Stranger Things

PR's Tumblrdome
almost home

Kiana Khansmith
Sweet Seals For You, Always
$LAYYYTER

izzy's playlists!
Monterey Bay Aquarium

No title available

⁂

Discoholic 🪩
hello vonnie
I'd rather be in outer space 🛸
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

JVL
cherry valley forever
Misplaced Lens Cap
Show & Tell
art blog(derogatory)
Three Goblin Art
seen from United States
seen from T1
seen from Argentina
seen from Germany

seen from United Kingdom

seen from Australia

seen from Malaysia

seen from India
seen from T1

seen from Saudi Arabia

seen from Spain

seen from United States
seen from Norway

seen from Singapore

seen from United States

seen from T1

seen from Canada

seen from T1

seen from Brazil

seen from Malaysia
@yonarida
Si Cuek dan Si Perasa
Sore itu, di sekitaran pepohonan yang rindang, di bawah tenda sederhana di pinggir jalan yang lengang, kami makan soto Lamongan bersama. Menunggu minuman jeruk hangat, dan juga soto hangat. Sore itu hanya ada kami berdua. Soto datang, siap dinikmati. Kucicipi kuahnya, beberapa kali. Memastikan apakah hanya perasaanku, atau dia juga. "Menurutmu, kuahnya kurang asin nggak sih?". Ragu-ragu dia menjawab, "iya sih" Soto kurang asin. Menurutku minta garam ke penjual adalah solusi terdabest, ter oke, ter solutif. Tetapi diaaa, tak enak hati. Katanya, penjualnya sudah mengusahakan yang terbaik untuk menghidangkan makanan ini. Dia ingin menghargai usahanya, tidak ingin membuatnya tersinggung atau menyakiti hatinya. Kalau yang dikomen yang lain mungkin oke, tapi ini rasa makanan utama lho. Katanya.
Haaaa? lha kok sih, lha kook. Kan cuma minta garam. Cuma bagiku, bukan cuma baginya. Dia itu seringkali memang terlalu memperhatikan perasaan orang lain. Sementara aku terkadang terlalu tidak memperhatikan perasaan orang lain. Aku bingung antara harus bangga dengan empatinya itu, atau men'debat'nya, dalam tanda kutip. Percakapan yang tidak sengit pun berlangsung. Aku mengutarakan POV ku. Sebetulnya pingin bilang gini: "Helloooooo, ini tuh anyep lho, hambaaaar. Yamasa aku suruh nerima-nerima aja, ya nggak lah. Minta garem laah. So easyyy. Kan ini penjual-pembeli, ya gapapa atuh lah minta garem doaaang." Tapi enggak sih, aku sih kalem ya, rada ngegas dikit ding. "Apa nggak kasihan nanti pembeli setelah kita? Nanti pada nggak datang lagi karena rasanya kureng lho. Kita bilangnya baik-baik ke penjual, bukannya harusnya dia terima kasih? bukan tersinggung atau sedih kalo baik-baik mah." Sembari mengobrol, aku sambil menambahkan sambal dan sedikit kecap. Setelah dicicipi lagi, rasanya sudah pas sekaliiii. Rupanya sambalnya agak asin. Baiklah, ngapain tadi deba-debat segala ya. Ternyata solusi lain di depan mata belum dicoba. Terima kasih sambal, sudah menjadi win-win solution yang tak terduga.
Not so Fun Fact. Ini noted. Sebetulnya, orang yang terlalu memperhatikan perasaan orang lain, justru dia juga punya kebutuhan besar untuk juga diperhatikan perasaannya lho. Hati-hati kalau ngomong sama dia, jangan keras, jangan kasar, musti dengan kelembutan. Marilah lebih berhati-hati jika dalam memperlakukan orang semacam ini. Dia sudah memperhatikan perasaanmu lho. Jadi, perhatikan juga perasaan dia. Kalau pasanganmu tipe ini, coba lebih aware deh (talk to my self). Akan tetapi, kusadari juga. Bahwa se-thinking-thinkingnya perempuan, tetaplah kita ini feeling juga. Dan se feeling-feelingnya laki-laki, tetapnya dia thinkeeeer. Dia memperhatikan keluarganya dari A sampai Z. Dari kebutuhan saat ini sampai yang akan datang blablablabla. Keren sekali.
