Sebab, takdir Alloh selalu baik!
The Bowery Presents
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
Hole
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Show & Tell
ojovivo
★
d e v o n

roma★

bliss lane
No title available
𓃗
taylor price
NASA
KIROKAZE
No title available
One Nice Bug Per Day

Kiana Khansmith

gracie abrams
Noah Kahan

seen from Türkiye
seen from United States

seen from United States

seen from Canada
seen from France
seen from Singapore
seen from United States
seen from Malaysia
seen from Türkiye

seen from Italy
seen from United States
seen from Mexico

seen from Taiwan

seen from Türkiye

seen from Türkiye
seen from Czechia
seen from Portugal
seen from Iraq
seen from Iraq
seen from China
@vidyapuspa-blog
Sebab, takdir Alloh selalu baik!
Am i a phubber?
Tukang phubbing, itukah aku?
Saya mencari tau sesuatu yang mengusik hati saya dan ternyata menemukan istilah baru -bagi saya-, tempo waktu. Mungkin kata ini sudah akrab bagi sebagian kita, mungkin juga belum, tapi ada kemungkinannya tanpa sadar kita sudah atau bahkan sering melakukannya.
Phubbing, ia kependekan dari phone and snubbing. Menyakiti hati lawan bicara karena tidak nyaman jika meninggalkan smartphonenya. Ia diajak bicara tapi wajah dan mungkin juga pikirannya sama sekali tidak mengarah pada lawan bicara. Dimana adab ?
"Apa artinya 'ilmu tanpa adab. Adab yang luntur, kian mengikis iman. (Adab yang melunturkan iman atau iman yang melunturkan adab?)"
Acapkali saya tanpa sengaja melakukan hal demikian, juga mengalami ataupun mendapatinya, kadang saya tak sungkan menasihati, jika kondisinya memungkinkan.
Kawan, ini adab.
Mari hargai lawan bicaramu, dengan menatap santun wajahnya saat ia mengajak bicara. Minta izinlah sejenak untuk berpaling, jika memang ada keperluan yang perlu diselesaikan dengan smartphonemu.
Bukankah suri tauladan kita mengajarkan perilaku santun seperti demikian?
Beliau sholallohu 'alayhi wa sallam selalu memalingkan seluruh badannya ketika ada yang memanggil dirinya, tidak pernah hanya memalingkan wajahnya ataupun hanya sebagian badannnya.
Robbighfirlii...
Masjid Ulul Albaab (MUA)
Tiba2 jadi kangen berat sama MUA. Sejadi2nya. MUA, tempat menghela napas, sejenak berteduh dari kepenatan, tempat mencari ketenangan di tengah kesibukan, tempat berkumpul, melingkar, menyatukan iman yang berserak.
Yaa begitulah, dengan kesederhanaannya yang dipadukan dengan kualitas orang2 di dalamnya, menjadikannya terkesan sempurna.
210617
The First; Al-Fahmu
Kira-kira kenapa ya al fahmu dijadikan yang pertama. Sebegitu pentingnya (?) Ternyata, memang pada akhirnya gak bisa kita hanya mengandalkan semangat yang tinggi dalam berjuang. Butuh pemahaman yang utuh, juga kematangan emosi. Agar baik solusi yang kita kerjakan dalam menghadapi masalah. Punya guru, kita ambil 'ilmunya, selagi masih ada.
Semoga rendah hati menjadi sahabat sejati, ya, duhai diri.
Jangan lupa, Alloh, dulu, kini, dan nanti.
Yaa Tuhanku, Tambahkanlah 'ilmu kepadaku. [20:114]
Alloh Mahabaik
Jangan sombong. Mahabaik Alloh Yang Menutupi Aib-aib Kita.
Jangan sungkan klarifikasi/menasihati saudara seiman jikalau dilihatnya kekhilafan -menasihati semata2 karena Alloh, bukan dengan niat untuk menjatuhkan-.
