Meteor Shower, oil on panel by Mia Bergeron
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

⁂
Claire Keane
Lint Roller? I Barely Know Her
ojovivo

roma★
Not today Justin

Janaina Medeiros
taylor price

izzy's playlists!
i don't do bad sauce passes
Show & Tell
Game of Thrones Daily
$LAYYYTER
No title available

shark vs the universe
Misplaced Lens Cap
Today's Document

Origami Around
hello vonnie
seen from Malaysia
seen from Türkiye
seen from United States

seen from Canada
seen from Philippines
seen from Indonesia
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Russia
seen from Argentina

seen from United States

seen from United States
seen from Türkiye
seen from United States
@zombie-ru
Meteor Shower, oil on panel by Mia Bergeron
Ironi
Sumber gambar: Pinterest
Lantas, apa yang menjadikannya pantas untuk nurani yang tertindas? Dicampakkan menjadi mimpi buruk tiap malam. Dan tangis, menjadi dawai di belantara alam. Begitu keji meninggalkan harapan bak lahar api yang menelan dahaga. Pergi, abai, dan mati bersama perasaan yang sudah tumbuh menjadi bangkai. Maka, bukan lagi neraka yang menantikan, melainkan rasa terbunuh yang enggan untuk merenggut jiwa-jiwa sampai selesai. Mati tapi hidup, hidup tapi mati. Ironi.
20/02/2026
Mekar
Mekar di antara gelap yang ingin kita mati adalah bentuk dari kesudian tanpa pamrih yang pernah ada. Biarkan wanginya menghantui pancaindra, menggelitik dengki di dalam sanubarinya. Mekar dan mekar adalah jalan yang kupunya untuk bertahan dari gemilaunya ujung mata pisau dunia yang tiada habisnya. Mangkir pun aku tidak diperkenankan. Maka malam, adalah cara paling tenang untuk menyulam duka jadi mantra di belantara resah yang tiada sudahnya.
22/12/2025
“People start to heal the moment they feel heard.”
— Cheryl Richardson
Pada diri yang terjerat pundi-pundi nestapa, pada mimpi yang terkikis realita, pada cahaya yang telungkup di atas fana. Dan aku si pemeran ketiganya.
1/3/25
Hari ini, langit sedang memintal kelam. Ia sengaja menjatuhkan rinai, membasahi daratan yang tandus. Namun ia lupa, ada pula tangis yang ikut terjun bersamanya.
Aku berdiri di atas tanah basah, menggenggam setangkai kembang yang memiliki banyak rupa. Warna-warni kelopak indahnya tak pula mengikis duka yang sedang merajalela di tiap pundak manusia.
Berpuluh kepala menunduk, menahan setetes bening dari pelupuk mata. Bibirnya bergetar menghantarkan rapal-rapal yang ia bisa.
Hari ini, di langit yang memintal kelam, aku menghadiri sebuah pemakaman. Pemakaman yang menjadi akhir dari perjalan logika dan perasaan. Hanya memuat lubang dalam yang ditimbun oleh sesal. Tangisan itu bersautan, menjadi bukti bahwa keabadian hanya sebuah guyonan semata.
Sumber gambar: pinterest
Satu-satu persatu tungkai itu menjauh dari upacara pemakaman. Bergantian mengucapkan belasungkawa atas rasa bersalah yang sudah telat datangnya.
Hanya ada aku yang meratapi kesendirian dalam diam, bersama nisan yang kukenal. Kau terbaring begitu tenang, seolah liang lahat adalah akhir dari latar yang kau impikan. Sudah banyak ketidakadilan serta kepercayaan yang terinjak, kau bawa bersama di dalam peti matimu. Kau jadikan ganjalan kepala di pembaringan.
Kau tidur dengan sangat nyenyak. Membiarkan luka-luka dalam likumu terbungkus kafan. Yang putih jadi kucal, itu yang kulihat. Mati adalah pilihanmu, agar jiwamu tetap hidup dalam segumpal bintang.
