Kata banyak orang, menulis itu menyembuhkan. Kuharap seperti itu. Dan biasanya pun aku 'sembuh' dengan menulis. Menulis, please do your magic untuk kali ini. Pertama, aku memilih platform ini karena ku yakin tumblr tidak seramai tempat lain, aku sendiri pun jarang banget bukanya, cuma untuk posting kemudian ditinggal. Pun aku bukanya di browser, bukan via aplikasi. Jadinya aku bebas dari tanggungan notifikasi dan tanggapan dari orang lain. Kedua, aku nggak tahu, apakah yang aku lakukan ini boleh atau tidak, tapi yang ku tahu, aku perlu menulis, aku perlu jujur pada diriku sendiri agar aku merasa lebih baik. Ya, foto di atas adalah foto almarhum salah satu bayi kembarku, Ghazi. Si kecil yang kita beri nama sangar, agar meski ia mungil dan imut sekali, tapi ia bisa tangguh. Sejujurnya, entah kenapa, kemarin-kemarin aku bisa lega, bisa tegar, bisa 'biasa saja' dan berlagak kuat. Entah karena aku memang sudah benar-benar menyiapkan diri untuk semua kemungkinan terburuk, atau aku memang benar-benar siap. Atau mungkin aku hanya berbohong. Yang jelas, baru-baru ini, barulah muncul rasa-rasa rindu, rasa bersalah, rasa menyesal... sekaligus rasa takut. Rindu, ketika memandang wajah Utsman (yang baru kusadar kalau Utsman dan Ghazi itu ternyata mirip sekali, selama ini aku selalu merasa mereka berbeda dan nggak ada mirip-miripnya), sambil berangan-angan, seandainya Ghazi masih ada, aku lagi gendong dia, seperti aku gendong Utsman. Aku ajak dia jalan-jalan, seperti aku ajak Utsman. Astaghfirullah, harusnya nggak boleh ya berandai-andai kaya gitu. Toh Ghazi sekarang lebih bahagia, hidupnya sudah terjamin di Surga sana. Merasa bersalah, teringat malam-malam riweuh mengurus di kembar, takut bahwa banyak sekali haknya yang terabaikan, karena bingung, lelah, dan banyak sok tahu. Aku merasa Ghazi jadi korban ke-sok-tahu-an-ku, aku merasa Ghazi jadi korban kemalasan dan kelalaianku, aku merasa Ghazi terabaikan olehku. Dan menyesal, kenapa waktu itu aku tidak lebih memperhatikan Ghazi, padahal dia butuh perhatian yang jauh lebih banyak. Kenapa aku tidak banyak menikmati masa-masa malam bergadang berdua bersama Ghazi. Kenapa waktu skin to skin terakhir bersamanya aku malah ketiduran, bukannya mendekap dia dengan sungguh-sungguh dan membelai dia hingga dia merasa lebih baik. Kenapa aku nggak lebih tega lagi memaksa dia minum susu, baik asi, sufor, atau menyusu pada ibu susunya. Masya Allah, pada akhirnya, di atas semua rasa bersalah dan rasa 'sepertinya aku bersalah' itu, ada qodarullah yang tak bisa kita elakkan. Bisa jadi, usaha maksimal kemarin memang bukan kesalahan, bisa jadi memang kami tidak bersalah, tapi semua memang kehendak Allah. Aku harusnya lebih banyak lagi bersyukur, bukan toxic positivity yah, tapi atas semua itu, atas rasa sedih dan bersalah itu, aku tetap harus banyaakkk sekali bersyukur. Bersyukur karena Allah beri kesempatan merasakan kehamilan kembar yang sehat, banyak lho orang lain yang berusaha hamil tapi susah, yang berusaha promil tapi tetap belum Allah beri amanah. Aku harus tetap bersyukur, cuma sekali promil sudah Allah beri kembar. Aku juga seharusnya bersyukur, menjalani persalinan yang mudah, pemulihan yang sangat cepat. Aku pun sudah seharusnya bersyukur, diberi nikmat sempat merasakan