"Dalam dekapan ukhuwah, kita mengambil cinta dari langit lalu menebarkannya di bumi. Sungguh di surga, menara-menara cahaya menjulang untuk hati yang salig mencinta. Mari membangunnya dari sini, dalam dekapan ukhuwah. Jadilah ia persaudaraan kita : sebening prasangka, sepeka nurani, sehangat semangat, senikmat berbagi, dan sekokoh janji." Ustaz Salim A. Fillah
Giyan dan RPTRA
Malam hari kala itu, di lampu merah jalan bilangan Rawamangun, terdengar kalimat tanya dari seorang pengendara,
"Pak, giyan dimana ya,Pak?". Keheranan, dibalas, "Jayen (Giant) maksudnya?"."Iya...". Mendengar itu tak sengaja saya refleks tertawa kecil, lalu Alloh sadarkan, istighfar saya dibuatNya. Bisa2nya saya menertawakan orang lain. Jadi teringat dulu juga pernah mengalami hal serupa..
"Pak, maaf numpang tanya R.P.T.R.A dmn ya,Pak?" (Sulit menyebutnya krn panjang). "Erpatra maksudnya?"."Engg... Iya,Pak."(Betapa kudetnya kala itu)....
Gak perlu menertawakan kesalahan orang lain. Atas keunikan yang dilakukannya. Bisa jadi, Ia mengampuninya karena ketidaktahuannya, tapi mengadzab kita karena kesombongan kita.
Wallohu a’lam bishshowab
Indah di luar, dalamnya (?)
Sudah tau kalau salah satu jenis bentuk obat ada yang namanya kaplet? Kaplet tidak sama dengan kapsul ataupun tablet.
Kalau saya sendiri, Baru ngeh dengan yang namanya kaplet. Hehehe. Maapkeun. Setelah satu hari ini mengonsumsi obat yg tertera tulisan 'kaplet' di bungkusnya. "Kok bentuknya kayak tablet? Kirain kaplet=kapsul?" Setelah saya telusuri di mesin pencari, ternyataaa kaplet adalah salah satu dari bentuk obat dan ia kependekan dari kapsul-tablet, disebutkan bahwa kaplet ialah bentuk tablet yang dibungkus dengan lapisan gula dan biasanya diberi zat warna menarik. Ah. How sweet it's!
“You’re isolated”
Pernah merasakan diisolasi? Dari lingkungan atau pergaulan mungkin (?)
Syukur kalau belum pernah merasakan demikian. Tetap bersyukur dan bersabar… kalau ternyata Alloh pernah atau berkehendak mengisolasi diri kita dari lingkungan karena satu atau lain sebab, mungkin itu ujian untuk meninggikan kualitas iman atau mungkin juga 'iqob (hukuman) yang sifatnya mengingatkan, yang sejatinya hukuman di dunia belum ada apa-apanya dibandingkan dengan hukuman Alloh di akhiroh.
Pernah terbayang pedihnya hati Ka'ab bin Malik rodhiyallohu 'anhu dan dua orang kawannya karena diisolasi (dikucilkan) dari lingkungan lantaran lalai akan perintah Alloh? Rosululloh shollallahu 'alayhi wa sallam melarang kaum Muslimin bercakap-cakap dengan mereka bertiga, sebagai orang yang tidak turut serta berangkat ke medan Perang Tabuk. Semua orang menjauhkan diri dan berubah sikap sehingga Ka'ab merasa sendiri, merasa seolah-olah bumi yang diinjaki bukan bumi yang dikenal. Bumi yang se-demikian luas mendadak terasa sangat sempit. Keadaan tersebut dialaminya selama lima puluh hari. Lima puluh hari... Ka'ab tetap keluar untuk sholat berjama'ah seperti biasanya. Terbayang bagaimana pilu hatinya ketika terucap salam kepada Rosululloh, tapi tak berbalas (Menjawab salam orang yang patut dikucilkan adalah tidak wajib -Ibnul Qoyyim). Sapaan pandangan Rosululluh, tapi kemudian beliau memalingkan wajahnya.
