa yang pernah aku rasakan.
Segala sesuatu di dunia ini dari Tuhan Sang Pencipta Alam dan akan kembali kepada-Nya pula. Termasuk kisah kita dulu yang Tuhan titipkan untuk mengasah kedewasaanku.
Terima kasih untukmu yang pernah menawarkan masa depan untukku, karena kau meninggalkanku :
* Aku lebih dekat dengan Tuhanku.
* Aku lebih merasakan betapa hebatnya menjadi orang yang sabar.
* Aku selalu berpikir positif mengambil hikmah, pelajaran dan pengalaman dari kisah itu.
Terima kasih untukmu yang pernah menawarkan masa depan untukku, karena kau meninggalkanku :
* Aku menjadi pribadi yang lebih baik dari diriku yang dulu.
Dan karena kau meninggalkanku, aku sekarang punya kisah yang jauh lebih indah dari kisah kita dulu.
Untuk kalian yang pernah mempunyai kisah yang sama dalam cerita ini, sayangi dirimu.
Cintai Tuhan mu, karena Ia sudah menggariskan kisah yang indah untukmu, dan itu akan diberikan di waktu yang tepat menurut-Nya, bukan menurutmu. Berdamailah dengan keadaan dan berdamailah dengan ketetapan-Nya. Maka kau akan merasakan rasa yang jauh lebih indah dari rasa yang pernah kau rasakan.
Dariku, gadis yang tersenyum manis mengulas kisah itu.
"Nurin, are you happy?” kalimat singkat yang ditanyakan oleh ustadah hasna ketika kajian kemarin sore itu entah mengapa menjadi begitu bermakna. Saya tidak tahu pasti alasan awal mengapa beliau menanyakannya, yang jelas saya kaget dan sulit menjawabnya pada detik-detik pertama. Saya malah balik bertanya hingga akhirnya beliau memperjelas pertanyaan, “Iya, apakah kamu bahagia dengan apa yang kamu lakukan sekarang ? Bagaimana perasaanmu ?”
Sambil mengklik tombol close pada beberapa tab di laptop, saya pun menjawab, “Alhamdulillah. Tabarakallahu.” Kemudian, saya menceritakan lebih banyak, tapi sepertinya itu belum cukup menjadi jawaban hingga beliau bertanya lagi, “Adakah sesuatu yang hilang dari dirimu yang membuat kamu merasa tidak bahagia ?”
Duar! Meletus balon hijau! Saya diam, melihat ke lantai, memandangi langit-langit, tapi tidak menemukan apa-apa karena jawabannya ada disini. di dalam hati. Saya pun mengalirkan apa yang saya rasakan sambil menyebutkan sesuatu yang seperti hilang dari diri saya, dari semesta saya. Kemudian, beliau mengatakan,
“Adanya sesuatu yang hilang dalam dirimu padahal kamu begitu bahagia jika dapat melakukannya bukan berarti seluruh kebahagiaanmu hilang. Hilang satu tak berarti hilang semuanya, apalagi hilang semangatnya.”
Maa syaa Allah, betapa ini begitu membahagiakan sebab melapangkan dan menenangkan. Betapa Allah dengan cepat menjawab kegelisahan saya melalui perkataan orang lain. Alhamdulillah, Allah Maha Baik izinkan saya menutup Agustus dan memulai september dengan bertambahnya satu lagi pelajaran bahwa,
“bahagia seharusnya memang tidak digantungkan pada ada atau tidaknya sumber yang kita kira akan memberikan kebahagiaan, tapi gantungkanlah pada prasangka-prasangka baik kepada-Nya.”
Sekarang September, semoga tak ada yang kita dapatkan dalam menjalaninya selain bertumbuhnya pemahaman-pemahaman baik yang menggerakkan kita agar terus mendekat kepada-Nya. Jangan lupa mensyukuri setiap jejak kebaikan yang Allah izinkan ada dan terjadi di kehidupanmu, ya! Selamat menjalani hari-hari di bulan September dengan lebih bahagia.
