الفضل للمبتدي و إن أحسن المقتدي
"Keutamaan bagi yang memulai langkah, Meski yang mengikuti memperindah jejak."

seen from United States
seen from Singapore
seen from China
seen from France
seen from Iceland
seen from Costa Rica
seen from Germany
seen from Netherlands
seen from United Kingdom

seen from United States

seen from Malaysia
seen from China
seen from United States

seen from Netherlands
seen from Uruguay
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Germany
seen from India

seen from Finland
الفضل للمبتدي و إن أحسن المقتدي
"Keutamaan bagi yang memulai langkah, Meski yang mengikuti memperindah jejak."
[SAWANG-SINAWANG]
"Urip iku sawang sinawang, mulo ojo mung nyawang sing kesawang."
adalah sebuah pepatah Jawa yang masyhur terdengar. Bukan hanya karena mengandung pesan dan nasihat yang mendalam, namun agaknya pepatah ini sangat relate dengan banyak keadaan sosial di masyarakat.
Masa bodoh dengan proses yang orang lain alami, terkadang manusia terlalu gemar menghakimi apa-apa yang nampak di depan mata.
Hal-hal baik dielu-elukan, padahal mereka tak pernah tau berapa banyak aib yang Allah sembunyikan.
Di sisi lain, mereka yang melakukan kesalahan terus dikorek sampai lupa bahwa diri ini sebenarnya juga berpotensi untuk melakukan kesalahan yang sama. Hanya saja masih Allah jaga.
Lagi, pepatah ini mengajarkan untuk fokus pada diri sendiri. Bukan dalam pemuasan ego hingga mengabaikan lingkungan sekitar, tapi dalam pengembangan dan peningkatan kualitas diri.
Mereka yang banyak menengok tak akan sampai. Mereka akan teralihkan dengan hal-hal non-primer dan mengabaikan skala prioritas. Sialnya, fase ini biasanya ditutup dengan membandingkan diri dengan orang lain. Sebuah paket lengkap untuk menciptakan perasaan insecure.
Yang menjadi highlight sebenarnya adalah, bahwa hal-hal yang tak terlihat belum tentu tidak ada.
Seperti pencapaian orang lain yang terlihat begitu menyilaukan, sudahkah kita menilik seberapa banyak keringat dan air mata yang harus mereka tukarkan?
Atau, iri dengan orang-orang yang terlihat begitu beruntung dalam segala hal. Yakinkah bahwa keberuntungan itu terjadi tanpa faktor? Taukah kita apa yang ia lakukan dalam senyap kesendiriannya?
Itulah mengapa kita butuh observasi sebelum menghukumi segala sesuatu. Tujuannya kembali lagi pada diri sendiri, agar kita lebih sadar bahwa sesungguhnya kita semua sama sebagai manusia.
Diberi waktu 24 jam perhari oleh Tuhan, makanan yang berasal dari bumi, menghirup oksigen yang cuma-cuma.
Agar kita kembali fokus untuk mengevaluasi dan melakukan perbaikan setelahnya. Bukan hanya fokus memandang apa yang nampak di depan mata. Tapi juga menelisik apa-apa yang tak terlihat.
Lagi, media untuk membaca bukan hanya buku dan segala tulisan yang tercetak. Namun juga keadaan, lingkungan, serta bagaimana hidup ini bekerja.
Believe that... 😇
malu bertanya so sad di jalan
Perusak akan memiliki segala cara untuk memisahkan. Namun Pemilik, harus mempunyai segala percaya untuk mempertahankan.
Berhenti merenungkan kembali masuk jauh ke masa lalu. Jika Alloh menyukai hambaNya maka hamba itu akan ditunjukkanNya sesuatu.
Langit tak pernah meminta Tanah untuk mengembalikan tiap tetes air hujan yang meresap dalam. Namun, Matahari bersama Angin berketetapan membawa air yang telah jatuh menuju tingginya susunan awan mendung untuk kembali pada Langit.
Diva Pramudhya
Kita semua sama-sama punya waktu 24 jam dalam sehari. Yang membedakan adalah cara mengantur waktu agar tidak terbuang sia-sia. Maka, cermatlah!
TIPUTalk