Bingung Memilih Jenis Kontrakan? Tentukan Harga, Lokasi dan Kebutuhan Terlebih Dahulu!
Mencari hunian yang nyaman menjadi perkara yang tak selalu mudah untuk dilakukan, meskipun Anda mencari rumah kontrakan yang hanya akan ditempati untuk sementara waktu. Pada umumnya, setiap orang menginginkan hunian sewa yang nyaman tapi harganya murah. Namun untuk menemukan hunian semacam itu seringkali membutuhkan usaha ekstra.
Jika Anda baru pertama kali mengontrak rumah, mungkin Anda dibingungkan mencari jenis kontrakan yang tepat. Seperti kita ketahui, ada beberapa jenis kontrakan yang lumrah dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Ada yang berupa rumah kontrakan petak, paviliun, atau satu rumah yang berisikan beberapa kamar tidur.
Rumah kontrakan petak seringkali dijumpai di kawasan padat penduduk yang dekat ke pusat perkantoran, pabrik industri, atau pusat perdagangan. Karena itu, mayoritas penghuninya adalah para karyawan atau pekerja lajang maupun yang sudah berkeluarga.
Umumnya jenis kontrakan ini dibangun berderet. Satu rumah kontrakan petak berbentuk rumah tapak sederhana yang rata-rata berukuran 4m x 5m atau 20 meter persegi. Di dalamnya terdapat satu kamar tidur, satu ruang tamu, satu ruang dapur, dan satu kamar mandi.
Sementara paviliun merupakan rumah kecil yang dibangun bersanding dengan rumah utama. Ada beberapa tujuan mengapa orang membangun paviliun dekat rumah utama mereka. Ada yang membangun paviliun untuk memisahkan area publik dan area privat. Ada pula yang membangun paviliun untuk tujuan bisnis/investasi.
Tren kontrakan paviliun mulai meningkat belakangan ini terutama di kota-kota besar. Hal inilah yang mendorong semakin banyak orang yang memanfaatkan lahan kosong dekat rumahnya untuk dibangun paviliun untuk kemudian disewakan. Secara fisik, kebanyakan kontrakan paviliun dibangun dengan karakteristik yang tak jauh berbeda dengan kontakan petak.
Jika Anda berkeluarga dan memiliki beberapa anak, idealnya mencari kontrakan satu rumah dengan beberapa kamar tidur. Terutama jika Anda memiliki kendaraan roda empat. Biasanya kontrakan satu rumah memiliki garasi atau setidaknya carport untuk tempat penyimpanan mobil atau motor yang lebih aman.
Terlepas dari jenis kontrakan yang Anda inginkan, baiknya tentukan dahulu harga, lokasi, dan kebutuhan Anda. Dengan begitu, Anda bisa lebih mudah menemukan kontrakan rumah yang nyaman tapi tidak memberatkan keuangan. Selain itu, ada beberapa hal lain yang juga perlu menjadi pertimbangan ketika mencari kontrakan rumah.
Biaya sewa yang terjangkau
Biaya sewa tentu menjadi pertimbangan penting ketika mencari hunian sewa. Carilah rumah kontrakan dengan harga sewa yang masih terbilang wajar sehingga tidak memakan porsi terlalu banyak dari pendapatan Anda. Prioritaskan untuk mencari rumah kontrakan dengan satu harga, setidaknya sudah termasuk biaya listrik dan air supaya lebih hemat.
Lamanya masa sewa juga hendaknya dipertimbangan dengan baik. Jika Anda berencana menetap untuk waktu yang lama, menyewa rumah kontrakan dengan sistem pembayaran tahunan biasanya lebih murah. Tetapi Anda harus menyiapkan dana yang besar dalam satu waktu, dan tidak bisa pindah sesuka hati jika tidak betah.
Sementara jika Anda memilih rumah kontrakan dengan sistem pembayaran per bulan, Anda tidak perlu menyiapkan dana yang besar dalam satu waktu karena biaya sewanya lebih rendah. Tapi jika dikalkulasikan per tahunnya, biaya sewa yang dikeluarkan ketika menyewa rumah kontrakan rumah bulanan biasanya lebih mahal. Di lain sisi, keuntungannya Anda menjadi lebih fleksibel untuk pindah ketika tidak betah tinggal di rumah kontrakan tersebut.
Lokasi yang strategis
Jika Anda mencari hunian sementara karena bekerja di luar kota, idealnya carilah rumah kontrakan yang lokasinya dekat dengan tempat kerja Anda. Terutama jika Anda setiap harinya beraktivitas di kota besar yang sering terjadi kemacetan di jalan.
Selain itu, pertimbangkan pula untuk mencari rumah kontrakan yang memudahkan Anda dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti penjual makanan, minimarket, ATM, pasar, dan klinik kesehatan. Jika Anda menemuka rumah kontrakan yang lebih murah tapi lokasinya agak jauh dari tempat kerja, setidaknya pastikan lokasinya mudah dijangkau transportasi umum.
