why i choose the niqab
tl:dr my favourite thing about wearing niqab is the confidence it gives me to memorize quran in public.

seen from Canada
seen from Canada
seen from Canada

seen from Türkiye
seen from United States
seen from United States
seen from Taiwan

seen from Canada
seen from China
seen from Germany

seen from Canada
seen from United States

seen from India

seen from Singapore

seen from United States
seen from Sweden
seen from United States
seen from Russia
seen from United States
seen from United States
why i choose the niqab
tl:dr my favourite thing about wearing niqab is the confidence it gives me to memorize quran in public.
4. Nabi Nuh dan Kesempatan Kedua
"Dan jika Kami berikan kebahagiaan kepadanya setelah ditimpa bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata, "Telah hilang bencana itu dariku." Sesungguhnya dia (merasa) sangat gembira dan bangga," [QS. Hud (11): 10]
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Kemarin malam di Tadarus Camp aaplus kami membahas tentang Juz 12 yang diisi oleh banyak cerita Nabi dengan akhir yang berbeda-beda. Salah satu kisah yang mengembalikan ingatanku pada masa lampau adalah kisah Nabi Nuh.
Bagaimana tidak? Lima tahun lalu aku menjadi orang yang selamat dari tsunami anyer tanpa usaha yang berarti. Ketika teman-teman BEM lain kalang-kabut menyelamatkan diri, aku dengan beruntungnya masih terlelap di dalam vila tanpa terganggu sedikitpun. Betul, Allah mempersilahkanku tidur dengan nyenyak ketika tsunami tersebut terjadi. Tidur yang kuinisiasi karena aku sakit kepala tanpa sebab sejak siang hari.
Aku pun terbangun karena dibangunkan teman yang tanpa sadar berlari ke arah vila. Ah, Allah dengan seluruh rahmat-Nya! Betapa cantiknya Dia susun kisah ini. Aku orang yang beruntung di hari itu, tak dibiarkan-Nya aku menyaksikan dahsyat murka-Nya. Tak dibiarkan-Nya aku terombang-ambing diterjang air laut atau berlarian dari pesisir untuk menghindar.
Namun, lucunya, dibandingkan dengan penuh syukur, aku mengingat kejadian itu dengan penuh komedi. Betapa lalai dan meruginya aku!
Kini aku tersadar, "Ah, rupanya, ketika teman-teman lain diuji dengan trauma dari kejadian itu, aku diuji dengan kebersyukuranku." Aku diberi kesempatan kedua, tetapi sampai saat ini belum memanfaatkan kesempatan itu dengan baik. Aku tetap lupa dan lalai...
Tidak seperti Umar bin Khattab r.a. Ketika ia mengingat betapa Allah telah menyelamatkannya dari kesesatan, airmatanya langsung mengucur deras karena rasa syukur dan penyesalan.
Aku malu pada Allah dan beliau. Padahal, aku belum dijamin masuk surga. Namun, berani-beraninya aku lalai dan tidak bersyukur atas kejadian itu...
3. Stagnansi
"I think we have three seasons in our life; ups, downs, and stagnation." - Aida Azlin
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Banyak orang yang bilang bahwa hidup ini seperti roda yang berputar, ada naik dan ada turunnya. Tetapi, terkadang kita lupa bahwa ada fase di mana kita kurang lebih stagnan, tidak bisa dibilang turun, tetapi juga tidak bisa dibilang meningkat. Yah, begitu-begitu saja, begini-begini saja.
Untuk beberapa orang, fase ini menggelisahkan, terasa sangat tidak aman dan aneh. Salah satu dari orang itu adalah aku.
Tepat seminggu yang lalu, aku dilanda kumpulan perasaan itu. Kupikir karena... aku kurang curhat, mungkin? kurang menemukan hal yang baru, barangkali? atau... kurang banyak kegiatan?
Kurenungi dan kuuji semua hipotesis itu, tetapi nyatanya tidak kutemukan jawaban yang pas. Sampai pada malam selasa, aku mendadak tak bisa tidur. Kutemukan diriku merasa gelisah.
Kuputar Youtube agar aku bisa memikirkan hal yang sederhana (sebuah kebiasaan ketika aku ingin men"turn-off" otakku dari memikirkan hal yang berat), tetapi tetap saja nihil. Hari itu tidak seperti biasanya, aku tidak bisa menghindari perasaan negatif dengan memikirkan hal lain.
Kuputuskan untuk menangis meskipun tak jelas juga alasaanya, tetapi tak bisa. Ah, nampaknya memang aku harus memutar video comfortku, "The Letter to Frustated Believer" Aida Azlin. Ironisnya, video tersebut sudah diprivat. Aku gagal menemukan ketenangan itu.
