Secangkir Kopi Untuk Relawan
Diceritakan kembali oleh : Nisrina Nugraheni
Wahid Nugroho, namanya. Sosok aktiviis mahasiswa yang tumbuh di lingkungan tarbiyah kampus UGM ini, lahir dan besar di Jogja. Ia mahasiswa tingkat akhir di Fisipol UGM. Seperti layaknya mahasiswa tingkat akhir lainnya, ia pun sedang berjuang menyusun tugas akhir di bawah bimbingan Prof Ibrahim, dosen paling killer di fisipol UGM. Ia yang mengajukan judul proposal skripsi dengan judul yang provokatif “Konflik Sebagai Ladang Bisnis Tentara : Studi Kasus Tentang Aceh” ditantang sang professor untuk melakukan studi lapangan ke Aceh untuk mengetahui gambaran di sana sebenarnya.
Peristiwa bersejarah itu terjadi pada 26 Desember 2004, bumi meronta dan laut mengamuk di Serambi Mekah. Segera setelah mendengar kabar tersebut, Wahid yang tergabung dalam sebuah LSM Komite Kemanusiaan Indonesia sebagai relawan langsung menuju basecamp. Ia dan rekan-rekannya melakukan penggalangan dana untuk Aceh selama beberapa pekan hingga akhirnya ia diberangkatkan ke Aceh untuk tugas mulia sebagai relawan.
Sebelum berangkat ke Aceh tak lupa ia bersilaturahim kepada sang ustadz,Ustadz Rahmat. Beliau mempunyai tempat tersendiri di hati Wahid. Wejangan agama disampaikan ustadz Rahmat sebagaimana biasa. Hingga saat tak terduga ust Rahmat menanyakan keputusan mengenai biodata yang sempat beliau sodorkan untuk Wahid. (Kala itu, wahid belum terpikirkan akan menikah, fokusnya masih pada skripsi). Namun bukan ust Rahmat jika beliau tak bijak dalam menanggapi reaksi Wahid saat itu. Beliau memberikan kesempatan Wahid untuk fokus dalam misi ke Aceh terlebih dahulu. Ada satu nasihat dari ust Rahmat yang menjadi bekal perjalanan penting bagi Wahid dan juga penting bagi segenap para relawan yang mendedikasikan hidupnya untuk tugas mulia agar tak tergelincir dalam niatan fana penghilang berkah "....niatkan perjalanan untuk menegakkan kalimat Allah. Menolong saudara yang sedang mendapat musibah hukumnya wajib,untuk itu engkau perlu meluruskan niat. Tetap jaga hubungan dengan Allah. Kemuliaan terbesar adalah ketika dalam setiap langkah ada Allah dalam ingatan kita. Dan sebaliknya tragedi terbesar adalah ketika engkau melupakan Allah..."
2. Sajadah Merah di Serambi Mekah (Aceh, Akhirnya Aku Tiba)
Namaku Wahid, dan ini kisahku di bumi serambi mekah. Rasa syukur terbersit begitu aku dan rombongan menginjakkan kaki di Bandara Sultan Iskandar Muda. Kegembiraan kami tak bertahan lama, karena luka itu mulai terasa di luar bandara. Kami diangkut dengan truk menuju posko. Di sepanjang jalan banyak terdapat tenda baik dari kain maupun terpal. Masyarakat lebih memilih tidur di luar karena masih takut akan adanya gempa susulan. Posko yang berupa “meunasah” selain ditinggali para relawan juga dipenuhi oleh puluhan pengungsi, baik laki maupun perempuan, tua maupun muda juga anak-anak. Mereka yang beruntung tidur di dalam meunasah. Namun banyak yang tidak beruntung dan tidur di atas alas seadanya. Malam itu mereka tidur berhimpitan dalam meunasah, dipenuhi dengan memori tentang luka dan kesedihan.
