Kamu percaya mimpi? I do! Mimpi itu bukan cuma buat kamu ratapi.. tapi kamu harus bangun dan realisasi! Kalau jatuh ya bangun lagi.. namanya juga perjuangan meraih mimpi, pasti berat! Beda sama perjuangan meraih guling dan kemudian tertidur lagi~ gampang sih, tapi mimpi itu akan selamanya hanya menjadi mimpi.
Eight months of jobless-days-and-do-nothing-moment was the most suffered phase of my life. Bayangkan, mau pergi main keluar rumah rasanya nggak mungkin minta-minta uang sama orang tua. Mau diem aja dirumah kerjaan cuma ngegame, bikin susah move on karena pikiran kamu yang terus dimanjakan sama pemikiran main main dan main yang nggak berujung.. yang penting seneng-seneng tanpa sedikit pun terbesit mau jadi apa nanti di masa depan.
Aku pernah punya mimpi, suatu saat nanti aku mau pergi kerja yang harus naik pesawat dulu untuk sampai disana. Sebuah mimpi yang sederhana. Tapi mengingat bahkan kegiatanku pun jauh dari panggilan kerja puluhan bahkan ratusan perusahaan multinasional di penjuru indonesia, rasanya hampir tidak mungkin. Lalu Rani, kakak sepupu ku, dengan tujuan mendekati tempat calonnya bekerja di Wahau-Kalimantan Timur sana.. sekaligus memenuhi janji kami untuk menemani si kecil Fairuz, akhirnya berinisiatif mengajakku berbisnis kecil-kecilan di Balikpapan. Bak gayung bersambut. Well, aku mau! Whatever it takes.
Cengkareng siang itu amatlah cerah (cailah), tapi nggak secerah suasana hatiku.. masi teringat jelas kemarin papa peluk aku erat di pool bus menuju bekasi. Pelukan seorang ayah yang melepas anaknya setelah 21 tahun hidupnya selalu bersama, nggak pernah pergi kemana-mana sendirian. Aku berusaha duduk senyaman mungkin di dalam pesawat, meskipun sejujurnya aku gelisah. Pertama kalinya aku akan hidup benar-benar jauh dari orang tua. Meskipun hitungannya masih ada saudara. But lotta things gonna be different.
Pesawat landing diiringi rintik hujan, aku menginjakkan kakiku di Bandara Sepinggan, Balikpapan. HEY! Mimpi sederhana itu sudah terlaksana. Mimpi untuk pergi dengan pesawat terbang dengan tujuan bekerja. :')
(ki-ka: mbak Rani, dek Fairuz, me, mas Ian, dan setumpuk bagasi berisi hijab untuk bisnis kecil kami)
Namun tidak sesuai dengan dugaan, pangsa pasar dan target market untuk produk bisnis kami tidak begitu besar seperti bayangan kami. Masyarakat disini begitu brand-minded di setiap lapisan masyarakatnya, mereka yang tidak mampu sekalipun, dan bahkan terkesan memaksakan. Sehingga menggeser brand yang belum punya nama ke urutan paling bawah dalam list mereka.
Lalu pada akhirnya kami harus kembali pada masa jobless-days-and-do-nothing-moment. Oke! Aku memang tidak pernah sepenuhnya fokus sama bisnis ini, masih selalu ada fokus lain yang menggantung dalam pikirku. Fokus kembali ke awal, aku harus kerja di salah satu perusahaan multinasional yang entah kenapa begitu menarik hati setahun kebelakang.. yap! Total E&P Indonesie. Tapi cukup sadar diri untuk menunggu lowongan kerja disana dan kemungkinan masuk yang cukup tipis mengingat bukan berasal dari background geologi, akhirnya aku dan mba Rani pun apply kerjaan sana sini. Aku dan mba Rani dapat dikatakan memiliki idealisme yang sama dalam hal memilih pekerjaan. Aku yg lulusan manajemen telekomunikasi, magang dan mengambil TA mengenai industri perbankan justru menaruh industri telekomunikasi dan industri perbankan dalam urutan terakhir list perusahaan untuk bekerja. Sedangkan mba Rani yang notabene lulusan agribisnis justru menaruh pertanian dan perkebunan kelapa sawit dalam urutan terakhir di list-nya. Alasan kami begitu sederhana, tidak mau di anggap rata-rata dan kemudian diremehkan. Idealisme yang menyesatkan :p
Lalu datanglah panggilan interview kerja pertamaku, Halliburton. Meskipun judulnya cuma jadi admin, tapi kebayang banget interaksi antar suku bangsa yang akan terjadi kalau aku sampai berhasil masuk kesana. Sayang Allah berkehendak lain, kali ini belum rejekiku. Panggilan interview kedua dari Total.. betapa excitednya aku, interview yang semula harusnya dilakukan di jakarta, di reschedule via teleconference ke Balikpapan. Delapan bulan lamanya menunggu panggilan itu, namun sayang kali ini aku harus gagal juga bergabung di departemen HR. Panggilan interview ketiga datang sesaat setelah aku dan mba Rani beli tiket pulang untuk berlebaran ke Jogja. Kali ini giliran mba Rani, dan ia langsung diterima bekerja jadi staff marketing di Town House - BDI. Aku nggak mau pulang sendirian, dan kelak menghadapi segudang pertanyaan "kapan?" sendirian. Akhirnya kami memutuskan untuk refund tiket pulang kami ke Jogja.