Entah dari mana datangnya, tercetuslah untuk mengecek aaplus. Dan, Qadarullah, hari itu adalah hari terakhir pendaftarannya dibuka. Kulihat tabunganku. Tidak cukup rupanya...
Sesak dengan keadaan, aku putuskan keluar. Di sana, kutemukan ayahku masih terjaga. Dorangan untuk bercerita pun membuncah, sudah lama sekali aku tak berbicara hati ke hati dengan ayah.
Ayah dengan seluruh pertanyaannya membuat sesenggukan. Entahlah, di usia segini, malu meminta uang kepada ayah, apalagi ketika masalahnya adalah betapa gelisahnya aku. Namun, ayah tetap menolongku dan aku kini menjadi bagian dari aaplus.
Rupanya, jawaban dari pertanyaanku sederhana. Semuanya bukan tentang curhat, hal baru, atau sedikitnya kegiatanku. Tetapi, aku hanya kurang melibatkan Allah dalam setiap urusanku.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
"And the third is the season of stagnation, where you feel restless. In this season, there is something we need to take care of or reflected upon before Allah lets us enter the next season" - Aida Azlin
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Ah, mungkin aku kemarin memang berada pada fase stagnansi itu.
2. Sebuah Awal
"Ilmu itu bagaikan binatang buruan sedangkan pena adalah pengikatnya. Maka, ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat." - Imam Syafi'i
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Beberapa hari yang lalu, aku kembali mengikuti aaplus, sebuah support group untuk para muslimah dari seluruh dunia.
Sungguh menyenangkan! Di dalamnya aku bisa menjadi aku yang selalu kututupi dari banyak mata.
Yang ingin berteriak dan menangis karena cinta dan rindu yang merembes.
Yang malu berselimut ragu untuk mengungkapkan banyak hal tentang-Nya.
Ah, betapa indahnya saat kulihat mereka merasakan hal sama! Betapa bahagianya untuk tahu bahwa aku diterima.
Perasaan ini sedikit demi sedikit terus membuncah dan membuatku ingin membagikannya.
Oleh karena itu, kupersembahkan jamuan ini, untuk-Nya, serta aku dan orang terdekatku di masa sekarang dan di masa depan. Mari kita menyantap hidangan-hidangannya sampai puas!
1. Hidangan si "aku"
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (Qs. ar-Ra’d: 28)
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Ada beberapa pertanyaan yang sering muncul sekelibat tapi tak pernah kugubris. Kubiarkan saja ia lewat layaknya air. Padahal, jika aku tangkap dan aku masak, ia akan menjadi hidangan yang sedap untuk dinikmati.
Tetapi, hari ini aku putuskan untuk menangkap salah satu pertanyaan tersebut.
Bisa dibilang, waktu paling tenang seumur hidupku adalah ketika "aku" melakukan gap year di tahun 2017. Bahkan, ketika pertama kali memutuskan untuk rutin beribadah, hatiku tidak setenang pada masa itu.
Lucunya, aku bertemu lagi dengan masa gap year ini, dengan aku yang lebih dewasa dan berpengalaman. Namun, anehnya, "aku" tidak kunjung muncul.
"Ke mana kau pergi, wahai "aku"?"
Kurenungi dan kutemukan kata-kata Ustadzah Syifa (diriwayatkan oleh Silfa) merasuk:
"hati itu akan mencari sesuatu untuk mengisi dirinya, dan Allah adalah sebaik-baik isi hati"
Kutelusuri lagi "aku" itu, kuperhatikan gerak-geriknya. Ternyata memang benar, "aku" mengisi waktunya dengan senantiasa mengingat Allah.
Mengisi waktu kosongnya dengan istighfar yang lirih atau doa yang sendu, membiarkan isak tangisnya menjadi saksi usahanya mendekati Sang Maha Cinta.
Seperti makanan, ia tidak membiarkan bumbu kelalaian merusak citarasa persembahannya. Meski terihat remeh, ia tidak biarkan musik, komik, atau karsa-karsa yang kasar yang merusak tekstur hidangannya. Bahkan, ia banyak memasukkan bumbu yang langka, yang tidak semua orang dapat menyajikannya.
Ah, "aku" yang dulu memberikan persembahan terbaiknya.
Ramadhan reflections #1: Forgiveness
“I wept recognizing that no one was perfect, and that if we expected to be loved for all our imperfections, why are we so reluctant to accept and forgive the imperfections of others?”
Yasmin Ahmad
It gets easier now that I've learnt to forgive people right away, because I know how it feels to live in such guilt and the thought of not being forgiven tortures you almost everyday. It matters a lot for me to mend my relationship with people i may have wronged or hurt intentionally or unintentionally. For either way, human makes mistakes and we are not perfect. Who are we to decide who should and should not be forgiven when at the same time we don't even know if we will be forgiven by Allah swt?