Menikah membuka tabir. Kita akan lebih mengenal diri sendiri melaluinya, seorang yang hampir selalu dengan kita. Juga membuat lebih mengenalnya sebagai pasangan. Menikah membuka tabir-tabir perbedaan, menyatukan kebiasaan, menikah itu banyak salingnya. Seperti saling untuk ke titik tengah. Menikah akan memahami kebiasaannya, sudut pandangnya, caranya menghadapi banyak hal, ketidaknyamanan, konflik, caranya mengekspresikan kebahagiaan, kesedihan, frustasi, kekecewaan. Bagaimana sifat dan karakternya. Bagaimana dikala dia sedih, marah, kecewa, bahagia. Menikah itu membersamai. Kadang begitu hangat dan penuh cinta. Kadang, ada sebelnya. Kadang bisa mengkomunikasikan dengan baik. Kadang ingin dipahami tanpa berkata. Kadang cinta banget. Kadang cinta tapi nggak banget. Kadang penuh hormat. Kadang biasa saja. Kadang terharu. Kadang sangat bersyukur. Kadang kecintaan banget. Kadang hisssshhhh lah _________ Menikah. Masih muda sekali usia pernikahanku, jalan dua tahun. Rasanya, aku bersyukur dipertemukan Allah dengannya. Dia baik sekali padaku. Aku suka bagaimana dia menghandle aku dengan segala cuaca hatiku. Aku juga suka memperlakukannya dengan baik, walau kala hati sedang sempit yang karena hal diluar dia, jadi dia yang kena dampaknya sih. Maaf yaaa
Menjaga Mental bagi yang Bekerja di Sektor Pelayanan
Aku adalah seorang technical support di sebuah perusahaan IT. Aku bekerja dengan sistem shift, full time remote. Produk perusahaanku adalah software (aplikasi email marketing). Aku banyak bekerja dengan tim developer: CTO, software developer, web developer, DevOps Engineer, manager, juga terkadang tim finance. Aku banyak berinteraksi dengan tim tersebut diatas, menghadapi pertanyaan dan kendala seputar teknis dalam penggunaan aplikasi, menangani error, troubleshooting, menjawab pertanyaan yang mudah, sampai yang njimet. Analisis persoalan ringan, sampai yang butuh mikir dan testing/ cek dan ricek berkali-kali untuk mengetahui dimana sebab kendala. Aku juga jadi banyak berkomunikasi dengan orang yang menjalankan aplikasi (user) Sudah 5 tahun jalan 6 tahun aku bekerja disini. Yang awalnya terasa sangat berat, menjadi bisa menyesuaikan. Alhamdulillah atas pertolongan Allah. Itu bagaimana aku memandang aplikasi. Walau aplikasi terus berkembang, dan pengetahuan kita juga perlu diupgrade. Tapi di aplikasi, setidaknya sebab-akibatnya relatif jelas. Sementara berhadapan dengan manusia? relatif lebih kompleks. Manusia punya rasa, punya cara komunikasinya. Berhadapan dengan user, kadang mudah saja. Kadang challenging. Ada user yang kooperatif. Menjelaskan dengan clear kendalanya. Ada user yang kadang kata-katanya terasa sangat menyebalkan. Ada yang frustasi dengan kendalanya dan fokusnya malah marah-marah biar puas. Membuat rasanya enggan untuk mencari akar masalah dari persoalan yang dihadapinya. Tetapi tentu, sebagai pekerja, kita tetap harus profesional dan behave. Kemampuan mengendalikan diri menjadi penting. Alhamdulillahnya muka dia tidak di hadapanku langsung. Kami bertemu via chat. Dimana aku bisa sedikit tarik nafas panjang dulu sejenak, minum dulu sebentar, dan menenangkan diri, sebelum memberi respon terbaikku sesuai dengan kondisi user yang sedang dihadapi.