Waktuku sudah habis. Aku pamit, aku pergi, meninggalkanmu di bawah gundukan yang sepi.
Beristirahatlah dengan tenang, mendiang jiwaku yang lapuk. Yang sudah hancur ditikam busuknya prasangka dunia. Pergilah, cicipi nirwana yang sedang terbuka gerbangnya menantimu pulang. Sudah banyak lapisan kecewamu yang menjadi alas kakiku. Biarkan aku membawa selembar harapan untuk membungkus bintang itu kepadamu, sebagai bukti pengabdian laraku.
30/01/24
Riuh
sumber gambar: pinterest
Bagaimana ini? Mengapa penuh sekali yang berdesakkan, berlusin-lusin pikiran berjejal di dalam kepala. Ia merajam akal serta membabakbelurkan batinku dengan begitu kejam. Begitu sesak, begitu sempit, memarginalkan sisa sadarku yang sudah di ambang batas. Rasanya ingin mangkir, ke perairan yang tenang, ikut mengalir dari hulu ke hilir.
Bagaimana ini? Tampaknya ia tak membiarkanku begitu saja. Semakin bergairah menggerogoti kewarasanku. Tiada celah untuk sekadar membangun pertahanan diri. Matilah aku. Tergeletak saja bagai seonggok abu juga bukan jalan terbaik. Jika sudah begini, aku harus bagaimana?
“Try a little harder to be a little better.”
— Unknown
Kalau kamu ingin tahu bagaimana kabarku saat ini, maka lebih baik kamu jangan tahu. Aku yakin jawabanku bukan yang kamu mau. Kamu hanya ingin memastikan apakah nyawaku masih menyala atau sudah redup sajakan? Lantas kalau nanti ini padam, apa yang akan kamu lakukan?
Jangan lagi bertanya pada apa yang sudah kamu letakan dengan sedemikian rupa. Nyatanya, berpuluh-puluh musim yang kita habiskan tidak mampu membuat kita kekal. Pada akhirnya kamu memilih untuk tidak membiarkan letupan itu berpijar lebih lama. Kamu membiarkan aku menikmatinya sendiri sampai mencekik ragaku kesekian.
Saat itu aku mulai mempertanyakan benang di antara kita, akankah ini terbentang lebih panjang atau harus berakhir di sini saja. Dan kamu hanya memberiku beban untuk kujawab seorang sendiri. Kamu membiarkan kepalaku penuh dengan rinai hujan yang tidak sudah-sudah. Kamu membiarkan aku sendirian menempuh jalan keluar. Dan kamu hanya diam.
Maka ini sudah mutlak, kita tidak perlu melanjutkannya. Ayo berakhir saja. Namun sialnya kamu mengiyakan meski bantinku masih ingin kamu sangkal.
Sekarang, aku sudah terbiasa dengan rasa ini. Sesak dan pengap tiada kira. Jika kamu berpikir aku akan kembali meminta pijarmu lagi, maaf, aku sudah terlalu biasa dalam remang. Jangan cari aku lagi karena ingin seterang apa pun itu, aku akan terus berakhir sendirian.
31/3/23
zombie-R
Apa-apa yang selama ini kita simpan rapat ternyata akan kembali memuai di kepala. Akankah ini pertanda bahwa rasa yang terlanjur kecewa akan kembali pada sediakala? Siapa sangka.
ZombieRu
jika ada yang bertanya siapa yang menghajarku, jawab saya aku dihajar pikiran, jiwa dan harapan sendiri
Terkadang aku menikmati momen patah hatiku sendiri. Di balik rasanya yang pelik, ada temu yang menggebu ingin dililit. Temu yang nantinya akan sia-sia dan melahirkan rindu sebagai gantinya.
Orang bilang rindu menyesakkan paru-paru. Bagiku, rindu adalah caraku bersyukur pada waktu yang terbujur kaku. Di setiap dentingnya akan terselip jiwa yang merana, tetapi bahagia. Bahagia sebab luka yang menganga akan tampak diam nantinya. Perjalanan yang menurutmu amat panjang akan terbayarkan oleh tiap tangisan.
Lho, kalau begini apa yang bisa dinikmati?
Tuhkan aku ngelantur lagi.
11/6/22
ZombieRu
Si Rumit