And even after all the apologies we've made to the people we hurt before, if they choose not to forgive you, then we must forgive them anyway, for the apologies we never get. For then, we will continue to live our life blaming ourselves for everything we did, forgetting that sometimes, we just have to stop apologizing when we have done everything we can to make things right again. We did our best, so now it is up to them to forgive us.
At the end of the day, God is merciful. InsyAllah, He knows best what we know not. Perhaps maybe not today, perhaps in another time when we are a better person, whoever we have wronged will finally be able to forgive us. Keep on praying for Allah swt is the holder of the hearts, only Allah swt can change our state if we are really sincere. So forgive and forget for the sake of Allah (",)
Since today's tazkirah was about repentance, so i'd like to share a bit of what i remember in the tazkirah.
The Imam told us a story of a man who wanted to repent because he killed 99 men, he went to find the most knowledgeable men in town and found one. After hearing his intention to repent, the man said, he can never repent because he have killed 99 men, therefore Allah swt will never forgive him. Angered by his word, the man killed him right away. Remorse by it, he searched for a wiser man than him, who then told him that Allah swt is merciful therefore if he really wants to repent, he have to move from this town and go to another village because the place where he is staying are full of bad people so to avoid him from going back to his old habit, he should move to another place where there are more good people living in that village.
On his way to the village, the man passed away. And the Angels of Heaven & Hell came down to get his soul, torn between them of where he should be put in, Allah swt sends another Angel to help them decide by appearing as a human being. So, the Angel ask them to measure the length between where he died are closer to the village he is going to or closer to the town he was from. After measuring, the man died closer by one finger difference. And so by Allah swt mercy, the man goes to Heaven.
***
The conclusion is (from what the Imam said) is Allah swt are ever merciful towards those who wants to repent, the Greatness of Allah swt are beyond compare that He gives us so many chance and time to repent until The Hour (Judgement Day). Which means as long as the sun have not rise from the West, and our own final day where our life reaches our throat before the soul leaves their body. its never too late to repent. All we have to do is just ask The One Who Forgives, The Most Merciful, and The Most Compassionate, The King of the Kings.
It does not matter anymore what people will think of you, what matters is who you are to Allah swt. So don't let anything , anyone, or even yourself stop you from repenting and being a better person. InsyAllah (God willing) He will make it easier for you to overcome whatever hardship as you make hijrah to being a better person.
So if people do not forgive you, know that Allah swt forgives, perhaps they are just not ready to forgive you right now, but who knows one day they will? Just don't forget to forgive yourselves as well and not live your life blaming yourself for you have hurt enough, don't be too hard on yourself on the things you cannot change. Always remember that whatever happens, only Allah swt can change that. Let it go , focus on improving yourself, treat the people who comes afterwards or those who is already with you better, and do things only for the sake of Allah swt.
May what i share be beneficial for you as much as it was for me.
What is good comes from Allah swt, what is bad comes from my own weakness.
No amount of guilt can change the past, and no amount of worrying can change the future. Go easy on yourself, for the outcome of all affairs is determined by Allah’s decree.
Caliph Umar Al Khattab