Pakai jam tangan mahal, tapi tak pernah tepat waktu. Jangan lihat orang lain, lihat diri kita.
“Pakai jam tangan mahal, tapi gak pernah tepat waktu. Jangan lihat orang lain, lihat diri kita."
Ah,Begitu mengenanya nasihat ini. Jam tangan saya gak mahal, tapi sangat berarti, ada perasaan yang kurang saat pernah kelupaan pakai jam tangan saat beraktivitas. Pernah sampai2 bersikeras mencari 'pinjaman' jam tangan, gak tanggung-tanggung saya pernah sampai cari 'pinjaman' arloji di kotak "Barang Temuan" di Masjid Kampus, Masjid Kampus, iya Masjid Ulul Albaab! It's shameful, Hehe...Alloh.
Ada berapa forum syuro’, kajian, kelas, majelis2 'ilmu lainnya yang memulai agendanya secara tepat waktu sesuai aturan? Ada berapa dari forum2 tsb yang kita hadiri secara awal waktu sesuai undangan/arahan? Ada berapa dari forum2 tersebut yang tidak dimulai tepat waktu karena bersebab kita?Jangan2 'amalan utama yang kan dihisab pertama kali kelak pun enggan untuk segera dikerjakan tepat waktu tatkala Ia sudah memanggil.Alloh, ampun....
Untuk hal yang sifatnya mendekatkan kepada-Mu saja, masih lalai. Untuk kepentingan hajat banyak orang pun, masih lalai. Seolah merasa, saya lah yang dibutuhkan ummat ini. Seolah merasa, saya lah yang paling sibuk di antara kalian semua. Lupa bahwa kebaikan2 yang dilakukan ataupun direncanakan, sesungguhnya itu hak-hak dari saudara kita yang lain. Alloh...
Air Mata Rindu (Surat Tertulis dari Seorang Sahabat)
Di suatu malam
Diri ini duduk termenung
Entah mengapa kurasa ada yang aneh di pikiranku
Pikiran yang mengisyaratkan hati yang kuat
Entah apa yg ada di dalam benak ini
Teringat selalu wajah seseorang yg meneduhkan hati
Wajah yg selalu mengingatkan diri ini pada Sang Pencipta
Untukmu -saudariku- Pemimpin Kami
“.... bawalah bekal, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa.....” (TQS Al-Baqoroh : 197)
“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh berbuat yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (TQS Ali ‘Imron : 104)
Baarokallaah.... (semoga Alloh memberkahi)
Perjalanan ini mutlak butuh pemimpin. Pemimpin yang kita butuhkan ialah mereka yang kita anggap memiliki kelebihan dalam permasalahan yang sangat dibutuhkan dalam menempuh perjalanan ini. Dalam perjalanan ini, pemimpin ialah mereka yang memiliki keistimewaan dalam akhlaq, ukhuwwah, idaariyah (manajemen), dan wawasan ‘ilmunya.
“Hendaknya suatu perjalanan dipimpin oleh orang yang paling baik akhlaqnya, paling lembut dengan teman-temannya, paling mudah terketuk hatinya, dan paling mungkin dimintakan persetujuannya untuk urusan penting. Seorang pemimpin dibutuhkan karena pandangannya yang beragam untuk menentukan arah perjalanan dan kemaslahatan perjalanan. Tidak ada keteraturan tanpa kesatuan pengaturan. ‘Alam ini menjadi teratur karena Pengatur ‘alam semesta ini adalah satu.” (Imam Ghozali dalam Ihya’ ‘Ulumuddin)
Di jalan ini, terhimpun orang-orang yang melawan kecenderungan syahwat keduniaan, memutuskan untuk keluar dari zona nyaman, menyadari bahwa tidak pantas berlama-lama saat beristirahat karena tau ujung perjalanan masih jauh dan akan berakhir sangat indah.