Hari-hari kami, para relawan, di Aceh terukir dalam tetesan keringat kami. Rutinitas kami dimulai sebelum subuh setelah menegakkan punggung untuk mengisi ruhani. Kami disebar ke segenap penjuru mata angin. Kami menyeberangi laut dan membuka daerah yang terisolir. Menembus puing-puing, membongkar gelondongan kayu dan membuka pulau-pulau terisolir guna mencari dan mengevakuasi jenazah. Menjelang senja kami berbaris satu-satu. Berjalan lunglai layaknya kawanan zombie memasuki posko. Tidur terlentang, berjajar seperti ikan pepes di ruangan yang sempit, panas, dan apek. Hampir setiap satu jam kami terbangun, berlompatan ke luar posko karena digoyang gempa. Beberapa menit kemudian kami kembali berjalan dengan mata ayam ke haribaan tidur malam.
Kami lelah lahir batin. Namun dalam kepenatan yang mendera jasad ini, kami merasa puas karena kami telah datang dan membantu Aceh. Saat malam dingin di Aceh, mata kami terasa hangat oleh air mata yang tumpah. Semua perasaan haru, sedih,syukur dan rindu kami tentang Aceh campur aduk menjadi satu.
3. Kisah Secangkir Kopi Hangat
Malam itu, aku, Dokter Bayu, Kang Iman dan beberapa relawan lain sedang berbincang tentang suspicious personality. Tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara keras dari pintu posko. Pintu digedor dengan paksa. Terdengar suara perintah untuk membuka pintu yang diucapkan dengan tegas namun tidak terlalu keras. Karena tidak ingin ada keributan, kami buka pintu posko, dan seketika kami lihat dua orang bersenjata meruak masuk dan satu orang tetap berada di luar. Suasana berubah menjadi hening dan mencekam. Mereka adalah kombatan GAM. Tujuan mereka datang ke posko adalah mencari dokter. Dan satu-satunya relawan dokter di posko saat itu hanya Dokter Bayu.
Singkat cerita aku sebagai ketua posko dan dokter Bayu mengikuti mereka. Kami berjalan cepat dan selalu berusaha di tempat gelap hingga kami tiba di sebuah sungai. Kami diangkut dengan rakit. Tiba di tepi sungai mata kami ditutup dengan kain hitam. Kami diminta berjalan dengan memegang tali yang diulurkan anggota GAM yang berjalan di depan. Terkadang kami harus melewati gundukan tanah, lumpur, hingga jalan terjal. Tidak jarang kami diminta untuk berhenti, tidak boleh bergerak apalagi bersuara.
Aku tidak tahu lagi berapa lama kami telah berjalan sampai kami berhenti di tempat tujuan, markas GAM. Akhirnya kami mengetahui tugas kami di situ, lebih tepatnya tugas dokter Bayu, adalah mengeluarkan peluru dari salah satu anggota GAM yang dalam kondisi kritis. Tidak ada jalan lain selain operasi. Segera dokter Bayu meminta mereka menyiapkan air panas. Setelah siap, operasi dilakukan, dan berhasil mengeluarkan selongsong peluru yang terletak hanya beberapa senti dari ginjal.
Setelah selesai operasi, aku dan dokter Bayu disuguhi secangkir kopi hangat yang nikmat. Lebih nikmat dari kopi yang biasa aku minum. Tidak banyak hal yang kami bicarakan, hingga akhirnya kami diantar kembali pulang ke posko. Sampai di posko kami langsung disambut teman-teman dengan berbagai pertanyaan. Mereka ternyata tidak tidur karena cemas memikirkan kami. Kami tak tahu harus menjawab pertanyaan teman-teman mulai dari mana. Ketika aku melihat jam menunjukkan pukul 4 dini hari aku segera mengajak teman – teman untuk shalat berjamaah dan melakukan sujud syukur. Peristiwa ini akan menjadi memori yang tak akan aku lupakan.
Malam ini aku dan Doni (teman relawan asal Aceh) ditugaskan untuk menjemput ustadz Raihan (ketua KKI Aceh) dan istrinya (ketua lembaga Sahabat Wanita dan Anak) beserta beberapa relawati SWA yang akan mengadakan rapat membahas program dan ealuasi kinerja program recovery tsunami. Dalam perjalanan ust Raihan banyak memberikan info tentang penanganan secara umum, tentang pemerintah yang baru sibuk ketika ada bencana, penyaluran bantuan yang amburadul, isu pemurtadan dan trafficking juga tentang aktivis LSM yang tertangkap karena mencuri bantuan. Salah satu informasi yang menurut kami penting adalah tentang tidak dicabutnya darurat sipil di Aceh meskipun dalam kondisi bencana.