Mahen tak habis pikir dengan segala isi kepala dari Nirmala. Semua yang berhubungan dengan gadis itu akan terasa rumit. Sesungguhnya Nirmala adalah sejatinya dewi kerumitan di muka bumi ini.
Apapun yang menjadi atensinya akan selalu ia pandang dengan segala kerumitan yang ia miliki. Jika Mahen dengan sederhananya akan duduk bersandar di batang pohon lalu memandangi gumpalan awan putih sampai senja membentang mewarnai langit dengan gradasi oranye dengan merah, maka Nirmala akan menarik semua isi langit yang menggantung di atas kepalanya agar ia tahu kapan waktu yang tepat untuk ia duduk bersandar di batang pohon yang demikian.
Tatkala Nirmala dengan segala keceriaannya membawakan cerita dengan alur yang berputar-putar, tetapi menyisakan kesan yang terdalam. Semua tutur kata yang keluar dari bibir mungilnya akan terasa bak dentingan kecapi surgawi. Semua bisa Nirmala lakukan dengan begitu rumit. Seperti lebih memilih mengambil dua simpangan lagi daripada langsung berbelok kiri hanya karena tak ingin bertemu dengan tanjakan yang sebenarnya tidak seberapa.
Namun, apakah benar hanya karena itu Nirmala menjadi sosok yang kurang? Mahen jawab tidak. Anggap saja Mahen terlalu gila untuk menyukai kerumitan Nirmala.
Ini lebih baik daripada Nirmala menjadi seorang yang sederhana. Tidak, jangan. Sederhana itu perannya.
Si Sederhana
Kini giliran Nirmala yang risih dengan semua ajaran kesederhanaan Mahen. Nirmala sangat tahu bahwa lelaki jangkung ini begitu memuja dengan apa yang disebut sederhana. Jadi lelaki itu jangan sederhana-sederhana amat, protesnya.
Mahen memang lebih memilih yang lurus-lurus saja daripada ia harus tercemplung kedalam keruwetan dunia dan segala isinya. Sederhana itu enak, pikir Mahen. Ia hanya tinggal menunggu jika memang belum waktunya, lalu ia akan bergerak jika umpan sudah diterima. Jangan terlalu dibawa pikiran.
Jikalau Nirmala akan memilih kain berkualitas dengan bahan halus, menyerap keringat, dan tidak gampang luntur, maka berbeda dengan Mahen. Lelaki itu cukup mengambil apapun yang menurutnya pantas dan yang penting bahannya adem, prinsipnya.
Persetan dengan segala kesederhanaan Mahen. Nirmala sungguh kesal. Untuk apa menjadi seorang yang sederhana jika ia bisa melakukan lebih? Manusia itu harus bisa berkembang dan berpikir kritis.
"Sederhana itu tidak melulu tentang keluguan, ketertinggalan, dan apapun itu yang kamu sebutkan. Ini jauh lebih baik sebagai cara kita memandang dunia. Oh ya, tentu juga agar hidup lebih tahan lama."
Mahen dengan senyuman yang sederhana itu menjawab semuanya.
"Satu lagi, Nir. Kalau aku enggak sederhana, aku bakal enggak jatuh cinta sama kamu. Cinta itu butuh kesederhanaan katanya. Kalau aku buat rumit nanti kamu diambil orang."
Nirmala makin yakin untuk tetap tidak suka dengan yang namanya konsep sederhana.
25/5/22
ZombieRu
sumber foto: Pinterest
Malam ini sedang turun hujan.
Apa malammu di sana juga demikian? Ataukah kamu sedang bersenandung bersama aksara yang membentuk simfoni lengkap dengan kidungnya ?
Aduh, aku lupa. Kan kita sudah berjanji untuk tidak saling memikirkan satu sama lain. Maaf, aku suka ingkar janji.
Kalau begitu, nikmati malammu ya. Malam yang tidak ada akunya. Malam yang sialnya mengandung kisah kita di dalamnya. Baiklah, selamat malam.
3/5/22
ZombieRu
“One day you will thank yourself for never giving up.”
— Unknown
Apa sekarang kita hanya sebatas dilema yang menyesakkan dada?