Fasilitas memenuhi kebutuhan
Untuk mendapatkan rumah kontrakan yang nyaman mendekati kriteria idaman, jangan malas untuk melakukan survei ke beberapa tempat. Sebelum pencarian rumah kontrakan dimulai, pastikan Anda memiliki daftar beberapa rumah kontrakan incaran.
Dengan begitu, Anda bisa membandingkan antara satu rumah kontrakan dengan lainnya. Pasalnya, rumah kontrakan yang paling diincar mungkin pada kenyataannya memiliki kekurangan pada beberapa aspek. Jika Anda memiliki beberapa alternatif lain, Anda tidak akan bingung lagi jika ternyata rumah yang diincar tidak sesuai harapan setelah disurvei secara langsung.
Pilihlah kontrakan rumah yang menawarkan harga sewa terbaik dan fasilitasnya memenuhi kebutuhan Anda. Saat pindah ke rumah kontrakan, pasti ada banyak barang pribadi yang dibawa, apalagi jika Anda sudah berkeluarga.
Karenanya, pastikan rumah kontrakan yang akan disewa memiliki ruang yang cukup untuk menampung barang-barang Anda. Apakah jumlah kamarnya cukup untuk semua penghuni yang akan menempati rumah tersebut? Selain itu, pastikan juga apakah ventilasinya baik? Apakah cahaya alami masuk secara maksimal? Apakah kamar mandinya dalam keadaan terawat dan airnya lancar?
Fisik bangunan yang layak huni
Tentunya akan lebih nyaman jika menempati rumah kontrakan yang kondisi bangunannya masih baru. Tapi rata-rata biaya sewanya lebih mahal. Tak harus baru, yang terpenting adalah fisik bangunan masih layak huni. Periksalah secara menyeluruh kondisi fisik rumah yang hendak disewa guna memastikan tidak ada kerusakan yang berpotensi membahayakan penghuni.
Periksa kondisi dinding dan lantai apakah masih kokoh atau perlu ada perbaikan. Apakah ada bagian atap yang bocor? Dan hal lainnya. Jika menurut Anda ada yang perlu diperbaiki, mintalah pemilik rumah untuk memperbaiknya. Jika pemilik enggan, diskusikan baik-baik untuk mencari solusinya bersama. Atau cari alternatif rumah lain dengan kondisi bangunan yang lebih baik.
Lingkungan yang kondusif
Sebelum setuju untuk menyewa suatu rumah kontrakan, pastikan Anda telah bertanya kepada pemilik rumah dan warga sekitar mengenai keamanan lingkungan sekitar. Tidak rawan pencurian, tawuran, atau perilaku kriminal lainnya. Selain itu, hindari rumah kontrakan di lingkungan yang kumuh.
Meski harganya jauh lebih murah, tapi rumah kontrakan di lingkungan yang kumuh lebih besar kemungkinannya memiliki sanitasi yang buruk. Hal ini bisa berpengaruh kurang baik terhadap kesehatan dan kualitas hidup secara keseluruhan. Dan jika Anda tidak suka kebisingan, hindari rumah kontrakan yang lokasinya dekat pasar, sekolah, atau jalan besar.
Bebas banjir
Kota-kota besar setiap tahunnya tak lepas dari ancaman banjir kala musim penghujan. Karena itu, aspek banjir hendaknya tidak terlewat dari pertimbangan. Ketika Anda sudah menemukan rumah kontrakan yang cocok, penting pula mencari informasi apakah lingkungan di sana rawan banjir atau tidak.
Anda bisa bertanya teman, keluarga, atau mencari berita di media cetak maupun situs-situs internet. Bahkan pemerintah juga sekarang ini sudah menyediakan beberapa situs online yang menyediakan peta rawan banjir. Khususnya untuk daerah-daerah di kota besar.
Selain itu, penting pula untuk memeriksa secara langsung sistem drainase dan manajemen sampah di lingkungan sekitar rumah kontrakan yang akan disewa. Tentu lebih baik lagi jika di sana masih terdapat lahan hijau yang cukup luas yang difungsingkan sebagai area hijau terbuka guna memaksimalkan resapan air.
Pepatah Mengatakan: Bekerja Keras Memberi Kita Harta Berlimpah? Benarkah? Ini Faktanya!
Kesuksesan itu datang pada orang yang berjuang. Karenanya, orang-orang bekerja keras hingga rela pergi pagi pulang malam demi memiliki banyak materi. Tapi apakah kerja keras selalu menjamin memberi kita harta berlimpah?
Tak bisa dipungkiri, kesuksesan yang diraih oleh orang-orang sukses yang memiliki harta berlimpah tak lepas dari kerja keras yang mereka lakukan. Meskipun tak sedikit dari mereka yang bukan lulusan pendidikan tinggi atau bahkan sekolahnya saja hanya sampai sekolah menengah atau bahkan sekolah dasar.