ribetnya mengurus si kembar. Apalagi, aku lebih banyak mendapat kesempatan mengurus si Ghazi, dibandingkan suamiku. Karena si Ghazi jauh lebih heboh dibanding Utsman, ku tak tega harus membiarkan paksu yang sudah seperti zombie mengganti popok Ghazi, nanti dia makin spaneng hehe. Alhamdulillah, aku juga menghabiskan banyak waktu malam memandang wajah Ghazi, karena Ghazi kalau tidur mintanya dikelonin emaknya. Dan pada akhirnya si Utsman iri dong, akhirnya di malam terakhir bersama Ghazi, sempat ganti shift ngelonin Utsman, meski sebentar hehe. Alhamdulillah, Allah beri kesempatan ikhtiar tertinggi kami dengan menyerahkan Ghazi untuk dirawat sesiang dan semalam di Rumah Sakit, hingga pada akhir hidupnya kami tidak bersamanya. Yang jelas, aku sangat bersyukur dan sama sekali tidak menyesal, sudah membawa Ghazi sesegera mungkin ke Rumah Sakit. Aku sangat bersyukur, bisa segera mengenali keanehan pada Ghazi, sehingga ia segera dibawa ke Rumah Sakit. Aku lebih tidak bisa membayangkan kalau Ghazi meninggal di rumah, dalam dekapan kami, mungkin kami lebih dalam penyesalannya dan gagal move on-nya. Alhamdulillah, aku harus sangaaatt bersyukur, karena tidak semua orang bisa memiliki tabungan di Surga, seperti kami. Kami yang masih jauhh dan sangat jauh menuju Surga, tapi sudah Allah izinkan memiliki kartu emas untuk mempermudah kami menuju Surga. Kini aku makin sadar, bahwa ikhlas itu memang berat. Memang, seberat itu. Bahkan lebih jauh lagi, aku berpikir, apa jangan-jangan selama ini, dalam hal-hal lain, aku bukan ikhlas, tapi menyerah dan 'yaudahlah' alias lebih ke pasrah, bukannya ikhlas. Karena ternyata ikhlas itu seberat ini. Move on itu seberat ini. Dan pantaslah, jika kehilangan ini berhadiah tabungan di Surga, karena memang, berat sekali. Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah, Ghazi sedang bermain-main di taman Surga sekarang, Ghazi sedang menunggu kita sekarang. Ghazi sudah menjadi anak-anak muda abadinya Surga. Malah kita yang belum pasti, apakah kita bisa bertemu dan berkumpul lagi dengan Ghazi di Surga atau tidak. Apakah kita bisa menerima sambutan Ghazi di Surga atau tidak. Well, mungkin segitu saja curhat colongan kali ini. Aku merasa jauh lebih baik, apalagi saat menulis ini dijeda nangis bombay dan makan indomie+nasi sampai nambah tiga kali. Setelah melahirkan, aku tidak kenal dengan yang namanya kenyang wahahahahahaha. Mungkin menulis memang menyembuhkan, tapi mengikhlaskan adalah obat yang sesungguhnya. Bantu kami dengan doa, karena hanya doalah yang dapat membantu kami tetap kuat. Bantuan materi dan moral sangat kami hargai dan pasti kami terima dengan sangat senang hati, tapi kami selalu berharap doa terbaik dari kalian semua, terutama yang sudah membaca curahan hatiku ini. Terima kasih semua, jangan lupa untuk selalu bersyukur. Bukan mengabaikan perasaan atau kesedihan, tapi bersyukur adalah sebuah kewajiban kita sebagai hamba Allah. Karena jika kita mau menelaah lagi, kesedihan dan kesusahan kita sangat kecil dan tidak seberapa dibanding nikmat yang diberi-Nya. Nggak pantas bangetlah kita mengeluh. Boleh aja sih, tapi jangan lama-lama yaa. Udahan dulu deh. Si Utsman memanggil hihi. PS: sekarang aku tahu rasanya ndak jadi makan indomie rebus karena anak nangis wkwkwkwkwkwkwkwk.