Sewaktu kecil aku mempunyai teman bermain bernama Widuri, panggilannya Dru. Saat itu usia kita sekitar lima tahunan. Dru adalah salah satu orang yang percaya bahwa tomat adalah mawar yang sedang mengandung. Dia mendapatkan dongeng ini dari kakeknya dulu. Katanya, cerita ini ada di sebuah buku terjemahan, tapi judul dan pengarangnya kakek lupa, satu-satunya yang dia ingat adalah bahwa mereka sama-sama berwarna merah. Pada saat bermain, aku selalu membawa boneka, sedangkan Dru membawa buah tomat. Dru pernah bercerita bahwa dia tidak sendirian. Adiknya, Hasbi yang saat itu baru lahir tiga bulan yang lalu, juga percaya soal teka-teki tomat dan mawar. Katanya, setiap kali Dru menanyainya Hasbi selalu menjawab. “eyaaa.....eyaaa...eyaaa...” Sudah barang tentu Hasbi percaya, kata Dru. Waktu itu aku percaya saja, saat kecil aku belum sekalipun memikirkan untuk mendebat, yang penting temanku senang aku ikut senang, padahal saat itu aku rasa Dru sedang mengada-ngada, Hasbi hanya sedang menangis, tapi aku lagi malas menyangkal jadi kubiarkan. Tiga diantara Dru dan Hasbi, menurut Dru ada satu lagi. Si Manis, kucing peliharaan mamaku, si manis memang kucing perempuan yang agak tomboy, dia suka menonton bola bersama papa dan kak Bagus, Kakak Dru. Mereka bertiga adalah Milanisti. Si manis memiliki warna mata yang coklat kemerah-merahan seperti tanah liat, Manis gemar bercocok tanam sama seperti Dru dan Hasbi, kesukaanya adalah akar pohon bunga mawar. Sejak saat itu Dru mulai akrab dengan Manis. Dru, Hasbi, dan Manis selalu ingin menanam pohon tomat, sedangkan aku selalu ingin melihat mereka bertiga menanam pohon tomat. Sialnya pada saat itu aku dan Dru tinggal di sebuah rusun 12 tingkat, Dru ada di tingkat ke enam, dan aku ada di tingkat ke lima. Tidak ada halaman belakang, tidak ada teras, satu-satunya ruangan terbuka di rumah kami masing-masing adalah balkon seluas sekitar satu kali dua meter, hanya cukup untuk mamaku dan mama Dru menjemur pakaian, selebihnya untuk menyimpan sandal-sandal yang sudah kekecilan. Dru kemudian mengajak berpikir Hasbi dan Manis, mereka berdiskusi alot, tentang bagaimana caranya agar mereka bisa menanam pohon tomat. Karena jika buah tomat melahirkan, dia akan melahirnya bibit-bibit bunga mawar, Dru menyukainya, Hasbi juga suka, Manis? apalagi, dia pasti akan bermain dengan banyak akar mawar. Dru masih celetak-celetuk tidak karuan, Hasbi menendang-nendang selimut di ranjangnya, dan Manis mondar-mandir mengibaskan ekornya. Sebenarnya pada saat itu aku merasa kasihan pada mereka, lalu aku coba membuat usul. “Dru, kenapa tidak kalian coba untuk menanam tomat di kepala saja?” Pada saat itu aku masih kecil, belum genap umur untuk bersekolah dasar, tetapi aku mudah mengingat hal-hal yang sering dilupakan orang lain. Dulu, dulu sekali sewaktu kakek buyutku belum meninggal, uyut pernah memarahiku karena kedapatan menelan biji jeruk pontianak, padahal aku menelanya karena malas membuka satu-satu sisi buah jeruk lalu mencongkel-congkel bijinya, buang-buang waktu saja. Tapi kemudian mamaku bilang, kalau kamu menelan biji jeruk, nanti ketika sudah besar pohon jeruk akan tumbuh di kepalamu, begitu juga dengan biji anggur, biji semangka, dan mungkin akan sama saja kasusnya dengan biji buah tomat. Dru menepuk-nepuk pundakku dengan bangga, dia melirik ke arah Hasbi, dan seperti berbicara dengan Manis sambil mengelus-ngelusnya. Ku tahu dia sudah punya ide, Dru memang cerdas sudah sejak di PAUD, setiap pelajaran mewarnai, krayonnya jarang sekali melewati garis, setiap pelajaran menyanyi dia hafal paling awal, dan suaranya lantang seperti pedagang sayur depan rusun. Besoknya Dru bertamu ke rumahku, sambil membawa tiga buah tomat. Dru ingin menyewa lahan di kepalaku dan lahan di kepala manis untuk menanam pohon tomat, sebenarnya aku sungkan, aku tidak terlalu suka buah tomat, tapi karena Dru adalah temanku satu-satunya aku mengizinkan dengan perjanjian bahwa kalau pohonnya bertambah besar aku tidak mau masuk sekolah dulu. Dru bilang iya, kemudian aku, Dru dan Manis mulai menanam buah tomat di kepala, sambil bercerita tentang mamaku yang tidak pernah sholat lima waktu tapi selalu sholat Dhuha. “Sholat dhuha itu yang bagaimana?” Dru tidak tahu, mama dan papa nya juga tidak pernah sholat lima waktu, juga tidak sholat dhuha, mama sibuk ngobrol dengan tetangga, dan papa selalu pulang malam. “ituloh Dru, sholat yang sebentar. tapi do’anya sedikit lama, mama biasanya sholat jam 9 atau 10 pagi” Dru menggaruk-garuk kepala tidak gatal. buah tomatnya sudah habis, jatah buat si manis kemudian dimakanya lagi. Itu adalah perbincangan terakhirku dengan Dru.Tahu-tahu hari besoknya, Dru dan keluarganya pindah dari Jakarta. Kata mamaku mungkin ke Jepara, rumah papa Dru. - Pada umur tujuh belas, aku mendapatkan surat dari Dru, benar dia di Jepara. sambil masih mengingat perbincangan dengannya pada siang itu, aku terkekeh, Saat ini aku sadar telah mengelabui Dru, kepalaku tidak tumbuh pohon tomat. Tapi aku suka ceritanya tentang tomat adalah mawar yang mengandung, saat kecil Dru naif sekali, bagaimana bisa tomat mengandung tanpa suami, Kami bertemu di kemudian hari. Dia sekarang adalah gadis cantik dan pintar, dia akan pindah ke Bogor untuk bersekolah, kami masih membahas tentang tomat dan bunga mawar. ternyata dia masih sangat naif. Katanya, Tomat di kepalanya tumbuh, dan melahirkan bibit-bibit bunga mawar di dalam otak. Dru senang mengcangkul-cangkul otaknya sendiri, dia suka memupuk, sampai pada akhirnya bunga mawarnya semakin membesar di kepala, duri-durinya membuat dia kuat dan berani pindah ke Bogor sendirian. Dia menemuiku di jakarta, di rusun tempat tinggalnya dulu. Pikirku Dru tidak berubah dia masih cerdas dan naif, dan percaya diri. “kepalaku sekarang sudah penuh buah tomat dan bunga mawar, lima belas tahun aku sudah menampungnya dan sepertinya aku butuh lahan bercocok tanam yang sungguhan, makanya aku pindah dan bersekolah di Bogor” Begitu perbincangan terakhirku dengan Dru remaja, dia cantik dan penuh semangat. Dru juga sempat menayakan si manis yang sudah mati sejak lama. Dru, sampai saat ini, masih selalu ingin menanam pohon tomat, dan aku, sampai saat ini masih selalu ingin melihat Dru menanam pohon tomat.