Tapi pada kenyataannya, kerja keras tak selalu menjami seseorang akan memperoleh kemerdekaan finansial yang didambakan. Buktinya dalam kehidupan sehari-hari, kita mudah menjumpai orang-orang yang bekerja siang malam tapi kondisi ekonominya tetap pas-pasan. Penghasilan yang diperoleh pada akhirnya habis dan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja.
Ya, ada banyak faktor yang membuat seseorang tak kunjung kaya walau sudah bekerja keras. Diantaranya beberapa faktor berikut ini:
Standar gaya hidup yang terlalu tinggi
Seiring bertambahnya penghasilan, standar gaya hidup juga meningkat. Sayangnya, banyak orang terlalu meninggikan standar gaya hidupnya karena terpengaruh oleh orang-orang sekitar. Akhirnya, dari waktu ke waktu, Anda tumbuh menjadi pribadi yang terlalu konsumtif. Mendahulukan gaya, tapi aset atau tabungan saja tidak punya. Bagaimana mungkin Anda bisa jadi kaya jika berpedoman pada gaya hidup seperti itu?
Terjebak dalam rat race cycle
Orang-orang cenderung berfokus mencari pekerjaan dengan gaji yang besar. Terkadang tak masalah jika pekerjaan tersebut tak sesuai dengan latar belakang pendidikan dan passion. Yang terpenting adalah bayarannya yang besar sehingga bisa memenuhi segala keinginan yang selama ini diimpikan.
Karena pola pemikiran seperti itu, akhirnya pekerjaan yang dilakukan hanya sesuai standar operasioanl tanpa ada keinginan untuk mengembangkan nilai dari pekerjaan yang dilakoni. Jika sudah begini, tak heran jika banyak orang terjebak dalam rat race cycle, di mana Anda bekerja, mendapatkan gaji, membayar tagihan dan cicilan, belanja berbagai barang untuk memenuhi tuntutan gaya hidup, tidak ada tabungan, dan menjelang akhir bulan berhutang.
Tidak menabung apalagi berinvestasi
Setelah menerima gaji, kebanyakan orang cenderung agresif untuk belanja dan hiburan karena merasa berhak untuk memanfaatkan hasil jerih payahnya sesuka hati. Ya, Anda memegang hak sepenuhnya atas uang dari hasil kerja sendiri. Namun Anda juga hendaknya berpikir tentang masa depan.
Baiknya, 10-15% porsi pendapatan ditabung di awal bulan. Selain itu, mulailah berinvestasi. Coba pikirkan kembali apakah barang-barang yang dibeli itu sifatnya mendesak dan begitu bermanfaat. Apakah benar-benar kebutuhan bukan keinginan semata? Coba bayangkan jika uang itu dialokasikan untuk berinvestasi. Seperti emas, saham, atau reksadana. Bukankah uang Anda bisa berkembang untuk bekal masa depan?
Kesalahan umum yang sering dilakukan orang berpenghasilan besar yang tak kunjung kaya adalah tidak berinvestasi. Investasi tak lepas dari risiko, namun dapat mendatangkan keuntungan yang menggiurkan jika Anda mau belajar caranya.
Para orang kaya tidak menghabiskan hartanya hanya untuk hura-hura. Tapi mereka juga mengembangkan uang mereka di berbagai instrumen investasi untuk menambah pendapatan. Keuntungan dari investasi tersebut kemudian diinvestasikan lagi. Sehingga sekalipun tidur, mereka tetap bisa menghasilkan uang.
Tidak visioner
Selain kerja keras, para orang kaya juga cenderung memiliki pola pikir yang visioner. Mereka berpikir maju ke dapan, dan memiliki target dalam kehidupan yang harus dicapai. Alih-alih terjebak dalam rat race cycle, mereka berpikir bagaimana caranya bekerja secara cerdas.
Pengusaha sekaligus motivator Robert T Kiyosaki menekankan bukan pada seberapa banyak uang yang dapat kita hasilkan, tapi berapa banyak uang yang dapat kita simpan. Anda dan teman Anda mungkin sama-sama bekerja keras. Tapi jangan terkejut jika suatu saat Anda menyadari teman Anda ternyata lebih kaya. Hal ini karena teman Anda menerapkan satu atau beberapa hal yang tidak Anda terapkan.
Pesimistis
Sifat pesimis juga kerap penghambat bagi seseorang menjadi kaya walau sudah bekerja keras. Pasalnya sikap ini menunjukkan Anda tidak yakin terhadap kemampuan diri sendiri sehingga tak ada keinginan yang kuat dalam diri karena takut gagal sebelum mencoba atau belajar hal-hal baru. Pada akhirnya, Anda lebih memilih tetap di zona nyaman dan peluang yang ada seringkali diabaikan bukannya dimanfaatkan.
