Hari ini aku selesai menonton film korea berjudul Brewing Love. Tentu saja menggunakan akun viu adikku
Dari Drakor itu aku belajar banyak hal. Aku semakin percaya bahwa hal-hal di dunia datang ke hidup kita di waktu yang tepat dengan masa di diri kita yang paling tepat. Mengapa? Contoh:
Aku sudah direkomendasikan adikku sejak tahun 2024 saat film itu sedang tayang episode per episode, namun aku tolak karena aku tidak suka menonton Series yang masih on going. Tapi semenjak aku sudah tidak bersama adikku lagi, ada beberapa film yang belajar mulai kutonton walaupun dia masih on going Aku jadi tahu rasanya menunggu dari minggu perminggu, rasa deg-degannya, rasa ingin tahunya dengan mencari spoiler dari youtube tentang tema episode minggu depan walaupun beberapa ada yang meleset karena sikap sotil orang-orang. Ternyata, aku mulai menikmati bertahan memilih untuk hidup untuk drama korea episode depan. Dan kurasa masa sepi dan patah hati ini walaupun perlahan, tapi mulai bisa kuraih satu persatu tangganya Hari jumat kemarin aku dipanggil dr. Nita, menanyakan tentang bagaimana kabarku (aku beruntung mempunyai guru sehangat dan seperhatian beliau). Beliau memberiku PR tentang tehnik relaksasi yang ingin kulakukan untuk meredam panikku saat ujian Osce, bertemu bu Dhana dan dr. Eva.
Aku mengaku bahwa aku menangis saat ketemu lagi dengan dr. Dhana post jurding, aku mengaku aku mengkonsumsi obat Floxetine untuk mengobati depresiku (aku tidak mengaku bahwa aku self medicated, tidak menemui psikiatri tapi aku membeli sendiri obat itu di tokopedia), pecobaanku double dose sampai aku gelisah dan ingin bunuh diri nyari jembatan dan mau naik ke Flamboyan 11 (untungnya tipe depresiku adalah yang hipersomnia makanya aku ketiduran) Aku selalu seperti itu dari dulu, melupakan kesedihan dengan tidur dalam dan panjang. Mengisolasi diri selama 2 minggu karena kegagalan Sekarang aku sudah menemukan kekuatanku kembali walaupun aku belum sepercaya diri itu bertemu dengan banyak orang, namun aku sudah perlahan tersenyum dan menyapa semua orang.
2 hari kemarin aku coba memberhentikan fluoxetine ku. Ternyata berakhir dengan aku masih overthinking, scroll instragram untuk mencari dopamin instan, dan bila bertemu dengan reels yang mengingatkanku dengan adikku dan aku dulu saat masih bersama, aku akan bersungut dan memonyongkan bibirku; tidak menangis seperti awal fase akutku dulu
Ternyata proses sembuh itu tidak selalu 1-2-3-4. Kadang ketika sampai di 3, esok harinya kita bisa kembali lagi di fase 1 dan aku mulai menerima langkah ini yang tak selalu maju ke depan atau sesuai urutan.
Awalnya aku sedang mempertimbangkan barang2 pemberian adikku mau tetap kupajang atau kusimpan atau bahkan mengambil langkah ekstrim dengan membuang (seperti saran orang2 bila patah hati, singkirkan semua barang pemberian mantan; sampai ada yang namanya museum patah hati di Jogja). Tapi menyimpannya juga kadang membuatku rindu dengannya Dan setelah menonton drama Brewing Love, aku memutuskan, aku menyimpan memajang di kamarku oleh apa yang aku ingin simpan, lihat dan pajang. Dia pernah menjadi bagian dari hidupku dan pembelajaranku, menyingkirkan hal-hal baik darinya tidaklah bijak juga. Aku masih ingin menyimpan baju terakhir yang dia pakai saat mengunjungiku di Solo, aku masih ingin menyimpan berbagai pajangan dinding penyemangat di kamarku yang aku beli bersamanya saat di Ubud, aku masih ingin menyimpan foto kami dan kutempel di kulkas, kusimpan di buku notes kecilku, di co-card residenku, di lokerku di RS, foto2nya di hapeku pun tidak ada satupun yang kuhapus. Aku masih menggunakan akun netflix dan viunya untuk mengakses film2 sebagai penyelamat hari-hariku dari rasa ingin mati. Aku memutuskan ingin meyimpan kenangannya beberapa. Hal tentangnya, rindu kehadirannya masih bisa kutahan. Karena aku mendapatkan yang ingin aku dapatkan: closure kata selesai darinya dan menjadi penyadarku berkali-kali. Bahwa masa aku bersama dia telah habis, dan aku percaya ketika masa seseorang telah habis, mau kita sekota, 1 bidang pekerjaan, 1 gedung kantor, semesta tidak akan pernah mempertemukan kami kembali dengan cara apapun. Hal-hal seperti stalk kehidupannya masih rutin kulakukan, jujur saja. Karena aku masih ingin melihat cahayanya meski dari kejauhan. Seperti aku sedang menatap bintang. Namun untuk menyapa kembali, untuk berinteraksi dengannya di kehidupan barunya yang bahagia sekarang, rasanya jangan.
Kembali ke PR tehnik relaksasi. Awalnya aku terpressure mencari tehnik relaksasi apa yang tepat untukku dan rencana awalnya adalah ingin aku mencoba semua satu-pesatu. Tapi kembali lagi ke drakor Brewing Love, aku seperti menemukan AHA-momentku. Ternyata semesta memberikanku petanda lagi, seperti menahan drakor itu dengan keengananku menontonnya tahun kemarin, dan berakhir dengan memberikanku waktu yang tepat menontonnya untuk menyesuaikan dengan keadaanku sekarang
Ternyata tehnik yang tepat untukku sepertinya adalah betul Mindfulness. Kupikir awalnya yang cocok untukku adalah meditasi tradisonal dengan freefloating kubiarkan pikiranku mengembara, ternyata setelah aku membiarkan pikiranku mengembara, entah aku menciptakan skenario baru, entah aku menjadi si tukang "What If" dan ingin seperti Sore yang bisa memutar waktu, ternyata memang aku yang belum selesai memeluk lukaku sendiri, yang menyebabkan aku melukai orang yang kusayangi. Ada hal-hal yang menunggu penyelesaian dariku, tapi alih-alih aku menyelesaikannya, aku memilih untuk menghindarinya (kutunda-tunda), sampai kutemukan keberanian untuk menyelesaikannya karena tenggat deadline yang mengharuskannya selesai. Aku rasanya memilih tehnik relaksasi itu untuk mengenal diriku lebih jauh, mengendalikan isi kepalaku yang berisik, dan memegang kendali atas apa yang ada dalam diriku
Rasanya lama sekali aku tidak merasakan moment menginspirasi yang dalam dan membekas seperti ini.
Ingin kunikmati sesuai alur dan kecepatannya. Tanpa memaksa sampai tujuan. Aku sudah tahu arah tujuan ini akan sampai dimana, tapi bukankan menikmati perjalannya justru bagian ter-asiknya?







