Catatan Hati : Menerima Pergantian
Setiap kehidupan akan ada masanya silih berganti, kadang sehat bertukar dengan sakit, kadang mudah bertukar dengan susah, dan kadang suka berganti dengan benci. Pergantian itu wajar dan akan selalu ada, tapi kadang kita yang tidak siap menerima datangnya pergantian itu. Selama kamu masih bisa bernapas, selama itu pula siklus pergantian akan terus berputar, silih berganti.
Kelak, pasangan yang sekarang sedang kamu perjuangkan atau sudah kamu nikahi akan merasakan sakit, entah sakit luar atau sakit dalam. Dan muncullah ketakutan dalam diri bagaimana jika nanti ia meninggalkanmu lebih dulu. Ingatlah, sesiapmu menerima ia yang datang, maka sesiap itu pula kamu harus menerima kepergiannya.
Ada masanya kamu akan susah payah merawat ayah ibu, sebagaimana mereka dahulu merawatmu, masalah uang ada atau tidak bukan lagi menjadi pertimbangan. Prioritasnya bukan lagi tumpukan harta, tapi sehatnya kamu dan senangnya harimu. Saat masa itu datang, bersikaplah layaknya mereka dahulu, jangan sampai menyampingkan atau mengundur-undur waktu untuk merawatnya.
Semua itu datangnya dari Allah, sehat sakit, lapang sempit, dan sedih bahagia. Menjaga pemberiannya adalah dengan berdoa penuh rasa syukur untuk setiap harimu, maka saat pergantian itu datang kamu akan siap dan akan mudah menerimanya, baik dan buruknya.
Jangan mudah marah untuk kesalahan yang siapapun sedang perbuat, mencoba menahannya dan meminta penjelasan dengan bahasa terbaik. Karena, saat amarahmu meledak, kaca yang utuh akan pecah dan menyisakan sisa retakan yang tidak mungkin tersatukan lagi. Entah pada ayah ibumu, atau pasanganmu.
Pergantian, ia akan datang tanpa meminta izin padamu, ia tidak akan mengetuk rumahmu, ia datang tiba-tiba tanpa salam. Saat pergantian itu datang, semoga hatimu tebal akan ikhlas, kuat akan menerima semuanya, dan kokoh untuk merawat dan tetap menyayanginya.
Karena pergantian itu adalah jalan surgamu untuk mengabdi pada Nya.
@jndmmsyhd
