5 Masalah yang Sering Dihadapi Para Eksekutif Muda Ketika Bekerja di Negeri Orang
Pada dasarnya, banyak masalah yang mesti dihadapi ketika bekerja. Apalagi jika Anda bekerja di negeri orang. Mulai dari perbedaan bahasa, perbedaan budaya, bahkan hingga perbedaan pola hidup dapat membuat suasana kerja menjadi tidak nyaman hingga akhirnya nekat kembali pulang ke kampung halaman. Untuk mencegah hal seperti itu, sebaiknya Anda mencari tahu tantangan atau masalah yang akan dihadapi ketika bekerja di luar negeri.
Dengan begitu, tentu Anda jadi lebih paham bagaimana cara mengatasinya, betul? Langsung saja, berikut ini 5 masalah yang sering dihadapi orang-orang ketika bekerja di luar negeri:
Perbedaan bahasa
Anda mungkin sudah belajar bahasa Inggris sejak lama dan dapat skor TOEFL yang bagus di kampus. Namun hal tersebut belumlah cukup untuk mengamankan posisi Anda sebagai eksekutif muda saat bekerja di luar negeri. Seringkali orang yang baru pertama kali bekerja di luar negeri merasa tidak betah karena terkendala bahasa.
Terutama jika Anda bekerja di perusahaan yang sehari-harinya tidak banyak menggunakan bahasa Inggris, melainkan bahasa nasional dari negara tersebut.
Ada banyak situasi di mana muncul kesalahpahaman dan ketidakmengertian. Misalnya, atasan atau rekan kerja Anda sudah menjabarkan dengan panjang lebar mengenai suatu proyek, namun Anda tidak mampu memahami apa yang dikatakannya. Apalagi pada saat presentasi kerja, batasan bahasa ini dapat menjadi penghalang bagi Anda untuk menunjukkan kualitas di depan atasan dan rekan-rekan kerja.
Namun jangan khawatir, jika Anda baru pertama kali menginjakan kaki di negeri orang dan orang-orang kantor juga mengetahui hal tersebut, pasti orang-orang kantor juga akan maklum. Lama kelamaan Anda pun akan belajar bagaimana caranya berkomunikasi dengan rekan kerja yang notabene berbicara dengan bahasa lokal. Kuncinya asal Anda sabar dan menikmati prosesnya.
Sulit beradaptasi
Bukan yang paling kuat atau yang paling pintar yang bisa memenangkan peperangan, melainkan yang mampu beradaptasi dengan baik. Hal itu juga berlaku ketika Anda bekerja di luar negeri. Tantangannya juga mungkin lebih sulit, karena banyak hal yang sangat berbeda, baik dari segi bahasa, etos kerja, hukum, gender, kepercayaan, dan lain-lain.
Jika Anda kerja di negeri orang, khususnya di Eropa, maka Anda tidak akan menemukan lagi sekat-sekat antara karyawan pria dan wanita. Tak hanya itu, atmosfir kerja di luar negeri, sangat berpatokan pada kompetisi dan kedisiplinan. Jadi “segokil” apapun Anda di ruang kerja, jika Anda sangat disiplin dan sangat cerdas, maka hal tersebut bukanlah suatu masalah.
Agar Anda bisa beradaptasi dengan baik, sebaiknya lebih sering sharing dengan rekan kerja. Jangan pernah malu untuk bertanya ke rekan kerja atau tetangga dekat tempat tinggal jika ada hal-hal yang tidak dimengerti.
Banyaknya orang yang tidak peduli
Jangan pernah membayangkan orang-orang yang ada di kantor akan langsung menyambut Anda, seakan-akan Anda adalah mahluk yang spesial. Yang terjadi mungkin sebaliknya, mereka bahkan tidak begitu menaruh perhatian memperkenalkan diri karena sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
Kebanyakan orang di luar negeri, khususnya di Eropa atau Amerika, punya karakteristik cuek dan tidak permisif. Jadi jangan pernah samakan kebiasaan orang-orang Indonesia yang memang permisif dengan orang-orang di luar negeri.
Tipsnya, sebisa mungkin jangan biarkan kesan “anak baru” menempel pada diri Anda. Jika tidak diperlukan, mungkin baiknya Anda jangan memperkenalkan diri, apalagi membicarakan siapa Anda dan darimana Anda berasal.
Gaji tidak sesuai ekspekstasi
Terkadang mereka yang bekerja di luar negeri kecewa karena gaji yang diterima ternyata tidak sesuai ekspekstasi. Bukan karena jumlahnya yang kurang, tapi ternyata gaji mereka habis untuk biaya hidup. Tak banyak yang tersisa setelah dipakai untuk menyewa hunian sementara dan makan sehari-hari.
