A Black Toy
Based on "A Black Toy" by OLDCODEX.
Semuanya berawal seperti permainan yang sudah sering ia mainkan.
Vexerys Brennan, akrab disapa Vex, memiliki reputasi kuat di kampusnya. Sosok karismatik dengan wajah tampan yang tak sulit mencuri perhatian, terutama dari para wanita. Ia tak pernah mengejar. Ia hanya menunggu, membiarkan pesonanya menarik mereka masuk ke dalam radar.
Dan saat mereka cukup dekat, ia akan menjebak mereka. Entah hanya untuk one-night stand atau sekadar godaan singkat yang tak berbekas.
Julukan playboy melekat padanya. Reputasinya dipenuhi bisik-bisik kampus: pria tampan yang kabarnya sudah meniduri separuh populasi wanita di kampus. Vex tak pernah membantah atau membenarkan. Ia hanya membiarkan rumor itu hidup dengan sendirinya.
Rumor dan gosip tentang dirinya jadi bahan pembicaraan setiap kali ia berjalan menyusuri kampus. Pria maupun wanita, semuanya membicarakannya dikala ia melangkah.
Tapi hanya satu yang menurutnya tidak biasa.
Nanette Sevenna.
Wanita dari Fakultas Manajemen Bisnis, berparas cantik dan tubuh menggoda. Teman-teman memanggilnya Nane. Beberapa menyebutnya princess, meski ia jarang menoleh saat dipanggil begitu.
Tentu saja, kehadiran Nanette selalu mencuri perhatian. Penampilannya sederhana namun memikat—membuat banyak pria, termasuk Vex, tak bisa tak melirik. Ada sesuatu dalam cara ia membawa dirinya—anggun tanpa dibuat-buat, seksi tanpa usaha.
Vex merasa yakin bisa menarik perhatiannya. Apalagi saat hari pertama semester baru, ia sempat menangkap sorot mata wanita itu dari seberang meja. Tatapan singkat, tapi cukup untuk membuatnya percaya diri.
Baginya, mendapatkan wanita sepertinya bukan hal sulit. Ia pikir pesonanya sudah cukup terekam jelas dalam kedua mata hitam yang tajam itu.
Dengan penuh keyakinan, Vex melangkah mendekat dan duduk di sebelah wanita itu, tengah membaca buku, ditemani alunan musik dari headset yang menempel di telinganya.
Perempuan itu melepaskan headsetnya, dan mengalihkan padangannya ke pria yang duduk disampingnya.
"Kamu memang suka sendirian ya? Atau memang hari ini spesial aja?" ujar Vex, sambil menebar senyum andalannya.
Nanette menatapnya, datar dan bosan "Udah ngomongnya?"
Vex terdiam, sedikit terkejut. Ia biasa membuat wanita terpesona, bukan diserang dengan ketus seperti ini.
"Aku tahu kenapa kamu duduk disini. Aku tahu reputasimu. Dan aku bukan kertas yang bisa dibuang kapan saja setelah digunakan. Mending kalau mau nyari sampah, cari orang lain yang lebih bodoh dariku"
Vex mengerjapkan matanya.
Dan Nanette kembali menggunakan headsetnya, kembali pada bukunya.
Vex akhirnya bangkit dari tempat duduknya. Bukan dengan rasa kecewa, tapi dengan senyum kecil yang terukir di wajahnya—bukan senyum kemenangan, melainkan tantangan. Bukannya mundur, justru penolakan itu membuatnya semakin tertarik.
Hari-hari pun berlalu. Vex kembali mencoba, dengan rayuan halus, candaan ringan, apa pun yang bisa membuatnya menoleh. Tapi yang ia terima hanyalah penolakan yang konsisten dan tak terbantahkan. Wanita itu tak pernah memberi celah. Sikapnya jelas, ia tidak tertarik.
Bahkan, tak jarang Vex rela menyebrangi fakultas hanya untuk mencari tahu di mana kelas Nanette berada, lalu diam-diam menunggu hingga Nanette keluar.