Semoga kelak, ini bisa menjadi hujjah di hadapan Alloh bahwa kita bagian dari jundi-Nya, membela agama-Nya, dan memanfaatkan masa muda kita dengan sebaik-baik perbuatan yang bisa kita lakukan.
Jika kau merasa besar, periksa hatimu. Mungkin ia sedang bengkak
Jika kau merasa suci, periksa jiwamu. Mungkin itu putihnya nanah dan luka nurani
Jika kau merasa tinggi, periksa batinmu. Mungkin ia sedang melayang kehilangan pijakan
Jika kau merasa wangi, periksa ikhlashmu. Mungkin itu asap dari ‘amal shalihmu yang hangus dibakar riya’
-Semoga Alloh menghindarkan kita dari yang demikian-
Andai Muhammad berpikir bahwa banyak kesulitan berati tak diridhoi Alloh, bukankah ia akan berhenti di awal2 risalah? Saat Muhammad bisa mempertimbangkan untuk menghentikan ikhtiar, mungkin saat dalam rukuknya ia dijerat di bagian leher, mungkin saat ia sujud lalu kepalanya disiram isi perut unta, mungkin saat ia bangkit dari duduk lalu dahinya disambar batu, mungkin saat ia dikatai gila, penyair, dukun, dan tukang sihir, mungkin saat ia saksikan shahabat2nya disiksa di depan mata, atau saat paman terkasih dan istri tersayangnya berpulang, atau justru saat dunia ditawarkan kepadanya; tahta, harta, wanita...
Tapi Muhammad tau, ridho Alloh tidak terletak pada mudah atau sulitnya, berat atau ringannya, bahagia atau deritanya, senyum atau lukanya, tawa atau tangisnya.
Ridho Alloh terletak pada : apakah kita menaati-Nya dalam menghadapi semua itu, apakah kita berjalan di dunia ini dengan menjaga perintah dan larangan-Nya dalam semua ikhtiar yang kita lakukan.
“maka selama di situ engkau berjalan, bersemangatlah kawan...” (Salim A. Fillah)
Baarokallaah... Semoga Alloh meridhoi.
“Wahai pemuda! Aku hendak mengajarimu beberapa kalimat : ‘Jagalah Alloh maka Ia akan menjagamu; jagalah Alloh niscaya engkau akan mendapati-Nya bersamamu; bila engkau memohon sesuatu, mohonlah kepada-Nya; bila engkau meminta pertolongan, minta tolonglah kepada Alloh. Ketahuilah, bahwa seandainya seluruh ummat ini berkumpul untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat bagimu, maka mereka tidak akan bisa memberikan manfaat kepadamu kecuali sesuatu yang telah ditetapkan Alloh kepadamu. Dan seandainya seluruh ummat ini berkumpul untuk memberikan sesuatu yang merugikanmu, maka mereka tidak akan bisa merugikanmu kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan oleh Alloh terhadapmu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah mengering tintanya.” (Nabi Muhammad Shollallohu ‘alayhi wa sallam. HR Tirmidzi, hasan shohih)
Baarokallaah...Baarokallaah...Baarokallaah...
Semoga Alloh tetap menjadi tujuan, Rosulullah tetap sebagai teladan, Al-Quran tetap sebagai pedoman, Jihad tetap sebagai jalan juang, Syahid tetap sebagai cita-cita tertinggi.
Dan,Semoga kami menjadi orang2 yang mendengar dan tho'at. Kini dan Nanti.
Bogor, 29 Januari 2017
Bertepatan dengan Sidang Umum MTM UNJ
Akhuukum fillaah,
Vidya Puspa Indah.
NB: Tulisan ini sama sekali tidak ditujukan untuk menggurui.
Namun, sebagai nasihat untuk diri ini.
(Tulisan ini hasil sedikit perubahan dari tulisan saat masa pemilu kampus Desember 2015 silam, dimana teman2 sejawat akan menduduki jabatan teratas opmawa kampus)