Perasaanku resah setelah mengantar ust Raihan beserta rombongan untuk rapat. Ada suatu kejadian malam ini yang membuatku merasa menjadi begitu menderita. Namun perasaan itu aku sembunyikan selama menuju posko. Sepanjang perjalanan pulang menuju posko Doni terus nyerocos menyebutkan keunggulan gadis Aceh berikut dengan gradenya. Dan itu membuatku semakin ngilu rasanya.
Tiba di posko aku sempatkan untuk menatap rembulan dengan cahaya indahnya sebelum masuk meunasah. Namun malam ini aku telah melihat makhluk yang lebih indah dari rembulan. Gadis Aceh berwajah putih susu. Ceritanya waktu di mobil ketika para relawati duduk di jok belakang, lewat kaca spion mataku beradu dengan mata gadis berwajah putih susu, Syarifah Meurah Intan.
Wajah gadis Aceh itu meneror pikiranku. Wajah putih susunya seolah menempel di dinding dan langit-langit posko, bahkan muncul pada label-label bahan sembako untuk pengungsi. Aku mengalami fase baru, syndrome gadis Aceh, yang membuatku tak konsen dalam melakukan segala aktivitas sejak subuh tadi. Astaghfirullah.
Awal proses ta’arufku bermula dari tawaran ust Salman (rekan ust Rahmat di Aceh) beberapa malam lalu sewaktu aku liqo dirumahnya. Pagi ini setelah beberapa bulan di Aceh, aku terlihat lebih rapi dari biasanya. Hari ini aku akan menjalani ta’aruf. Ta’aruf akan dilaksanakan di masjid Baabul Jannah, masjid terbesar dan terindah di pulau tersebut. Baru memasuki halaman masjid saja aku sudah deg-degan tidak karuan. Astaghfirullah.
Ta’aruf dibimbing langsung oleh ust Salman. Sebelum memulai ta’aruf, ust Salman memberikan nasihat pada kami. Antara diriku dengan akhwat itu dipisahkan oleh hijab biru. Ta’aruf berjalan lancar hingga akhirnya di ujung ta’aruf kami dipersilahkan untuk saling melihat. Ini yang paling menegangkan sekaligus menyenangkan. Aku malu tapi juga ingin tahu. Pelan-pelan hijab ditarik. Setiap tarikan hatiku juga seakan ikut tertarik dan mulutku ini rasanya ingin menjerit. Tanganku gemetar. Sungguh mendebarkan. Pelan tabir tersingkap. Tampak sesosok gadis bergamis biru. Aku terkesiap. Gadis itu…Gadis pemilik wajah susu.
Hari itu aku tengah membantu teman-teman menyiapkan bahan sembako yang akan kami distribusikan. Tiba-tiba, Srikawati (teman Intan) datang ke posko untuk memberikan surat dari Intan untukku. Aku mulai merasa tak karuan. Segera setelah Srikawati pergi, aku menghambur ke gudang yang berada di belakang posko. Kubuka surat itu perlahan dan mulai kubaca.
“Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh.
Ba’da tahmid dan salawat.
Aku mendoakanmu semoga engkau selalu dalam lindungan Allah.
………………………………………………………………………..
Pada akhirnya tidak ada yang dilakukan oleh gadis sepertiku selain mengajukan gejolak hati ini pada keluargaku. Aku telah berusaha meyakinkan mereka bahwa engkau bukan seperti pria Jawa kebanyakan. Bahwa engkau adalah ikhwah fii ad dien, saudara seagama dan hanya dibedakan oleh suku. Namun apa daya, aku hanya seorang wanita. Keluargaku belum bisa menerimamu, karena kamu, maaf , seorang Jawa. Aku tidak tahu kenapa identitas suku masih lebih penting daripada keislaman seseorang? Aku pedih dan terpukul dengan sikap keluargaku, Namun akhirnya aku sadar, bahwa jalan kita bukan jalan yang mudah.
Sebagai seorang lelaki shaleh yang selalu dikasihi allah, aku yakin masa depanmu bahagia. Kelak allah akan mengirimkan seorang gadis yang lebih baik dariku. Dimana kamu ridha dengannya dan ia pun kan ridha denganmu. Saat itu kenanglah bahwa ada seorang gadis Aceh yang selalu mendoakanmu.
Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh
Aku melipat dan memasukkan surat dari Intan ke kantongku. Seluruh sendi badanku tiba-tiba terasa lemas. Kepalaku berat. Rasanya lebih ringan membiarkan badanku dijatuhi berton-ton beras daripada membaca surat dari Intan.
Aku mencoba menghibur diriku dengan kitab dan buku-buku tentang cinta. Namun aku gagal. Aku telah kalah lahir batin. Rasanya muak dan ingin menceburkan diri ke laut dan tenggelam bersama mimpi-mimpiku. Aku kembali membaca surat dari Intan. Dan setiap kali membacanya hanya perasaan gagal dan ngilu yang aku dapatkan. Dengan hati yang masih luka, aku membalas suratnya.
Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh
Ba’da tahmid dan Shalawat.
Ukhti, suratmu sudah aku terima
Tarbiyah ini telah mendidik kita dengan memuliakan urusan agama. Sudah selayaknya kita memutuskan sesuatu menurut pertimbangan agama. Saya ikhlas bahwa ta’aruf kita tidak berlangsung pada jenjang selanjutnya. Saya ikhlas akan penolakan keluargamu. Tapi semoga hal itu tidak terjadi pada lelaki shaleh lain yang datang meminangmu sesudahku. Wallahu a’lam bish shawab.
Perjalanan menuju Banda dari Simeule dengan Land Rover tua sangat menjengkelkan. Perutku serasa diaduk-aduk dan kepalaku terasa pusing melewati jalanan terjal tanpa aspal yang terbentang berkilo-kilo. Perjalanan kami, aku dan dokter Bayu sempat diwarnai sedikit kebingungan ketika menjumpai pos TNI terakhir. Setelah pos tersebut, kami harus melewati hutan belantara yang katanya banyak GAMnya. Hari memang masih sore, tapi jika kami melanjutkan perjalanan melewati hutan yang belum kami kenal itu tindakan yang cukup nekat. Setelah kami bermusyawarah akhirnya kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan catatan kami membersamai mobil yang lewat, jadi ada teman selama perjalanan.
Aku berusaha untuk menjaga mataku untuk tidak terpejam. Kondisi jalan yang berlubang dan kini bertambah licin dan rusak setelah diguyur hujan membuat aku yang belum mahir menyetir mobil harus berkonsentrasi penuh. Aku tidak tahu apa yang tiba-tiba lewat di depanku. Dalam kekagetan dan kepanikan tanganku reflek membanting gagang setir. Mobil malah keluar jalur. Aku mencoba menginjak rem, namun sepertinya sia-sia. Mobil melaju tanpa kontrol menuju jurang. Untuk beberapa detik kami merasakan mobil kami terbang di udara dengan kecepatan yang sungguh tak kami percaya dan segalanya berakhir ketika setelah bunyi keras itu terdengar “brrruuuaaakkkk”.
Kepalaku berdenyut ketika mengingat kejadian sebelum aku sampai tempat ini. Aku merasa sekujur tubuhku sakit dan kepalaku agak berat. Satu demi satu kuamati objek disekelilingku. Ternyata aku terbaring di papan kayu dalam bangunan sederhana beratap rumbia. Suara lembut seorang ibu yang menidurkan anaknya membuatku penasaran hingga aku memaksakan diri untuk bangun dari dipan. Ketika sudah menemukan sumber suara, aku dikejutkan oleh 5 orang lelaki yang menyapaku dari belakang. Salah satu orang itu bernama Bang Said, pemimpin mereka. Ternyata saat ini aku berada dalam pertolongan GAM. Bang Said yang ramah, menjelaskan kronologi bagaimana aku bisa sampai tempat tersebut.
Pagi ini aku berniat berpamitan dengan Bang Said karena kondisiku telah stabil. Sekalian aku juga ingin menanyakan barang yang belum Bang Said kembalikan, yaitu map biru yang berisi biodata Intan. Berkas tersebut akan aku kembalikan pada Ust Salman.