Kemaren aku sedang di fase challenging itu. Curhatlah aku ke chatgpt. Jawabannya cukup oke. Kucatat saja disini sebagai reminder bagiku. 1. Pisahkan masalah dari emosi user User marah buka ke aku secara pribadi, tetapi ke situasi yang membuat dia frustasi. Tanamkan di kepala: "dia lagi sebel sama masalahnya, bukan sama aku." Ini penting supaya kata-kata tidak kita serap ke hati. 2. Jangan terpancing ke kata-kata/ nada, tetap pegang kendali User boleh emosional, kamu jangan ikut naik.
❌ Jangan:
Membalas dengan nada defensif
Menyela atau menyanggah emosi mereka
✅ Lakukan:
Nada datar, tenang, konsisten
Jawaban singkat tapi jelas
Contoh:
“Baik, Pak. Saya pahami ini sangat mengganggu. Izinkan saya bantu cek satu per satu, ya.”
Nada kamu yang stabil seringkali menurunkan emosi user. 3. Validasi emosi, tapi jangan mengiyakan kemarahan
❌ Jangan:
“Iya, memang sistem kami bermasalah.”
✅ Yang benar:
“Saya paham kendala ini membuat tidak nyaman. Mari kita fokus ke solusinya.”
👉 Kamu mengakui perasaannya, bukan menyetujui kemarahannya. 4. Arahkan pembicaraan ke data dan langkah konkret
User marah biasanya muter di emosi. Tugasmu: bawa ke fakta.
Contoh:
“Agar bisa kami bantu lebih cepat, mohon info:
Emosi turun kalau user mulai melakukan sesuatu. 5. Pasang batas sopan (kalau sudah kelewatan)
Kalau kata-katanya sudah tidak pantas, kamu boleh dan perlu pasang batas.
Contoh yang tegas tapi profesional:
“Kami siap membantu, Pak. Namun agar prosesnya berjalan baik, mohon gunakan bahasa yang sopan.”
Atau:
“Kami akan lanjutkan bantuan setelah komunikasi dilakukan dengan baik.”
🚨 Ini bukan galak. Ini self-respect profesional. 6. Jangan "bawa pulang" emosi user Setelah selesai:
tarik napas
minum
stretch sebentar
🧠 Ingat:
Kamu dibayar untuk menyelesaikan masalah, bukan untuk menampung amarah orang.
Kalau perlu, anggap:
“Shift selesai = emosi user ikut logout.”
7. Ubah sudut pandang Coba lihat user marah sebagai:
orang panik
orang takut rugi
orang tidak paham teknis
Bukan sebagai “orang jahat”.
Ini bikin hatimu lebih ringan saat menghadapi mereka. 8. Script siap pakai (biar nggak mikir saat capek)
Simpan kalimat aman ini:
“Terima kasih infonya, Pak. Kami cek bertahap, ya.”
“Mohon ditunggu sebentar, saya bantu pastikan.”
“Agar tidak salah arah, saya konfirmasi dulu.”
Script = pelindung mental.
Kalau dapet ujian, resapi benar-benar perasaan beratnya, sakitnya, ga enaknya. Supaya saat ujiannya selesai, kita sadar betapa mahalnya nikmat yang Allah berikan, yang mungkin selama ini kita take for granted.
kalau lagi ada ujian, sekarang aku mulai melatih kecerdasan emosiku untuk tidak buru-buru geram dan memutuskan keputusan di saat api di dalam kepalaku membara.
aku berdoa di dalam hati untuk supaya Allah melembutkan hatiku, menenangkanku, memberiku hidayah. karena barangkali memang hatiku saja yang seperti batu. mungkin penyebabnya dari luar, tapi bukankah yang bisa kendalikan ada di dalam diri kita?