Ya, seringkali banyak orang tertarik untuk bekerja di luar negeri dengan alasan gajinya yang lebih besar. Tapi faktanya belum tentu bekerja di luar negeri membuat Anda lebih merdeka secara finansial.
Yang terjadi mungkin sebetulnya sama saja dengan bekerja ketika bekerja di Indonesia. Mungkin gaji yang ditawarkan berkali-kali lipat dari standar gaji di Indonesia, tapi kita perlu melihat kembali seperti apa kondisi ekonomi dan standar biaya hidup di negara yang akan kita datangi.
Merasa terisolasi
Jauh dari keluarga dan teman sejawat selama kerja di luar negeri tentu menjadi tantangan yang sangat berat. Apalagi pada masa-masa awal. Anda mesti mencari orang-orang baru agar mau berteman dengan Anda. Karena perbedaan bahasa dan budaya, akhirnya Anda sadar betapa sulitnya menjalin hubungan di negeri orang. Jadi, sebaiknya Anda memperbanyak komunikasi dengan keluarga dan teman di kampung halaman, dan selalu minta dukungan dan doa dari mereka.
Nah itulah 5 masalah yang sering dihadapi ketika bekerja di negeri orang. Jangan khawatir, masalah-masalah yang Anda hadapi saat kerja di luar negeri justru yang akan membesarkan dan mendewasakan Anda. Dengan catatan, Anda harus bisa menikmati proses adaptasi. Jadi baiknya sebelum berangkat untuk bekerja ke luar negeri, siapkan mental sebaik mungkin untuk menghadapi masalah-masalah tersebut.
Apakah Anak Perempuan Anda Harus Kos Demi Kuliah? Baca Tips Kos Aman Bagi Perempuan Berikut Ini
Kebanyakan orangtua tidak terlalu khawatir jika anaknya yang laki-laki harus kos demi kuliah. Namun beda cerita jika anak perempuan. Jika tak ada saudara yang bisa “dititipi,” pasti ada kekhawatiran dan kecemasan tersendiri ketika orangtua terpaksa melepas anak perempuannya untuk kos demi kuliah. Apalagi anak semata wayang. Pasti banyak pemikiran negatif yang menghampiri benak orangtua.
Karena itu, ada baiknya para orangtua juga turun langsung untuk mencari tempat kos yang aman bagi anak perempuannya. Untuk para orangtua, mari simak beberapa tips dalam mencari tempat kos yang aman bagi anak perempuan berikut ini:
Tentukan lokasi yang tepat
Beda dengan laki-laki, Anda mesti lebih selektif dalam menentukan lokasi yang tepat untuk kos anak perempuan Anda. Baiknya memilih tempat kos khusus perempuan. Ini penting, karena lifestyle di lingkungan kampus biasanya terlalu bebas. Dengan tinggal di kos khusus perempuan, Anda bisa sedikit bernapas lega. Pasalnya, tempat kos khusus perempuan biasanya memiliki aturan-aturan yang lebih ketat ketimbang kos campur.
Kos yang berdekatan dengan kampus harganya memang agak mahal. Namun, jarak ke kampus menjadi lebih dekat sehingga tak keluar banyak biaya untuk transportasi sehari-hari. Jadi jika dosen tidak datang atau ada aktifitas di sore harinya, anak Anda bisa pulang dulu ke tempat kos. Kos yang jauh dengan kampus memang lebih murah, namun kurang efisien dan efektif.
Bukan cuma soal jarak, kos dekat kampus juga memudahkan para mahasiswa memenuhi kebutuhannya. Lumrahnya kos-kosan sekitar kampus dekat dengan para penjual makanan, tempat fotokopi, minimarket, jasa laundry kiloan, hingga titik kumpul tranportasi massal seperti pangkalan ojek dan angkutan umum.
Mencari sejak jauh-jauh hari
Hindari mencari kos seminggu atau bahkan beberapa hari sebelum perkuliahan dimulai, pastinya akan penuh! Apalagi jika Anda mencari kos khusus perempuan yang lokasinya strategis dan fasilitasnya lengkap. Putri Anda bukan satu-satunya calon mahasiswa yang juga membutuhkan tempat kos demi kuliah.
Jadi begitu hasil seleksi masuk universitas diumumkan dan putri Anda dinyatakan lulus, baiknya Anda langsung mencari info tentang tempat-tempat kos dekat kampus putri Anda. Sekarang ini pun mencari info kos menjadi lebih mudah berkat internet. Cukup buka aplikasi atau situs listing properti, lalu buatlah tempat kos mana saja yang kira-kira cocok untuk putri Anda.
Cek kelengkapan fasilitas
Setelah membuat daftar kos incaran, hubungi pemilik/pengelola kosan untuk memperoleh informasi lebih lanjut. Anda juga bisa sekalian menanyakan soal kelengkapan fasilitas di sana. Kos yang ideal tentunya sudah tersedia tempat tidur, lemari pakaian, dan kamar mandi yang terawat. Selain itu, Anda juga mesti memperhatikan apakah biaya sewa kos tersebut sudah termasuk listrik dan air.
