4. Nabi Nuh dan Kesempatan Kedua
"Dan jika Kami berikan kebahagiaan kepadanya setelah ditimpa bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata, "Telah hilang bencana itu dariku." Sesungguhnya dia (merasa) sangat gembira dan bangga," [QS. Hud (11): 10]
โโโโโโโโโโโโโโโโโโโโโโโโโโโโโโโ
Kemarin malam di Tadarus Camp aaplus kami membahas tentang Juz 12 yang diisi oleh banyak cerita Nabi dengan akhir yang berbeda-beda. Salah satu kisah yang mengembalikan ingatanku pada masa lampau adalah kisah Nabi Nuh.
Bagaimana tidak? Lima tahun lalu aku menjadi orang yang selamat dari tsunami anyer tanpa usaha yang berarti. Ketika teman-teman BEM lain kalang-kabut menyelamatkan diri, aku dengan beruntungnya masih terlelap di dalam vila tanpa terganggu sedikitpun. Betul, Allah mempersilahkanku tidur dengan nyenyak ketika tsunami tersebut terjadi. Tidur yang kuinisiasi karena aku sakit kepala tanpa sebab sejak siang hari.
Aku pun terbangun karena dibangunkan teman yang tanpa sadar berlari ke arah vila. Ah, Allah dengan seluruh rahmat-Nya! Betapa cantiknya Dia susun kisah ini. Aku orang yang beruntung di hari itu, tak dibiarkan-Nya aku menyaksikan dahsyat murka-Nya. Tak dibiarkan-Nya aku terombang-ambing diterjang air laut atau berlarian dari pesisir untuk menghindar.
Namun, lucunya, dibandingkan dengan penuh syukur, aku mengingat kejadian itu dengan penuh komedi. Betapa lalai dan meruginya aku!
Kini aku tersadar, "Ah, rupanya, ketika teman-teman lain diuji dengan trauma dari kejadian itu, aku diuji dengan kebersyukuranku." Aku diberi kesempatan kedua, tetapi sampai saat ini belum memanfaatkan kesempatan itu dengan baik. Aku tetap lupa dan lalai...
Tidak seperti Umar bin Khattab r.a. Ketika ia mengingat betapa Allah telah menyelamatkannya dari kesesatan, airmatanya langsung mengucur deras karena rasa syukur dan penyesalan.
Aku malu pada Allah dan beliau. Padahal, aku belum dijamin masuk surga. Namun, berani-beraninya aku lalai dan tidak bersyukur atas kejadian itu...