Jalan skenario Allah memang nggak pernah ada yang bisa nebak yaa... nggak lama setelah itu, aku dipanggil interview.. yap! Empat hari setelah tanggal dimana seharusnya kami sudah berada di Jogja, aku malah dapet pekerjaan pertamaku, staff finance & operation Binus Center Balikpapan. Aku benar-benar mengambil resiko, nggak peduli betapa bencinya aku sama finance. Aku mau kerja! Yang penting kan bukan di bank pikirku. Sometimes, what we hate the most being something that we should love the most >.<
Tiga hari awal yang begitu menggila, handover dalam keadaan perut kosong berpuasa. Tiga-hari-aja, dan aku dituntut untuk mengerti semua sistematika keuangan kantor termasuk memahami software keuangan yang digunakan untuk kelak aku kerjakan sendirian. What? Iya! Sendirian. Nggak seperti judulnya yg "staff finance & operation", aku justru ditempatkan dalam posisi yang setara dengan supervisor tanpa embel-embel jabatan supervisor.
(ki-ka: mala, tiyan, tiwi, me)
Butuh 3 bulan lamanya untuk aku bisa settle sendiri dengan pekerjaanku, menjadi yang ahli di bidangnya secara otodidak. Ya! O-to-di-dak! Things were not so easy back then.. tapi mereka ini selalu ada dan saling menguatkan. Mengingat beban mental yang kami dapat begitu besar. Tekanan bukan dari pekerjaan, tapi justru dari pimpinan yang (for honest) tidak layak (maaf) kami sebut pimpinan.
Ketika datang waktunya self review masa probation aku, aku hanya bisa cekikikan sendiri.. penilaiannya begitu subjektif, sampai aku tahu siapa yang benar-benar memberikan penilaian padaku. Mereka ini pun tertawa, rasanya form employee-peer-review yang mereka isi sia-sia. Karena yang pada akhirnya diungkap dalam self review hanya pendapat 'mereka'-'mereka' saja.
Dari segi skill aku dikatakan amat bagus. Tapi dari segi attitude dikatakan aku childist, tidak bisa berbaur, cuek, bla..bla.. attitude yang sebenar-benarnya memberi kaca untuk miss pimpinan kami. Remember, sometimes.. what you really see, is only something that someone want you to see. Nggak berarti itu adalah sifat sebenar-benarnya dia di depan orang lain. Orang yang memperlakukan mereka dengan baik. Kasarnya, you're the mirror to reflect the way i behave ya, miss!
Yang lebih mengecewakan, dengan alasan attitude yang hampir tidak masuk akal itu masa probation aku diperpanjang secara sepihak tanpa ada hitam di atas putih. Bahkan toh tiga bulan bekerja disana aku tidak pernah memegang salinan kontrakku. Aku dulu begitu polos.... bodoh!
