Tanda-tanda Muncul Gigi Baru
Bayi Anda menjadi kolokan lebih dari biasanya
Menggigit apa saja
Bayi Anda suka menjilat lantai yang baru dipel
Puting Anda terasa sakit lagi seperti baru belajar menyusui
Sekian info penting kali ini.
Monterey Bay Aquarium
TMBGareOK. The Official They Might Be Giants tumblr
sheepfilms
Color Me Curious
Show & Tell

Discoholic 🪩
macklin celebrini has autism

pixel skylines

roma★

bliss lane

❣ Chile in a Photography ❣

if i look back, i am lost
KIROKAZE
The Bright Sessions
tumblr dot com
Fai_Ryy
Cosmic Funnies

Game Changer & Make Some Noise
Sweet Seals For You, Always

No title available
seen from United Kingdom

seen from Canada
seen from Brazil
seen from Morocco

seen from Belgium

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye
seen from Brazil
seen from France
seen from Malaysia

seen from Türkiye

seen from United States
seen from Ireland
seen from Türkiye

seen from United States
seen from Kenya
seen from Bangladesh

seen from Saudi Arabia
@youramateurparents
Tanda-tanda Muncul Gigi Baru
Bayi Anda menjadi kolokan lebih dari biasanya
Menggigit apa saja
Bayi Anda suka menjilat lantai yang baru dipel
Puting Anda terasa sakit lagi seperti baru belajar menyusui
Sekian info penting kali ini.
Quick Update
Hai Max! Wah, udah lama banget enggak nulis, gara-gara 3 bulan belakangan muncul banyak project baru di kerjaan (plus mama baru bisa kerja pas Max bobok) jadi kayaknya sulit aja ketemu waktu untuk update tumblr. Tapi hey!, itu artinya masih ada kerjaan untuk mamamu ini, Max. Puji Tuhan.
Anyway, update cepat nih tentang milestone yang udah Max lewatin hingga hari ini (10 Bulan 8 Hari):
5,5 bulan mulai belajar makan solid food, duduk belum terlalu tegak.
6 bulan belajar makan dengan metode baru, BLW (kita bahas ini di postingan lain). Duduk udah bisa tegak, gusi udah mulai kasar
7 bulan, tiduran udah mulai guling-guling gak bisa diem. Dua gigi bawah udah muncul.
8 bulan, mulai belajar merangkak
9 bulan, pertama kali dilepas sendiri merangkak di lantai (girang bener kamu, nak, waktu itu)
10 bulan, aktif banget. Udah mulai berdiri, pegangan dan merambat furnitur. Kayaknya mau numbuh gigi baru di atas.
Yah begitu kira-kira. Semua anak punya cerita milestonenya sendiri. Ada yang udah bisa ini belum bisa itu. Ada yang udah bisa itu belum bisa ini. Dan papa mamamu enggak mau maksain kamu harus sama seperti anak lain. PR kami cuma memberi asupan gizi yang baik, dan bantu stimulasi (latihan) aja. Tentu dengan pace dan speedmu sendiri. Tumbuh sehat dan happy ya, nakku.
Love,
Mama
Udah
Maxine Pardede
Waktu JJS
Stranger: (Jalan kaki ke arah gue, sambil nunjuk Maxine lagi digendong) Ini siapanya, dek?
Gue: Oh, anak saya, pak (masih sopan)
Stranger: Oh, masih muda udah punya anak, ya... (ngomongnya makin deket ke gue ama Max)
Gue: Enggak kok, saya udah 33 (sambil nunjukin muka risih)
Perasaan campur aduk dari percakapan random ini:
70% risih ditanya-tanya orang asing,
15% kocak karena (lagi-lagi) dikira baby sitter Maxine,
10% takut ketular covid karena enggak pake masker,
5% flattered karena dikira masih muda
Kok haus mulu anaknya? ASInya kurang kali tuh
Orang dekat
Oleh-oleh jalan sore bersama Max 😍
"No, u can't touch my baby!"
(or even exhale ur breath around her face. Stay away!)
Asa untuk ASI
Setelah sebulanan akhirnya gue update lagi ni Tumblr, walaupun gue nulisnya bukan di laptop (di hp sambil nen-in Si Maxine :'))
Anyway, sejak gue hamil dan ngelahirin ada beberapa aplikasi parenting yang gue ikutin, salah satunya adalah The Asian Parent. Di situ selain bisa dapet panduan perkiraan milestone anak dan banyak artikel berfaedah, gue juga bisa gabung di forumnya.