Baru beberapa langkah aku keluar, langkahku terhenti karena melihat Bang Said yang berjalan ke arahku dengan setengah terburu-buru. Kesan ramah dan pembawaannya yang tenang berubah menjadi kesan angker penuh kemarahan. Aku mulai merasakan sesuatu yang tak beres.
Cacian keluar bersamaan dengan tangannya yang dihantamkan pada mukaku. Badanku jatuh ke tanah. Kali ini aku ditendang pada perutku. Aku mencoba untuk bangun namun gagal bahkan aku tak diberi kesempatan untuk bicara menanyakan mengapa aku diperlakukan seperti ini. Cacian dan makian terus keluar bersamaan pukulan yang memberondong tubuhku.
Hingga akhirnya aku mulai merasakan ada kesalahpahaman Bang Said yang membawa map biru itu. Aku dikira memata-matai Intan untuk menangkap Bang Said. Namun karena tak diberi kesempatan untuk bicara sedikitpun jadilah aku bulan-bulanan Bang Said dan anak buahnya. Mereka menyerbuku. Memukuliku. Menendang badan dan kepalaku. Aku berteriak namun kain kumal menutup mulutku.
Entah berapa lama pesta penyiksaan itu berlangsung hingga akhirnya aku diseret dengan tangan yang diikat di belakang ke suatu tempat yang lebih mengerikan. Eksekusi mati telah disiapkan. Sang eksekutor mulai menghitung mundur. Keringat dingin mulai mengaliri tubuhku. Kepalaku terasa pusing dan pandangan mataku mengabur.
Pistol itu akhirnya menyalak juga. Menghamburkan semua memori di dunia, kenangan masa belia, idealisme masa muda dan juga doa doa hari tua. Sebelum kesadaranku benar-benar menghilang mataku menangkap sebuah titik hitam bergerak cepat. Juga bayangan seseorang berlari mendekat. Tangannnya melambai memberikan kode sementara mulutnya meneriakkan satu kalimat, Namun semua sudah terlambat.
Beberapa bayangan putih berputar-putar mengeluarkan suara beraneka ragam. Beberapa kali aku seolah mendengar namaku terdengar, namun aku tak yakin. Kadang muncul bayangan ayahku, ibuku juga adikku, namun aku juga tak yakin. Ingin aku menyapa mereka namun aku juga tak yakin masih bisa bersuara. Yang aku yakini saat ini bahwa tubuhku seolah melayang di ruangan hampa udara. Ingin aku berdiri melihat sekelilingku namun hanya gelap. Kejadian ini berulang beberapa kali
Aku tersadar karena bau obat yang menyengat. Kudapati tubuhku terbaring di ranjang. Ingin aku bangun. Namun tubuhku terasa berat dan kepalaku masih pusing. Tiba-tiba dokter Bayu masuk. Ingin rasanya aku menjerit. Mataku basah karena gembira melihatnya kembali. Tak ada kata selain syukur karena Allah mempertemukan kami kembali.
Dokter Bayu mengambil kursi dan duduk disebelahku. Beliau mulai bercerita setelah aku paksa. Dimulai ketika kecelakaan kami di jurang,usahanya mencari bantuan dan tersesat, pertemuannya dengan kurir GAM yang pada akhirnya mengantarkan beliau menemukanku hingga usahanya menjelaskan pada komandan GAM atas kesalahpahaman yang terjadi, hingga orang yang berjasa atas keselamatanku kali ini, yaitu Intan. Bang Said ternyata adalah saudara Intan.