Demi kenyamanan anak perempuan Anda, pertimbangkan untuk mencari kos yang sudah menyediakan fasilitas tambahan seperti Wi-Fi, air minum, dapur, tempat cuci dan jemuran yang memadai, dan tempat parkir terutama jika anak Anda akan membawa kendaraan.
Pastikan keamanan tempat kos
Tindakan pencurian kendaraan bermotor cukup sering terjadi di rumah-rumah kos. Selain itu jika kosan sedang kosong, maling bisa saja menggondol barang-barang yang ada di dalam kos. Penjahat seringkali menyasar korban perempuan, jadi faktor keamanan ini mesti menjadi utama Anda saat memilih tempat kos untuk putri Anda. Tempat kos yang aman setidaknya dipagar besi yang tinggi dan ada satpam atau orang yang dipekerjakan sebagai penjaga keamanan. Jika ada CCTV, tentu itu lebih baik.
Survei beberapa tempat dan banding harga
Jangan sampai terburu-buru dengan langsung setuju pada satu tempat. Baiknya setiap tempat yang Anda catat disurvei secara langsung. Cek apakah kos dengan harga yang ditawarkan itu sesuai dengan fasilitas, sistem keamanan, dan kestrategisan lokasinya. Dengan begitu, Anda bisa membandingkan antara satu tempat kos dengan tempat kos lainnya dari segi harga, lokasi, maupun fasilitasnya.
Kos-kosan mahasiswa yang dekat kampus banyak yang disewakan secara tahunan. Jika memungkinkan, lebih baik mencari tempat kos yang disewakan secara bulanan. Atau setidaknya dengan sistem pembayaran per 3 bulan.
Mengapa? Jadi selama 3 bulan itu, anak perempuan Anda bisa menilai apakah tempat kosan tersebut nyaman ditinggali atau tidak. Jika layak, maka Anda bisa memperpanjangnya dengan sistem pembayaran tahunan supaya lebih murah.
Berusaha akrab dengan pemilik kos
Dengan turun langsung mencari kos yang aman dan nyaman untuk putri Anda, berarti Anda juga bisa tahu karakter pemilik atau penanggung jawab kos. Tentu Anda akan merasa lega pemilik kos itu orang yang ramah sehingga Anda bisa memintanya untuk memantau kondisi putri Anda selama kuliah. Namun mencari pemilik yang seperti itu juga tak selalu mudah.
Jika Anda telah menemukan kos yang tepat, jangan ragu untuk memberi nomor telepon Anda ke pemilik atau penanggung jawab. Perlahan bangunlah komunikasi yang baik supaya terjalin hubungan yang lebih akrab. Dengan begitu, Anda tak akan segan untuk memintanya turut mengawasi putri Anda.
Tips Tahan Banting di Pekerjaan Pertama, Fresh Graduate Harus Tahu
Rasa bahagia muncul saat mendapatkan panggilan kerja. Apalagi untuk kali pertama. Tetapi di awal-awal masa bekerja, semua ekspektasi hilang. Atasan kerap memberikan tumpukan tugas, rekan-rekan kerja kurang ramah, dan seringkali pulang saat hari mulai gelap hingga tak punya waktu untuk bersenang-senang. Rasa-rasanya ingin mengundurkan diri saja dan mencari pekerjaan lain. Ya, itulah yang seringkali dialami para fresh graduate di tempat kerja pertamanya.
Ibarat kertas putih, fresh graduate belum memiliki pengalaman kerja apa pun. Berbagai teori yang dipelajari semasa sekolah masih menempel di otak, dan mungkin tak pernah dipraktekan. Biasanya ketika menerima panggilan kerja, fresh graduate dengan senang hati menerimanya. Karena kaget dengan berbagai hal baru, tak jarang mereka tanpa berpikir panjang langsung resign dalam beberapa bulan saja karena merasa tidak mampu menahan berbagai tekanan dari atasan maupun rekan kerja.
Tapi apakah pekerjaan lain akan lebih baik? Belum tentu! Pasti ada momen-momen sulit yang harus kita lewati di mana pun kita bekerja. Kita dituntut untuk survive. Nah berikut beberapa tips tahan banting di pekerjaan pertama, fresh graduate harus tahu!
Adaptasi yang benar
Kamu mungkin pernah membaca kutipan “bukan yang terkuat atau yang terpintar yang bisa bertahan, tapi yang paling bisa beradaptasi.” Ya, fresh graduate hanya bisa bertahan jika mampu beradaptasi dengan lingkungan tempat kerjanya. Namun fresh graduate mesti mengetahui apa saja yang mesti dilakukan ketika mencoba beradaptasi dengan lingkungan kantor. Beberapa tips adaptasi berikut ini mungkin bisa membantu kamu:
Tak kenal maka tak sayang, sebaiknya perkenalkan diri kamu pada orang-orang kantor. Namun jangan terlalu frontal, lakukan dengan santai dan pada momen-momen yang tepat.
