Saya sedang menjalankan sebuah mini project, yang saya beri nama “Axiome” (/æk-si-om/).
Aktivitas intinya adalah membuat t-shirt dengan konten Islami.
Ew, tidak terdengar fancy bukan?
Selama bertahun-tahun, saya pun berpikir demikian terhadap the-so-called distro dakwah, kaos Islami, dan semacamnya.
T-shirt Islami bukanlah t-shirt yang mau kamu pakai ke kelas, atau ke tempat kerja, apalagi ke mall.
Tipikal konten t-shirt Islami itu seperti, “I.S.T.I.Q.A.M.A.H”, “Proud to be a muslim”, atau “We are not terrorists”. Muatannya baik, mungkin seseorang di luar sana menyukainya. Tetapi, rasanya itu bukan untuk saya.
Sampai, suatu hari, saya menemukan foto ini (dari sini):
Ini dia! Akhirnya seseorang membuat t-shirt Islami “dengan benar”!
In case selera kita beda, t-shirt ini menurut saya keren karena:
1. Bicara salah satu substansi dalam Islam, tanpa embel-embel slogan/simbol (misalnya, “Said Quran–the best source of truth ever”.)
2. Kontennya universally accepted. Muslim maupun selain muslim yang melihat konten itu kira-kira akan, “…….. That is so true.”.
3. Well designed. Nice font, nice kerning, nice margin, nice colors. It just feels right.
Jadi, ya, saya bikinlah sesuatu yang seperti itu (cek di sini).
Niat awalnya, saya hanya mencari 11 orang yang mau bikin t-shirt itu, karena biasanya jumlah minimal pembuatan screen-printed t-shirt (kaos sablon) adalah 1 lusin. Tapi akhirnya hampir 3 lusin yang diproduksi kemarin.
Saya adalah seseorang yang menjadi muslim dengan kesadaran penuh. Saya tidak malu sama sekali dengan identitas saya. Bahkan saya begitu bersyukur menjadi muslim, karena saya memahami Islam adalah kebenaran dan kemuliaan.
Namun, menempelkan “label Islami” terhadap diri sendiri bukanlah gaya saya. Ini soal selera, tidak ada benar atau salah. Mungkin kita berbeda dan itu sama sekali bukan masalah.
Kemudian saya jadi penasaran, jangan-jangan banyak orang di luar sana yang seleranya sama seperti saya? Di satu sisi kita menyenangi status muslimnya kita, terkadang juga kita ingin mengekspresikan siapa kita + nilai apa yang kita pegang, tapi belum menemukan pilihan yang sesuai dengan personalitas kita (terutama buat cowok. Kalau cewek muslimah udah banyak banget pilihan gayanya).
So, yea, here I present to you, Axiome.
Masih beta, dan mungkin akan selalu begitu, tapi sudah berjalan. Saya punya beberapa rencana dan ide ke depan (yang saya juga ngga tahu bakal kejadian atau engga, ngimpi aja dulu). Sebagian seputar product development, sebagian lagi soal ekspansi “dakwah” ke dalam format lainnya.
Ekspansi itu, misalnya, pengen bikin “pengajian” bergaya TED Talks/TEDx, membicarakan topik yang orisinil dan menarik, mengenai gagasan atau prestasi muslim.
Yang jadi pembicara tidak semuanya mesti ustadz. Bayangkan Pandji Pragiwaksono bercerita tentang “Bagaimana Saya Mempromosikan Kebaikan dengan Stand Up Comedy”, atau Sandiaga Uno berbagi tentang “Ini Caranya Menjadi Zuhud yang Kaya”, atau Sharif Hasan Al-Banna—CEO Awakaning Records, berbicara tentang “Why Music, And How We Use It To Change The World”.
(Haha, sebenarnya saya meragukan diri sendiri, tapi semoga tulisan ini jadi doa yang dikabulkan dan dibantu Allah, kalau memang ada kebaikan besar ketika ide itu terwujud).
Nah, bagi teman-teman yang satu frekuensi dengan saya, mungkin teman-teman mau cek postingan saya setelah ini (”Curators Wanted”).
Last but not least, it’s not stunningly beautiful yet, but if you’re curious about the mini project, you can check these links:
Instagram instagram.com/axiomeco
Ya, itu saja cerita saya.
Terima kasih, salam keren 😎