sepertinya, hanya aku yang bahagia disini,
aku memang tidak berguna dan selalu membuat salah
harusnya aku diam saja dipojokan sana.
tidak perlu berbuat apa-apa
Misplaced Lens Cap
art blog(derogatory)
Acquired Stardust
DEAR READER
One Nice Bug Per Day
dirt enthusiast
YOU ARE THE REASON
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
i don't do bad sauce passes

izzy's playlists!
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
Sade Olutola
Peter Solarz

tannertan36

oozey mess

PR's Tumblrdome
h

blake kathryn
noise dept.
No title available

seen from Netherlands
seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States

seen from Germany
seen from Japan

seen from Türkiye

seen from South Africa

seen from Poland
seen from Türkiye

seen from Mexico
seen from Ecuador

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Ecuador
seen from Ecuador

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
@wanitadjuni
sepertinya, hanya aku yang bahagia disini,
aku memang tidak berguna dan selalu membuat salah
harusnya aku diam saja dipojokan sana.
tidak perlu berbuat apa-apa
pening,
kalau dulu, aku memilih untuk tidak ikut tes, apa hidupku akan lebih baik?
Tulisan ini di dedikasikan jumlah hari wanitadjuni ini ingin resign,
Resign : Bertahan
3 : 0
terlalu sering minta maaf, orang jadi meremehkan dan merendahkan
Mendengar suaranya saja membuatku kesal
Aku pikir, semuanya sudah ku terima dengan lapang dada, tapi ternyata tidak
Sejak saat itu,
saat hidup ini ternyata tidak berjalan sesuai ekspektasi,
aku merasa gagal
dipikirkan berapa kalipun
hidup tidak bisa diulang kembali
aku tidak tau harus memulai tulisan ini darimana atau bagaimana atau apa
tidak juga sepantasnya aku berkeluh kesah
ini hanya musibah yang Ia berikan, dan aku hanya tinggal menjalaninya dengan ikhlas
roda memang berputar, seperti kataku sendiri.
Perjalanan hidup memang tidak semulus itu, begitu kataku juga.
Maka sekarang, ketika jalannya terjal, tidak sepantasnya aku mengeluh.
Tapi harus bagaimana aku?
apakah ini tandanya aku belum siap menjadi aku yang baru, dengan berkah dan musibah yang datang sekaligus aku bingung bagaimana harus bersikap
sudah merasa lelah, ngebayangin kerjaan besok
Setelah menikah, rutinitas hidupku memang tidak banyak yang berubah,
palingan, jadi ada teman berbagi segalanya, mulai dari keresahan soal masa depan, rencana finansial, menu makan sampai berbagi selimut.
tapi, meskipun rutinitas yang itu itu aja, caraku bagaimana menjalaninyalah yang sangat berubah, perihal palingan itulah penyebabnya.
lalu, sampai pada titik ini, masih ku katakan bahwa aku bahagia sudah memilih untuk menikah.
semoga titik ini masa berlakunya panjang, bahkan sampai kehiduapan selanjutnya.
Eh, memang tidak setiap waktu bahagia, seperti sekarang, merasa hampa karna baru bisa bersua di akhir minggu, tapi kalo diakumulasikan, bahagianya jauuhhh lebih banyak daripada sedihnya ko.
Tulisan ini tidak bertujuan agar kamu yang baca ingin cepat menikah, atau menjadi enggan menikah.
Tulisan ini hanya tulisan gak jelas, udah.
sedih tapi gatau kenapa,
mungkin kesepian.
Setara menonton 2 episode drama korea favoritku, bukan waktu yang lama..
Hanya perlu menempuh 148km agar aku bisa mengisi paru-paruku dengan aromamu,
Hanya melintasi beberapa kota, lalu aku bisa membayar rinduku akan pelukmu..
Cukup berkendara 2 jam agar aku bisa menyentuhmu semauku..