Nah, salah satu topik yang lumayan sering ditanyakan di forum itu adalah tentang ASI. Jadi ada ibu nanya ke forum: Harus makan ASI booster apa nih supaya ASInya bisa banjir, karena ASI beliau hanya keluar sedikit. Tak lupa disertakan juga foto botol ASI hasil perahannya yang terlihat sedikit.
Biasanya gue cuma jadi silent reader tapi enggak tau kenapa akhirnya gue gemes kasih komentar juga. Intinya adalah kalo mau ASI keluar kita kudu rileks, happy, enggak merasa terbeban omongan orang lain. Karena salah satu hormon pemompa ASI adalah Oksitosin atau hormon cinta yang didapat ketika kita merasa happy. Hayooo... Udah ngerasa happy belom?
Terus gimana dong naikin Oksitosinnya? Bisa dipijit suami (pijat oksitosin - google it!). Atau yang paling gampang bisa juga makan makanan favorit Anda, Buibu, apapun itu bahkan Indomie sekalipun. Ya mungkin dipakein daun katuk kali ye, biar mertua enggak nyap-nyap. Hehe. Serius deh, mau sebanyak, sekeren dan semahal apapun ASI booster kelen, Buibu, ga akan ngebantu kalo kelen enggak dalam keadaan tenang dan happy.
Lagipula wajar kalau jumlah ASI yang keluar sedikit, karena jumlah ASI yang diproduksi selalu mengikuti kebutuhan bayi. Bayi newborn lambungnya sebesar apa sih? Sebesar kelereng kali, jadi belum butuh banyak juga.
Yuk, ditambah pengetahuannya soal ASI dengan baca buku kayak "Buku Pintar ASI dan Menyusui" oleh F. B. Monika (fotonya di bawah ya). Atau kalau enggak suka baca buku, monggo kepoin IG nya AyahASI Indonesia, di situ banyak banget ilmu yang bisa kita ambil.
Untuk bumil yang baca ini, yuk bekali diri dengan ilmu per-ASI-an. Jangan sampai bayinya nanti melewatkan Kolostrum, yaitu cairan ASI pertama yang berwarna kekuningan (sering dibuang karena dikira ASI kurang bagus), yang jadi bekal antibodi untuk si kecil sampe dia besar nanti.
Woooh.. panjang juga tulisan gue kali ini. Udah dulu deh. Jadi Buibu, makanya penting banget dukungan moril dan makanan enak dari suami, orang tua, atau siapapun yang disekeliling kita. Kalau ke suami, silakan diobrolin tentang apa yang Buibu pengenin atau butuhin. Oiya, jangan segan juga untuk datangin bidan atau dokter laktasi terdekat untuk konsultasi.
Semangat ya, Buibu. Pasti bisa! :*
Buku ini dihadiahkan oleh temen yang adalah busui juga. Hai Icha! Dan gue akan ngasih buku ini lagi ke sesama calon atau busui lain. :)
Tak Berjudul
Menjalani peran sebagai istri dan ibu setiap hari. Belakangan kadang suka lupa apa yang gue suka atau mau. Bukan, ini bukan keluhan kok. Ini cuma pemikiran yang muncul tengah malam waktu suami dan anak tengah terlelap di sebelah gue.
Mari, Buibu, jangan sampai kita kehilangan identitas masing-masing sebagai individu supaya kita tetap waras. Mungkin dengan ngejalanin hobi, entah itu berkebun, crafting, masak (untuk pleasure bukang tanggung jawab harian), bikin kue, menggambar, motret, sepedahan, atau apapun deh. Yang penting kita punya waktu untuk diri sendiri dan seneng ngejalaninnya. Kita happy, pakbapak dan nakanak pasti bakal happy. Yekan?
Duh, coba kalo putingku bisa ngeluarin ASI, aku mau gantian
Bernart Pardede
Kalau gue sih udah sampe tahap “suami mulai nonton drakor”. Kalau kalian udah sampe tahap mana, buibu pakbapak?
Udah 2 bulan aja enggak kemana-mana, ngarep banget pandemi covid-19 ini cepet kelar. Eeeh, malah pada bandel pulang kampung, ngumpul di McD Sarinah, belanja baju lebaran, auk dah ngapain lagi. Plis lah tahan ego enggak pulkam dulu, demi keluarga kelen.