#MoveOnProject #KetetapanTuhan #catatannurin #pillo’s 😊😊😊
Aku tidak menyalahkanmu jika di tengah perjalanan kau akan memilih mundur, karena mulai lelah membersamaiku, karena mulai bosan menghadapi sikapku yang ternyata tak sebaik yang kau pikirkan. Terlebih aku tak secantik perempuan lain. Mungkin akan menyisakan rasa yang tak mudah untukku menerimanya, tapi akan kucoba berdamai dengannya. Barangkali, telah sampai waktunya untuk bangun dari mimpi mimpi yang ku rangkai sendirian. Terimakasih untuk hatimu yang baiknya seluas samudera.
Tulisan ini untukmu, seseorang yang baik hatinya seluas samudera ☺
Aku berterimakasih untukmu, karena telah melapangkan hatimu untuk pernah menerimaku, memahamiku, dan tidak sekalipun menghakimiku. Terimakasih telah meluangkan waktumu yang aku tahu tak mudah bagimu untuk sekedar memberiku kabar, tapi masih sempat pernah menelefonku, masih sempat menceritakan banyak hal padaku, meski sekarang sudah tidak lagi. Tapi, ini jauh lebih baik sepertinya untuk kita. Terimakasih sudah pernah mendampingiku, mempercayaiku bahwa aku bisa membaik. Terimakasih sudah pernah menyediakan ketulusan untuk membimbingku, yang sebenarnya lebih pantas untuk di tinggalkan sedari dulu. Terimakasih sudah menjadi salah satu orang terbaik, sekaligus yang paling sering menyakiti begitu dalam. (kau akan tertawa jika membaca ini, sembari bilang aku tukang ngomel). Terimakasih sudah bikin bahagia, sudah mengajarkan ketulusan, sudah memberi tahu bagaimana meluaskan rasa syukur di hadapan-Nya. Untuk hampir lebih dari 1800 hari mengenalku, Sulit bagiku memberi kepercayaan kepada seseorang, dan kau sudah dengan tulus bersedia menemani membaik. Karenanya aku berterimakasih, sekali :) Jaga kesehatannya yaa, supaya jantungnya tetap berdegup sehat sebagaimana mestinya. Jaga amarahnya yaa, karena sesekali dunia berhak tau kebaikan-kebaikan yang selama ini kamu sembunyikan rapat-rapat. Semoga kebaikan-kebaikan selalu menghujani hari-harimu, sepanjang usiamu. Kita tidak punya sesuatu untuk dikenang sebagai pengingat bahwa kita pernah berproses. Jadi aku putuskan untuk menulis sesuatu tentangmu. Sebagai pengingat bahwa kamu pernah ada. Meskipun aku tidak tau apakah kamu membaca tulisan ini atau tidak.😊
Probolinggo, 2 September 2017
Hi.. yang baik hatinya seluas samudera 😊
Jadi bagaimana kabarnya ? Masih sibuk ke luar kota, bagaimana kabar pekerjaannya, masih suka lupa makan ? Sudah lama sekali tidak menanyakan hal-hal sederhana padamu. Sudah lama sekali tidak saling menyapa atau berbincang setulus hati. Semoga, kebaikan-kebaikan selalu menghujani hari-harimu. kita tetap teman seperti bulan2 lalu kan ? Meskipun tak sedekat dulu. seperti saat kau tak sungkan menegurku saat salah, atau seperti sekarang kita yang lebih sering salah tingkah dan memilih banyak diam. Mudah-mudahan, kita kuat pada pilihan kita kali ini. semangat hati yang yang baik! :)
Probolinggo, 2 september 2017
Maaf, Bukannya Arogan. Tapi Saya Libur Dulu Bicara Soal Jodoh dan Pernikahan
Mereka bilang di usia saya saat ini adalah waktu yang tepat untuk menyeriusi topik pelaminan. Perbincangannya bukan lagi sekadar siapa, tapi lebih kepada kapan dan di mana saya segera dihalalkan. Memang di usia yang mulai matang ini, obrolan seputar teman hidup dan pernikahan selalu mengasyikan untuk dibahas. Bayangan akan romansa pengantin baru dan memiliki anak yang lucu membuat wanita di mana pun jadi berharap untuk segera digenapkan. Hanya sekadar membayangkannya terbilang menyenangkan memang. Namun akan jadi memuakkan mana kala orang terdekat semakin sering mengajukan pertanyaan kamu kapan dihalalkan? Ingin rasanya saya memasang spanduk besar di atas kepala yang bertuliskan: Maaf, saya libur dulu bicara jodoh dan pernikahan! Saya jenuh dengan pertanyaan jodohnya kemana. Bisakah saya absen dulu menjawabnya? Indonesia memang negeri yang unik. Negeri di mana wanita yang memilih untuk melajang di usia 24-25 tahun mulai ditakuti dengan sematan perawan tua. Berbeda dengan di negeri Gingseng Korea sana, di mana penduduk wanitanya bebas untuk menikah di usia berapa saja. Usia 30 atau bahkan 40-an, santai saja. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Tak perlu takut menjadi cibiran tetangga. Sayangnya, saya lahir dan besar di negeri ini, negeri yang kurang ramah pada wanita lajang. Ketika perempuan muda di keluarga sudah nyaris menikah semua, akan tiba gilirannya kamu dihujani pertanyaan kapan kamu menyusul? Kapan kamu naik pelaminan? Sederet pertanyaan yang membuat jenuh dan penuh isi kepala. Akan mudah jika semua orang mengerti. Pada waktunya, saya pasti akan menikah. Tapi tidak untuk sekarang. Tak munafik, perempuan muda mana yang tidak ingin menjadi istri dan ibu yang bersahaja? Hampir semua wanita di dunia ini pasti ingin menikah. Hanya waktu saja yang menjadi pembedanya. Sebagian kamu mungkin siap-siap saja menikah di tengah bangku kuliah, Adapun yang lain baru siap menikah setelah menamatkan gelar sarjana dan mencicipi fase pekerjaan pertama. Sementara saya akan menikah pada waktunya, waktu terbaik yang dipilihkan Tuhan untuk saya dan pendamping saya kelak. Mereka mungkin lupa bahwa pernikahan bukanlah candi yang bisa dipersiapkan dalam semalam. Pernikahan bukan hanya tentang resepsi dan akad saja. Persoalannya tak berhenti sampai di situ. Ada hal yang jauh lebih penting dari sekadar konsep pernikahan, baju pengatin, atau urusan sewa gedung sekalipun. Yakni kesiapan saya dan pendamping saya menata masa depan kami nantinya. Akan sangat konyol jika saya memutuskan menikah hanya karena umur atau ikut-ikutan tren semata. Hei, pernikahan tak bisa dengan mudah dipersiapkan dalam waktu yang singkat. Saya meyakini dia yang tertakdirkan untuk saya, saat ini tengah sibuk mengusahakan masa depan. Saya percaya bahwa dia yang kelak saya juluki sebagai teman hidup, kini tengah disibukkan dengan rutinitas pekerjaan. Sama seperti saya yang tengah menata masa depan, dia pun demikian. Ketimbang sibuk mempercantik diri dengan make up tebal yang tidak mewakili diri, saya lebih memilih menyerahkan segalanya pada Dia Sang Maha Cinta. Jika sudah kehendaknya, semesta pun akan mempertemukan saya dan dia. Soal jodoh, saya berikhtiar dengan jalan memperbaiki diri. Memperbaiki diri bukan hanya soal penampilan tapi juga tentang tidak lagi menjadi egois dan menepikan ambisi. Hingga saat dipertemukan dengan teman hidup, saya sudah siap untuk membagi hidup saya dengannya. Bukan karena kemapanan, urusan jodoh saya kesampingkan demi menabung pengalaman. Agar ada cerita untuk anak-cucu kelak. Saya tak akan menjadikan karir dan kemampanan sebagai alasan untuk menunda pernikahan. Memilih untuk tetap melajang semata karena saya merasa hidup saya selama ini masih kering dengan pengalaman. Menjelajahi pelosok negeri, mencicipi dinginnya salju, menyimpan daun Maple yang menguning di dalam saku, hingga menantang diri dengan olahraga yang ekstrem. Kesemua itu belum pernah saya rasakan. Karenanya sebelum waktunya mendedikasika diri menjadi ibu rumah tangga, saya ingin mengoleksi pengalaman dan cerita perjalanan yang kaya. Agar bisa saya ceritakan pada anak-cucu kelak. Rehat sejenak dari obrolan soal pernikahan bukan berarti saya memilih untuk melajang seumur hidup. Pada waktunya nanti, pernikahan akan lebih dari sekadar bahasan. Tetapi menjadi hal yang benar-benar saya usahakan dan persiapkan dengan matang.