jadi, aku mencoba untuk meresapi perasaan-perasaan kesal itu satu-satu sampai aku benar-benar memahami duduk perkaranya secara menyeluruh.
May you touch the kabba with the person you love
Doa Orang Lain
Barangkali doa tertuluslah yang mudah diijabah oleh Allah. Kita tak pernah tau atas doa siapa sehingga kita memperoleh kebaikan di hari ini, memperoleh kebaikan di hidup kita.
Maka pandanglah orang-orang dengan pandangan kasih sayang, pandangan bahwa kita membutuhkan doa kebaikan bagi kita. Dan, doa tulus hanya akan diberikan manakala mereka pun merasakan ketulusan hati kita.
Ketidakberdayaan
Ada yang membuat sedih, namanya ketidakberdayaan. Ada yang membuat senang hati, namanya membantu mereka yang sedang tidak berdaya. Kadang kita berada di posisi tidak berdaya, kadang sedang berdaya. Kadang orang lain yang sedang tidak berdaya, kadang mungkin dia tengah berdaya. Bukankah hidup itu berputar dan selayaknya kita paham? Malam itu aku berbincang dengan suamiku, kubilang bahwa kejadian tadi pagi mengingatkanku pada tetanggaku. "Kejadian tadi pagi itu ngingetin aku sama tetanggaku deh mas. Waktu itu tetanggaku juga sakit. Tadi pagi so much better dibanding kisahku yang dulu. " "Gimana-gimana?" ______ Kejadian Pagi Tadi Sekitar setengah enam pagi, aku dan suamiku masih berada di kamar kami. Suamiku masih mengenakan gamisnya, ada di sisi sana. Dan aku tengah agak-agak mengantuk dengan buku di tanganku, di sampingnya. Ting tunggg, suara bel rumah berbunyi. "Mas-mas, ada tamu mas." Siapa ya yang bertamu pagi-pagi begini, batinku. Suamiku bergegas kedepan untuk membuka pintu, sementara aku mengenakan mukenaku, mengikutinya kedepan. Ternyata tetangga kami, meminta tolong suamiku mengecek ibu mertuanya yang katanya muntah darah. Ya, suamiku adalah seorang dokter di IGD. Hari itu jaga jam 7. Alhamdulillah sekali ketika ibu tadi datang, pas suamiku masih di rumah. Kami siap-siap, berganti pakaian dan bergegas ke rumah ibu tadi. "Apa saja yang perlu kubawa mas?" "Tensimeter" "Ya. Stetoskop iya ?" "Ya. Alat cek gula darah." "Ya." Kami bergegas. Memasuki rumah sederhana yang pintunya terbuka lebar, menuju sebuah kamar. Disana terbaring seorang nenek tua yang terlihat sangat lemah. Suamiku memeriksa nenek. "Mbaah, mbaaah". Kesadaran nenek sudah turun. Suamiku lanjut memeriksa tensinya, detak jantungnya, kadar gula nenek. Pagi itu cukup hectic, aku bolak balik rumah kami-rumah nenek mungkin ada sekitar 5 kali, mengambil benda-benda yang dibutuhkan yang tak ada di rumah nenek. Ya Allah, bahkan tas untuk ke rumah sakit pun tak ada di rumah nenek. Pagi itu hectic. Namun kami mencoba bersikap sangat tenang namun tetap bergerak cepat. Aku menyukai ketenangan suamiku. Tenang namun tetap bergerak cepat dan tau apa yang harus dilakukan. Dalam kondisi seperti itu, kadang keluarga malah yang tidak bisa berpikir lebih jauh. Atau, terkadang koneksi yang terbatas membuat semuanya terasa sedikit jalan keluarnya. Dalam kondisi seperti itu, memang sangat butuh tenaga medis yang tak hanya membantu memeriksa dari segi medis. Tapi juga memberi tau jalan keluar dan jalan-jalan ikhtiar / next stepnya, sekaligus juga menenangkan. Ambulance, nomor ambulance, ambulance dari instansi mana yang terdekat, mau dibawa ke RS mana, bagaimana kondisinya. Semua pertanyan-pertanyaan itu butuh