Namun keberadaannya tetap tak dianggap. Seolah-olah ia tak pernah ada.
Vex pun sering dibuat bingung olehnya. Tapi anehnya, justru itu yang membuatnya terus mencoba. Lagi dan lagi.
Entah sejak kapan, penolakan itu perlahan berubah menjadi percakapan yang hangat. Tatapan tajam yang dulu menolak kini melembut. Balasan dingin berganti menjadi obrolan singkat yang diam-diam berarti.
Mereka mulai saling bertukar cerita. Dari buku baru yang akan terbit minggu depan, tentang album musik yang sedang tren, hingga keluhan ringan soal dosen yang terlalu banyak memberi tugas.
Dari percakapan itu, Vex tau kalau Nanette ternyata lebih muda setahun darinya. Ia pun mulai menyadari bahwa Nanette bukanlah wanita polos atau mudah diperdaya. Tatapannya tajam, caranya menilai seseorang begitu cepat dan tepat. Ia tahu persis siapa yang pantas didekati dan siapa yang sebaiknya dijaga jarak.
Hingga rumor tentang dirinya terdengar secara tidak sengaja, bersumber dari teman sebangku dibelakangnya.
"Kamu tahu tidak kalau Nanette Sevenna dari jurusan Manajemen Bisnis itu ternyata escort?"
Awalnya Vex menganggapnya hanya gosip murahan, isu liar yang sering muncul di lingkungan kampus. Tapi keraguan mulai tumbuh saat, di suatu malam, ia melihat Nanette berjalan bersama seorang pria dewasa. Gaun hitam yang membalut tubuhnya menonjolkan pesonanya secara elegan, namun jelas—itu bukan penampilan untuk sekadar makan malam biasa.
Harusnya hal tersebut membuatnya mundur. Tapi entah kenapa, itu membuatnya lebih berhati-hati dan memutar otaknya untuk membuat wanita tersebut jatuh hati kepadanya. Nanette bukanlah teka-teki untuk dipecahkan. Nanette adalah sebuah dinding berlapis baja.
Dan Vex siap untuk meruntuhkannya.
Suatu malam, Vex melihat Nanette dalam keadaan mabuk, sementara seorang pria asing mulai bertingkah seenaknya padanya. Tanpa pikir panjang, Vex melangkah cepat, menghampiri mereka.
Satu pukulan keras mendarat pada pria itu sebelum ia sempat berbuat lebih jauh. Lalu, tanpa berkata banyak, Vex menarik tangan Nanette dan membawanya pergi dari kekacauan itu.
"Apasih, aku bisa balik sendiri!"
"Apaan, jalan aja oleng"
Vex menggandeng Nanette menuju tempat motornya terparkir. "Di mana rumahmu? Biar aku antar," tanyanya, setengah khawatir.
Namun alih-alih jawaban, yang ia terima justru sebuah kecupan singkat yang mendarat di bibirnya—hangat, mengejutkan, dan tak terduga.
Vex membeku sejenak, terdiam dalam keterpanaan, tak mampu berkata apa-apa.
Dalam ciuman singkat itu, Vex merasakan pahitnya whiskey, manisnya lipstik, dan asin air mata yang belum sempat jatuh. Meski hanya sekejap, sensasi ciuman tersebut membekas dalam memorinya.
Bahkan dalam perjalanan mengantar Nanette pulang, Vex tidak dapat berhenti memikirkannya.
"Terima kasih sudah nganterin" ujar Nanette, ketika sampai di depan gedung kosan.
"Yakin bisa masuk kosan ga tumbang?" ujar Vex, dengan nada tidak yakin. Dilihatnya gedung dua lantai tersebut dengan pandangan takjub. Wanita macam Nanette tinggal di kosan saja tidak terpikirkan olehnya.
"Kamarku lantai satu kok" ujar Nanette.
Keduanya terdiam, membiarkan keheningan menyelimuti mereka. Tak ada kata, hanya tatapan yang menggantung di antara udara malam yang lembab.
