Nyari Kucing [Bagian 2]
Penulis skenario : Yuuki Yoshino
Waktu : Musim semi
Tempat : Lapangan samping sekolah
Chiaki! Chiaki! Dimana kau berada Chiaki?
Hei, Anzu. Apa cuma perasaanku aja atau memang orang-orang lagi pada ngelihatin terus bisik-bisik ngomongin diriku?
Hm, ternyata nyariin kucing sambil manggil-manggil pakai nama sendiri tuh aneh ya?
Firasatku aja sih bilang begitu.
Kalau kau sadar, harusnya bilang dari tadi sih.
Biarlah. Aku adalah pria yang bertumbuh menjadi lebih kuat dalam situasi sulit.
Tapi, kalau begini kita jadi kehabisan cara untuk mencari kucing itu.
Kalau saja bibi ada di sini, mungkin si kucing tidak akan terlalu waspada dan keluar dari persembunyiannya.
Di sekitarnya hanya ada orang-orang yang tak dikenal. Si kucing pasti merasa kesepian…
Ah, aku paham. Pada dasarnya, Akademi Yumenosaki membatasi orang-orang untuk memasuki wilayahnya.
Mau seberapa keras bibi menjelaskan bahwa kucingnya nyasar ke Akademi Yumenosaki, dia hanya akan diusir pergi.
Dulu pernah ada orang biasa yang berbohong kayak gitu biar bisa nyelonong masuk ke Akademi. Setelah kejadian itu, sepertinya aturan sekolah jadi lebih ketat.
Sekarang ini sekolah hanya dibuka pada acara-acara tertentu saja. Ketika ada tiket dijual, hari itu juga habisnya.
Peraturan tentang barang yang dilelang di pameran juga diatur secara ketat.
Bibi hanya kenalanku. Dia bukan keluargaku. Meskipun aku jelaskan kepada satpam di tempat masuk, tetap saja dia tidak akan diberi izin.
Karena itu aku harus mencari kucingnya. Aku tidak mau melihat bibi menjadi sedih.
Oh, maaf. Aku lupa kau juga bantu nyariin. Kalau berdua, kita pasti bisa menemukannya hari ini juga☆
Hm? Benar juga. Gimana kalau kita nyarinya mencar aja. Biar lebih efisien!
Mari saling menghubungi setiap 30 menit agar kita tidak tumpang tindih dengan tempat yang kita cari.
Kalau begitu, semoga beruntung☆
Tempat : Didepan auditorium
…Udah sore aja. Maaf membuatmu ikutan nyari sampai sore begini.
Kau tidak perlu merasa khawatir. Ini cuma karena rasa cintaku pada si kucing aja yang kurang, makanya dia tidak mau menjawabku…
Mungkin si kucing emang gak mau kalau bukan sama bibi.
Oh, aku malah menjadi tidak seperti diriku yang biasanya!
Gak boleh. Gak boleh. Aku adalah sekutu keadilan!
Seperti mentari yang menyinari dunia, selalu bersinar dengan terang… begitulah aku, Morisawa Chiaki dengan hati yang membara. Fuhahahahaha☆
Kau…menepuk pundakku untuk menghiburku ya? Terima kasih, Anzu!
Yosh. Ayo berjuang sedikit lagi! Dengan segenap perasaan ini, kita pasti akan menggapai si kucing. Fuha-
Akh, sakit!
Tiba-tiba mukul orang pakai kipas kertas gitu gak boleh lho.
Selain itu, kenapa kau memukulku…?
Hm? Semak-semak di sana gerak-gerak? Bisa jadi itu si kucing.
Biar gak kabur, mari kita mendekat dengan diam-diam.
Lah…Nyanko. Eh, Myanko. Eh, apa Chiaki kali ya?
Woah.
Cupcup. Kau pasti merasa takut. Tapi sekarang sudah tidak apa-apa!
Karena aku adalah sekutu keadilan yang menangani kasus ini, maka akan segera ku antar pulang ke tempatnya bibi.
Oh, kau merasa senang ya. Aku juga.
H-Hei, jangan jilat-jilat. Geli tau.
Rupanya kau ingat denganku ya?
Belakangan ini aku sibuk dengan urusan idol, jadi tidak sempat main ke rumah bibi.
Tapi, aku senang kau masih ingat denganku, Myanko☆
Uwah, dia kabur!? Anzu, tolong tangkap kucingnya!
Fyuh, hampir saja. Kalau masih kabur lagi, aku angkat tangan.
Terima kasih sudah membantu mencarinya. Sepertinya kucing itu juga suka padamu!
Dia menyipitkan matanya karena merasa senang. Dia bahkan ndusel di pipimu. Uuh, bikin iri aja!
Ah, Tidak usah. Aku juga pengen gendong sih. Tapi nanti malah kabur kayak tadi.
Kalau nyoba gendong lagi terus kabur lagi mungkin aku bakalan depresi… Gini-gini aku orangnya lemah mental.
Hm, aku boleh mengelus di belakang telinganya dan di sekitar lehernya?
Kau ini sangat tau ya caranya memperlakukan kucing!
Aku pernah dengar bahwa anjing paling ganas di sekolah ini juga berhasil ditaklukan. Apa kau adalah penjinak hewan…?
S-sakit.
Jangan memukulku dengan kipas kertas. Serius ini rasanya sakit banget lho.
Tuh, kucingnya jadi ikut ketakutan kan.
Cupcup. Jangan takut.
Mengelus-ngelus kepala kucing begini membuatku jadi ingin memelihara kucing.
Aku anak tunggal. Aku tidak punya saudara. Apa aku nyoba minta pelihara kucing ke orangtuaku ya?
Oh, selain itu, aku harus mengembalikan kucing ini ke rumahnya.
Ah, gimana kalau kau ikut juga? Soalnya kau sudah membantu mencari kucing ini.
Dan juga, kau anak yang baik. Bibi pasti akan suka padamu.
Yosh. Kalau sudah diputuskan begitu, mari kita berlari menuju rumah bibi!
Jika kau kelelahan di tengah jalan, aku akan menggendongmu. Tidak perlu khawatir!
Selain itu, mungkin tidak sopan berkata begini. Mencari kucing bersamamu terasa menyenangkan.
Gimana ya bilangnya? Aku merasa seperti kembali ke masa kanak-kanak.
Saat bersama Anzu, aku tidak pernah merasa bosan.
Rasanya aku jadi ingin selalu bermain denganmu.
Kau adalah seorang ibu pertiwi. Bagi kami, kau mungkin adalah sosok yang tak tergantikan☆