Around me..
Hanya karena teman-teman sudah menikah, punya anak, atau punya pasangan tetapi tak berarti kamu harus mengikuti jejak mereka. Kamu punya hidup sendiri yang harus dijalani. Memenuhi milestone hidup tak harus dilalui seperti lomba lari. Kuncinya justru bagaimana memanfaatkan waktu yang dimiliki. Dengan status yang masih sendiri (dan sangat happy) kamu justru punya banyak waktu untuk mengembangkan diri. Melunasi semua mimpi, menjalani hidup sesuai ekspektasi. Dengan begini, bukankah tidak ada yang harus disesali ? Toh pada saatnya nanti kamu akan sama siapnya dengan mereka yang kini sudah lebih dulu menjalani.
Bolehkah Aku Cemburu ?
Oh Allah, Bolehkah aku cemburu ? Bila suatu saat nanti aku tau bahwa bukanlah aku wanita pertama yang ada di hatinya ? Oh Allah, Bolehkah aku cemburu ? Bila suatu saat nanti aku tau bahwa bukanlah aku wanita pertama yang diperjuangkannya ? Oh Allah, Bolehkah aku cemburu ? Sementara diri ini pun bukan wanita yang baik, Masa lalu pun tak pantas untuk ku banggakan.. Dan sungguh takkan pernah pantas bila diri ini harus menghakimi masa lalunya. Allahu Rabbi, Aku percaya akan janji-Mu, "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)." (An-Nūr : 26)
Ya Allah, Aku percaya, Selalu ada hadiah indah untuk yang mau memperbaiki diri. Ku mohon berikanlah kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Agar suatu saat nanti, Ku temukan dia sebagai seseorang yang mencintai-Mu lebih dari apapun, terlepas apapun masa lalunya.. Seseorang yang dapat menjadi peneguh iman dan teman yang handal untuk meraih Ridho-Mu.. Hingga suatu saat ku mampu berbisik, Aku mencintainya karna-Mu, Ya Allah.
"Thank you for being the best friend that I have in my life. It is nice to having you all in my life. I was grateful by knowing you since 4 years ago and start build something-where-our-dream-and-passion going through. It's not easy to mix our perception about that dream and passion. We're not a bestfriend which laugh and love always follow, There even some drama in our everyday chat. A Moment to remember, perjalanan yg panjang dari sebuah persahabatan, mulai dari semester 1 sampai saat ini.. tidak terasa sudah 4 tahun kita bersama. Banyak hal baru sudah dimulai, tantangan baru semakin banyak yg akan datang. Ingat, masih panjang perjalanan yg akan kita lalui, masih banyak lubang dan bebatuan yg akan kita hadapi, dan masih jauh mimpi kita untuk diraih. Keep our dreams high in the sky, and always be astronout who believe to reach it. 😊💕🎈. #HappyGraduation #Wisuda #STTNJ #KeepSyari #latepost