Hingga akhirnya, Vex mendekat perlahan dan menarik Nanette ke dalam pelukannya, mencium wanita itu dengan hasrat yang tak lagi bisa ia bendung.
---
Sejak malam itu, mereka tak pernah menyebutnya sebagai kencan. Tak ada pengakuan cinta, tak ada janji manis yang terucap di antara ciuman pertama maupun kedua mereka.
Mereka hanya menganggap kalau hal itu biasa. Hanya sebuah kesenangan semata.
Mereka menyebut hubungan mereka dengan "FWB". Friend with benefits. Hanya hadir dikala butuh, dan menghilang ketika fajar tiba.
Tapi Vex diam-diam membenci istilah itu.
Kedengarannya ringan, tanpa beban. Namun bagi Vex, itu terasa seperti kebohongan. Karena setiap kali Nanette meninggalkannya di hotel pukul tiga pagi tanpa sepatah kata pun, dalam hatinya juga mendadak terasa ada yang hilang. Dan setiap kali ia melihat Nanette tertawa dengan pria lain, atau menggandeng lelaki kaya di malam hari, rahangnya mengeras, dan tangannya mengepal tanpa sadar.
Vex mencoba bersikap tenang akan hubungan mereka saat ini, begitu juga dengan Nanette.
Tanpa menyadari keduanya adalah sesama pembohong handal.
Memasuki tahun ketiganya di kampus, Vex akhirnya menemukan pijakan yang stabil—pekerjaan tetap sebagai freelance bodyguard. Bayarannya lumayan, cukup untuk memperbaiki kondisi hidupnya, membayar biaya kuliah, bahkan sesekali mentraktir Nanette makan.
Hidupnya mulai terasa ringan. Ia mulai mencicipi rasa kemapanan. Meskipun, di sisi lain, kesibukan itu membuat kuliahnya terbengkalai. Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk mengambil cuti.
Kabar tentang menghilangnya Vex dari kampus pun menjadi bahan pembicaraan di kalangan para wanita dikampus. Berbagai spekulasi bermunculan, ada yang bilang ia menjadi simpanan seseorang, ada pula yang menuduhnya menjadi gigolo demi uang.
Hanya Nanette yang tahu sebagian kebenarannya. Dan ia memilih diam, membiarkan rumor itu lewat tanpa dibantah. Meskipun dalam hati, ia pun tak benar-benar tahu alasan Vex memilih untuk hiatus dari kuliah.
Hingga suatu malam, Nanette melihat Vex tengah berbicara dengan seorang wanita di depan restoran, ketika Nanette keluar dari restoran tersebut. Wanita itu tak sendiri—di sampingnya berdiri seorang pria paruh baya, berpenampilan mapan dan berwibawa.
Namun suasana pertemuan itu jauh dari damai. Nada bicara Vex meninggi, penuh emosi. Kata-katanya tajam, suaranya terdengar nyaris murka. Nanette yang menyaksikan dari kejauhan, memilih menjauh perlahan. Ia tahu Vex sedang tidak dalam keadaan stabil, dan ia enggan menjadi saksi atas amarah yang ia sendiri tak mengerti alasannya.
Namun ketika Vex kembali ke tempat motornya terparkir, langkahnya terhenti. Di sana, duduk diam di atas motornya, adalah Nanette.
Tanpa sepatah kata pun, tanpa pertanyaan, Vex mendekat dan langsung memeluknya. Erat. Seolah mencoba menenangkan badai yang hanya ia sendiri yang tahu.
Nanette tak bertanya, tak menolak. Ia membiarkan Vex memeluknya dalam diam. Membiarkannya melepaskan beban yang tak pernah ia bagi pada siapa pun, sampai napasnya perlahan kembali tenang.
Sejak hari itu, Vex menghilang tanpa jejak. Tak ada pesan, tak ada telepon. Chat-nya dibiarkan centang dua tanpa balasan. Voice mail pun tak pernah didengar.