Esok harinya teman-teman posko, terutama tim ekspedisi datang menjengukku. Ada Slamet, Arman, Uda, dan kang Iman serta Doni. Suasana rumah sakit yang semula sepi menjadi heboh. Aku kangen sekali dengan mereka. Aku juga sedih karena setelah itu kami harus berpisah. Aku meneteskan air mata ketika berpelukan dan berpamitan dengan mereka satu per satu
Agak siangan ketika aku sedang membaca Koran, pintu kamarku diketuk oleh seseorang. Di luar dugaanku, masuk dua orang perempuan yang membuatku salah tingkah. Mereka adalah Srikawati dan pemilik wajah susu, Intan. Setelah basa basi kami hanya terdiam. Tak tahu harus berkata apa. Suasana hening. Hanya terdengar suara kipas angin yang berputar di atas tempat tidurku dan suara burung prenjak di luar jendela. Hingga akhirnya entah kenapa aku bersin. Seketika Intan menyodorkan tisu sembari meminta maaf padaku. Tak hanya sekali ia mengucapkan maaf. Hingga akhirnya ketika ia mengulangi permintaan maafnya suara terisak dan mukanya tiba-tiba berubah menjadi sembab. Buliran air mata meleleh dipipinya. Sebagai lelaki aku paling tidak tega melihat perempuan menangis di depanku. Rasanya ingin kuusap air matanya dan kurengkuh ia dalam dadaku. Namun aku sadar bahwa Intan bukan siapa-siapa. Hubungan kami hanyalah seorang lelaki dan perempuan yang pernah menjalani ta’aruf. Sesudah itu atas nama suku dan ketidaksetujuan keluarga kami harus mundur teratur. Namun bagiku Intan adalah cinta pertama yang tak lekang oleh usia.
Hari ini tepat 3 hari setelah aku meninggalkan rumah sakit di Sigli. Jadi inilah hari pertamaku kembali ke posko. Aku memilih kembali ke posko cabang yang relative sepi. Aku ingin memaknai hari – hari terakhir di Aceh dengan introspeksi. Tiba-tiba hapeku bergetar. Ada pesan dari ust Salman yang intinya ingin aku bersilaturahim ke tempat beliau sore ini. Aku jadi teringat akan map Intan yang ingin aku kembalikan ke beliau.
Sore itu aku pergi ke rumah ust Salman. “Saya sudah capek ustadz, lahir batin.”, kata ku pada ustadz sore itu. Pikiranku menerawang kejadian-kejadian yang aku alami selam di Aceh. Ustadz Salman mendengarkan dengan khusyuk semua ceritaku. Hingga akhirnya beliau menanyakan kelanjutan prosesku dengan Intan. Aku diam sejenak sebelum memberitahukan kondisi keluarga Intan yang belum bisa menerima seandainya suami Intan bukan orang Aceh. Ustadz Salman seolah tidak percaya akan apa yang aku sampaikan. Aku dapat memahami mengapa beliau merasa tidak enak hati denganku.
Tiba-tiba suara yang sangat familiar itu mengagetkanku. Wanita yang paling aku hormati tiba di Aceh. Beliau berjalan mendekatiku, mengusap rambutku sambil menasehatiku dengan lembutnya. Ibu memintaku untuk serius melanjutkan proses ini. Saat itu juga aku merasakan energi aktif dalam dadaku meledak bersamaan tumpahnya air mataku. Kini aku tau dari arti sebuah rumus doa. Sesungguhnya tidak ada doa yang ditolak Allah. Yang dikehendaki oleh Allah hanyalah menunda doa kita lalu mengabulkan doa tersebut pada momentum yang sangat tepat. Bagiku kehadiran ibu saat ini dengan segenap restunya adalah momentum luar biasa yang telah diatur oleh Allah.
Entah bagaimana cerita dan prosesnya, keluarga Intan akhirnya tidak mempermasalahkan identitasku. Mengenai jadwal, akad nikah akan dilaksanakan di Masid Raya Baiturrahman. Pihakkeluarga Intan meminta hafalan surat As Shaff dan mahar berupa emas sebesar 20 mayam atau setara dengan uang 8 juta rupiah.
Aku berada dalam gerbang pernikahan, namun aku murung dan gelisah. Bagiku mahar 20 mayam terlalu banyak. Seolah memahami kerisauanku, ibu tersenyum menenangkanku, memberiku kuliah perkawinan. Aku semakin larut dalam arus pikiran ibuku. Akhirnya aku paham bahwa dalam setiap kerutan yang muncul pada wajah ibu, ada bukti pengorbanan cinta pada anak-anaknya. Bahwa setiap tetes keringat yang jatuh drai keningnya semata-mata karena rasa cinta pada anak-anaknya.
10. Pada Suatu Hari Yang Indah
Hari itu hari special bagiku karena aku akan melangsungkan pernikahan. Baru sebentar melihat Intan yang mengenakan gaun putihnya, tiba-tiba aku sudah mengucapkan ikrar pernikahan. Setelah kalimat syahadat, kalimat akad nikah adalah kalimat yang luar bisa yang pernah ada dalam kamus peradaban manusia. Pernikahan adalah aturan dari Sang Pencipta sebagai bentuk kasih sayangNya pada manusia. Hari itu aku merasa Allah dan Rasulullah sangat sayang padaku.