Udah ah, enggak mo ngomel.
Image: IDGAF Mamas
Lahiran Bebas Panik
Kayaknya hampir semua dari kita dapet doktrin dari kecil kalo melahirkan itu sakit. “Makanya kamu jangan nakal, mami ngelahirin kamu sakit banget loh”, kurang lebih gitulah yang selalu jadi mantra orang tua waktu kita nakal.
Alhasil jadi nempel deh di bawah kesadaran kita, khususnya perempuan, bahwa ngelahirin itu sakit. Dan pikiran itu pengaruh banget ke mindset kita waktu hamil dan akan melahirkan, yah, termasuk gue sih.
Untungnya waktu itu gue resign dari agency pas usia kehamilan masih 8 minggu, jadi gue punya banyak waktu buat belajar ini itu. Nah, di saat itulah gue tau bahwa sebenarnya melahirkan pervaginam bisa, lho BEBAS SAKIT DAN TRAUMA. Gimana? Melalui metode hypnobirthing, yaitu pemrograman pikiran bawah sadar melalui kata-kata atau afirmasi positif. Bukan melahirkan secara enggak sadar, ya.
Enggak cuma baca-baca buku dan praktek-in hypnobirthing, buibu, gue juga waktu itu rajin ikut kelas Prenatal Yoga sejak hamil 28 minggu. Bahkan gue praktekin tiap hari, abis itu gue jalan keliling komplek setengah jam. Ya, pokoknya hampir semua literasi tentang dua hal itu gue baca, video-videonya Bidan Yessie Aprilia gue tonton semua.
Menurut gue sih, mengisi diri dengan pengetahuan yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan perlu banget, ya. Karena ya itu.. mengutip Bidan Yessie bahwa “Knowledge is Power”. Semakin banyak lo tau tentang apa yang terjadi dengan tubuh dan janin lo, akan semakin jauh itu rasa takut, rasa takut hilang, bakal menjauh juga itu rasa sakit persalinan.
Ada satu hal lagi yang ditanemkan ke diri gue juga, bahwa bayi di dalam perut gue lah yang menentukan jalan lahirnya sendiri. Karena, hey, dia juga berusaha sekuat tenaga lho untuk mencari jalan lahirnya. Enggak cuman gue doang yang ngeden. Lo, suami lo, janin, dan tim dokter adalah satu tim.
Enggak Sesuai "Birth Plan”
Yak, tibalah waktu persalinan. Si Tara (nama uterus-nya anak gue saat itu) memilih untuk lewat jendela, buibu, bukan pintu utama. Ketuban pecah dini, rembes banyak, tinggal dikit banget, sampe dokter gue memutuskan untuk SC.
Well, gue enggak bilang jerih lelah gue ama suami untuk belajar lahiran pervaginam sia-sia. Saat mau operasi, gue yang enggak pernah tidur di meja operasi seumur-umur, tenang banget, sampe perawat dan dokter anestesinya bingung. Dan, bonus: pas udah pulang ke rumah, gue sama suami enggak ngelewatin yang namanya“Sleepless nights of a newborn”. Beneran dah, ni anak gue baik banget. Nangis cuma pas haus, dan enggak bikin bapak emaknya begadang semaleman.
Yah, itu pengalaman gue sih, tiap ibu kan punya pengalaman dan kesan yang beda-beda. Buat buibu yang lagi hamil, tetap semangat yaa. Jaga mood, jangan sedih, stay happy! You can do it 📸: @bernart_pardede
Hi!
Salam kenal dari gue, seorang ibu baru yang juga bekerja di rumah sebagai seorang voice over talent. Dulu menulis jadi sarana curhat gue, tapi gue cuekin blog ini karena waktu dan ide menulis habis untuk menjadi pengabdi brand waktu kerja di sebuah digital agency.
Setelah resign di usia kehamilan 8 minggu, gue fokus belajar soal kehamilan dan persalinan, yah sambil cari-cari receh dari kerjaan voice over. Minggu demi minggu lewat sampailah di waktu persalinan dan... "O my God, I'm a parent?!"
Yah, mungkin melalui jurnal ini jadi sarana gue curhat tentang komedi keseharian atau pembelajaran gue menjadi orang tua, khususnya jadi ibu. Syukur-syukur 10 tahun lagi bisa dibaca oleh anak gue (Hi Maxine! :*), supaya dia tahu juga apa yang bapak dan emaknya lewatin.
Cheers!