Tak ada ajakan makan malam tiba-tiba. Tak ada pesan singkat di tengah malam. Tak ada panggilan penuh hasrat seperti biasanya.
Vex benar-benar lenyap, seperti hantu yang menguap di udara. Dan selama satu bulan penuh, Nanette hanya bisa menunggu dalam diam.
Hingga suatu malam, Nanette menemukan Vex duduk santai di salah satu sudut bar, dikelilingi beberapa wanita yang tertawa riang di sekelilingnya. Wajahnya tampak bahagia, seolah dunia baik-baik saja.
Ia menghamburkan uang dengan mudah, memesan botol demi botol bir yang bahkan tak mampu membuatnya mabuk. Semua itu tampak berlebihan—nyaris seperti upaya pelarian yang terlalu keras untuk terlihat menyenangkan.
"Oh, jadi itu alasanmu menghilang sebulan? Untuk bersenang-senang dengan perempuan seperti biasa??" ujar Nanette, berdiri tegak di depan meja tempat Vex duduk.
Vex menoleh pelan, menatapnya dengan tatapan datar.
"Kenapa? Kamu cemburu?"
Nanette menyilangkan tangan di dada, mencoba terlihat tenang.
"Engga kok, buat apa juga" jawabnya ringan, meski dalam hatinya ada sesak yang tak bisa ia tolak ketika melihatnya merangkul wanita-wanita itu.
Vex menyandarkan punggung ke kursi, lalu mengangkat gelas birnya.
"Yah, lagian mereka cuma wanita bayaran. Kayak kamu, Nanette. Dibayar untuk menghiburku dikala aku butuh, dan membuangnya ketika aku tidak membutuhkannya"
Nanette terdiam sejenak, membiarkan kalimat itu menggantung di udara.
Anehnya, tak ada yang salah dalam ucapannya, karena itu memang kenyataan. Tapi entah mengapa, ketika kata-kata itu keluar dari mulut Vex, rasanya berbeda. Lebih tajam. Lebih menusuk. Seolah bukan hanya mengungkap fakta, tapi juga merobek sesuatu yang selama ini ia coba jaga rapat-rapat.
Vex menyesap birnya perlahan, lalu melirik Nanette. Dan di saat itu juga ia tersadar. Sorot mata wanita itu tak lagi tajam, melainkan terluka.
Dengan cepat, ia bangkit dari kursinya dan meraih tangan Nanette yang sudah bersiap pergi.
"Nane, maaf—"
"Untuk apa?" balas Nanette pelan, namun tegas. "Kan kau mengatakan sebuah realita"
"Kalimatku menyakitimu…" ujar Vex, dengan sedikit menyesal.
"Kalimatmu tidak menyakiti kok" ujar Nanette. "Kamu sudah membuktikan kalau kamu itu masih seorang pecundang"
Vex melepaskan tangan Nanette dan membiarkannya pergi.
Dan kali ini Nanette mengatakan hal yang sesuai dengan kenyataannya saat ini.
---
1 bulan yang lalu
"Ini siapa mah?" ujar Vex, melihat ibunya membawa seorang pria mapan berdiri dibelakangnya.
"Dia calon suamiku yang baru. Aku mau kamu datang ke pernihakanku besok ya?" wanita didepannya memberikan undangan pada Vex. Dirinya melihat undangan tersebut.
"Besok? Pernikahan?"
Wanita tua itu terdiam. "Vexerys… mama bisa jelaskan…"
"JELASIN APA?" ujar Vex murka. "Mengajakku keluar, lalu meninggalkanku sendirian, 16 tahun yang lalu? APALAGI YANG HARUS DIJELASKAN?"
Sang ibu didepannya terdiam.
"DATANG-DATANG BAWA ORANG ASING? MAMA LUPA SAMA PAPA?"
Seketika Vex membanting undangan tersebut, lalu beranjak pergi.