Ketua posko memberiku cuti selama seminggu. Bulan madu bukan hanya kesenangan duniawi, tapi juga sunah agama yang harus ditegakkan. Beberapa hari kemudian aku dan Intan sudah melesat mendaki gunung Seulawah Agam, berenang di laut tawar, menjajal kuda hingga shalat malam di atas perahu, dibawah purnama rembulan yang malu-malu. Hanya berdua dengan istriku. Melalui ayatNya kami mengeja cinta dalam sebuah biduk rumah tangga.
“Dan diantara tanda-tanda kebesaranNya ialah menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenis sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan Dia menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir “ (QS Ar Rum : 21)
11. Sumpah Setia Kaum Akademisi
Sore itu aku dan Intan mendengar suara ibuku dari ujung gagang telpon yang aku pegang. Ibuku mengingatkanku akan sumpah setia kaum akademisi. Pesan ibuku yang berada di Jogja jelas, yaitu menyelesaikan skripsiku. Satu pekan kemudian aku kembali berburu data bahan skripsiku. Menyambangi perpustakaan, janjian dengan aktiis LSM local, juga sesekali interview dengan narasumber yang paham akan seluk beluk konflik Aceh. Kembali aku harus membaca data, mengolahnya dan menuliskannya kembal. Bagi akademisi data adalah mata penelitian. Aku ingin meloncat girang setiap kali mendapat data yang sesuai dengan yang aku butuhkan. Dari beberapa referensi yang aku dapatkan,bisnis tentara ternyata bukan omong kosong. Praktik bisnis ini digolongkan dalam 3 tingkatan yakni komersialisasi keamanan, proteksi, dan keterlibatan dalam bisnis illegal dan mark up jumlah biaya anggaran perang. Tetiba aku muak dengan pihak-pihak yang menunggangi konflik Aceh sebagai ajang memperkaya diri
Setelah berjibaku dengan data dan computer akhirnya hari ini aku sidang skripsi.Tidak seperti biasanya, kali ini aku menjalani sidang skripsi bukan di ruang sidang fisipol, tetapi di aula sidang fakultas. Begitu sampai aula, aku terpana melihat ratusan mahasiswa dan beberapa dosen senior telah siap menyaksikan sidang skripsiku. Sidang skripsiku sudah berlangsung hampir satu jam, namun serangan pertanyaan belum tampak akan surut. Setelah dosen yang banyak meneliti tentang kemiliteran mengajukan pertanyaan kepadaku, aku sedikit lega karena pemimpin sidang member kode bahwa waktu ujianku dirasa cukup. Namun di luar dugaan, ada seorang dosen yang masih penasaran dan mengajukan pertanyaan padaku yaitu bagaimana pendapatku tentang bagaimana cara penyelesaian konflik Aceh. Menurutku yang berhak menjawab pertanyaan ini adalah orang Aceh, karena merekalah yang mengalami konflik terebut. Namun aku memberi masukan untuk perbaikan negeri. Menurutku sesuai catatan sejarah bahwa kekerasan dibalas kekerasan bukanlah cara yang efektif untuk menyelesaikan konflik. Akhirnya aku memberikan closing statement “Tidak susah untuk merebut hati orang Aceh. Dengarkan mereka bicara, pahami maksudnya, lalu tembaklah hatinya, jangan fisiknya. Wallahu a’lam bish shawab”
Ujian skripsi hari itu jadi forum ilmiah terakhir yang aku ikuti selama tercatat sebagai mahasiswa UGM. Berat rasanya meninggalkan almamater tercinta. Namun aku sadar almamater hanyalah jendela yang membantuku melihat dunia lebih luas. Seperti mimpi-mimpiku sebelumnya, perpisahan dengan almamater ditandai dengan wisuda dan juga ritual selebrasi melemparkan topi toga keangkasa, namun puncaknya adalah ketika kami sebagai anak negeri bersama menyanyikan lagu “Padamu negeri” dengan hikmatnya.