Senin 12 April 2012 saya melakukan perjalanan seorang diri ke Jogjakarta. Berangkat dari jakarta pada pukul 6 pagi dengan menggunakan Air Asia, saya sampai di Jogja tepat pukul 7 pagi. Suasana Bandara Adi Sutjipto Jogjakarta pagi hari itu cukup sibuk, akan tetapi saya belum memutuskan untuk kemana setelah menjejakkan kaki di kota gudeg ini. Sambil berpikir akan rencana perjalanan yang akan saya lakukan, saya duduk-duduk sembari minum kopi di salah satu cafe yang terdapat di bandara. Sambil duduk-duduk saya membuka galaxy tab saya dan melakukan browsing mengenai tempat menarik di kota jogja, terutama yang belum pernah saya kunjungi.
Akhirnya pilihan jatuh ke Istana Ratu Boko yang kebetulan letaknya tidak terlalu jauh dari tempat saya berada saat itu. Lalu segera saya berjalan menuju halte Trans Jogja yang berada di Bandara Adi Sutjipto. Setelah membeli tiket seharga Rp 3.000,- dan menunggu sejenak, datanglah bis Trans Jogja rute 1A menuju Prambanan. Sekitar 15 menit tibalah saya di terminal Prambanan, kemudian saya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Area candi Prambanan karena dari situlah saya berencana untuk berangkat menuju Istana Ratu Boko dengan menggunakan Shuttle Car yang disediakan disana. Setelah membeli tiket masuk Prambanan sekaligus Ratu Boko saya meluncur dengan kendaraan Elf menuju Istana Ratu Boko.
Kompleks Kraton Ratu Boko terletak 2Km arah selatan Candi Prambanan. Tepatnya di perbukitan, antara dusun Dawung dan Sambirejo yang membentang di Jl. Jogja – Piyungan. Mengunjungi situs ini akan lebih menyenangkan jika dilakukan pagi hari atau menjelang sore saat matahari tidak terlalu terik karena kawasan seluas 250.000 M2 ini merupakan area terbuka, berada di puncak bukit dengan ketinggian 196 m di atas permukaan laut.
Saat masuk ke kawasan situs ini, terlihat sebuah Gapura Keraton yang berdiri megah dan menyisakan sebuah keangkeran dari Keraton megah pada masa lalu. Setelah melewati gapura akan terdapat alun-alun yang luas dengan rumput yang menghijau.
Di sisi kiri dari alun-alun tersebut terdapat bangungan candi yang berbahan dasar batu putih sehingga disebut Candi Batu Putih. Tak jauh dari situ, akan ditemukan pula Candi Pembakaran. Candi itu berbentuk bujur sangkar (26 meter x 26 meter) dan memiliki 2 teras. Sesuai namanya candi ini digunakan untuk upacara pembakaran jenasah. Selain kedua candi itu, sebuah batu berumpak dan kolam akan ditemui kemudian bila anda berjalan kurang lebih 10 meter dari Candi Pembakaran.
Berjalan ke arah Barat, terdapat bekas kompleks keraton yaitu Paseban dan Batur Pendopo. Halaman paling depan terletak di sebelah barat, terdiri atas tiga teras. Masing-masing teras dipisahkan oleh pagar batu andesit setinggi 3,50 meter, dan tebing teras diperkuat dengan susunan batu andesit. Batas halaman sebelah selatan juga berupa pagar dari batu andesit, namun batas utara merupakan dinding bukit yang dipahat langsung. Dari arah Pendopo terlihat dengan jelas daerah pemandian atau keputren. Di sana masih terdapat sisa-sisa kolam yang dulunya diperkirakan tempat pemandian para putri raja.
Setelah puas dan lelah menyusuri misteri Istana Ratu Boko, saya kembali turun ke areal pintu masuk dimana disana terdapat restoran dan tempat beristirahat dengan pemandangan indah dan menarik. Dari sini kita dapat melihat Candi Prambanan dan desa-desa sekitar dari kejuahan dengan latar belakang kemegahan gunung Merapi, sungguh suatu keindahan alam yang tiada duanya.