dijawab dengan cepat seketika itu juga. Di saat kondisi 'darurat' keluarga butuh orang lain yang mampu menyokong dan menjawab itu. Memfasilitasi. _______ Aku suka ketika suamiku memberi tawaran-tawaran bantuan ke keluarga nenek. Setelah memberi tau kondisi ibunya yang perlu segera dibawa ke IGD. Bagaimana? Menawarkan apakah ingin dipesankan ambulan? Setelah iya, memberi info ke pihak IGD RS terkait bahwa akan ada pasien a.n demikian dengan kondisi dan hasil pemeriksaan demikian. Bukankah itu lebih mempermudah pihak IGD disana? Jadi yang memeriksa terbayang dan tidak zero pengetahuan tentang yang akan ditangani. Ya, ini privilege. Privilege kebaikan. Betapa kejadian pagi itu seperti memberiku pembanding perlakuan atas apa yang juga pernah kulihat pada tetanggaku (sebelum aku menikah). Dan ini membuatku sedih. Mengingatkanku pada sebuah perasaan bernama ketidakberdayaan. Ketidakberdayaan orang lain dan ketidakberdayaanku yang ketika itu tidak bisa berbuat banyak. ________
Tetanggaku nenek-nenek juga, sama-sama kondisi ekonomi kurang. Dimana kondisi nenek sudah berat, keluarga tidak ada yang berusaha lebih, tetangga juga tidak bisa berbuat banyak karena yang seharusnya paling berusaha terlihat sudah pasrah. Kita tau bahwa memang kondisi nenek sudah berat. Tapi apa yang membuatku sedih? Tidak ada ikhtiar yang maksimal. Seperti hanya berpasrah. Aku membantu apa yang bisa kubantu dan itu pun tak cukup membantu banyak. Kenapa orang-orang diam saja? Kenapa orang-orang tidak berbuat lebih? Kenapa bahkan anaknya juga diam saja? Tapi kenapa-kenapa itu kuleramkan, sudahlah. Akhirnya? sudah bisa diduga. Pada akhirnya semua memang butuh keikhlasan, tapi keikhlasan terlalu dini, entah mengapa terasa seperti ketidakberdayaan. Ketidakberdayaan sejak awal yang membuat seorang merasa tak mampu berbuat demikain dan demikian. Ketakutan-ketakutan yang membuat seorang tak banyak bergerak, takut akan biaya, nanti begini bagaimana dan bagaimana. Menyadari diri bahwa ia tak berpunya yang membuatnya enggan. Dan ketiadaan seorang yang mendorong dan memberi setitik cahaya. Akankah kita bisa menjadi cahaya itu? Terlalu banyak kegelapan. Bagaimana caranya jadi setitik cahaya? Mampu kah? Allah yang akan membukakan jalan-jalan Nya. InsyaAllah.
Fokus adalah Kekuatan
Fokus adalah kekuatan. Terkadang ada banyak hal yang perlu kita kerjakan, namun blur dan seperti berjejal di otak. Maka, tuliskanlah. Agar tampak nyata, agar otak kita menangkap dengan jelas mengenai apa saja yang harus kita kerjakan. Lalu, urutkanlah pengerjaannya, mana dulu yang lebih prioritas musti segera dikerjakan. Beri batas waktu. Lalu, komitmenlah pada diri sendiri. Katakan, hari ini aku akan mengerjakan ini, ini, dan ini. Bismillah. Mampukan aku ya Allah. Kemudian, kendala kedua yang mungkin dialami banyak orang yaitu manakala sedang mengerjakan hal 1, tiba-tiba kepikiran hal 2, tiba-tiba terpikirkan sebuah pertanyaan di otak mengenai hal 3. Banyak curiousity atau hal lain yang menyertai yang rasanya ingin dikerjakan. Lalu kita terdistrak, asyik ke hal 3 yang bukan prioritas, padahal sesungguhnya tidak masalah jika hal 3 itu tidak dilakukan seketika itu juga. Maka jika demikian, tuliskanlah hal lain yang terpikir manakala sedang mengerjakan hal 