Jangan ragu untuk mengajak rekan kerja untuk makan siang bersama.
Temukan rekan kerja yang juga baru bergabung dengan perusahaan. Jangan ragu untuk mengobrol dan berbagi soal hari-hari pertama bekerja.
Pastikan kamu selalu katakan “iya” atau ‘siap” pada ajakan teman sekantor. Misalnya, rekan kerja mengirim pesan di WhatsApp “ke kantin yuk?.” Inilah kesempatan kamu untuk lebih mengenal rekan-rekan kerjamu.
Semakin kamu mengenali rekan-rekan sekantor, maka semakin mudah kamu beradaptasi dengan lingkungan kantor. Begitupun dengan orang-orang kantor, pasti akan lebih menerima kamu pula. Dengan begitu, kamu pun perlahan akan merasa lebih nyaman dan lebih bisa menikmati pekerjaan.
Ketahui apa yang kamu kerjakan
Cukup banyak kasus keluarnya fresh graduate di perusahaan yaitu karena “gagal paham” dengan tugas kantor. Akhirnya karena sering dimarahi atasan, fresh graduate akhirnya tak tahan mental dan akhirnya memilih mengundurkan diri. Itulah mengapa sebelum kamu mengirim surat lamaran kerja, sebaiknya posisi dan job desk apa yang harus kamu kerjakan secara terperinci.
Misalnya kamu melamar kerja sebagai accounting manager, maka kamu mesti tahu tugas-tugas apa saja yang berkenaan dengan accounting manager. Ada baiknya kamu mencari pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan.
Sayangnya, kebanyakan fresh graduate tidak terlalu peduli dengan job desk, yang penting bagi mereka yaitu mereka diterima kerja! Inilah mindset yang pada akhirnya membuat fresh graduate sering mengalami tekanan terlalu berlebih di tempat kerja pertamanya.
Cobalah berkolaborasi
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan fresh graduate yaitu hanya fokus pada diri sendiri sehingga enggan berkolaborasi. Perusahaan merupakan sekumpulan orang yang berusaha mencapai tujuan yang sama. Jadi kamu harus berkolaborasi dengan rekan-rekan sekantor agar mendapatkan tempat yang bagus di perusahaan. Presentasikan perkembangan proyek yang sedang kamu kerjakan pada atasan secara rutin dan jangan lupa minta nasihat atasan agar kamu bisa bekerja lebih baik lagi.
Hati-hati pada presentasi pertama
Jika kamu bekerja sebagai staf kantor, maka kamu harus siap-siap untuk presentasi. Public speaking biasanya menjadi hal yang mencemaskan bagi fresh graduate karena belum terbiasa berbicara di depan banyak orang, apalagai dalam konteks pekerjaan. Agar presentasi pertamamu lancar, sebaiknya cek beberapa tips berikut ini:
Kamu harus bisa membedakan antara presentasi didepan banyak orang dan beberapa orang saja. Selain itu, kamu juga harus mengenali siapa pendengar presentasi kamu, apakah sekumpulan atasan atau rekan sekerja?
Banyak latihan terlebih dahulu di rumah.
Jika kamu sangat grogi sebelum presentasi, kamu bisa meminta saran dan tips dari senior supaya bisa melakukan presentasi dengan lancar.
Nah itulah beberapa tips tahan banting di pekerjaan pertama. Memang akan banyak hambatan yang akan dialami para fresh graduate saat memasuki dunia kerja profesional. Dengan beberapa tips di atas, diharapkan para fresh graduate dapat menjalani masa-masa awal di tempat kerja dengan lebih baik, terjauhkan dari bayangan untuk mengundurkan diri.
5 Pembelajaran Berharga yang Didapatkan Saat Merantau
Pindah ke kota lain untuk merantau bukan hanya soal pindah lokasi. Banyak hal yang akan berubah, baik itu kebiasaan, pemikiran, bahkan perasaan. Intinya, banyak hal yang bisa kita pelajari saat merantau. Bagi kamu yang masih ragu untuk merantau, baik untuk tujuan pekerjaan atau sekolah, coba renungkan maksud dari kutipan berikut ini “life begins at the end of your comfort zone.”
Ya, zona nyaman merupakan satu hal yang membuat kita enggan untuk merantau. Padahal, satu-satunya cara agar kita bisa berubah yaitu harus berani keluar dari zona nyaman itu. Jika kamu punya harapan untuk kualitas hidup yang lebih baik lagi, maka merantaulah!
