Suatu hari seorang pria tua berjalan dengan semangat ke rumah baru istrinya. Senyumnya merekah, ia sudah rindu sekali.
"Buk, hari ini Bapak pulang dari rumah mas Adam, dikasi bingkisan takziah." Ia menunjukkan sepaket makanan ringan di kantong kresek putih itu.
Istrinya tersenyum, memperhatikan wajah suaminya yang semakin keriput di usia sekarang. Bajunya terlihat lusuh, rambut putihnya bertambah panjang. Penampilannya sungguh tak terawat.
"Adek tadi ijin ke bapak pulang ke rumah mertuanya, udah ijin ke ibu tah?"
Istrinya mengangguk kecil, sembari menjawab,
"Udah pak, tapi nggak tau kenapa ibu langsung rindu, padahal baru aja dia pergi. Abang juga udah lama nggak berkunjung semenjak ibu pindah, padahal kangen cucu juga."
Pria paruh baya itu tersenyum lirih,
"Abang bentar lagi kesini, ibu yang sabar yah," Ia berusaha menyenangkan istrinya. "Oiya, bapak punya kado buat Ibuk. Ini spesial, nggak semua orang bisa dapet."
Pria paruh baya itu merogoh sakunya, buku kecil segenggam tangan ia buka lembar demi lembar. Mulut tuanya bergetar melantunkan ayat demi ayat.
Sang istri terlihat sangat senang dengan hadiah itu. Senyumnya tak berhenti merekah.
"Pak, terima kasih sudah ngunjungin ibu. Makasih hadiahnya. Maaf ibu udah nggak bisa ngurusin kayak dulu lagi. Jangan lupa bajunya di setrika atuh sebelum dipake, rambutnya juga dipotong, udah panjang itu, makannya yang teratur jangan jajan sembarangan."
Laki-laki tua itu tertawa singkat, sudah lama tidak mendengar istrinya ngomel.
"Bapak bisa urus diri sendiri kok buk. Bapak cuma kangen meluk ibuk. Maaf kalau bapak banyak salah selama ini, maaf baru bisa ngasih kadonya sekarang. Semoga ibu selalu diberkahi Allah."
Sang istri mengangguk singkat, Ia menatap suaminya dalam.
"Makasih yah pak udah sayang sama ibu. Maaf atas kesalahan dan kehilafan. Ibuk ijin istirahat dulu, kita ketemu lagi nanti. Jangan bosen berkunjung. Titip salam buat adek, abang, ama semuanya. Ibuk sayang banget sama kalian."
Bersamaan dengan akhir kalimat sang istri, tangis pria paruh baya itu pecah. Ia memeluk gundukan tanah, rumah baru sang istri. Tempat yang ia baru kunjungi, setelah bertahun-tahun lamanya lari dari kenyataan. Orang terkasihnya sudah benar-benar tak ada dalam jangkauannya. Ia pergi menyisahkan kenangan dan kebaikan di hati orang-orang yang mencintainya.