"Aku ga akan datang, membalas kelakuanmu saat meninggalkanku di dermaga dulu"
---
Dari kejauhan, Vex menatap acara pernikahan yang berlangsung di dermaga. Ia duduk di sebuah kafe yang letaknya agak terpencil, cukup jauh untuk tak terlihat, tapi cukup dekat untuk menyaksikan segalanya.
Pemandangan dermaga itu tak pernah berubah. Laut masih membentang dengan cantik, jembatan kayu yang mengelilinginya tetap utuh, dan suara ombak yang pecah di bawahnya masih sama—menenangkan, sekaligus menyakitkan.
Di sanalah, ia merasakan yang namanya sakit hati. Tempat yang membekas sebagai saksi bisu, ketika ibunya meninggalkannya enam belas tahun lalu, dan tak pernah kembali.
Ia masih mengingatnya dengan jelas, hari ketika ibunya menggandeng tangannya, mengajaknya berjalan di dermaga, tak lama setelah kematian sang ayah.
Dan ia juga ingat, mungkin lebih jelas dari apa pun, bagaimana tangan itu melepaskannya. Bagaimana ibunya pergi, meninggalkannya sendirian di tengah suara ombak dan angin laut. Di tempat itu, Vex belajar bahwa kehilangan bisa terjadi kapan saja, dan dimana saja. Cepat atau lambat, orang-orang akan meninggalkannya.
Vex menyesapi lattenya, sembari sesekali melirik ke arah jendela, memperhatikan pernikahan itu terlaksana dengan indah dan penuh dengan kebahagiaan.
Tapi bagi Vex, tak ada yang indah dari semua itu. Yang ia rasakan hanyalah sayatan tajam yang menghujam dadanya setiap kali tawa dan kebahagiaan dari kejauhan itu terdengar.
Meski begitu, ia tetap di sana. Tidak beranjak. Seolah tubuhnya terpaku oleh luka yang belum sembuh.
Hingga akhirnya, ponselnya bergetar. Seseorang menghubunginya.
---
Malam itu, segalanya terungkap. Vex menyadari betapa besar arti Nanette dalam hidupnya. Bagaimana kehadirannya selalu ada, meski dalam diam. Bagaimana Nanette melihat dirinya lebih dari sekadar reputasi, bagaimana Nanette meladeninya, memperhatikannya, dan peduli dengan caranya sendiri yang tak selalu mudah dibaca.
Dan Vex pun sadar, bahwa dirinya pun peduli. Lebih dari yang ia kira. Terlepas dari pekerjaan Nanette yang berisiko dan penuh bahaya, rasa itu tetap ada. Nyata, dalam, dan tak bisa lagi ia abaikan.
Ia sudah lelah hidup dalam kebohongan, termasuk pada dirinya sendiri. Malam itu, ia memilih untuk jujur. Untuk mengatakan semuanya, tanpa menahan sedikit pun.
Tak peduli jika Nanette akan menolak. Tak peduli jika ia harus terlihat rapuh.
Karena jauh di lubuk hatinya, Vex tahu kalau Nanette pun menyimpan perasaan yang sama. Ia bisa melihatnya dari cara wanita itu bereaksi; bagaimana kata-kata kasarnya yang dulu tak digubris, kini justru melukai. Bagaimana, dalam diam, Nanette kerap bergantung padanya.
Nanette hanya perlu sedikit dorongan. Sedikit keberanian untuk mengakuinya. Dan Vex siap menjadi orang yang mendorongnya ke arah itu.
"Dengerin ya, bangsat" ujar Vex. "Aku tuh cinta sama kamu, aku khawatirin kamu setiap kali kerja"
Setelah pernyataan yang panjang dari Vex itu, reaksi Nanette yang memeluknya mendadak membuatnya terdiam.
Dan malam itu berakhir dengan kecupan lembut. Bukan kecupan karena nafsu, atau kebutuhan semata, tapi murni dari perasaan tulus yang mereka pendam.
"Sekarang kamu milikku"
Dan kalimat tersebut mendapat tawa kecil dari Nanette.