Hanya butuh aku yang bertahan menunggumu kembali padaku..
Bersyukur banget bisa merasa cukup dengan adanya wifi, netflix, game game kecil, dan buku bacaan di rumah. Jadi ngga punya urgensi menggebu-gebu untuk segera liburan after korona. Koronanya juga toh masih ada, bukan tiba tiba hilang.
Siapapun yang keluar rumah hanya untuk bekerja, kalaupun ke pusat belanja hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup, kalian juara. Godaan liburan pasti ada. Tapi ya kira kira ajalah, terlepas dari, -benar atau tidaknya; korona ini akal akalan pemerintah, lebih baik sedia payung sebelum hujan.
Emang kalau ngga liburan akan kenapa? Gelisah banget kayaknya
Selalu berdoa buat ngga punya penyakit iri, dengki, ambekan. Tapi ngga dikabulin. Soalnya sholat juga ga pernah
Pondok Indah Mertua (16.1)
Curhatnya di twiter wakaka. Jadi gitu, ternyata, ada adegan nangis sampai ga bisa napas di depan ibu mertua dan mbak ipar.
Setelah ngetwit itu, aku di WA dua orang. Mbak No dan Bang Riwin.
Bang Riwin ini adalah salah satu abang kelasku di SMA dulu, adik kelasnya Mbak Retno, sama-sama orang Duri. Kata dia, dia ketawa baca twitku. Karena dia pernah berada di tengah keributan dan kegelisahan antara menantu dan mertua, antara istri dan ibu beliau.
Di awal pernikahan sampai awal-awal masa melahirkan mereka seatap dengan orang tua, beliau tahu betul hal sepele pencetus keributan.
Beliau bilang, "Tapi aku 'lawan' mamakku, karena nggak mungkin istriku yang ngomong. Aku dapet dari seniorku kata kata pamungkas, Han. Aku bilang gini, 'Anak kami ini Mak, nanti yang dimintai tanggung jawab sama Allah, ya kami, bukan uti atau akungnya. Jadi kalau dia sakit, atau dll yang dimarahin Allah itu kami.' Terus terdiam mamakku. Dicernanya dalam-dalam. Lucu laaaah pokoknya. Setelah kami pisah rumah ni, sedih rasanya ndak ada mamak. Hahaha."
Kami bertukar cerita seadanya, dibalut ketikan tanda tawa. Keluarga mereka tipe keluarga yang hangat dan dekat, bapak mamak anak, lawak semua. "Aku paham betul drama itu. Tapi bedanya, kau berhadapan langsung, hahaha."
Beliau hanya cerita, tapi aku tangkap pesannya, yang penting suami-istri harus satu frekuensi, dan menurut beliau, adalah tugas sang suami sebagai penengah.
Lalu, aku juga di WA Mbak No. Katanya, Mas Tatang baca twitku, lalu nanya ke Mbak No, "Hana ngetwit gini, udah cerita dia?"
Tentu saja sudaaaaah hahaha, "Udah. Ya...emang susah sih." jawab Mbak No.
Tampaknya ada dua tipe suami, suami seperti bang Riwin yang jelas dan tegas ngomong ke ibunya, dan suami seperti Mas Tatang, yang diam-diam memperhatikan tapi lagaknya seperti tak peduli.
Ternyata tugas suami berat juga, pilihan mereka bukan memilih antara dua, istri atau ibunya, tapi menenangkan keduanya.
Bersambung dulu ya, low bat niccch
i love that quotes :
"Pilihan mereka bukan memilih antara dua, istri atau ibunya, tapi menenangkan keduanya"
"Anak tanggung jawab orangtuanya, kalo kenapa-napa yang dimintai pertanggung jawaban sama Alloh ya orangtua, bukan nenek kakeknya"
Pelajaran untukku hari ini:
Jika seseorang bercerita padamu tentang pengalaman buruknya, cukup katakan kamu menyesal dan sedih hal itu terjadi padanya.
Tanpa ada penghakiman atau lebih buruk, saran.
Ia tidak bercerita untuk memintamu memberikan penghakiman atau saran untuk hal yang sudah berlalu.
Tapi, jika kamu bersikeras ingin memberi saran, agar ia menjadi pribadi yang lebih baik, lakukanlah dilain waktu.