Tapi aku tidak mau bodoh terlalu lama, tetiba saja sehari setelahnya.. ada panggilan (lagi) dari Total, kali ini untuk bergabung di departemen CMS, corporate management system. Dan berhubung jadwal tidak bisa di reschedule, aku mengambil semua resiko demi mimpiku untuk bekerja di Total E&P Indonesie. Kamis malam aku berangkat ke jakarta, ya! Aku ijin kantor hari jumat. Karena tes dilaksanakan sejak jumat pagi hari. Tes yang sebenar-benarnya materinya pun tidak aku kuasai. Software Visio. Namun pada akhirnya, Allah berkehendak lain. Lagi-lagi bukan rejekiku. At least i give it a try, daripada seumur hidup harus menyesal karena membuang kesempatan yang ada toh? Setidaknya aku cukup senang menginjakkan lagi kakiku di tanah kelahiranku setelah hampir 7 bulan lamanya di Borneo, untuk sekedar memeluk mama dan papa. Cuma sehari aja, iya sehari. Sisanya waktu habis di perjalanan.
Tidak lama setelah itu, peraturan diluar akal sehat yang semakin menjadi memaksaku untuk resign. 7 November 2013 aku memutuskan resign per tanggal 14 November dari kantor itu. Kantor yang memberikan banyak pelajaran berharga, pelajaran bahwa dunia kerja itu keras! Tapi owner tidak setuju, aku diminta menyelesaikan masa perpanjangan probationku hingga 29 November nanti.
Tanpa di duga, sehari setelah pengajuan resign ku dikabulkan. Aku di telpon pihak Garuda Indonesia Balikpapan untuk ikut test, lamaran 4 bulan lalu yang bahkan aku sudah lupa. Aku menjadi satu dari 26 orang yang berhasil menyingkirkan 75 peserta super eye catchy dan super tinggi semampai bak model untuk menjadi Passanger Service Assistant, semacam pramugarinya excecutive lounge Garuda Indonesia. Mungkin lagi-lagi bukan rejekiku. Kontrak yang sudah tinggal di tandatangan dengan terpaksa kulepas begitu saja, karena aku masih harus menyelesaikan kewajibanku di kantor lama hingga akhir bulan, sementara kontrak baru ku menuntutku mulai bekerja kapanpun mereka mau mulai trainingnya.
Dan 29 November tinggal rencana.. Aku masih memandang mereka para owner, dan aku tidak ingin meninggalkan kantor terbengkalai begitu saja. Aku ingin keluar dari sini baik-baik seperti pertama kali aku masuk dan menginjakkan kaki di kantor ini. Aku masih terus pergi ke kantor membantu sang miss Manager dengan segala urusan keuangannya karena entah dengan alasan apa mereka belum menemukan penggantiku sampai selesai masa probationku. 3 Desember 2013 resmi menjadi hari terakhirku di kantor itu. Huft.. kembali lagi pada jobless-days-and-do-nothing-moment.
Tapi tak disangka, 9 Desember 2013 aku mendapatkan telepon dari nomor yang nampak tidak asing. Ya! Keberuntungan sedang berarah padaku. Aku yang tadinya dinyatakan tidak lolos karena berada di tingkat prioritas kedua dalam proses perekrutan karyawan, tiba-tiba dipanggil kembali ke Total E&P Indonesie! Ah iya... panggilan ketigaku di perusahaan ini datang beberapa hari sebelum hari terakhirku menyelesaikan kontrak dengan kantor lamaku. Panggilan sebagai Database Manager untuk operation data di Wellsite Geologist & Petrophysicist. Menjadikan aku satu-satunya anggota non geologist diantara para geologist. Bangga!
Meskipun pada akhirnya posisi itu memaksaku untuk belajar smua hal tentang geologi, drilling operation, logging dan semacamnya.. belajar lagi dari awal. Karena meskipun tugasku hanya merecord data, setidaknya aku harus tau data apa yang sedang aku record. Aku tidak pernah menyesal. Karena pada akhirnya aku berhasil mencapai mimpiku untuk bekerja disini. Biarpun itu only contracted in a couple months. Setidaknya aku telah membuktikan pada diriku sendiri kalau aku mampu! Mampu bangun dan berani bangkit untuk mewujudkan mimpiku, Membuka lebar mata pada setiap kesempatan yang ada didepan mataku.
Dreams only 5 inches away between your brain (mind) and your eyes (realities).. you choose! Wanna keep it only on your mind, or wake up to realized it. Dream all you want! Dare to make it happen! Do something to realized it!
Pada akhirnya penantian itu memberikan sebuah jawaban, pada pemimpi yang tidak lelah berjuang untuk mewujudkan mimpinya...