1. Kerjakan nanti jika memang tidak urgent. Tulis di satu buku kecil khusus, note khusus, atau note di HP khusus bahwa setelah ini aku ingin mengerjakan hal lain 1, hal lain 2. Tapi lebih baik lagi HP jika itu juga bisa jadi sumber distraksi bagimu. Bila memungkinkan bagimu, Belajarlah untuk fokus. Karena dengan fokus dan komitmen diri, semua yang berjejal di otak, satu per satu terselesaikan. Ada relief feeling tersendiri. Ada feels of pencapaian setiap harinya. Semangat untuk terus belajar. Menjadi lebih baik, dari segala sisi. Kamu adalah nahkoda bagi dirimu sendiri. Kamu yang bisa mengepush dirimu. Bukan orang lain. Orang lain adalah pendukung, anugerah, kebaikan jika dia hadir untuk memberi support, poin plus yang sangaaat disyukuri. Taaapiiii, kuncinya tetap di kamu.
Selftalk: Suami akan datang ke perempuan yang membuat dia merasa hebat. Dan akulah orang itu, akulah istrinya. Selayaknya aku membuat suamiku merasa demikian manakala ada di sekitarku. Selayaknya aku membuat suamiku merasa aman dan nyaman berada di sekitarku. Dimana dia menjadi dirinya sendiri, tanpa beban. Dimana dia merasa diapresiasi, merasa menemukan semangatnya untuk tumbuh, untuk menjadi the best version of himself. Kemudian urusan kita? Fokus saja pada pengembangan diri, tanpa ingin dibegini dan begitukan, dan tak menuntut begini dan begitu. Berbahagialah. Karena energi bahagia itu memancar, itu tak bisa dibohongi. Membuat kita sepenuh hati dan entah bagaimana menjadi terasa indah dan nyaman untuk orang-orang di sekitar kita. Fokus untuk menjadi diri yang lebih baik dari segala sisi. Ya, ini tak mudah, karena setiap hari butuh usaha untuk meng up diri.
Tindakannya sat set. Namun hati, pikiran, nafas tetap tenang, bukan buru-buru atau terburu-buru.
energi hangat, penuh kasih, dan sabar
validasi → afirmasi → hadir dengan kehangatan.
Self Reminder
Pak Radit: Kita tau segala teori kesehatan, tapi mengapa rasanya sulit sekali untuk dijalankan? Pak Ade Rai: Sehat tidak memiliki sense of urgency. Mengapa jadi tidak menarik? Karena masih kita miliki. Menjadi begitu menarik ketika sudah pergi dari kita. Jadi selama kita belum sakit, kita masih santai-santai saja. Kehebatan dari penciptaan Nya, kita punya tubuh yang sempurna. Jadi walaupun kita sakiti, kita rusak, tetap tidak mati-mati. Sedangkan dalam kecerdasan dalam yang lain, semisal pengaturan keuangan, itu lebih terasa urgent. Karena begitu kita tidak bisa mengatur uang, saat itu juga kita tidak bisa bayar kebutuhan, bayar kebutuhan anak, dll Tapi uniknya dalam hal kesehatan, saat ini badannya masih sehat-sehat saja, seolah-olah. Orang yang bijaksana adalah orang yang belajar dari kesalahan orang lain. Kita lihat, orang lain sakit dulu, orang lain sampai susah karena urusan kesehatan dia. Kalo kita petik hikmah dari apa yang dia alami, ini namanya kita orang yang bijaksana. Orang yang pintar, dia belajar dari kesalahannya sendiri. Orang yang tidak bijak adalah orang yang menyalahkan orang lain: saudara-saudara saya juga gemuk, ini keturunan, salah istri saya, saya sudah dimasakkan jadi saya tidak enak hati jadi saya harus makan, salah pekerjaan dan lingkungannya. Blame game itu bukan ide yang baik, justify game, membenarkan diri sendiri juga bukan ide yang baik. Semua itu