Berikut ini adalah beberapa pembelajaran berharga yang didapatkan saat merantau:
Lebih mandiri
Setelah keluar dari zona nyaman, di perantauan kamu akan belajar caranya untuk survive. Dengan kata lain, tidak lagi bergantung pada orang lain. Jika kamu belajar caranya survive tanpa bantuan orang lain, kamu bisa bertahan dalam kondisi apapun!
Di rumah, kamu bisa mendapatkan apapun yang kamu butuhkan dengan mudah. Mau makan, tinggal ambil di dapur. Mau tidur, tinggal pergi ke kamar. Baju bersih tinggal pakai tanpa harus repot mencuci dan menyetrikanya sendiri. Namun di perantauan, kamu akan menemukan bahwa hal-hal sepele tersebut menjadi sulit untuk didapatkan. Dari situlah, kamu belajar caranya mengatasi berbagai hal dengan usaha sendiri.
Tak hanya itu, kamu pun jadi terbiasa dengan situasi dan lokasi yang baru. Selama 1 hingga 2 bulan di perantauan, perasaanmu masih campur aduk. Merasa tidak cocok dengan lingkungan dan bahkan rasanya ingin pulang saja ke kampung halaman. Namun jika kamu bisa bertahan selama 3 bulan ke atas, percayalah kamu akan terbiasa hidup mandiri.
Lebih percaya diri
Di perantauan, satu hal yang harus kamu forsir yaitu kemampuan komunikasi! Kamu akan sering bertemu orang-orang baru, misalnya ibu kos, tetangga kos, orang-orang di supermarket, kolega kantor, dan lain-lain. Kamu jadi lebih percaya diri karena selalu berhadapan dengan situasi yang asing. Pada awalnya kamu mungkin canggung untuk berinteraksi dengan orang-orang baru. Tapi lama-lama pada akhirnya jadi terbiasa karena kamu dituntut untuk bisa berinteraksi dengan orang sekitar jika ingin bisa beradaptasi lebih cepat.
Apalagi jika kamu merantau ke luar negeri, tak ada seorangpun yang bicara dengan bahasa yang biasa kamu gunakan. Tentu, kamu mesti membiasakan diri bicara dengan bahasa baru, sekaligus mempelajari kebiasaan orang-orang dengan latar belakang budaya yang sama sekali baru. Ketika pulang nanti, kamu menjadi pribadi yang lebih percaya diri, tidak lagi canggung menghadapi berbagai situasi dalam kehidupan.
Memperluas Jaringan
Di era yang semakin kompetitif seperti sekarang, satu hal yang bisa kamu manfaatkan yaitu jaringan yang luas! Jika kamu kerja atau sekolah di kampung halaman, kamu hanya bertemu dengan orang-orang itu saja, dan biasanya dengan latar belakang yang sama pula.
Beda cerita jika kamu merantau, kamu akan bertemu dengan orang-orang baru dengan latar belakang yang berbeda-beda. Orang-orang baru ini biasanya sangat friendly dan tidak segan-segan untuk berbagai mengenai banyak hal, baik itu pekerjaan, budaya, bahkan keluarga. Selain cara pandang menjadi lebih luas, dengan merantau, kamu juga secara tidak langsung menjadi belajar caranya memahami orang lain.
Lebih bebas
Di perantauan, kamu memang mesti melakukan segala hal sendirian, namun tanpa tekanan orang lain. Beda cerita jika kamu masih tinggal di kampung halaman, banyak omongan-omongan yang bisa membebani kamu. Misalnya orang tua yang terus menasihati soal masa depanmu, atau tetangga yang terus bertanya “kapan nikah?.”
Di perantauan, kamu jadi lebih bebas dan tidak lagi mendengar celotehan-celotehan orang lain. Tak hanya itu, kamu juga bisa pergi ke tempat-tempat baru yang membuat pikiranmu lebih segar. Intinya, kamu menjadi tidak gampang bosan dan mampu menjalani hidup lebih santai.
Tapi penting untuk diingat jangan sampai kebebasan saat merantau disalahgunakan untuk hal-hal negatif. Seperti mencoba narkoba, dugem, dan sebagainya. Tetap harus ada kontrol diri, dan ingatlah bukankah tujuan awal dari merantau untuk meningkatkan kualitas supaya lebih baik?
Lebih mencintai kampung halaman
Ketika merantau, kamu akan merasa ada yang hilang yaitu hal-hal yang berbau kampung halaman. Selama beberapa bulan di perantauan, kamu jadi sangat rindu hal-hal kecil seperti makanan rumah, obrolan dengan bahasa daerah, tempat-tempat yang biasa dikunjungi di kampung halaman, dan lainnya. Akhirnya kamu jadi lebih mencintai daerah asalmu, dan merasa bangga pernah hidup disana.
Nah itulah 5 pembelajaran berharga yang didapatkan saat merantau. Jadi jangan takut untuk merantau! Apalagi jika tujuannya untuk menempuh pendidikan atau pekerjaan.