UANG, RUANG, FIKSI, PEREMPUAN.
Virginia Woolf - A room of one’s own.
Diawali dengan pertanyaan Woolf tentang perempuan dan fiksi saat ia duduk merenung di tepi sungai. Muncullah nama-nama penulis perempuan di masa sebelumnya seperti Jane Austen, Fanny Burney, Emily Bronté dan Emma Bronté. Isinya seputar perempuan, tentang apa dan bagaimana rupa dan macam-macam perempuan, tetapi bagi Woolf ada beberapa hal lain yang membuatnya tak rela menyimpulkan bahwa karya mereka itu diperhitungkan sebagai tulisan perempuan. Tulisan yang nyata menceritakan perempuan. Tetapi pada kenyataannya, buku-buku romantisme seperti itulah yang tersedia untuk dibaca perempuan pada masa itu.
Bahkan setelah masa elizabethan di Inggris, tak pernah terlihat nama-nama penulis perempuan yang berbeda jalurnya dengan Jane Austen di rak buku perpustakaan manapun di Inggris. Jikapun ada, nama itu bersembunyi di balik nama samaran laki-laki seperti George Elliot. Penulis aslinya harus rela bukunya terkenal dan dinikmati semua orang meski harus puas dengan identitasnya sebagai anonim.
Alasan utama di balik langkanya perempuan menulis adalah ternyata alasan ekonomi. Perempuan di masa itu walaupun berasal dari kalangan kelas menengah atas, tidak memililki simpanan uang melainkan yang berasal dari suaminya atau ayahnya jika ia belum menikah. Alasan ekonomi pula yang membatasi cara berpakaian, cara bertingkah laku dan bertutur karena semua yang ada di tubuh perempuan adalah apa yang layak bagi ayah dan suaminya.
Lalu bagaimana perempuan diceritakan di masa itu jika tak ada satupun perempuan bisa bertutur dengan bebas. Bagaimana cara laki-laki pada masa itu menceritakan perempuan? Tidak pernah di karya literatur yang ditulis laki-laki menceritakan tokoh-tokoh perempuan yang memiliki ekspresi personal, keberatan akan masalah dan keberterimaannya terhadap lingkungan. Sama sekali bukan sosok yang nyata ada dalam kehidupan kaum perempuan sebenarnya di Inggris, tidak seperti Shakespeare menceritakan tokoh-tokoh laki-lakinya yang penuh drama dan karakter. Perempuan di karya Shakespeare, Milton, Keats, Tennyson hanya sosok perempuan yang hidup di dalam fairy tales - sosok di balik kehebatan raja dan pangeran atau paling tidak sosok yang dihasratkan laki-laki atau tentara. Jika hanya puas diceritakan seperti piala yang diperebutkan, perempuan harus puas dengan keberadaan dirinya yang dijodohkan sana sini sebelum berumur 21 tahun. Jika diceritakan seperti contoh buruk, perempuan harus mengalami tekanan, paksaan, hinaan, dan siksaan norma yang dibuat oleh judgemental society. Perempuan harus anggun dan sopan jika ia keturunan bangsawan, harus menggoda laki-laki jika ia adalah perempuan histeris, perempuan gila, penyihir dan penjual rempah misterius. Begitulah kehidupan perempuan baik-baik dan perempuan jahat dalam literatur fiksi sebelum abad 18 yang fiktif. Tidak pernah ada personalitas yang mencerminkan realitas manusia sesungguhnya yang memiliki pemikiran sendiri.
Melalui essay yang ditulis secara autobiografis ini lah, Woolf dengan yakin mengemukakan bahwa karya perempuan bisa lebih hebat dari apa yang ditulis Shakespeare jika saja perempuan mampu menuangkan cerita walaupun para laki-laki akan menganggapnya remeh temeh dan terlalu domestik. Bukan tidak mungkin justru dengan keremehtemehan dan kedomestikannya menjadikan tulisannya begitu nyata dan reflektif bagi pembacanya, terutama perempuan yang tahunya hanya punya takdir sebagai istri bangsawan atau istri petani.
Yang dibutuhkan perempuan hanyalah uang dan ruang bagi dirinya untuk duduk dan menulis fiksi. Ini tentunya bukan ungkapan klise dan materialistis. Uang adalah satu-satunya alat untuk membebaskan diri dan mencari ruang yang jauh dari ranah domestik, ruang seribu buku, ruang pendidikan, ruang yang dapat dipenuhi oleh buah pemikiran sendiri tanpa ada tekanan dari otoritas.
Menilik Keats dan Milton yang hidup miskin, Woolf membukakan kacamata kepada kita bahwa dibutuhkan uang untuk seseorang dapat menulis fiksi dengan mandiri. Para lelaki ini dengan bebasnya berpencar untuk bekerja dari satu kota ke kota yang lain sambil menghasilkan karya tulis.
Lain halnya dengan perempuan. Tidak semudah Keats dan Milton, untuk mengumpulkan uang sebesar 500 pounds dan ruang menulis, perempuan menghabiskan waktu bertahun-tahun karena begitu sempitnya lapangan pekerjaan yang “layak” untuk perempuan dan begitu tidak layaknya seorang perempuan menyimpan uang. Uang untuk membeli ruang subjektivitas itu mahal dan membahayakan di masa itu. Namun bagi Woolf, menulis adalah investasi penuh perjuangan yang suatu saat menghidupkan penulis-penulis perempuan lainnya.
Woolf yang bersuamikan laki-laki menengah ke atas itu bukan tidak memiliki ruang menulis sendiri. Ia punya tetapi bukan miliknya tetapi properti sang suami, Leonard Woolf, seorang penulis seperti dirinya, memiliki percetakan yang sebagian besar mencetak hasil-hasil karya Woolf sendiri, telah bersabar menyediakan waktu bagi Woolf untuk bepergian ke sungai sendirian, mendiamkan dirinya, menjaga jarak dengannya.
Apakah ini soal uang, soal kepemilikan, soal subjektivitas yang ia harapkan bisa ia miliki sekalipun ia telah bekerja keras mengajar dan menulis surat kabar, namun sebagai perempuan tak pernah bisa membeli ruang dan harus menemukan tempat persembunyian jauh dari rumahnya.
Sebuah sungai yang mengalir, tempat ia menemukan teknik penulisan Stream of Consciousness. Pemikiran yang termanifestasikan ke dalam bahasa seperti aliran sungai yang airnya merefleksikan kejernihan, warna langit, keruhnya lumpur dan mahluk-mahluk hidup di bawahnya. Pemikiran dapat bercabang seiring alirannya menabrak bebatuan. Pemikiran dapat membawa sebuah ranting pada suatu tempat. Pemberhentian selalu bersifat sementara karena air terus mengalir.
Sampai ia memutuskan menenggelamkan dirinya ke dalam aliran sungai, hanya karena gagal menemukan sebuah ruang.
Tak hanya lingkungan, ia sendiri pun menganggap dirinya bipolar dengan suara-suara yang berbisik pada dirinya minta dicarikan ruangan berpikir.
*“woman must have money and a room of her own if she is to write *fiction; and that, as you will see, leaves the great problem of the true nature of woman and the true nature of fiction unsolved.*” *