Namanya Tina, kalau tidak salah ingat. Entah kenapa gampang lupa kalo berkaitan dengan nama.
Tina suka sekali bermain dan tertawa, rumahnya juga dipenuhi anak sebayanya. Seakan tak pernah sepi, rumah tersebut dipenuhi kasih dan kehangatan. Banyak orang menjadi berkunjung ke rumah itu. Menyapa anak-anak, tetapi pada akhirnya justru terbalik. Anak-anak itu membuat sukacita di wajah mereka yang murung. Saya salah satu dari mereka. Kenapa ya? Kenapa sih saya gak bisa santai sedikit, jadi orang normal yang sedikit-sedikit bahagia tapi juga sedikit-sedikit sedih patah hati.
Yaa mbuh-
Disitulah awal pertemuan saya dengan Tina. Saya sengaja melupakan dia berasal dari mana, yang jelas kita bersama waktu itu dan sangat bersyukur. Saat itu rumah benar-benar riuh dan penuh tawa. Tulusnya saya juga tidak merasakan seperti yang lain, jadi saya memutuskan untuk memetik-metik gitar saja. Tak lama Tina menghampiri saya, dengan rambut ikalnya, bertubuh kecil namun bersemangat.
"Kakak bisa main gitar?", tanyanya.
"Oh. enggak, cuma lagi bosen. Kamu bisa main?", balas saya dengan nada agak canggung.
Tina kemudian mengambil gitar yang ada di tangan saya.
"Bisa, kalau gak diliatin.", kata Tina
Dia lalu memunggungi saya dan memainkan 2 lagu Indonesia Tanah Air Beta dan How Great is Our God, saya hanya membantu bernyanyi sambil nyengir-nyengir sendiri di pojokan sama Tina.
Keep humble. Meskipun dekstop leptop tulisannya udah 'ojo dumeh', tapi bagi saya untuk tidak menunjukkan siapa kita masih sangat sulit. Keberadaan menjadi hal yang harus diakui. Tidak. Tina yang bahkan bisa cerdas memainkan lagu dengan petikan berulang, tidak ingin dilihat siapapun atau dia akan berhenti memainkannya.
"Kak, kapan-kapan main gitar lagi terus ajarin aku ya."