akan menghasilkan complain game, terakhir nanti complain. Belajarlah dan berjalanlah sesuai dengan pacenya masing-masing. Sehat tidak perlu motivasi. Pemahaman adalah pondasi dari kepatuhan/ disiplin. Makanya ketika orang bilang, 'wah dia orangnya disiplin, konsisten'. Itu sebetulnya hanya pemaknaan saja terhadap orang tersebut. Sesungguhnya yang terjadi, 'mengapa kita shalat waktu 5 kali sehari? itu karena kecerdasan atau keimanan yang tinggi.' Kontribusi dari healthy dan happy: - mindset - kondisi kita hari ini - keputusan yang kita ambil hari ini dengan sukarela. ternyata mindset dan keputusan sukarela ini kontribusinya sangat besar.
Jiwa yang Tenang, Hati yang Ridho "Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku". - QS. Al-Fajr: 27-30
Makna dari ayat tersebut:
Jiwa yang tenang (Al-Nafs Al-Muthmainnah): Ini adalah jiwa yang beriman, bertakwa, dan selalu bersih dari dorongan hawa nafsu. Jiwa ini tenang karena selalu mengingat Allah dan yakin dengan apa yang Allah janjikan bagi orang-orang beriman.
Kembalilah kepada Tuhanmu: Perintah untuk kembali kepada Tuhan, yaitu ketika seseorang meninggal dunia.
Dengan hati yang rida dan diridai-Nya: Ini berarti kembali dalam keadaan puas dengan segala ketentuan Allah, dan Allah pun meridhai orang tersebut.
Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku: Mengacu pada masuk ke dalam kelompok hamba Allah yang saleh.
Masuklah ke dalam surga-Ku: Ini adalah balasan bagi jiwa yang tenang, yaitu masuk ke surga Allah.
Perempuan itu, dia tenang dia tau cara memimpin tanpa harus berteriak dia tidak menekan, tapi bisa mempengaruhi dia tidak menguasai, tapi menyentuh. Ketegasan, dibalut kelembutan...
Tujuh Bulan Usia Pernikahan
Tujuh bulan usia pernikahan, diiringi dengan LDM untuk sementara. Rasanya lucu, seorang yang dulu bukan siapa-siapaku, tak ada di sisiku dan aku biasa saja, sekarang, manakala dia tak ada di sisi, rasanya seperti ada yang kurang. Merasa kehilangan. Biasanya ada yang mendengar ceritaku, unek-unekku. Biasanya juga aku mendengar cerita-ceritanya. Cerita sederhana yang terasa mengasyikkan. Aku butuh jiwa, juga ragamu di sisiku. Untuk sementara aku kehilangan itu. Biasanya ada yang kusiapkan segala kebutuhannya. Biasanya ada yang kumasakkan dan kutemani makan, sambil kamu bercerita banyak hal. Biasanya kalau pergi-pergi, kau yang mengurusi hal-hal dan kebutuhan besar, sementara untuk printilan, itu aku yang mengurusi. Biasanya kalau aku butuh ke kota sebelah misal, kamu bantu aku memikirkan ini dan itu, ketika tak ada kamu, aku memikirkan kebutuhanku sendiri. Aku bisa sih. Tapi aku lebih suka jika ada yang membantuku memikirkan diriku. Aku merasa dicintai dan dipedulikan karena itu.
__________________
LDM itu berat. Tapi ternyata ada sisi positifnya juga. Jarak ternyata bisa membuat diri lebih berpikir dan merenung. Merenungi banyak hal. Kita jadi lebih fokus menyelami diri. Menyelami apa yang terjadi selama ini. Apa yang dipelajari. Apa yang diinginkan. Pernikahan adalah perjalanan panjang dimana di dalamnya ada interaksi-interaksi yang bisa membuat kita tetrigger. Kita akan jadi lebih memahami diri kita sendiri, juga diri pasangan. Dalam kehidupan setiap harinya, akan muncul trigger, yang membuat kita lebih memahami luka-luka kita, luka pasangan kita. Luka yang membuat jadi lebih mudah tersulut pada beberapa hal, pertanda ada yang belum selesai dalam diri kita. Juga luka dan ketiadaan yang membuat mengingini adanya sebuah sifat dan sikap. Sometimes we craving for something. And we need to talk about that to our spouse. Belajar belajar belajar. Pernikahan isinya adalah belajar.