Manakala seorang da'i tidak memiliki sifat-sifat rohani yang lengkap, maka hidupnya akan hampa dari nilai dan pengaruh. Ia akan terperangkap dalam sifat 'ujub, nifaq, dan riya'. Terjerumus ke dalam lumpur kebanggaan, kesombongan, dan egoisme. Ia akan berdakwah untuk dirinya, bukan untuk Alloh, akan membangun kejayaan bagi dirinya bukan untuk Islam. Ia akan bekerja untuk kebahagiaan di dunia dan bukan untuk kehidupan akhirat kelak. Dari sinilah timbulnya penyimpangan, keruntuhan, dan kehancuran."
(Dr. Abdullah Nashih Ulwan dalam Tarbiyah Ruhiyah)
“Dulu dan Kini”
Oleh : VPI
Romadhon 25, 1437 H
Alhamdulillaah, segala puji bagi Alloh atas nikmat-Nya yang tak terhitung banyaknya, atas nikmat yang bahkan tanpa kita minta Dia selalu memberi.
*PERPISAHAN*
Teringat kutipan ustaz Salim A. Fillah dalam Saksikan bahwa aku seorang muslim, “PERPISAHAN memang menyakitkan. Tetapi niscaya. Dan kadang berakhir indah. Pada beberapa hal, keindahan itu juga niscaya. Seperti perpisahan seorang mukmin dengan dunia. Ia menuju syurga. Seperti perpisahan para pentaubat dengan ma’shiatnya. Ia menghapus dosa. Seperti perpisahan seorang pengikrar syahadat dengan jahiliah, ia membangun kehidupan baru.” Dulu, ketika baca saat sampai di kalimat itu, sontak saya terdiam, hening, ingatan memaksa membayangkan masa lalu, dan beberapa saat kemudian langsung berkata nurani ini “Good Bye, Jahiliahku!”—Jauhi saya dari kebodohan ya Robb— Oh ya! Di awal buku yang sama, ada kutipan atsar dari Al-Faruq alias Abu Hafsh alias ‘Umar ibn Al Khaththab—salah seorang sahabat Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alayhi wa Sallam yang juga khalifah kedua Islam, setelah Abu Bakar Ash Shiddiq—
Begini katanya, “Sesungguhnya ikatan simpul Islam akan pudar satu persatu, manakala di dalam Islam terdapat orang yang tumbuh tanpa mengenal jahiliah.” Ah, jadi optimis, jadi tersenyum kembali saya dibuatnya^^
*DULU*
Lima belas||Tujuh belas yang mengharu biru
1. "...Apakah kamu tidak mengambil pelajaran?"
2. 'Alam betul-betul mengajarkan banyak hal.
3. Menelusuri perjalanan panjang, yang medannya tak terbayang, tapi meyakinkan bahwa itu layak diperjuangkan, sebagaimana Nuh 'alayhissalaam yang ta'at untuk membuat sebuah kapal yang tak tahu untuk apa itu dituju. Yang ia tahu, itu perintah dari Robbi-nya!
4. Hingga malam turut menemani, juga hujan, tentu dingin pula, mungkin begini saat di perang pertama dalam Islam silam, atau lebih dahsyat, perang di Tengah hujan, mereka lemah, tapi Alloh yang menguatkan.
5. Melepas peluh sejenak di ruang beratapkan tanah liat, lalu kembali terbangun, teringat seruan Sang Robbi kepada Muhammad, juga umatnya Muhammad, "Wahai orang2 yang berselimut! Bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan agungkanlah Tuhanmu,..."
6. Qiyamul lail ditemani dingin yang menusuk hingga ke tulang, beratapkan langit-langit yang dipenuhi bintang-bintang dan bulan, melakukannya bersama-sama mereka.
7. Tapi ternyata ini payah, Rosululloh sholat tahajjud hingga kakinya bengkak, tentu bukan sekali dua kali, "Salahkah jika aku menjadi hamba yang bersyukur?', tanyanya.