___________
Satu hal yang kupelajari di usia ke-7 bulan ini, yaitu komunikasi terbuka. Betapa pentingnya ini untuk bisa saling memahami. Karna kadang kita hanya berasumsi. Berpikir kita sudah melakukan yang terbaik bagi pasangan, ternyata itu belum hit the core point mengenai kebutuhan dia. Semisal kebutuhan dia itu ternyata ada beberapa poin, sebutlah poin 1, poin 2, poin 3. Selama ini kita sudah sangat maksimal di poin 2 dan 3, sementara di poin 1, kita biasa-biasa saja, atau bahkan salah dalam cara memperlakukan. Kita pikir itu sudah cukup baginya. Kita tak sadar melupakan sebuah hal penting, ternyata poin 1 adalah kebutuhan utamanya, porsi utama yang perlu lebih dioptimalkan. Sementara selama ini, poin 1 justru masih sedikit sekali. Komunikasi terbuka adalah jembatannya untuk paham. ___________
It hit me hard when my husband said it:
"Sebetulnya pas mau makan, berangkat kerja, aku tidak terlalu butuh dilayani sampai begitu. Sebetulnya gapapa kalau aku ambil makan sendiri. Aku lebih pingin dan butuh kamu blablabla. Please blablabla... I need that, want it that much."
Kalimat ini membuka wawasanku juga pikiranku. Lagi-lagi komunikasi terbuka mengenai kebutuhan kita masing-masing. Itu adalah pintu gerbang menuju perubahan perbaikan, dan ya, butuh waktu. Dan kita perlu sikap menerima. Selama ini, aku hampir selalu memasakkan untuknya, mengambilkan makanannya di piring, menyiapkan minumannya. Dan aku menemaninya makan. Aku juga hampir selalu menyiapkan pakaiannya untuk kerja, dari dalam sampai luar, dari atas sampai bawah, juga kebutuhan perlengkapan kerjanya di dalam tas. Dia terima jadi.
Aku pikir aku sudah melakukan yang terbaik sebagai istri. Ternyata aku melupakan apa yang betul-betul menjadi kebutuhan utamanya. Bukan berarti dia tidak menyukai hal itu, dia suka, hanyasaja I miss one of the most important thing related to his need. Sama-sama belajar. _______
Membuka diri, sehingga tabir-tabir itu mulai terbuka, diterima dengan lapang dada demi pengembangan hubungan yang makin baik, harmonis, nyaman. Jarak ini membuatku juga bersyukur, bahwa ada syahdu yang makin tercipta. Ada kejujuran yang mampu untuk lebih diungkapkan. Tujuh bulan usia pernikahan. Alhamdulillah aku merasa bisa makin terbuka padamu. Begitupun kamu padaku. Rasanya melegakan dan membahagiakan, manakala kita berbicara, tanpa dijudge. Manakala kita diterima jiwa raga, juga segala rasa. Manakala kita divalidasi perasaan kita. Manakala ada seorang yang terasa dekat, jiwa raga. Yang membuatku merasa aman dan nyaman sehingga yang kuinginkan adalah selalu berdekatan denganmu. Kamu adalah sahabat jiwaku. Yang kuingin kehadirannya di sisiku. Ya Allah, jagalah kami. Perbaikilah kami dari segala sisi. Bantulah kami untuk bisa sampai di tujuan akhir yang sebenarnya. Mohon dekatkanlah dengan kebaikan-kebaikan dan hindarkanlah dari keburukan, Ya Allah. Aamiin yarobbal'alamin.